
" Padahal kita membencinya dan harusnya senang dengan kondisinya kenapa kita yang terkenal kejam punya rasa penyayang pada musuh sendiri. "
Ucap Jaemin memandangi remaja yang terbaring diatas ranjang persakitan dengan kepala yang terbalut perban.
Mereka membawanya ke rumah sakit, setelah diperiksa mereka masuk untuk sekedar melihat remaja kelinci ini.
" Kira kira kenapa dia sampai ingin dibunuh oleh sekelompok remaja tadi..... " Penasaran Jeno dengan apa yang ia lihat tadi.
" Orang sepertinya tidak mungkin tidak punya musuh lihatlah sikapnya yang tengil itu membuat siapa saja ingin menghabisinya. " Datar Sihyung terus memandangi wajah lembam itu.
" Lalu kenapa kita menolongnya. " Tanya Lee chan.
Hening tidak ada Jawaban dari siapapun.
" Eee... Ini sudah larut malam apa kita akan menjaganya atau pul-
" Tentu saja pulang. " Sergah Junjey memotong kalimat Tao.
" Ya kan Sihyung. " Lanjut Junjey bertanya.
Sihyung tak menjawab pertanyaan mereka dan hanya membalas dengan senyum nya.
Beberapa saat kemudian satu kata pun terucap dari bibir seksinya.
" Pulang. "
Dan satu kata itu membuat semua temannya bernafas lega karena Sihyung tidak akan berubah hanya karena bocah itu.
Namun baru berbalik badan menuju pintu, langkah mereka terhenti saat mendengar lenguhan kecil.
" Euhh...... "
Keenam remaja itupun kembali mendekati ranjang Zafran.
" Kau sudah bangun tengil. " Tanya Jaemin namun Zafran masih menetralkan rasa sakitnya.
Beberapa detik kemudian Zafran memegang kepalanya yang berdenyut.
" Ahhh... Arrghh... S-sakit.. "
" Hei hei kau kenapa. "
" Cepat panggil dokter. " Titah Sihyung.
Baru saja Tao hendak berlari namun suara Jaemin menghentikannya.
" Hei bodoh lalu apa gunanya tombol ini ha. " Cibir Jaemin lalu menekan tombol darurat itu membuat Tao cuma bisa nyengir sendiri.
Setelah itu dokter pun menuju kesana lalu memeriksa Zafran, setelah dirasa baik baik saja sang dokter menjelaskan pada mereka berenam lalu kembali ke ruangannya setelah dirasa beres.
Saat tadinya mereka berenam ingin pulang lalu diurungkan ketika mendapati Zafran sadar.
Sekarang ruangan ini hanya terdengar alat alat medis yang bekerja tidak satupun terdengar suara manusia.
" Pulang. " Satu kata dari yang paling kecil mengalihkan atensi mereka.
" Ck aku ingin pulang. " Zafran berusaha bangkit dari ranjang namun Sihyung dan Jaemin menahannya.
" Kau sudah bodoh jangan bertingkah bodoh lagi tidak ada yang bisa pulang dengan kondisi seperti ini. " Suara Jaemin sambil menahan tubuh Zafran.
" Lepaskan aku ingin pulang. " Zafran memberontak dan berhasil lepas dari mereka namun karena tubuhnya belum stabil dirinya pun terjatuh tersungkur ke lantai.
" Arrghh.... "
Mereka berenam pun berjongkok mendekati Zafran.
" Dasar bocah nakal lihatlah karena kelakuan mu sendiri, sekali saja tidak keras kepala bisa. " Kesal Sihyung namun membantu Zafran kembali ke atas ranjang.
" Aku mohon t-tolong bawa aku pulang a-aku harus pulang tolong hah... " Mohon Zafran pada mereka.
" Tidak bisa. "
" Aku harus pulang. "
" Jangan keras kepala. "
" Pokoknya pulang. "
" Dokter saja tak mengizinkannya. "
" Kenapa kalian jadi protektive gini sama akuuu. "
" Diamlah anggap saja kita ini orang asing bukan musuhmu atau temanmu.... "
" Lalu kenapa menolongku.. "
" Aiisss benar-benar. "
Ceklek.......
Suara pintu utama terbuka menampilkan remaja kelinci yang berhasil kabur dari rumah sakit.
Kini tubuhnya terbaring diatas sofa ruang tamu, memijit kepalanya yang pusing namun detik selanjutnya tubuhnya dengan lancang ditarik paksa.
PLAK
tamparan tanpa aba aba melayang dipipi Zafran siapa lagi pelakunya kalau bukan Pak Kim Jongsuk.
" Arghh... " Ringisan terdengar dari mulut Zafran.
" KURANG AJAR KAU MEMBUAT AKU MALU DENGAN ULAHMU. " bentak Pak Kim namun Zafran terlihat bingung.
" Aku tidak membuat ulah apapun hari ini. " Bela Zafran.
" JANGAN BERBOHONG. " kini tangan besarnya menarik kerah baju cucunya membuat Zafran mendongak karena tinggi nya tak sepadan dengan Pak Kim.
" KENAPA KAU MEMUKUL CUCU PARK HEECHUL DAN SEPUPU SEPUPUNYA HA, KENAPA KAU MENYERANG MEREKA JAWAB KIM ZAFRAN. " lanjut Pak Kim membuat Zafran berpaling takut terkena cipratan busa Pak Kim.
" A-aku tidak-
" JANGAN BERBOHONG, KARENA ULAHMU AKU MALU AKU DICACI OLEH MEREKA KARENA MEMILIKI CUCU YANG NAKAL SEPERTI MU. "
" HARGA DIRIKU HANCUR DISANA SAAT CUCU PARK HEECHUL MENGADU KALAU KAU MELAKUKAN KEKERASAN PADA NYA. " teriak Pak Kim lagi.
Zafran terkejut ia tak menyangka kalau Namgil akan melakukan hal licik itu, apa perbuatan nya sangat fatal hingga membuat Namgil sedendam itu.
" Itu fitnah dia memfitnah ku justru dia yang mengeroyok ku dibantu sepupu sepupu nya. " Jelas Zafran namun tak dipedulikan oleh Pak Kim.
" ARRRGGGHHH... KAU MEMANG ANAK KURANG AJAR... KEMBALIKAN HARGA DIRIKU. " teriak Pak Kim.
Jangan tanya kemana Sheliya karena saat ini ia dikurung didalam kamarnya, karena Pak Kim tau kalau ia pasti akan membantu Zafran saat beliau menghukumnya nanti.
BUGH....
Satu tinjuan melayang diperut Zafran. Hei tadi saja ia sudah dihajar membabi buta apa sekarang harus ditambah lagi.
Zafran tidak tersungkur ke lantai karena ia dipegang Pak Kim.
Tubuhnya hanya bisa menopang pada pegangan Pak Kim yang memegang bahu nya.
" Euughh..... " Zafran tak kuat wajahnya menunduk ke bawah.
BUGH...
Lagi tanpa ampun Pak Kim terus meninju ditempat yang sama.
" Uhuk.. Uhuk.... Uh... " Zafran terbatuk mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Dirasa cukup Pak Kim menghentikan tinjuan nya karena melihat kondisi Zafran yang memprihatinkan.
Ia masih memegang Zafran menghadap ke dirinya.
" K-kenapa kau malah m-mendengarkan orang lain daripada c-cucumu sendiri... Dia justru yang ingin m-membunuhku.. T-tidakkah kau lihat perban di kepala ku dan lembam diwajahku... A-aku hampir mati dibuat olehnya... A-aku baru saja pul-lang dari rumah s-sakit.... " Lirihnya memandang Pak Kim lesu.
" Hahahahhahaha... " Tawa Zafran hampa serta menitikkan airmata.
" Ups.. A-aku lupa k-kau kan tidak peduli padaku.. M-malahan kau senang kan a-aku matii.. S-sekarang b-bunuhlah aku... A-aku sudah tidak tahan dengan semua i-ini... Hiks... Hiks... Aku i-ingin pergi dari dunia ini... Hiks...BUNUH AKU. "
Pak Kim hanya mematung ditempat, dirinya benar-benar tertegun mendengar curahan Zafran, ia juga tak tega karena sudah menyerangnya tanpa ampun.
" Arrghh.. " Teriak Zafran meremas area perut nya yang terasa bergejolak.
Melihat itu Pak Kim sedikit khawatir mengingat bagaimana pukulannya tadi.
" S-sakiitt.. Hah.. " Zafran terus menekan perutnya membuat Pak Kim memegang tangan Zafran.
Tanpa berlama lama lagi Pak Kim pun membawa Zafran ke kamarnya lalu mengobati nya.
Ini kedua kalinya pak kim mengobati Zafran.
Matahari kini telah terbit, pagi yang indah menyinari kota Seoul dan seperti biasa kota ini selalu penuh dengan orang yang berlalu lalang menuju pada kegiatan masing-masing.
Ceklek.......
Pintu kamar terbuka menampilkan sang remaja yang masih larut dalam mimpinya tanpa menyadari jam berapa sekarang.
Wanita itu mendekati ranjang sang putra menaruh nampan berisi bubur dan segelas air putih.
Setelah itu ia menduduki dirinya disamping remaja tersebut, tak henti hentinya mengulas senyum saat memandangi sang anak.
" Ingin sekali aku mengatakan pada dunia bahwa kau adalah darah dagingku.. " Lirih sang ibu siapa lagi kalau bukan Sheliya.
" Namun membela saja tak mampu apalagi melindungi mu.. Hiks... Aku aku ibu yang buruk aku ibu yang buruk...aku hanya bisa menangisi mu... Hiks... " Tetesan air mata itu kini telah membasahi pipi nya.
" Bangunlah... Ini sudah pagi.. Tidur mu terlalu nyenyak sampai kau melewati sekolah mu hmm.. " Ucapnya lagi mengusap airmatanya.
" Beruntung hari ini kakekmu memberimu izin untuk bolos dan menyuruhku untuk mengurus mu... Sedikit baik bukan kakekmu itu. "
Mata indah itu belum juga kunjung terbuka hingga tangan Sheliya tergerak untuk menyentuh wajah Putranya serta mengelus surai hitam itu.
Hatinya teriris kala mendapati lembam diwajah dan balutan di Kepala anaknya. Hei baru kemarin ia mengobati lembam ini kenapa harus ada lagi.
Dirinya kini telah larut memandangi wajah bayi putranya, rasanya baru kemarin remaja ini melepas dot.
Beruntung Zafran besar dengan asi ibunya tidak dengan Ziyan yang berharuskan susu formula.
Drrrrttttt.. Drrrtttttt.....
Deringan hp Zafran menyadarkan lamunan nya dan dengan segera ia menjawab panggilan dari HP itu.
Sebelum menekan tombol hijau ia sempat membaca nama yang tertera di layar HP nya.
*panggilan musibah*
Sheliya sempat tersenyum lalu mengangkat telponnya.
(Berbicara di telpon)
" Hall-
" Yak setaaannn hobi sekali lo ngebolos ya akhir akhir ini kenapa sih lo, biasanya walaupun kelakuan lo dakjal yang namanya sekolah pasti lebih baik kan daripada dirumah lo yang gak pernah peduli sama lo. " Kay langsung ceplas ceplos.
" Ada ape lagi sih lo kita kesepian tau gak ada anak setan disini. " Tambah Jaywoo.
" Eh anjing diem aje lo ngejawab goblok ni anak bener bener ya kelakuannya tengil bikin orang emosi mulu. " Geram Eunseo yang tak dapat jawaban dari orang yang di telpon.
" Maaf ini saya pengasuh nya Zafran, tuan muda tidak bisa masuk hari ini dia tidak enak badan dan sekarang ia sedang tertidur. " Ucap Sheliya membuat ketiga orang diseberang sana menganga seketika karena dengan ceplas ceplos mengeluarkan kata kata mutiara nya.
" Aa-aahh itu m-maaf ya bi ini teman saya emang gini. " Nyengir Kay namun mendapat jitakan tak terima dari dua temannya yang disalahkan.
" Ape sih lo... Eee maaf bi ini teman saya emang rada rada. " Sambung Kay.
" Yasudah kalau begitu saya tutup dulu ya terimakasih juga telah mengkhawatirkan tuan muda. "
" T-tappi gimana ke-
Tttuuuttt......
Telpon dimatikan sepihak oleh Sheliya membuat ketiga orang diseberang sana mengumpat karena baru saja mereka ingin menanyakan Zafran lebih lagi, namun Sheliya memilih mengakhiri percakapan sebab ingin fokus mengurus anaknya.
Meletakkan ponsel Zafran di tempat semula dan kembali mengeluarkan airmatanya.
" Aku tidak tau seberapa tersiksanya hatimu saat dijauhi oleh orang yang kau sayangi yang jelas aku bisa merasakannya namun aku tidak sanggup berbuat apa apa.. Hiks... Katakan saja aku pengecut.. Hiks... "
Lama Sheliya menangisi kisahnya tanpa menyadari mata lucu itu mengerjap perlahan melihat sekitaran.
Yang pertama kali ia lihat adalah orang yang disayangi duduk disampingnya sambil menangis.
Tangan lemah itu tergerak menyapu airmata sang empu.
Merasakan tangan yang hangat mengenai pipinya, Sheliya tersadar kalau Zafran telah bangun.
Langsung saja dengan cepat ia menepis tangan Zafran dan menghapus airmata nya sendiri.
Sedikit syok mendapat perlakuan itu namun Zafran sadar bibinya memang telah berubah.
" K-kau sudah bangun syukur lah ini makanlah aku sudah menyiapkannya..... " Datar Sheliya.
" Jam berapa sekarang. " Lirih Zafran hampir tak terdengar suara nya.
" Delapan lewat duabelas. " Jawab Sheliya seadanya namun sempat melirik jam dinding di kamar Zafran.
" Hah aku bolos lagi. " Ucap Zafran menghela nafas.
" Apa kakek sudah pergi. " Tanya Zafran.
" Iya. " Singkat Sheliya.
" Kau makanlah bubur ini agar perut mu terisiii. " Datar Sheliya.
" Bisakah kau menyuapi. " Pinta Zafran.
Sangat bisa namun Sheliya mengingat momen ini tak sama seperti dulu.
" Aku hnya minta disuapi lagipula jika aku memegang mangkuknya tanganku masih gemetar. " Jelas Zafran.
Sheliya pun dengan ekspresi yang sama mengambil mangkuk berisi bubur ingin menyuapi Zafran.
" Apa kau tidak mencuci muka dulu dan berkumur kumur. " Tanya Sheliya.
" Tidak usah lagipula langsung makan tanpa mencuci muka rasanya lebih instan saat bangun pagi. " Bohong Zafran karena ia tak ingin membuang waktu lama lagi.
Zafran mengganti posisi nya menjadi duduk.
Sheliya mulai menyodorkan bubur di sendok ke mulut Zafran dengan perlahan dan hati hati.
Dengan cara Sheliya tulus menyuapi seperti ini, Zafran yakin jikalau sebenarnya Sheliya tidak benar benar membencinya.
Zafran selalu tersenyum saat mendapati suapan dari Sheliya namun Sheliya memilih memalingkan wajahnya mempertahankan hatinya yang semakin teriris melihat putranya.
**************
DITEMPATNYA ZIYAN.
" Mau nambah lagi buburnya." Tanya Samuel melihat mangkuk yang semula berisi bubur kini telah kosong berpindah ke perut sang anak.
Ziyan menggelang karena merasa sudah kenyang ia pun kembali ke posisi tidur.
" Cepat sembuh papa sedih melihat kamu sakit. "
Malam tadi Ziyan tiba tiba terserang demam dan berakhir seperti sekarang ia tidak sekolah dan dirawat sepenuh hati oleh ayah kandungnya. Momen seperti ini memang biasa dirasakan oleh si kembar.
" Kamu sih pasti semangat sekali kan belajar bahasa itu sampai begadang dan berakhir sakit seperti ini. " Khawatir Samuel.
Ziyan tersenyum mendapat perhatian dari sang papa. " Karena Ziyan terlalu semangat pa ingin ketemu mama dan adik. "
Samuel tersenyum jujur dirinya pun sama tak sabar pergi ke negara sana.
" Tapi jangan sampai sakit kalau kamu sakit nanti kepergiannya bisa tertunda iya kan. " Kekeh Samuel.
" Ini hanya demam biasa atau pertanda dari kembaranku karena aku tiba-tiba sakit, pasti terjadi sesuatu. " Gelisah Ziyan.
" Tenanglah doakan saja mama dan adikmu baik baik saja. " Samuel berusaha tenang walau sebenarnya hatinya berkecamuk memikirkan dua orang yang sangat dirindukan.
" Amin amin tapi kapan kita pergi pa. " Tanya Ziyan tak sabar.
" Secepatnya. " Jawab Samuel mengulas senyum.
Ziyan tersenyum senang. " Mama adikku tunggulah kami kita akan segera berkumpul. "
" Nanti kalau hendak pergi jangan lupa pamitan sama ibu dan ayah kamu. " Ucap samuel sambil mengusak rambut anaknya.
" Sssiiaaappp papa. "
" Ohya kalau panggilan papa di Korea apa. " Tanya Ziyan.
" Appa. " Jawab Samuel.
" Kalau mama. " Tanya Ziyan lagi.
" Eoumma. " Jawab Samuel dengan senang hati.
" Berarti kalau aku ketemu mama aku akan memanggilnya eoumma. "
Samuel terkekeh mendengar celotehan putranya. " Panggil saja mama, ibumu kan orang Indonesia hanya ayah yang keturunan Korea. "
" Mama kan orang Indonesia apa dia bisa bertahan disana secara kan bahasa disana berbeda. " Tanya Ziyan lagi.
" Setelah menikah mamamu dengan senang hati belajar bahasa papa dengan keinginan nya sendiri dan papa yakin mamamu pasti sudah mengusai bahasa itu. " Jelas Samuel.
" Lalu adikku diakan sedari bayi disana pasti dia tidak bisa bahasa kita. " Bibir Ziyan mengerucut lucu.
" Kita ajari dia nanti, pasti dengan belajar sungguh-sungguh ia akan bisa sama seperti dirimu yang sedang belajar bahasa papa sekarang. " Samuel tersenyum ternyata putranya ini mewarisi sifat cerewet ibunya.
" Yasudah ayo tidur lagi. "
" Okey. "
***************