
Ckkiiit............
Suara pintu utama terbuka menampakkan Ziyan berpenampilan kacau mata sembab dan hidung memerah masih menyisakan airmata di bawah mata besarnya.
Ia berjalan perlahan bagaikan langkah orang putus asa menghiraukan keberadaan orang tuanya yang sedang duduk
memperhatikannya karena menunggu nya pulang.
"Jam berapa ini nak, kenapa kau pulang jam segini kemana saja kamu... Ziyan. " Tanya Arman lembut padanya yang masih berdiri beberapa senti dari sofa.
Ziyan tak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya hingga membuat Raina menyadari perubahan yang terjadi pada anaknya.
Langsung saja Raina menghampiri Ziyan dan membawanya duduk dekat mereka.
"Apa kau menangis sayang kenapa hmmm.... Ada apa nak. " Tanya Raina khawatir melihat keadaan Ziyan .
Masih tak ingin bicara malah Ziyan semakin menangis kencang sesenggukan dan menenggelamkan wajahnya di pucuk leher Raina membuat suami istri itu bingung di buatnya.
"Katakan sayang kau kenapa nak jangan membuat kami khawatir ayo ceritakan sayang. " Ucap Raina lembut walau sebenarnya ia sangat panik.
"Apa ada yang menyakiti mu nak katakan siapa biar ayah yang membalasnya. " Kini Arman yang bersuara memancing Ziyan dengan berlagak terlihat marah yang padahal sesungguhnya tidak.
"B-bukan itu ayaaahh.... Hiks.... Hiks... T-tidak ada yang menyakitikuuu. " Ucap Ziyan di sela sela tangisnya.
"Lalu kau kenapa nak, ceritakan pada ibu dan ayahmu. " Ujar Raina menenangkan Ziyan dengan mengelus surai hitam miliknya.
Ziyan duduk tegak menghapus airmatanya dan menghela nafasnya, sejenak ia diam menyusun kalimat yang akan ia ceritakan pada orang tuanya.
" I-ibu ayah. " Lirih Ziyan memanggil orang tuanya yang memang sudah berada di dekatnya.
"Iya sayang. " Sahut suami istri itu serentak.
"Sebenarnya a-aku punya kabar baik dan kabar buruk... Untukku. " Ucap Ziyan bernada lemah.
"Apa itu sayang ceritakan lah kami disini mendengarkan mu. " Pinta Raina pada putranya.
"Berita baiknya adalah..... Sahabat ku Rian telah mendapatkan kasih sayang dari ibunya... " Ucap Ziyan datar matanya seakan menampung airmata yang sebentar lagi akan meluncur.
" Benarkah syukur lah itu adalah berita bagus ibu sangat senang mendengar nya. " Ucap Raina ikut senang karena teman anaknya sudah menemukan kebahagiaan nya.
" Ayah juga senang mendengar nya, lalu kenapa kau menangis harusnya kau ikut senang juga kaannn.. Hmm.... Sahabat mu sudah bahagiakan. " Sambung Arman tersenyum hangat.
"Akhirnya anak itu bisa merasakan kebahagiaan yang di idam idamkan, ibu ikut terharu mendengar nya. " Ujar Raina tak melunturkan senyum nya.
Raina dan Arman masih merasakan senang atas berita baik yang disampaikan oleh anaknya tapi lain dengan Ziyan ia mati matian menahan airmata nya sebelum akhirnya ia menumpahkan nya juga.
"Kalian belum mendengarkan berita buruknya bu, ayah. " Datar Ziyan membuat Raina dan Arman kebingungan.
"Memangnya apa berita buruknya nak, katakanlah. " Pinta Arman.
Ziyan menundukkan wajahnya beberapa menit, baru setelah nya ia memandang datar ke depan membiarkan airmata mengalir bebas dan membuka suaranya. "Rian memang telah mendapatkan kasih sayang dari ibunya...... T-tapi..... Itu semua sudah terlambat...... Hiks..... Hiks..... Rian..... Keburu pergi...... D-dia telah pergi dari dunia ini...... Ia tidak sempat merasakan kasih sayang ibunya lebih lama..... Ia benar-benar telah pergi... Hiks.. " Tangis Ziyan pecah kala itu dan membuat Raina dan Arman mematung seketika. Mereka tak menyangka kalau Rian telah meninggal, sungguh sangat menyedihkan baru saja ia akan senang mendapatkan kasih sayang dari ibunya tapi kenapa ia memilih pergi, memang apalah daya ini sudah takdir.
"Sahabat ku telah pergi buuu.. Hiks.. Hiks. " Tangis Ziyan .
Dengan sigap Raina memeluk Ziyan yang sedang rapuh ia tau rasanya kehilangan karena dia sendiri sudah pernah mengalaminya.
Arman pun ikut sedih mendengar nya walaupun bukan siapa siapa tapi kisah anak itu cukup mengiris hati yang dianggap pelaku tapi sebenarnya iyalah yang menjadi korban.
Keluarga itu sekarang sedang berkabung atas kehilangan sosok yang baru saja di kenal tapi keberadaan nya bisa menimbulkan luka di saat pergi karena kisah hidupnya.
Skip dulu ya disini kita beralih dulu ke Kim Zafran, bagaimana ya keadaannya.
*******************
KEESOKANNYA.
DI TEMPATNYA KIM ZAFRAN DI SEKOLAH NYA.
Terlihat dirinya yang sedang merasa sangat bosan di kelas nya, kenapa tidak toh sekarang adalah jam pelajaran yang paling ia benci dan pasti semuanya gak akan asing lagikan sama mata pelajaran ini.
Jaywoo yang duduk di sebelah Zafran juga merasakan hal yang sama apalagi sama dua orang yang duduk di depan mereka, rasanya kepingin punya pintu doraemon aja deh.
"Haduuuhhhh ni pelajaran kenapa sih pasti jam nya itu lelet banget kalau lagi kena pelajaran matematika ini, serasa waktunya itu gak habis habis, keseeelll gue. " Gerutu Eunseo dengan nada sedikit di kecilkan tentunya ya kalau tidak pasti sepatu gurunya akan melayang di jidatnya.
"Gue yang selalu kesel kalau lo ngasih saran tapi kali ini gue ngedukung lo deh, benar banget. " Balas Kay yang duduk di samping Eunseo.
Eunseo pun merasa bangga kali ini ucapan nya dibenarkan oleh orang yang selalu menentangnya.
"Haahh zaf bosan banget gue. " Adu Jaywoo pada Zafran yang sama bosannya seperti dia.
"Gue juga lebih bosan kali. " Jawab Zafran.
"Emang lo gak kepikiran kek biasanya apa. " Ucap Jaywoo menuju pertanyaan.
"Apanya." Tanya Zafran polos.
"Ckk... Yaelah lo kayak gak pernah aja, ya ngebolos lah. " Jawab Jaywoo rada kesal melihat Zafran yang tak mengerti maksudnya.
Kali ini barulah ia menangkap maksud dari temannya ini.
"Ouuu... Oke sekalian ajak dua setan didepan kita juga. " Ucap Zafran.
"Pasti." Balas Jaywoo menyetujui, ya pastilah toh kemana mana mereka tetap bersama tak kan terpisahkan.
Zafran pun mulai memanggil dua temannya yang duduk didepan nya dengan berbisik.
"Ssstt.... Tan.... Oi... Ssstt... " Panggil Zafran dengan isyarat bibir monyongnya.
Kay dan Eunseo dapat mendengar nya tapi mereka pura pura tak dengar, lumayan sekali sekali ngerjain teman sendiri karena memang nyatanya lebih asik ngerjain sahabat sendiri daripada orang lain.
Melihat tak dapat respon dari dua temannya Zafran pun mengetok kepala Eunseo dengan buku karena Zafran tepat duduk di belakang Eunseo, yang di ketok pun merasa sakit barulah ia melirik ke belakang karena kesal.
"Apaan sih lo sakit tau, gue lagi fokus ni. " Bohong Eunseo ya mana mungkin dia fokus kalau iya mungkin dia salah minum obat.
Ucapan Eunseo yang tidak ada dalam sejarah mereka pun di tertawakan oleh tiga temannya.
"Apa apa apa coba ulang dengar apa gue tadi atau salah dengar ya. " Ejek Jaywoo yang tau drama nya si Eunseo.
"Gak lo gak salah dengar dianya aja yang kesambet. " Sambung Zafran yang di balas gelak tawa oleh Kay dan Jaywoo sedangkan Eunseo geli juga dengan ucapan nya tadi.
Mereka terus tertawa tanpa sadar semua mata tertuju pada mereka apalagi guru wanita yang tidak muda lagi namun terkenal kejam telah melototi mereka berempat.
"Heh kalian jangan berisik, jangan mengacau di kelas. " Tegas bu Gaeun yang langsung membuat mereka berempat terdiam.
"Sekali lagi kalian bikin ulah saya tendang kalian keluar. " Sambung bu Gaeun yang mampu membuat mereka menelan ludah. Ngeri juga ya padahal udah tua, batin mereka berempat😌
"MENGERTI." final bu Gaeun.
"Iya buukk. "Jawab mereka berempat dengan nada gemetar, tumben takut.
Kemudian bu Gaeun pun melanjutkan menulis di papan tulis, bukannya menyerah empat curut ini malah memikirkan cara untuk bisa keluar dari kelas yang terasa panas sekarang.
" Sssttt.. Gimana ni. " Bisik Jaywoo pada Zafran.
"Gue sih rada takut tapi usul lo ada benarnya juga. "Balas Kay pada Zafran.
" Oke gue setuju. "Ucap Eunseo mantap.
" Hmm ada cara gak. "Tanya Zafran pada ketiga temannya.
Nampak mereka bertiga sedang berpikir, ketika orang lain memikirkan tentang pelajaran matematika dengan rumus rumus nya tapi mereka berempat malah memikirkan bagaimana agar bisa di usir dari kelas.
" Ahaa, gue ada ide." Ucap Eunseo semangat dengan nada pelan tentunya membuat Zafran, Jaywoo dan Kay menunggu ide Eunseo dengan harapan besar.
"Apa ide lo. " Tanya Kay tak sabaran.
"Haha... Ikuti drama gue. " Ucap Eunseo membanggakan diri.
Sedangkan Zafran, Kay dan Jaywoo saling bertukar pandang karena bingung entah apa yang Eunseo lakukan. Tapi demi bisa keluar dari kelas mereka pun menuruti usulan Eunseo walaupun terkadang usul nya bisa dibilang selalu bikin semua naik darah, Semoga kali ini tidak.
Eunseo mulai melakukan aksinya dan bersuara keras hingga semua pandangan tertuju pada mereka.
"AHHH KAY JAHAT SEKALI KAU...... kenapa mencoret buku ku...... Kau pun Jaywoo kenapa memukul kepala ku.... Sakit tauuuuu.... Kau juga Zafran kenapa mengganggu ku.... Jangan memainkan kakimu di kursikuuuuuu..... Ibuuuu..... Lihat mereka bu... Mereka bertiga membullli ku..... Aaa..... " Adu Eunseo pada bu Gaeun dengan ektingnya.
Zafran, Kay dan Naywoo kaget dengan drama teman laknatnya tapi toh ini juga demi rencana mereka.
Bu gaeun seakan darah tinggi melihat kelakuan mereka habis sudah kesabaran beliau dibuat nya. "KALIAAAANNN DASAR ANAK NAKAL...... CEPAAAAAAT KALIAN BEREMPAT KELUAR DARI KELAS....MENGGANGGU SAJA. "
"Loh buk kok saya di suruh keluar saya kan kor............... " Ekting Eunseo yang padahal inilah pencapaian nya.
"KELUAAAAARRRRRRRRR." potong bu Gaeun membuat mereka berempat meninggalkan kelas dengan cepat.
Saat melewati gurunya mereka memasang wajah bersalah dan takut tapi begitu telah berhasil keluar topeng laknatnya pun keluar mereka sangat senang, oke juga dramanya Eunseo tadi, langsung saja mereka menuju tempat nongkrong nya di halaman belakang sekolah. Jam segini mana mungkin kekantin yang ada nanti mereka di tangkap guru piket yang berada di kantin karena ini masih jam pelajaran berlangsung.
Sesampainya di halaman belakang sekolah langsung saja mereka merebahkan tubuhnya di rumput bersih itu karena lelah berlari. Halaman belakang sekolah dari kelas Zafran lumayan jauh juga karena sekolah ini memang sangat besar jadi butuh tenaga juga untuk sampai di halaman ini. Apa lagi Zafran yang memang punya penyakit itu pastilah dirinya sekarang akan merasa sangat lemah.
Terlihat dirinya langsung tidur dirumput itu sambil memejamkan matanya, bisa dilihat oleh teman-temannya kalau Zafran memang kelihatan sangat lelah dan satu hal lagi wajah nya mendadak pucat hingga menimbulkan kekhawatiran dari temannya tapi Zafran tetap menutupi hal itu dengan berkata tidak apa apa.
"Hahh..... Usulmu tadi oke juga Eun.... Sekarang ku akui itu. " Ucap Kay sambil berbaring di sebelah Eunseo menatap langit biru dengan bertaburan awan indah disana.
"Apa juga kubilang aku memang jenius kalian saja yang tidak pernah menyadari nya. " Balas Eunseo membanggakan diri sendiri.
"Iya iya deh. "Ucap Kay meng iyakan saja ya begini nih kalau dipuji langsung besar kepala.
" Zafran lo oke kan. " Tanya Jaywoo khawatir yang berbaring di samping Zafran. Memang terlihat nafas Zafran memburu dan wajah nya kelihatan pucat.
"I-iya." Jawab Zafran berusaha terlihat baik baik saja di depan teman-temannya.
"Serius, kalo lo sakit bilang aja wajah lo juga pucat. " Tanya Kay lagi yang menyadari perubahan dari Zafran.
"Kok wajah lo bisa tiba tiba pucat sih, bilang aja kalo lo sakit kita khawatir tau. " Tambah Eunseo yang ikut melihat Zafran yang memejamkan mata dengan nafas terburu buru.
"Gak papa kok g-gue cuma ngantuk gue t-tidur dulu ya nanti kalo udah jam istirahat bangunin gue oke. "Ucap Zafran menyembunyikan dirinya yang tidak baik baik saja.
" Yakin, yaudah kalo lo ngantuk tidur aja nanti kita bangunin. " Balas Jaywoo tidak memperpanjangkan lagi karena Zafran pasti ingin tidur.
"Oke." Final Zafran yang langsung menuju alam mimpinya.
Setelah merasa Zafran telah terlelap dalam tidurnya jaywoo pun membuka suara.
"kalian perhatikan ada yang aneh gak sih sama Zafran liat tu wajahnya pucat nafasnya juga berat gitu apa dia sakit ya. "
"Iya sih gue juga khawatir kalo teman kita ini kenapa napa. " Tambah Kay yang merasa khawatir melihat Zafran.
"Semoga dia baik baik aja, mungkin itu karena dia kecapean, dia kan pernah bilang sama kita kalo dia gampang cape liat aja tu waktu olahraga diakan selalu minta izin karena dia gk sanggup. " Ucap Eunseo.
"Itulah yang membuat gue semakin curiga disaat jam olahraga dia selalu izin, kalo gampang cape kan gak mungkin harus minta izin selalu lagipula diakan bisa main setengah waktu, kalo dia cape nanti istirahat ini enggak dari awal jam olahraga dia selalu izin, gue takut kalo dia nyembunyiin sesuatu gue khawatir kalo dia sakit. " Lirih Jaywoo tulus merasa begitu pada temannya.
"Iya juga sih.... Hah... Sudah lah semoga saja dia baik baik saja aku yakin dia itu gak sakit apa apa kok. " Yakin Kay pada dirinya sendiri dan Jaywoo.
"Iya semoga ucapannya Kay benar. " Tambah Eunseo.
"Yaudah tidur yuk cape juga ni nyalain alarm aja biar kita kebangun nanti. " Usul Eunseo yang di setujui Kay dan Jaywoo.
Mereka berempat pun sudah melesat ke alam mimpi masing-masing.
*******************
DI TEMPATNYA KIM ZIYAN.
Sepulang sekolah ia langsung pergi ke sungai tempat ia dan almarhum Rian bertukar cerita saat itu.
Sesampainya disana raut wajahnya terlihat sedih karena yang biasa menunggunya pulang sekolah sekarang sudah tiada. Ingin ia curhat tentang sekolahnya tadi sekarang tiada tempat, tidak ada lagi teman yang menyemangati nya.
Namun ia berusaha ikhlas dan kuat, pasti ia bisa melewati semua ini.
"Hufff..... Semoga kau tenang disana kawan." Ucapnya sambil memandang langit biru yang cerah ditambah awan bertaburan menambah kesan keindahan di atas sana.
"Sekarang aku kembali memendam semua ini karena tidak ada lagi dirimu yang mau mendengar kan curhat ku, ingin sekali aku bercerita ini semua pada orang tua ku tapi aku tidak mau menambah beban mereka dengan masalah ku, jadi biarlah semua ini kulewati sendiri.... Akan kupendam sampai aku mampu. " Lirih nya disertai senyum bebannya.
"Ayah.... Ibu..... Adikku.... Aku menunggu kalian disini... Cepatlah kembali,... Hiks.... Hiks... Aku.... Di bulli disini.... Aku merindukan kalian. " Tangisnya merindukan sosok yang belum pernah sekalipun ia lihat.
Disaat saat seperti inilah kerinduan nya memuncak jika sudah begini Ziyan sangat lah rapuh, ia seakan putus asa dengan kehidupan nya sendiri tapi di hati kecilnya ia terus menyemangati dirinya sendiri agar bisa terus bertahan demi bisa bertemu dengan keluarga nya ya meskipun itu sulit.
Hari harinya di sekolah pun sangat menyedihkan setiap hari ia harus mendengar cacian dan perlakuan tidak baik dari teman kelasnya. Ingin mengadu pada orang tua angkatnya itu tidak mungkin karena ia tau ibu dan ayahnya pasti ikut merasa sedih dan ia tidak mau itu terjadi.
Jadi mau tidak mau haruslah ia merasakan ini sendiri sanggup tidak sanggup ia harus sanggup. Putus asa itu tidak akan pernah terjadi karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan menyerah sebelum menemukan ayah ibu dan adik kandung nya.
Begitu juga dengan Zafran jarak mereka memang jauh tapi kehidupan nya sama yaitu sama sama menyedihkan dan bukan hanya mereka yang merasakan ini orang tua kandung mereka pun sama harus merasakan kehidupan yang begitu pahit hanya karena ulah Kim Jongsuk Jon Jae itu. Walaupun Zafran berada di dekat ibu kandung nya sendiri tapi ia tidak pernah tau kalau itu adalah ibu nya sendiri selama ini ia hanya menganggap ibunya sebagai pengasuh dirinya. Dan harus merasakan kekejaman dari kakeknya sendiri, ya walaupun hidup serba kecukupan tapi ia harus menuruti kehendak dari kakeknya.
Zafran tidak pernah tau tentang keluarga nya yang ia tau ibu dan ayahnya sudah mati ia sendiri adalah cucu tunggal kakeknya. Cerita itu berdasarkan dari kakeknya sendiri.
Sheliya ialah yang harus memikul semua ini dari awal, kehilangan suaminya saat ia mengandung dan setelah melahirkan ayah mertua nya mencuri salah satu anak kembarnya. Ia harus rela meninggalkan anak yang satunya demi mencari anaknya yang lain dan disaat ia menemukan anaknya ia pun harus seperti orang asing dengan anaknya sendiri demi keselamatan mereka semua atas kekejaman Pak Jongsuk Jon Jae. Jadi sudah jelas kan siapa antagonis nya disini puncak dari masalah kisah mereka yang harus menderita dikarenakan keegoisan Pak Jongsuk yang tidak menyetujui pernikahan Sheliya dan Samuel anaknya hanya karena Sheliya dari kalangan biasa dan sosok perempuan yang tidak pantas hidup di kalangan keluarga nya. karena mereka tetap menikah Pak Jongsuk pun marah dan melampiaskan semuanya pada cucunya sendiri. Dan tujuan lain ia menculik Zafran adalah untuk dijadikan penerusnya tapi dikarenakan Zafran memiliki penyakit membuat Pak Kim Jongsuk kesal dan merasa salah mengambil nya, kenapa bukan yang satu lagi dia ambil kalau dia tau anak yang diambilnya penyakitan.
Jadi dapat disimpulkan siapa yang paling menderita disini, Ziyan kah atau Zafran. Walaupun terlihat senang dirumah bersama keluarga angkatnya yang baik belum tentu ia bahagia disekolah nya karena terus dibulli dan harus selalu merasakan kerinduan pada keluarga kandung nya.
Begitupun yang satunya yang terlihat bagaikan raja di sekolah nya belum tentu ia dijadikan raja juga di rumahnya yang setiap hari harus mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari kakeknya. Dipaksa menjadi kuat yang pada nyatanya ia hanya sosok yang lemah. Selalu diremehkan ketika sakit tanpa ada yang peduli itupun jika bibinya peduli kakeknya tetap melarang. Ia hidup bagaikan di penjara dirumahnya sendiri. Di kelilingi banyak harta namun tidak dengan kasih sayang.
Dan harus merasakan kerinduan pada orang tua nya yang tidak pernah ia temukan semenjak ia dilahirkan.
Kehidupan yang berbeda namun sama menyakitkan. Dan membuat sifat sikembar sangat berbeda.
Si kakak yang bersikap penyabar dan lembut lain dengan adiknya yang bersifat keras kepala dan emosian.
Si kakak yang menjadi korban bulii di sekolah nya berbeda dengan adiknya yang menjadi pelaku pembullian di sekolah nya sendiri juga. Itu pun karena didikan yang berbeda.
Beruntung Ziyan diasuh oleh orang tua angkat sebaik Raina dan Arman membuat ia tumbuh menjadi sosok remaja yang berhati baik.
Beda dengan Zafran yang dididik kejam oleh kakeknya membuat dirinya tumbuh menjadi sosok remaja yang keras kepala dan pembangkang karena ia benci pada kakeknya yang suka memerintah seenaknya.
****************