Handsome Twins

Handsome Twins
bab 42 belajar sepeda



Beberapa hari telah berganti dan Ziyan  sudah bisa dipulangkan kerumah.


Untuk memaksimalkan kesehatan, Ziyan tidak diizinkan kesekolah hari ini dan sekarang ia sedang berada di halaman belakang bersama Zafran.


Mereka menunggu selagi nenek dan ibunya menyiapkan makan siang. Sedangkan Pak Bahar dan Samuel memilih berkebun.


" Hah aku rindu tempat tinggal ku disana. " Lirih Zafran.


" Apa kau tidak suka tinggal disini. " Tanya Ziyan hati hati.


" Bukan begitu maksudku tapi..... Hah..... "


" Aku mengerti kau pasti bosan kan disini.. "


" Ti-tidak juga. "


Ziyan tersenyum dan sekarang ia jadi punya ide untuk membuang kejenuhan sang adik.


" Ayo ikut aku. " Ziyan menarik Zafran yang masih kebingungan.


Setelah meminta izin pada orang dirumah Ziyan bergegas melaksanakan idenya.


Dan apalah yang mereka lakukan ya seperti sekarang ini.


Ziyan mengajak Zafran berkeliling menaiki sepeda milik kakeknya.


Ziyan yang mengayuh dan Zafran duduk sebagai penumpang karena jujur ia tidak bisa mengayuh sepeda ya karena tidak pernah.


Awalnya Zafran takut, namun karena melihat Ziyan yang memang jago ia pun jadi menikmati hal itu.


Mereka mengelilingi desa yang sejuk sambil bercanda riang, ternyata tinggal disini tidak terlalu buruk juga.


" Kau sukaa.... " Tanya Ziyan terus mengayuh seakan badannya sudah sangat sehat demi bisa membuat sang adik senang.


" Wawww suka sekali... " Jawab Zafran yang duduk di belakang sambil menikmati semilir angin yang menimpa wajahnya.


" Bagaimana kau bisa jago sekali dengan kendaraan ini. " Tanya Zafran heran melihat kearah kaki Ziyan yang terus mengayuh.


Ziyan terkekeh lalu menjawab pertanyaan sang adik dengan senang hati.


" Karena ini adalah mainan ku sejak kecil, awalnya aku juga tidak bisa tapi kakek terus mengajariku hingga bisa walaupun awalnya aku terus mencium tanah. "


" Ahaha tanah punya kesempatan juga yaa.... Hah... Beruntungnya ya kau punya kakek seperti dia. " Ucap Zafran seakan lupa kalau mereka saudara.


" Hei dia itu juga kakekmu bodoh... Ups... Lihatkan aku jadi ketularan Bahasa kasarmu itu. "


Zafran tertawa, awalnya Ziyan merengut tapi akhirnya tertawa juga.


Mereka akhirnya berhenti di sebuah sungai.


" Hei kau mau mencobanya. " Tawar Ziyan setelah menuruni sepeda itu diikuti Zafran.


" Eeee... " Zafran tak langsung menjawab karena pasti mengendarai itu tidak semudah yang ia pikirkan.


" Ayolah aku akan mengajarimu. "


Zafran masih menggaruk garuk kepala karena masih ragu.


" Ck... Ini mudah sekali tenang saja.. Kau juga harus terbiasa mengendarai sepeda. " Lanjut Ziyan.


Zafran mengumpulkan keberanian dan mengangguk mantap membuat Ziyan tersenyum senang.


" Ini. " Ziyan memberi alih sepeda dan Zafran menerimanya.


" Naiklah.. " Zafran menaiki sepeda sesuai perintah Ziyan.


" Sekarang angkat salah satu kakimu menginjak tapak sepeda itu. " Terus Zafran melakukan sesuai yang dikatakan Ziyan.


" Lalu dorong kedepan dan kau harus cepat mengin-


Brugh...


" Akhh.. " Terlalu terburu buru hingga Zafran tak sempat menginjak yang satunya.


" Hmm.. Kau ini tidak apa apa kan. " Ziyan membantu Zafran membangunkan sepeda.


" Dengarkan arahan ku dulu jangan terburu buru seperti itu. "


" Kenapa susah sekali tidak seperti motor yang hanya dimasukkan kunci lalu nyalakan dan jalan selesai. " Protes Zafran.


" Hei kendaraan ini hemat bensin kau tau bahkan tidak perlu. " Elak Ziyan.


" Tap-


" Kau mengatakan itu karena tidak pernah mencoba ini, saat kau jago pasti kau ketagihan seperti motor awalnya kau juga tidak bisa kan. " Zafran mengiyakan.


" Yasudah coba lagi, semangat. "


Zafran menaiki sepeda kembali dan melakukan percobaan untuk kedua kali.


" Dengarkan aku, setelah mendorong tapak sepeda yang satu kau harus dengan cepat menginjak tapak sepeda yang satunya lagi lalu teruskan lakukan itu berulang ulang. "


Baik sekarang Zafran mengerti lalu melakukan seperti arahan Ziyan.


" Ya ya seperti itu terus kayuh. "


Pada mendayuh Zafran sudah agak menguasai namun masalahnya pada setangnya sekarang, ia tidak bisa menyeimbangkan jadilah tidak bisa konsisten dan jatuh karena menabrak pohon.


Brughh


Untuk kedua kalinya Zafran jatuh dan tinggal ketiga kali ia pasti akan bisa.


" Aduuhh... " Erang Zafran.


Ingin tertawa namun Ziyan kasihan juga melihat adiknya.


" Hati hatilah... Bukan pada mendayuh saja butuh konsentrasi tapi pada memegang setangnya ini... Dan sesuai kan kemana kau akan mengayuh. " Jelas Ziyan membantu Zafran.


" Aiss kenapa pohonnya harus disini sihh.. "


" Ahahah jangan salahkan pohonnya karena ia hanya jadi korban atas kesalahan mu, itu namanya egoiss sayangku.. "


" Ayo lagi kau jangan mudah patah semangat, harus berjuang... Butuh pengorbanan untuk bisa mencapai. "


" Ya pengorbanan, setelah encok baru aku bisa. " Zafran merengut kesal namun malah membuat Ziyan gemas.


" Jangan begitu... Hidup ini memang keras jika kita lemah maka akan ditindas. "


" Lalu kenapa kau jadi korban bulli katanya tidak boleh lemah. " Ucap Zafran.


" Aiss aku sudah cukup bersabar untuk mengajarimu sepeda, sekarang ayo lanjut lagi tidak usah bahas itu. " Zafran terkekeh ia tau Ziyan merasa kesindir.


Zafran menaiki sepeda untuk ketiga kalinya.


" Mendayuh seperti tadi dan konsentrasikan pada setangnya kemana pun arahnya sesuai kan dengan dayuhan sepeda mu. " Zafran mengingat hal itu lekat lekat di kepalanya lalu mulai mendayuh pelan.


Dengan pelan Zafran bisa sedikit menguasai namun hal itu belum berakhir Zafran akan berhasil, karena dia tidak tau cara berbelok parahnya lagi didepannya itu sungai.


" Zafran awas ada sungai kau berbelok lahh....  " Teriak Ziyan.


" Bagaimana caranya... " Teriak Zafran terus mendayuh lurus.


" Putar setangnya ke kiri.... Cepat belok didepan ada su-


Byyuuurrrr.....


" Ngai. " Terlambat Zafran sudah keburu kecebur dan untungnya sungai itu tidak dalam apalagi ia jatuh di tepi.


" Akkhhh siaall... " Zafran basah kuyup.


" Izinkan aku untuk tertawa dulu.. "


Setelah itu Ziyan bukannya menolong ia malah tertawa terbahak-bahak terlebih dulu membuat Zafran kesal.


" Hentikan jangan tertawa. " Ucap Zafran sambil mengibaskan rambutnya yang basah.


" Ahahah haha... Ayo sini. " Ziyan menarik Zafran serta mengambil sepeda itu.


Setelah menolong, Ziyan masih tetap tidak bisa menghentikan tawanya.


" Hei hei kubilang sudah hentikan ini tidak lucuuu.. "


" Ahaha kenapa kau malah menangkap ikan disana.. Ahaha... "


" Aiss sudahlah kau-


" Oke oke baiklah.. Hah... Zafraaann Zafraaann... Itu baru namanya perjuangan.. Ahaha.. "


" Perjuangan pantatmu sudahlah aku tidak mau lagi naik itu. "


" Hmm baiklah yasudah mari aku bonceng kita pulang, kau juga harus mengganti pakaian mu. "


Dan mereka pulang dengan keadaan Zafran yang basah kuyup, entahlah sampai dirumah nanti alasan apa yang akan dikatakan pada ibu mereka.


Setelah menempuh perjalanan dengan Ziyan yang terus menertawai Zafran sepanjang jalan akhirnya mereka sampai dirumah.


Didalam semua orang telah menunggu mereka karena sudah waktu makan siang.


Ziyan memarkir sepeda disamping rumah terlebih dahulu.


" Apa kau sudah siap menghadapi orang orang didalam. " Zafran mengangguk.


" Maaf ini salahku ha-


" Sstt diamlah ini salah kita berdua bukan aku ataupun kamu jadi kita harus menghadapi sama sama. " Ucap Zafran memotong perkataan Ziyan membuat nya tersenyum.


Mereka lalu masuk menuju ruang makan yang sudah ditunggui orangtua dan kakek neneknya disana.


Dan semua terkejut melihat mereka pulang terlebih lagi dengan Zafran yang basah kuyup.


Dengan pelan mereka berjalan mendekati ibu mereka yang sekarang berwajah masam.


" Eee... M-maama-


" Darimana. " Tungkas Sheliya datar membuat Ziyan tak lagi berani menjawab.


" Eee... I-itu-


" Kenapa kamu basah. " Tanya Sheliya masih dengan expresi sama melihat Zafran yang  berdiri kedinginan.


" Maaa.. Itu.. "


" Kalian pergi sampai lupa waktu kami disini sudah menunggu dari tadi. " Wajah yang selalu dilihat ramah sekarang berubah menjadi menyeramkan.


Melihat kondisi seperti itu Samuel pun bangun mendekati mereka.


" Wah wah anak anak papa sudah mulai nakal ya.. Hm... Tapi tidak apa apa anak muda memang harus butuh sedikit atraksi.. "


" Hei Kim aku tidak menyuruhmu berpendapat. " Samuel terkejut tidak tau saja dia kalau Sheliya marah akan seperti mode singa.


" Dan kalian berdua jelaskan pada ku apa yang kalian perbuat sampai Zafran basah seperti ini. "


Glup


Ziyan dan Zafran hanya mampu meneguk ludah sekarang.


Pak Bahar dan Bu Yana memilih diam tak mau ikut campur walau sebenarnya kasihan melihat cucu cucunya.


Melihat Ziyan dan Zafran masih tetap diam kini Sheliya lanjut bicara namun dengan nada yang tersirat rasa khawatir.


" Iya ma aku mengerti. " Zafran dengan cepat memotong perkataan Sheliya yang mungkin akan mengarah kesana.


Keduanya menunduk dengan cepat Samuel sebagai sang ayah harus mencairkan suasana.


" Hei tidak apa apa itulah anak muda papa bangga pada kalian.. "


" Sungguh pa. " Tanya keduanya membuat Sheliya melototi Samuel.


" Iya sayang... Lain kali ajak papa juga kalau mau berpetualangan. "


" Jangan macam macam. " Ucap Sheliya mode singa namun kali ini si kembar tak takut karena pembelaan sang ayah.


" Jadi papa tidak marah. " Tanya Zafran sumringah mengabaikan sang ibu yng melotot.


" Untuk apa marah, kalian juga harus punya masa masa indah. "


" Hei Kim cukup. "


" Sebaiknya kalian cepat kekamar dan mandi kalau tidak ibu singa itu akan menerkam kalian eeuurhhraar. " Bisik Samuel pada keduanya namun masih tetap bisa didengar.


" Aku masih bisa mendengar mu Kim Samuel..." Sekarang Sheliya sudah memegang sandal yang dicabut dari kakinya.


" Cepat bersiap laahh.. " Ucap Samuel menyuruh si kembar untuk lari.


" Kabuuuurrrrr... " Dengan serentak si kembar berlari menuju kamar mambuat kakek nenek itu menggeleng geleng Kepala.


Rumah serasa sangat ramai sekarang.


Sekarang Samuel harus menghadapi singa cantik ini sendirian.


" Eeee sayang sendal ini untuk dipakai bukan senjata jadi.... " Samuel mengambil sendal dari tangan Sheliya dan memakaikan dikaki istrinya kembali.


Sheliya memang sangat bahagia diperlakukan seperti itu tapi dia tidak boleh kehilangan mode marahnya itu.


" Utitutu cayank... Jangan cembeluuutttttt.... " Samuel mencubit gemes pipi istrinya melupakan keberadaan orang tua mereka disana.


Pak Bahar dan Bu Yana hanya geleng-geleng kepala untuk kedua kalinya.


" Hei lepaskan ada ayah dan ibu. " Bisik Sheliya dan dengan cepat Samuel sadar dan mengubah expresinya.


" Kenapa tidak bilang. " Bisik Samuel sambil nyengir pada mertuanya.


" Sudah daritadi disana kau saja yang tidak sadar. " Bisik Sheliya.


" Hah kalian iniii ayo duduk tidak usah malu malu seperti itu. " Ucap Pak Bahar.


" Lagipula kami juga sering melakukan hal itu waktu muda dan sekarang-


" Haisss... Kau juga tidak usah dibahas lagi. " Sergah Pak Bahar memotong kalimat istrinya.


Samuel dan Sheliya tertawa diam diam ternyata pasangan tua ini masih romantis juga.


Dan tak lama kemudian si kembar turun setelah mandi dan menuju meja makan.


                       *************


Malam harinya.


Sheliya masih mendiami si kembar hingga sampai saat ini mereka masih berada dikamar namun ditemani sang ayah menjadikan mereka bercerita banyak hal.


" Papa apa mama masih marah. " Tanya Zafran lesu.


" Kami benar benar menyesal kami tidak akan melakukan hal itu lagi. " Tambah Ziyan.


Samuel mengusak rambut keduanya dan berusaha mengembalikan mood mereka.


Ia tau Sheliya tidak benar benar marah hanya saja ia ingin kedua anaknya tau rasa bersalah.


" Tenang saja nanti mama juga baikan sendiri kok. " Ucap Samuel.


" Tapi-


" Apanya hmm... Sudahlah mama mu tipe orang yang tidak akan tahan jika mendiami orang yang dia sayang..... Tunggu saja mama kalian akan mengetuk pintu dan datang sendiri kesini. " Jelas Samuel.


" Benarkah. "


Samuel mengangguk ucapan si kembar.


" Oh ya memangnya kalian pergi kemana tadiii....?? " Samuel memang belum sempat menanyakan tadi karena ia tertidur sebab kelelahan.


" Eeee.... Itu.. Sebab kami tadi pergi mengayuh sepeda kesungai dan disana Zafran belajar naik sepeda. " Jelas Ziyan.


" Waw bagus sekali apa Zafran sudah bisa naik sepeda sekarang, apa dia jago saat belajar tadi. " Tanya Samuel membuat Zafran menatap tajam Ziyan mengode agar tidak diceritakan.


Namun bukan saudara namanya jika tidak senang mengerjai satu sama lain.


" Ahhh ituu kau tau pa.... Tadiiiii saat Zafran belajar naik sepeda berulang kali ia jatuh... " Ziyan menaikkan alisnya menatap Zafran


" Oh ya... Wah tidak apa apa memang butuh sedikit perjuangan untuk bisa mencapai suatu hal. " Ucap Samuel menatap Zafran yang hampir merengut kesal.


" Tidak hanya itu asal papa tau... Yang lebih lucu lagiiii.... Zafran tidak tau cara berbelok dan dia pun kecebur ke Sungai... Ahahaha... " Ziyan meledakkan tawa mengingat kembali hal tadi.


" Oh jadi itu sebabnya Zafran basah kuyup tadi. "


" Iya pa... Ahahahah... " Ziyan melanjutkan tawanya membuat Zafran merengut kesal.


" Tidak apa apa tapi lucu juga ya ahahahahahah.... " Samuel ikut tertawa membuat Zafran semakin kesal mempautkan kedua bibirnya melengkung ke bawah.


Sedangkan kedua orang itu meledakkan tawa tak habis habisnya.


" Itu tidak lucuuuu... " Kesal Zafran.


" Aiss papa, Ziyan, diamlah... Hentikan itu tidak lucuuuuuu... " Pipi Zafran memerah malu mungkin jika ia tidak mempertahankan harga diri ia sudah menangis sekarang.


" Lagi, Zafran juga menabrak pohon paa dan ia malah menyalahkan pohonnya... Ahahaha.... " Ziyan malah menambah menceritakan membuat Samuel kembali tertawa.


" Aiiiiss kalian jahaaaattt jangan menertawai kuuuu.... "


Suara tawa mereka yang kencang membuat seseorang membuka pintu menampilkan seorang wanita yang mereka tunggu tunggu.


Alhasil mereka pun menghentikan tawa sedangkan Zafran masih mode kesalnya.


Sheliya mendekati mereka yang sepertinya sedang bercerita seru.


" Apanya yang lucu. " Tanya Sheliya datar.


Tak tahan lagi Ziyan langsung memeluk ibunya meminta maaf begitu juga dengan Zafran.


" Mama jangan diami kami, kami sayang mamaaa... "


" Kami janji tidak akan mengulangi lagiii.. "


Sheliya tersenyum melirik suaminya yang juga ikut tersenyum. Sepertinya sudah cukup peristiwa perang dinginnya.


" Ahaha baiklah mama juga menyayangi kalian... Mama hanya khawatir terjadi apa apa pada sikembar mama.. " Sheliya melepas pelukan itu lalu mengusak rambut sikembar.


" Mama tidak marah. " Tanya Zafran polos.


" Tidak sayang mama hanya sedikit mengetes kalian tadi. "


" Ahh mama. " Cibik Ziyan membuat Sheliya terkekeh.


" Benarkan kata papa, mama kalian tidak akan tahan berlama lama mendiami kalian. "


Mereka semua tersenyum.


" Cerita apa sih kalian tadi sampai kedengeran lho tawanya diluar. " Ucap Sheliya ikut duduk dikasur.


" Kami sedang menceritakan peristiwa Zafran yang belajar sepeda tadii.. " Ujar Ziyan dengan nada menggoda.


" Aiss diammm... " Zafran kini menerkam Ziyan menutup mulutnya, alhasil mereka bertindihan di kasur membuat Samuel dan Sheliya geleng-geleng kepala.


" Ahahahah papa mama tolong.... Macan ini sudah marah... Ahaha. " Ziyan beralih memeluk Zafran yang menindih nya dan menukar posisi.


" Mau kugelitiki..... " Ziyan menggelitik Zafran sampai ia tertawa lepas kegelian.


" Ahahaha lepas jangan.. Ahahah... Hei... Lepas... Geli... Ahaha. "


Samuel dan Sheliya ikut tertawa melihat tingkah mereka.


" Sssttt sudah cukup sekarang apa kalian mau mendengar cerita. " Tegur Samuel yang melihat Zafran sudah kewalahan.


Mereka pun berhenti mendekat kepelukan papa dan mamanya.


" Mauuuu mau.. "


" Ayo ceritakan paaa... "


" Ayoo paaa... "


" Baiklah papa akan cerita... Ekhem ekhemm.... "


Sebelum bercerita Samuel menyempatkan mencolek dagu Sheliya membuat sang empu tersipu malu ditambah lagi si kembar menertawai mereka.


" Disebuah desa hiduplah seorang gadis yang sangat cantik jelita dan keras kepala, hari harinya ia lalui dengan selalu membuat ulah disekolanya dikarenakan ingin mencari perhatian sang guru muda yang mengajar disana, sudah bisa disimpulkan bahwa gadis itu seperti menaruh perasaan pada sang guru. Gadis itu selalu bersemangat ke sekolah hendak selalu bertemu sang guru, namun kenyataan pahit menimpa si gadis karena mendengar kabar kalau sang guru akan menikah dengan wanita lain, hancurlah hati si gadis itu, hari harinya ia lalui tanpa gairah lagi...... "


" Tapi suatu hari sang pangeran datang mengobati luka si gadis dan berakhir mereka hidup bersama. " Tambah Sheliya mengakhiri cerita Samuel karena ia tau itu kisah siapa.


Samuel merangkul Sheliya lalu tersenyum.


" Pendek sekali... "


" Hanya ituuu. "


" Heum... Iya. " Singkat Samuel.


" Cerita papa tidak menarik. " Ucap Zafran diangguki Ziyan.


Samuel dan Sheliya saling memandang lalu memerhatikan kedua putranya.


" Makna dari cerita itu janganlah putus asa dikala cintamu tak terbalas karena belum tentu cinta yang itu yang akan menjadi pendamping mu, tetapi percayalah yang datang mengobati mungkin itulah takdirmu. " Jelas Sheliya.


" Bukan dia yang datang pertama tapi dia yang datang sebagai penutup. " Tambah Samuel.


" Iuuh.... Mulai lagikan yasudah cepatlah papa dan mama kekamar, disini ada kami. " Ucap Zafran.


" Hah... Itulah yang kami tunggu ayo sayanggg... " Ajak Samuel sambil bangkit dari tempat tidur menggandeng Sheliya.


" Kami ke kamar dulu ya kalian tidurlah jangan begadang. " Peringat Sheliya lalu keluar darisana sambil menggandeng suaminya.


" Aku tidak mau adik lagi.... " Ucap Ziyan sedikit keras karena melihat orangtua nya sudah kejauhan.


" Aku mauuuu.... " Sambung Zafran dengan nada yang sama seperti Ziyan.


" Hei kau satu dirimu saja sudah membuat ku pusing... "


" Heheh mungkin kalau bertambah bisa mengurangi pusing mu... "


" Hah... Itu bukan mengurangi tapi menambahiii..... "


" Tapi membuat mu pusing itu menyenangkan... "


" Owww awas kau yaaaa... "


Dan mulai lagi mereka saling bercanda menggelitiki dan tertawa bersama sebelum akhirnya mereka terlelap juga.


                       *************