
Hari telah berganti kini Kim Zafran kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Sedari berada dirumah raut wajahnya yang tiba tiba datar sulit diartikan dan setelah sampai disekolah, dengan segera ia memarkirkan motornya lalu berjalan menuju kelas sambil mengepal kedua tangannya.
Sampai di kelas, ia langsung disambut gembira oleh sahabatnya namun Zafran menghiraukan mereka.
Membuat ketiga sahabatnya saling menatap kebingungan.
" Hei bro kenapa lo raut wajah kek pantat ayam. " Eunseo merasa aneh langsung menegur Zafran.
" Et tunggu tunggu ni muka lo kenapa lembam gini, ini juga kepala-
" Sssttt udah nanti aja itunya. " Potong Zafran menepis tangan Jaywoo yang hendak memegang wajahnya.
" Lo kenapa sih hari ini biasanya walaupun lo ada masalah dirumah, lo gak akan sekesal inii. " Tambah Kay.
Zafran berjalan menuju meja guru berdiri dihadapan semua siswa yang sudah berdatangan, tangannya mengepal kuat sorot matanya tajam terus memandang bangku Namgil yang masih kosong itu.
BRAAKK.
Zafran menggebrak meja membuat seisi kelas terkejut begitupun dengan tiga sahabatnya yang belum mengerti maksudnya.
" Namgil kemana kenapa bangkunya masih kosong. " Ucap Zafran pelan namun setiap kalimat yang ia keluarkan terkesan mematikan.
" Lo kenapa sih tiba tiba nyari dia kalo mau ngebulli yang lain kan ada. " Saran Eunseo.
" DASAR BAJINGAN AWAS SAJA KALAU DIA DATANG NANTI AKAN KUHABISI DIAA. " teriak Zafran semakin membuat seisi kelas ketakutan.
" Eee zaf di-dia-
" APA APA HA GUE GAK MAU DENGAR APA APA YANG GUE MAU CUMA BAJINGAN ITU. " Zafran menatap tajam Jaywoo yang barusan berucap.
" KALIAN SEMUA KENAPA DIAM HA. "
Zafran kini berjalan menghampiri Bonju yang duduk dibangku depan, menarik kerah bajunya membuat sang empu hanya dapat menunduk ketakutan.
" Lo, lo temannya Namgil kan, awas kalo dia datang nanti lo itu juga kerja sama kan sama dia, JAWAAABB. " gertak Zafran hampir membuat Bonju menangis.
Melihat situasi yang mematikan, Jaywoo beserta dua temannya mendekati Zafran berusaha menenangkannya.
" Zaf jangan gini lo tu kenapa sih ada masalah apa. " Kay mencoba melepaskan cengkraman tangan Zafran dikerah baju Bonju.
" KALIAN GAK TAU APA APA GUE PUNYA URUSAN SAMA NAMGIL DAN DIA.... DIA INI PASTI TEMANNYA DI SIALAN ITU. "
" Dia pasti kerja sama buat ngecelakain gue. " Lanjut Zafran.
" Maksudnya apa sih lo bisa cerita sama kita jangan emosi kayak gini. " Eunseo merangkul Zafran berusaha menenangkannya.
" Lepas zaf kasian anak orang. " Pinta Jaywoo lembut.
Dengan pelan Zafran melepaskan cengkramannya berusaha menetralkan emosinya.
" Sekarang cerita ada apa sebenarnya. " Pinta Jaywoo kedua kalinya.
Zafran menghela nafas panjang berusaha tak emosi apalagi jangan sampai penyakit itu datang.
Para siswa siswi seisi kelas yang melihat Zafran semarah itu mereka merasa takut dan duduk di tempat masing-masing tak berani menatap sang preman tersebut.
Sedangkan Bonju dirinya sudah daritadi komat kamit.
" Lo lo pada tau kenapa gue gak sekolah kemarin. " Tanya Zafran.
" Enggak kita gak tau dan seharusnya kita yang nanya. " Jawab Eunseo.
" Dan lembam ini serta luka luka ini kalian tau kan ini sebab gue gak datang kemarin. " Lanjut Zafran.
" Ya kalo itusih pasti ya kan tapi kita gak tau lo dapatin luka itu darimana. " Ucap Kay.
" Hari ini gue datang marah marah sambil mencari Namgil, sekarang cernakan bagaimana masalahnya gue kemarin gak sekolah karena luka dan hari ini gue datang mencari Namgil dan... Tau sendirilah kalian. " Jelas Zafran.
" Berarti luka lo itu ada sangkut pautnya sama Namgil. " Jaywoo mulai menangkap maksud sahabatnya.
" Tapi bagaimana mungkin ia melakukan hal itu. " Ucap Kay tak percaya jika luka Zafran disebabkan oleh korban bulli seperti Namgil.
" Dia licik sangat licik dia ternyata sangat berbahaya. " Zafran berusaha tak se emosi mungkin.
" Sekarang kemana dia gue mau habisi babi itu. " Lanjut Zafran menatap satu persatu sahabatnya.
Yang ditatap merasa bingung karena jika memberi tau yang ada Zafran semakin emosi.
" JAWAB. " Gertak Zafran membuat ketiga sahabatnya harus memberitahukannya.
" Di-dia diaaa...... " Eunseo tak mampu melanjutkan kalimatnya.
" Jangan berbelit belit jangan bikin gue tambah emosi. "
" Dia udah pindah kemarin dia gak sekolah dan guru bilang ia tidak sekolah disini lagi dan pindah kesekolah lain kita pun gak tau dia pindah kemana. " Jelas Jaywoo sambil memegang pundak Zafran.
BRAAKK.
" Kurang ajar AAARRRGHHHH... DIA LICIK SIAALLLANNN.. GUE GAK TERIMA GUE-
" Tenang zaf tenang lo bikin mereka semua takut. "
Disaat puncak emosinya menggebu penyakit itupun datang menggerogoti dadanya, beralih tangannya meremas dada kirinya dengan nafas tak beraturan membuat ketiga sahabatnya panik.
" Zaf Zafran lo kenapa. " Panik Kay.
Tak mau membuat mereka semua curiga ia pun berlari meninggalkan kelas namun yang namanya sahabat mereka tak tinggal diam dan memilih mengejar Zafran yang lari ke arah rooftop.
Sampai di sana Zafran nampak limbung dan dengan cepat Jaywoo menangkap nya.
Posisi mereka sekarang, Zafran yang bersender di dada Jaywoo dan dua sahabat yang lain mengerubunginya.
" Zafran lo kenapa sih. " Sekarang Jaywoo menangis begitupun dengan Kay dan Eunseo yang tak kuasa melihat Zafran kesakitan.
" J-jangan nangis.. Gu-gue o-okke gue b-baik baik aj-jha hmm. " Sekuat tenaga Zafran bersuara menahan sakit didadanya.
" Oke pantat lo ngomong aja tertahan tahan gitu udah deh lo jujur aja ama kita lo tu kenapa sih gak usah ngerahasiain sama sabahat lo sendiri katakan. " Eunseo menangis meminta Zafran untuk jujur.
" Lo anggap kita apa sih sampai lo ngerahasiain tentang diri lo sendiri. " Tambah Kay.
" I-iya gue s-sakiit.. Gue emang s-sakiit hah... Hah... Hahh.. " Matanya terpejam
Menetralkan sakitnya.
" Iya tapi sakit apa sakit apa Zafran, gak mungkin lo sakit biasa, apalagi tiba-tiba kayak gini. "
" Nanti l-lo tau sen-diri kok, t-tappi kalau k-kalian u-udah tau k-kalian harus janji k-kalian gak boleh s-ssedihh.. Hah... "
" Lo ngomong apa sih. "
Bilang aja lo sakit apa Zafran.. Hiks.. "
" Kita sayang sama lo... Hiks... "
Hening
Beban didada Jaywoo semakin berat dan Zafran sudah tak bersuara lagi dan merintih sakit, sekarang matanya terpejam dengan nafas yang lebih tenang.. Apa tandanya..
" Zafran... Zaf bangun. "
" Jangan becanda deh Zafran gue tau lo itu anaknya iseng. "
" Zafran.. Hiks.. Hiks... "
" Bro ini udah gawat dia gak becanda ini serius k-kita... "
" Bawa dia kerumah sakit sekarang. "
" Zafraaaann hiks.. Hiks... Bertahanlah... Masih banyak yang harus kita gangguin... Hiks... "
" Bertahanlah.... "
************
DITEMPATNYA ZIYAN.
Hari ini rapat, sekolah dibubarkan lebih awal, Ziyan belum dijemput karena belum jam pulang. Ia pun pulang menaiki kendaraan yang lewat.
Mumpung masih awal dirinya ingin pergi ketempat orang tua angkatnya rasanya ia telah merindukan mereka.
Tak selang waktu lama, Ziyan pun turun didepan rumah Arman dan Raina.
Dirinya berjalan mengetuk pintu berkali berkali namun tak juga mendapati orang yang membuka pintu.
Semakin lama tak ada sahutan ia pun yakin jika penghuni tak ada dirumah dan pasti orang tuanya berada di kebun.
Tanpa membuang waktu lagi ia pun pergi ke kebun yang tak jauh dari rumah itu.
Lumayan memakan waktu karena berjalan kaki kini ia telah sampai ditempat, ia melihat pasangan itu sedang bekerja memetik sayuran yang siap dipanen.
Sungguh mengagumkan mereka adalah pasangan cinta sejati, tak dipungkiri Arman adalah yang dulunya menjabat sebagai seorang guru memilih meninggalkan pekerjaan itu karena ingin menemani istrinya yang terpuruk saat itu dan sekarang mereka menempuh jalan hidup yang baru.
Walaupun sang istri tak mampu memberikan anak lagi sang suami dengan sepenuh hati setia dan tulus mengabaikan kekurangan sang istri.
Sungguh ini adalah cinta sejati yang sebenarnya.
" Ibuuuuu ayyyaaaahhh.... " Panggil Ziyan sambil menumbruk kedua orang itu memeluknya.
" Ziyan rinduuuu.. " Manjanya dipelukan Arman dan Raina.
Dua orang dewasa itu tersenyum bahagia jujur saja mereka sangat merindukan manjanya remaja kelinci ini.
" Hei apa kau membolos kenapa awal sekaliii... " Tanya Arman setelah melepas pelukannya.
" Hmmm apa anak ini sudah nakal yaaaa... " Goda Raina.
" Aiiiss ayah ibuu ajaran kalian masih melekat di hatiku mana mungkin aku nakal secepat ituu.. " Gerutunya kesal.
" Ahahaah ibu hanya bercanda sayang kenapa serius sekali hidupmu. "
Ziyan mengerucutkan bibirnya kesal membuat Arman dan Raina menatapnya gemas.
" Aahhh ayah ibu ka-.. Au... Akhh.. " Ziyan tiba tiba memegang dadanya yang terasa sesak.
" Ziyan kamu kenapa sayang. " Mereka panik melihat Ziyan seperti kesakitan.
Ziyan mengerutkan keningnya ia tak sakit namun tiba tiba seperti sesak saja rasa tak nyaman.
" Tidak aku gakpapa cuma meleyot aja melihat ayah dan ibu menggoda ku. " Bohong Ziyan tak ingin membuat ibu dan ayahnya panik.
" Dasaaarrr kelinci nakal ayah dan ibu hampir copot jantung nya melihat kamu sakit. " Kesal Raina sekaligus khawatir.
" Hehe ohya ibu ayah Ziyan mau ngomong sesuatu. " Ziyan tak ingin berlama lama menyampaikan maksudnya.
" Ngomong aja sayang. " Lembut Arman lagi lagi membuat Ziyan terharu begitu tulusnya orang tua angkatnya ini menyayanginya.
" Tapi duduk dulu yuk di bawah pohon rindang itu. " Pinta Ziyan sambil menunjukkan tempatnya.
Arman dan Raina pun mengiyakannya lalu mereka bertiga menuju kesana.
Tanpa menunggu lama Ziyan pun mulai membuka suara.
" Ibu ayah akuuu.. Akuu.. "
" Katakan nak katakan jangan ragu kami akan mendengar apapun yang akan engkau katakan. " Lembut Arman tersenyum menyejukkan hati.
Ziyan menghela nafas panjang mengumpulkan kalimat yang akan dilontarkan.
" Akuu.. Aku dan papa akan pergi mencari keberadaan mama dan adikku, kami akan pergi dalam waktu dekat ini dan untuk itu aku datang kesini untuk pamit pada kalian. " Dengan hati hati dan penuh percaya diri Ziyan mengatakannya.
Mendengar itu Arman dan Raina hanya dapat saling tatap, jujur hatinya tak rela melepas kepergian Ziyan namun apalah daya mereka juga tak bisa mencegahnya.
" Ayah ibu aku pamit doakan aku dan papa supaya bisa cepat menemukan mama dan adikku dan setelah itu kami akan kembali kesini. " Ziyan beralih mengambil tangan Raina dan menciumnya.
Mendapat perlakuan seperti itu Raina tak tinggal diam untuk mengelus surai lembut anaknya.
Arman juga menepuk nepuk lembut punggung Ziyan.
" Doa kami akan selalu menyertai mu nak, pergilah jika itu tujuanmu semoga kamu dan papamu diberikan kemudahan untuk menemukan orang yang kalian cari. " Arman bertutur ikhlas menyalurkan semangat pada anak angkatnya.
" Jangan lupakan kami.. Hiks... " Dengan cepat Raina memeluk Ziyan sambil menangis bukan hanya Raina tapi ziyan dan Arman juga ikut menangis.
" Tidak akan, kalian adalah orang pertama yang kulihat saat diriku masih bayi dan kalian juga orang pertama yang mengajariku berjalan, orang pertama yang kupanggil ayah dan ibu serta orang pertama yang menghapus airmataku ketika aku menangis, mana mungkin aku bisa melupakan kalian semudah itu.. Hiks.. Hiks.. Aku menyayangi kalian.. Hiks... " Jelas Ziyan disela sela tangis.
Arman dan Raina tak kuasa, pipi keduanya sudah dibasahi airmata, waktu melepaskan Ziyan kini benar-benar telah tiba dan mereka harus ikhlas apalagi orang yang disayangi akan pergi jauh darinya.
Setelah puas menangis dalam pelukan kini mereka melepas nya.
" Jangan menangis lagi ibuu.. Airmata mu adalah kelemahan ku. " Ucap Ziyan sembari menghapus airmata orang yang menjabat sebagai ibu angkatnya.
Raina tersenyum dan berusaha tak mengeluarkan airmata lagi.
" Ayah juga jangan menangis hatiku sakit melihat super hero ku menangisss.. " Lanjut Ziyan lagi tak lupa menghapus airmata Arman.
Arman juga melakukan hal yang sama seperti Raina berusaha setegar mungkin.
" Terima kasih telah menjadi putra kami, kamu adalah cahaya yang datang setelah kegelapan, kamu telah memberi kami kesempatan untuk menjadi sebagai orang tua, kamu telah mewarnai hidup ku merasakan bagaimana menjadi seorang ibu terimakasih.. " Jelas Raina tulus.
" Kamu adalah anak yang baik ayah bangga padamu.. Putra Sheliya Zafara adalah cahaya dihidup kami... Terima kasih nak... Walaupun ibu kandung mu menyebalkan ternyata anaknya sangat menyenangkan hahah.. " Ucap Arman terselip tawa di akhir kalimat nya mengingat kembali kisah hidup Sheliya yang sangat menyebalkan bagi dirinya.
" M-maksudnya. " Ziyan yang penasaran kini bertanya.
" Ah sudahlah lupakan... Setelah kau bertemu dengan nya mintalah dia menceritakan kenakalannya hahah. "
" Terima kasih juga ayah ibu karena kalian aku bisa merasakan yang namanya kasih sayang orang tua, kalian adalah orang tua terbaik yang aku kenal terimakasih atas semua jasa ibu dan ayah. " Ziyan tersenyum menampakkan gigi kelinci nya.
Mereka pun saling memeluk lagi dan Ziyan akan menghabiskan waktu bermanjanya saat ini dengan mereka.
*************
Ditempatnya Zafran.
Mata besar itu kini mengerjap lucu diatas ranjang persakitan membuat tiga remaja seumuran dengan nya menunggu tak sabar.
" L-lo sadar lo udah sadar kawaaaannn...." Eunseo memekik senang mendapati mata yang terpejam itu kini terbuka.
" Syukurlaaaahh kita khawatir banget sama looo. " Kay menambahi.
" G-gue dimana. " Tanya Zafran melihat sekitar dengan mata sayu.
" Lo dirumah sakit. " Jawab Eunseo.
" Kenapa dibawa kesini. " Ucap Zafran lagi.
" Pakek nanya lagi ya karena... Kar- Jaywoo merasa tak sanggup setelah mendengar penuturan dokter tentang kondisi Zafran yang sebenarnya, bukan hanya Jaywoo tapi Kay dan Eunseo juga sudah mengetahuinya.
Kay yang tau suasana hati Jaywoo, ia pun memeluk sahabatnya untuk menenangkannya namun membuat Zafran kebingungan dengan tingkah mereka.
" Kalian kenapa sih kenapa malah adegan sad disini. " Tanya Zafran heran dengan mereka.
Mereka bertiga tak langsung menjawab membuat Zafran semakin kebingungan.
" Jawab dong kenapa gue dikacangin gini sih kalian kenapa woi. " Zafran mulai kesal dengan mereka.
Eunseo menghela nafas menyeka airmata yang hampir meluncur.
" Apa yang lo rahasiain dari kita. "
" Ra-rahasia?? Rahasia apa sih maksud kalian!! Gue gak ada rahasia rahasiaan sama lo pada. " Jawab Zafran yang belum mengerti arah bicaranya kemana.
Jaywoo sudah tak kuat lagi dengan sikap sok kuat sahabatnya ia geram kenapa harus menyembunyikan hal seberat ini sendirian.
" Lo sakit kan. "
" Ahahaha oh ituuu ck udalah cuman sakit biasa jangan khawatir oke. " Jawab Zafran masih menyembunyikan hal tersebut.
Mereka bertiga tak habis pikir kenapa Zafran masih ingin menyembunyikan hal itu dari mereka.
" Enggak, gk usah bohong. " Ucap Kay.
" Buset lo kenapa sih gak percayaan amat emang gue ini kayak orang penyakitan apa, gue itu sehat fresh oke gak usah nanya gitu. "
" BERHENTI ZAFRAN.. bisa gak sih lo jujur sama kita gak usah sok kuat ngehadapin sendirian. " Bentak Jaywoo yang kehabisan kesabaran membuat yang lainnya mematung terlebih lagi Zafran.
" M-maksud lo. " Tanya Zafran hati hati.
" Sakit jantung. "
Deg.
Dua kata yang diucapkan Eunseo mampu membuat Zafran terdiam.
" Kita udah denger dari dokter yang tadi nanganin lo dan setelah pemeriksaan lebih lanjut katanya jantung lo bermasalah.. Dan ternyata benar kamu... Hiks.. Kamu itu.. Kamu sakit jantung.. Hiks.. Hiks.. " Jelas Eunseo yang kini telah menangis.
Tak ada yang bisa disembunyikan lagi semua telah terbukti rahasia yang selama ini ia jaga kini diketahui oleh para sahabatnya, dirinya hanya mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata dan tanpa aba aba airmata nya mengalir membasahi pipi imutnya.
Grepp.
Tanpa aba aba tubuhnya langsung diterkam oleh Jaywoo sambil menangis memeluk Zafran.
" Kenapa, kenapa harus dirahasiain dari kita.. Hiks.. Kenapa. "
" G-gue-
" Gak usah ngomong diam aja. " Jaywoo semakin mengeratkan pelukannya tak peduli airmata nya telah membasahi baju Zafran.
Melihat itu Kay dan Eunseo juga ikut memeluk sambil menangis saling menyalurkan semangat.
Lumayan lama hingga satu suara mengintruksi mereka.
" Ee.. Eh taik sesak gue. " Ucap Zafran mereka pun melepas pelukannya.
Masing-masing dari mereka menyeka airmata begitu juga dengan Zafran.
" Udah gak usah nangis gue kuat kok. " Zafran mencoba menenangkan mereka.
" Pokoknya kita akan lebih ekstra ngejain lo. " Ujar Kay.
" Aduh ini nih yang gak gue suk-
" Ssstttt gak usah protes. " Jari telunjuk Eunseo mendarat dibibir Zafran.
" Apaan sih lo. " Zafran menepis tangan Eunseo.
" Kapan lo butuh bantuan bilang sama kita kapan lo gak enak badan bilang sama kita dan ketika ada yang mencoba menyakiti lo bilang juga ama kita jadikan kita sahabat yang berarti buat lo. " Jelas Jaywoo tulus.
" AaaAhhh gue jadi terharuu ni. " Ucap Zafran memelas.
" Ya walaupun kita gak bisa sepenuhnya ngebantu tapi kita akan berusaha untuk bisa membantu. " Tambah Eunseo.
" Beruntung banget gue punya sahabat setan kek kalian, makasih yaa udah selalu ada buat gue. " Ucap Zafran terharu.
" Ya gak usah sebut setan juga bisa. " Protes Kay.
" Hehee. " Nyengir Zafran.
" Pokoknya susah senang kita akan selalu menjadi sahabat yang akan saling menguatkan. " Tegas Eunseo sambil mengacungkan kepalan sebelah tangan keatas membuat mereka semua tertawa.
" Tersenyum lah selalu kami bahagia melihat senyum kelinci mu. " Batin Jaywoo.
" Semoga kau tetap bertahan sampai kita jadi kakek kakek nanti. " Batin Eunseo.
" Bahagia mu bahagia kami walaupun lo ngeselin tapi jujur lo adalah sahabat yang paling oke. " Batin Kay.
" Terima kasih sahabat ku karena kalian adalah salah satu alasan diriku bertahan. " Batin Zafran.
Mereka pun saling tertawa karena keributan yang ditimbulkan oleh Kay dan Eunseo yang selalu bertentang pendapat.
Zafran tertawa puas melupakan sejenak pikirannya begitu juga dengan Kay, Jaywoo dan Eunseo mereka bahagia karena membuat Zafran tertawa.
Semoga selalu seperti ini...........
***********