Handsome Twins

Handsome Twins
bab 35 Antara rindu dan benci terhadap sang Appa



Disinilah Samuel berada didepan kantor megah milik appanya.


Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung memasuki kantor itu mengabaikan pandangan mereka yang menatap aneh ada juga yang terkejut dengan kedatangan Samuel karena tau dia siapa.


Sampai lah ia didepan ruangan appanya yang terlihat sangat indah dan mewah.


Sebelum masuk ia berdoa dan menghela nafas yakin dia pasti bisa.


Mendorong knop pintu yang tak dikunci lalu memasuki ruangan itu tanpa permisi.


Menyadari ada yang datang, Pak Kim kira itu sekretaris nya dan mengabaikan nya.


" Mau mati kamu ha masuk tanpa permisi seperti itu. " Tegas Pak Kim sambil menulis beberapa catatan dihadapan nya.


Samuel tersenyum antara rindu dan benci terhadap sang appa.


Seketika airmatanya meluncur tak bisa dikendali.


" M-maaff..." Satu kata itu membuat Pak Kim menunda kegiatannya, ia sangat kenal dengan suara ini dan dengan segera ia melirik ke arah sumber suara tadi.


Deg.


Jantungnya seketika berhenti melihat putra dihadapan nya kembali setelah dikira mati.


Matanya memanas dan langsung saja liquid bening itu membasahi pipinya.


" K-kim Samuel. " Ia langsung berdiri dari duduknya mendekati Samuel yang berdiri dihadapannya.


" K-kau kah i-itu. " Pak Kim seakan tak percaya pada apa yang dilihat didepannya.


Samuel tersenyum lalu menatap tajam sang ayah.


" Kau masih hidup nak. "


" Iya a-appa. " Samuel merasa canggung memanggil orang kejam ini dengan sebutan sang appa.


" Anakku.."


Sshhhh....


Samuel mendorong tangan appa nya yang hendak memeluk dirinya.


Bukan durhaka justru ia sangat menginginkan pelukan itu tapi mengingat perilaku appanya ia sungguh sakit hati.


Pak Kim tercengang mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya.


" K-kenapa ?? Apa kau tidak merindukan appa mu apa kau tidak menyayangi appamu..."


Samuel tersenyum setelah itu mengeluarkan airmata.


" Sshh..aku rindu bahkan sangat menyayangi appa.....TAPI AKU SAKIT HATI AKU TERLANJUR SAKIT HATI DENGAN SIKAP APPA PADA ANAK DAN ISTRI KU. " Samuel sudah tak bisa lagi menyembunyikan teriakan hatinya.


" Maksudmu..." Tanya Pak Kim seolah tidak melakukan apapun.


" Appaaaaa kenapa appa melakukan ini kenapa ha KENAPA...hiks......"


Percuma menyembunyikan semua ini toh Samuel juga sudah tau.


" Kenapa masih bertanya jika kau sudah tau ha...AKU MEMBENCI WANITA SIALAN ITU WANITA YANG KAU NIKAHI. " bentak Pak Kim.


Untung saja ruangan ini kedap suara jadi tidak ada satupun yang tau jika mereka sedang perang suara.


" Dia itu baik-


" BAIK APANYA DIA ITU MISKIN TIDAK SEDERAJAT DENGAN KITA. "


" Hahahaha appa kenapa kau lucu sekali, kenapa menilai orang harus dengan harta...ahahaha... Appa istri ku memang miskin tapi ia kaya hati bukan seperti appa yang kaya tapi tak sedikitpun memiliki hati. "


PLAKK..


Satu tamparan mendarat dipipi kiri Samuel pemberian ayahnya sendiri.


Sakit tapi lebih sakit hatinya.


" Ahahaha ini belum seberapa aku yakin anakku pasti mendapatkan lebih dari ini dari appa iya kan."


" Kenapa gara gara wanita itu kau membantah ku ha apa istimewanya dia APA..."


" Seperti appa yang menilai eomma istimewa begitulah aku menilai istriku istimewa. " Jawab Samuel Santai membuat Pak Kim semakin geram.


" Kurang ajar. "


Bugh...


Kini Pak Kim menonjok wajah Samuel hingga hidungnya mengeluarkan darah.


Samuel tak ada niat untuk membalas ia malah tersenyum menatap appanya.


" Terimakasih. "


" Kau gila Samuel. "


" Aku tau. "


" Kamu sama saja dengan bocah tengil itu sama sama membangkang hanya karena wanita rendahan itu. "


Bugh....


Maaf tapi sekarang Samuel telah meninju wajah ayahnya karena sudah kehilangan kesabaran.


Pak Kim sedikit tersungkur mendapat pukulan tak main main dari anaknya.


" Aku tidak mau durhaka tapi kau sendiri yang memulai nya. "


" Sekarang katakan Dimana Zafran anakku. "


" Ahahahaha dia sudah kabur mungkin juga sudah mati karena kondisinya yang sekarat itu. "


" Kau-


" Berhenti...."


Baru saja Samuel hendak melayangkan lagi pukulannya tiba tiba suara dari sang tercintanya terdengar.


Ya benar Sheliya dan Chun Yo telah sampai disini dan langsung masuk keruangan ini.


Sheliya mendekati Samuel menghapus noda darah dihidung suaminya dengan lengan panjang bajunya.


" Kenapa kau datang kemari. " Tanya Samuel.


" Aku tidak ingin melepasmu lagi. " Jawab Sheliya terus membersihkan darah itu.


" Kau, bagaimana kau bisa datang kemari dan lepas dari kurunganku dan kenapa kau mendekati anakku. " Pak Kim heran melihat adegan didepan matanya.


Sheliya menghentikan kegiatan nya dan berjalan mendekati Pak Kim walau Samuel telah melarangnya.


Dengan pelan Sheliya membuka penyamaran nya dan mampu membuat Pak Kim membulatkan matanya.


Ia terkejut bukan main karena yang selama ini berada dirumahnya adalah orang yang paling ia benci.


" Sialan jadi.......Jadi selama ini??. "


" Iya aku Sheliya menantu yang engkau benci, saat kau membawa bayiku aku terus mengikutimu sampai menyusup kedalam pesawat mu. Aku yang selama ini menjadi pengasuh anakku sendiri, aku yang memberikan ASI ku sendiri pada bayiku aku sendiri yang menimangnya dan aku sendiri yang merawatnya sampai ia tumbuh remaja seperti sekarang. " Jelas Sheliya dengan tatapan yang mengerikan.


" Kurang ajar kalau aku tau dari awal sudah ku lenyapkan kau. " Geram Pak Kim.


" Ahahahah penjahat tidak akan selalu menang dan setelah ini siap siap lah menunggu kekalahan mu...hiks.....ahahaha, selama ini aku sudah bertahan dan maaf jika sekarang aku bertindak tidak sopan dihadapan tuanku sendiri atau lebih tepatnya mertuaku...."


" Sheliya sudah cukup ayo kita keluar dari siniii. " Melihat istrinya yang sedang emosi ia takut Sheliya akan bertindak lebih jauh nantinya.


" Tidak aku ingin meminta restu pada mertuaku hiks....ahahah tidak...hiks.."


" Sheliya tolong jangan seperti ini ayo kita pulang. "


" Kim ayo kita bawa Sheliya pergi kondisi nya bisa gawat jika berlama lama disini. "


Samuel mengangguk lalu merangkul Sheliya keluar tapi sebelum itu menatap appanya tajam.


" Arrrghhh....sialan awas kalian awas saja..."  Pak Kim mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


Panggilan tersambung.


" Hallo cepat temukan bocah itu bawa dia kemari secepatnya jika dia melawan habisi saja dia dan bawa ke hadapan ku hidup atau mati....kau  mengerti.."


"............................"


Tuuutttt...tttuutttt...


Panggilan diputuskan lalu Pak Kim tertawa senang.


                        *************


Mereka telah sampai dirumahnya Chun Yo, Samuel membuka pintu untuk istrinya turun.


" Jangan menangis kita akan secepatnya menemukan Zafran, sekarang kau harus bertemu dengan Ziyan jangan buat dia sedih melihat dirimu yang seperti ini. " Ucap Samuel sambil menghapus airmata istrinya.


Sheliya mengangguk dan memperbaiki dirinya, ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan Ziyan.


" Ayo tuan nona selahkan masuk. " Ucap Chun Yo sambil membuka pintu utama membuat mereka terkekeh.


Samuel dan Sheliya berjalan pelan diikuti Chun Yo dari belakang.


" Dimana dia. " Tanya Sheliya tidak sabar.


" Mungkin diruang tv ayo setelah ia les pasti menyempatkan nonton. "


Mereka pun beranjak ke ruang tv dan benar saja terlihat Ziyan sedang bersantai disana dengan beberapa cemilan.


Sheliya kembali menangis memandangi wajah anaknya yang sama persis namun tampilan nya lebih sopan.


" Siapkan dirimu karena Ziyan akan mencurahkan rindunya. "


Chun Yo mendekati Ziyan yang sedang bersantai.


" Santai sekali lagi nonton apa sih. "


" Eh paman udah pulang papa dimana dia udah pulang juga kan. " Tanya Ziyan sumringah.


" Ituuuu..." Tunjuk Chun Yo kearah Samuel yang sedang berdiri dengan seorang wanita.


Langsung saja Ziyan menghampiri ayahnya dan memeluknya.


" Aigoo kangen ya sama papa, baru juga ditinggal beberapa jam. "


" Pokoknya kangen. " Manja Ziyan dipelukan papanya membuat Sheliya tak bisa menahan diri.


Mereka melepas pelukannya dan kini Ziyan beralih menatap wajah wanita yang tidak asing baginya.


" Papa d-dia dia siapa. " Tanya Ziyan lucu membuat Sheliya gemas.


Samuel tersenyum lalu mengusak Surai anaknya. " Dia adalah orang yang kau tunggu, wanita yang selalu kau bicarakan bersama papa dan sekarang ia sudah berada dihadapan mu apakah kamu tidak mau memeluknya. "


Seketika Ziyan paham dan menangis menatap wanita itu yang juga ikut menangis.


" M-mama. "


" Iya nak dia itu mamamu ayo peluk katanya rindu. " Ulang Samuel.


Grepp....


Ziyan menumbruk ke pelukan ibunya menangis tersendu sendu mengeluarkan isi hatinya, berulang kali mengatakan rindu begitu juga dengan Sheliya berkali kali menciumi wajah sang anak.


Samuel dan Chun Yo ikut merasa terharu dengan pertemuan yang telah lama terpisahkan.


" Mamaaa aku merindukanmu hikss..."


" Mama juga nak. "


" Terimakasih telah kembali hiks... terima kasih ya tuhan engkau telah mengembalikan mamakuu..."


" Iya nak iya hiksss...."


Lama saling mencurahkan rindu mereka pun melepas pelukannya.


Ziyan melihat kesana kemari seperti sedang mencari kedatangan seseorang.


" Cari siapa sayang..." Tanya Sheliya melihat anaknya yang kebingungan.


" Mama adikku mana mama pasti bersamanya kan. "


Seketika semua terdiam kembali mengingat Zafran yang entah kemana.


" Mama papa jawab Ziyan adik Ziyan mana Ziyan ingin menemui kembaran Ziyan... "


" Sayang jangan sedih mama juga ikut sedih melihatnya. " Sheliya mengangkat wajah Ziyan yang ditundukkan.


" Yaaa jangan sedih. " Ulang Sheliya lagi.


Ziyan tersenyum tak mau membuat mamanya sedih lagi.


" Iya mama. "


" Ohya ma aku mau hari ini bermanja sama mama seharian penuh bolehkan ma."


" Tentu sayang mama tidak pernah keberatan malah mama senang."


" Yeeyyy horeee. "


" Hmmm jadi papa mulai dilupakan niiii...." Goda Samuel.


" Ah papa... "


" Tenang Kim ada aku.." ucap Chun Yo.


" Aisss aku masih normal. " Cibik Samuel kesal.


Dan semua pun tertawa dibuatnya.


Tinggal menemukan Zafran setelah itu keluarga mereka akan lengkap.


                        *************


" Aisss akhirnya sekolah dibubarkan dan kita telah kembali di basecamp tercinta.... Huuuhhh lelah. " Ucap Tao sambil merebahkan diri di sofa.


Ini adalah basecamp tempat nongkrong Sihyung dan teman temannya lalu kenapa tiba tiba kita mengikuti mereka sampai disini??? Simak cerita selanjutnya.


Sihyung melirik sosok remaja yang masih tidur disofa yang lebih panjang.


Wajah kelinci itu terlihat damai walau dihiasi lembam.


" Kenapa dia belum bangun juga. " Jaemin ikut memandang wajah damai itu.


" Makin lama aku semakin kasihan melihat anak itu. " Ucap Sihyung.


" Dan kenapa setiap dia terluka pasti kita yang menemukannya. " Tambah Lee Chan.


" Benci tapi seketika kita amnesia saat melihat ia butuh pertolongan dan segera menolongnya. " Ucap Junjey.


" Berarti kita masih baik dan percuma saja menyimpan dendam. " Balas Jeno.


Semua terdiam memikirkan ucapan Jeno barusan yang ada benarnya juga.


Semalam seperti biasa mereka keluar untuk bermain namun tak sengaja mereka menemukan Zafran dalam keadaan sekarat dan meminta tolong.


Karena kasihan mereka tak memikirkan tentang hubungan mereka yang kurang baik langsung saja mereka membawa Zafran kesini.


Awalnya mereka menawarkan Zafran untuk kerumah sakit namun ia menolak dan jadilah ia tidur semalaman disini sampai sekarang belum berniat membuka mata.


" Punya masalah apa sih dia, pasti setiap kita nemuin dia selalu aja terluka. " Heran Lee Chan.


" Euhgh.." lenguhan kecil itu terdengar mengalihkan atensi mereka ke sumber suara dan beramai ramai mendekatinya.


Dengan pelan mata besar itu mengerjap menetralkan cahaya yang masuk ke matanya.


" Kau sudah bangun. " Tanya Sihyung.


Zafran mengangguk dan berusaha untuk bangun dengan hati hati namun tetap dibantu oleh Jaemin dan Tao.


" Akhhh..." Seluruh badannya terasa sakit karena beberapa pukulan yang ia dapati semalam.


" Ada yang sakit. " Tanya Junjey lagi.


Zafran menggeleng lemah.


" Terimakasih telah menolongku. " Lirih Zafran bahkan hampir tak terdengar dengan suara parau nya.


" Iya sama sama. " Jawab Sihyung.


Benar kata Jeno untuk apa menyimpan dendam jika dengan berteman bisa membawa suasana tentram.


Semua diam terus mengamati Zafran yang tidak banyak tingkah kali ini.


" A-akuu akuu .....Ahh aku ingin minta maaf pada kalian karena sikapku dulu, aku minta maaf ternyata kalian adalah orang yang baik dan aku mau kita tidak usah menyimpan dendam lagi. " Zafran menepis rasa gengsinya dan mulai sadar.


Inilah yang memang mereka ingin dengar, jujur saja mereka lelah dengan pertengkaran hanya karena merasa diri paling hebat.


Sihyung melirik teman temannya lalu tersenyum menatap Zafran.


" Baiklah lagipula kau tidak sebrengsek yang kami pikirkan eoh.... " Balas Sihyung sambil mencubit pipi tembem milik Zafran.


" Ahhh au sakiiitt...." Cibik Zafran memegang pipinya membuat semua tertawa.


" Ternyata preman seperti mu punya sisi imut juga ya hahaha..." Jaemin berucap membuat Zafran mengerucutkan bibir kesal.


" Jadi sekarang kita berteman. " Tanya Lee Chan memastikan.


" Tentuuuu...." Jawab mereka serempak lalu saling tertawa.


Kruuukk kruyukk


Zafran memegang perutnya yang berbunyi yang kelaparan karena semalam ia melewatkan jam makannya sampai siang ini.


" Aisss bilang saja lapar hmmm..."


Zafran cuma bisa nyengir karena benar saja dirinya sangat lapar.


" Kami membawakan mu makanan karena kami tau kau pasti belum makan. " Ucap Sihyung sambil mengambil bungkus yang semula diletakkan dimeja.


" Ini makanlah. " Lanjutnya lalu memberikan bungkus itu pada Zafran yang menerima dengan gembira.


Langsung saja ia membuka bungkusnya dan mencomot makanan itu, Jaemin juga sudah membawakan segelas air untuk kelinci itu.


                       **************


Malam harinya dikediaman Chun Yo, sekarang rumahnya semakin ramai saja.


Saat ini mereka semua tengah berada di meja makan untuk memulai makan malam. Lee Mina pun tak banyak bertanya lagi setelah diceritakan semuanya tadi, gadis itu malah senang karena Sheliya itu sangat baik dan ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu darinya.


Mereka bahagia tapi tidak sepenuhnya karena kehadiran Zafran tidak ada bersama mereka.


" Mama papa besok kita cari Zafran ya, kan lebih lengkap kalau ada dia. " Ucap Ziyan setelah adegan banyak tertawa tadi.


Samuel dan Sheliya saling menatap lalu tersenyum.


" Iya sayang pasti, kita tidak akan lupa padanya. "


" Disekolah tadi teman temannya juga bersedih karena Zafran tidak sekolah, aku melihatnya tadi. " Tambah Mina.


" Semoga saja dimana pun ia berada ia selalu dalam keadaan baik. " Ujar Chun Yo tak ketinggalan.


" Kondisinya saat kabur waktu itu sangat mengerikan, aku takut dia kenapa napa. Ya tuhan tolong lindungi lah anakku semoga kakeknya tidak menemukan dirinya terlebih dahulu. " Lirih Sheliya.


" Iya sayang. "


Seketika semua larut dalam kesedihan, Chun Yo tak senang melihat hal itu ia pun mengalihkan suasana.


" Yap baiklah ayo kita makaaaannn sebelum keburu dingin. "


" Baiklah ayooo. " Ucap mereka serempak berusaha menepiskan pikiran tentang Zafran walau tidak bisa.


Beralih ditempatnya Zafran masih dibasecamp Sihyung.


Tao, Lee Chan, Jeno, dan Junjey sudah pulang karena bagaimana pun juga mereka tidak bisa meninggalkan rumah.


Sekarang tinggal Jaemin, Sihyung dan Zafran disana bertiga.


" Bosan ya disini terus. " Ucap Jaemin tiba-tiba.


" Eh Sihyung keluar yuk jalan jalan kek, jangan disini terus Lo pasti juga bosan kan disini, Zafran juga. "


" Iya sih gue juga bosan tapi kasian sama kondisi Zafran. " Sahut Sihyung sambil melirik remaja yang sedang asyik menggigit kukunya.


" Udah gue gakpapa ayo ah jalan. " Zafran menyetujui ajakan Jaemin tak lupa menyudahi kegiatan nya.


" Serius Lo." Tanya Jaemin.


" Iya serius. " Ulang Zafran.


" Asikkkk yaudah ayo. " Ajak Jaemin.


" Lo Zafran boncengan ama gue aja ya soalnya kita gak bawa mobil. " Ucap Sihyung.


" Iya santai aja. " Jawab Zafran.


Jadilah mereka keluar dengan motor masing-masing dengan Zafran yang boncengan bersama Sihyung.


Mereka menyusuri jalanan Korea yang ramai dengan suasana malam yang sejuk.


Walaupun sudah sering keluar malam, Zafran tetap terpukau setiap kali melihat lampu indah berwarna-warni di gedung-gedung mewah.


" Kita kemana ni. " Tanya Jaemin mengendarai motornya disamping Sihyung.


" Eeeee mampir ke toko es krim bentar ya heheh. " Bukan Sihyung yang menjawab tapi Zafran.


" Haallaah dasar Lo bayiii. " Cibik Jaemin menggoda.


" Ahahaha sudah sudah oke baiklah kita mampir dulu ke toko es krim. " Lerai Sihyung.


Dan sampai lah mereka ditoko yang dimaksud Zafran tadi.


Mereka menuruni motor dan menuju kesana, Jaemin dan Sihyung menunggu diluar sedangkan Zafran tengah sibuk memilih es krim.


Tak lama kemudian anak itu keluar sambil menjilati es krim rasa coklat.


" Kalian mau. " Tawar Zafran.


" Ah tidak makanan kami bukan itu tapi soj-


Sihyung menyinggung lengan Jaemin yang hampir keceplosan.


" Kau makanlah itu sampai habis dulu kami akan menunggu. " Ucap Sihyung.


" Ohya teman temanmu tadi terlihat sedih karena kamu tidak datang ke sekolah. " Ujar Jaemin yang tiba-tiba mengingat hal tadi.


Sejenak Zafran terdiam dan kasihan juga pada sahabatnya karena menyembunyikan hal ini.


" Tetap jangan beritahu dimana aku karena aku khawatir mereka akan ikut masuk kemasalah ku. "


" Ya kalau itu maumu ya sudah kami pun tak bisa melarang. " Kata Sihyung.


" Apapun yang terjadi nanti tetap jangan beritahu mereka karena aku tidak mau membuat mereka sedih. " Lirih Zafran.


" Kalian memang sahabat sejati. " Jaemin menepuk pundak Zafran.


" Iya terimakasih... kalian juga harus berbaikan dengan sahabat ku. "


" Ahahahah akan kami usahakan iya kan Sihyung..."


" Ya mudah-mudahan..." Jawab Sihyung dengan tersenyum.


" Yasudah cepat habiskan es krimmu kita akan lanjut jalan lagi. "


Zafran terus mencomoti es krim itu hingga Habis tak tersisa.


" Ohya sebentar ya aku cuci tangan dulu kalian tunggu disini. "


Zafran pergi sendirian ke arah tempat cuci tangan yang sedikit berjauhan dari jangkauan mereka.


Namun tiba tiba dua orang berbadan kekar dengan penampilan yang hampir tak dikenali mendekati dan langsung menangkap Zafran.


" Hei lepaskan siapa ka-


Zafran pingsan setelah disuntik sesuatu ketubuhnya dan langsung saja mereka membawa Zafran ke dalam mobil tanpa diketahui oleh Jaemin dan Sihyung yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.


Lama menunggu Sihyung dan Jaemin jadi curiga, kenapa kalau hanya untuk cuci tangan kenapa belum kembali sampai saat ini.


Tanpa menunda lagi mereka berdua menyusul Zafran dan panik ketika tak mendapati Zafran ditempat itu.


Mereka pun berusaha mencari walau akhirnya tak ketemu dan terpaksa pulang karena sudah larut malam.


               


                         *************