Handsome Twins

Handsome Twins
bab 15 Menuruti keinginan sang kakek Kim



Sepulang dari sekolah, Zafran langsung pulang kerumahnya.


Dulu walaupun sangat malas pulang kerumah ia masih mengingat adanya bibi Cha eunsang yang menyambutnya dengan kasih sayang tapi sekarang semuanya lengkap, lengkap dirasakan betapa kesepian dirinya sekarang. Ingin minggat dari rumah ini percuma saja, kemana pun ia pergi tak kan semudah itu selama masih ada kakeknya.


Tak sempat ganti seragam Zafran langsung menuju ke meja makan yang memang sudah tersediakan makan siang untuknya setiap pulang sekolah.


Yang menyiapkan semua ini adalah Sheliya, biasanya setiap Zafran pulang sekolah ia selalu menemaninya dan mendengarkan cerita nya tapi sekarang tidak lagi. Setelah menyiapkan semua ini Sheliya langsung bersembunyi di kamar nya menghindari Zafran.


Kini hanya terdapat Zafran yang sedang makan sendirian disana, sedih namun ia harus kuat. Jika dulu ia harus terbiasa dengan sifat kejam kakeknya sekarang ia ditambah lagi harus kuat terbiasa dengan kesepian.


Jika dulu ia masih mendapatkan kasih sayang walaupun cuma setengah tapi sekarang tidak sama sekali, ia benar benar kesepian.


Sama hal nya dengan Sheliya ia hanya bisa menangis dalam diam menghadapi semua ini. Harus mengabaikan anaknya sendiri, dia bahkan belum bisa memeluk anaknya sepenuhnya tapi sekarang untuk mendekati nya saja tidak bisa.


"Haaahh... Aku lapar tapi aku tidak selera. " Baru tiga suap seakan selera makannya hilang ia tidak bisa fokus karena terus memikirkan nasib malangnya.


"Tidak ada cara lain untuk melupakan masalah ku selain tidur, hmm... Dengan tidur setidaknya aku tidak bisa memikirkan ini lagi..." Lanjutnya sambil meletakkan sendok di piring yang masih penuh dengan makanan.


"Bibi aku tidak tau kenapa kau berubah tapi aku masih sangat menyayangi mu, tolong kembalilah. " Lirihnya.


Airmatanya ikut meluncur sesuai dengan keadaannya sekarang. Ia sungguh merindukan kasih sayang dari bibinya. Tapi sekarang kenapa bibinya satu satunya orang yang dipercaya oleh Zafran malah ikut berubah mengabaikan nya apakah ia pernah berbuat salah ia sungguh tak mengerti.


"Huff... Lebih baik aku mandi dan setelah itu tidur. " Final Zafran sambil menghapus airmatanya dan bangkit dari duduknya hendak menuju kamar nya.


Tapi baru berbalik badan ia di hampiri oleh salah satu maid rumahnya hingga menunda langkah nya itu.


" Ada apa. " Tanya Zafran to the point tak ingin membuang waktu.


"Ee... Tuan muda disuruh masuk keruang kerja tuan besar sekarang tuan. " Jawab maid itu sambil menundukkan wajahnya.


"Aiss... Apa si tua itu berada dirumah, menyebalkan. " Kesalnya.


Maid itu hanya mengangguk menandakan iya.


"Untuk apa aku disuruh masuk ke ruang nerakanya. " Tanyanya lagi.


"Saya juga tidak tau tuan, tuan besar bilang tuan muda harus mematuhi perintah tuan besar untuk segera  masuk kesana kalau tidak tuan muda akan dapat hukuman. " Jelas maid itu agak takut.


Sebenarnya ia malas sekali bertemu dengan kakeknya sekarang apa lagi jiwa rebahan nya sudah meronta ronta dari tadi tapi mau tidak mau ia harus mematuhi pria tua itu karena ia sedang tidak ingin membangkang dan menerima hukuman lagi.


"Ya sudah aku akan menemui kakek itu kau boleh pergi. " Ucapnya dan maid itu langsung pergi sesuai perintah Zafran.


Kini ia pun bergegas menuju ke ruangan kerja kakeknya, Sangat malas namun tetap ia tahan.


Zafran langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan berdiri di hadapan tuan Kim yang sedang berkutat dengan komputer nya.


Menyadari kehadiran cucunya Pak Kim pun menghentikan kegiatannya sejenak. Ia tersenyum karena kali ini cucunya yang keras kepala ini tidak membangkang perintah nya, apa dia sudah jera dengan hukuman nya??.


"Ada apa. " Tanya Zafran malas masih berdiri di hadapan kakeknya.


Pak Kim tak langsung menjawab pertanyaan Zafran ia hanya tersenyum menanggapinya membuat Zafran semakin kesal dibuatnya.


"Langsung ke intinya apa yang kau ingin bicarakan aku tidak punya banyak waktu aku ngantuk. " Kesalnya bertambah.


"Tenanglah bocah, duduk dihadapan ku sekarang. " Suruh Pak Kim pada Zafran.


Tak ingin membuang waktu Zafran pun duduk sesuai perintah Pak Kim, kini ia berhadapan dengan kakeknya.


Pak Kim sengaja menatap Zafran dengan senyum mengerikannya. Tapi Zafran yang memang malas melihat wajah ini ia memilih membuang pandangan nya ke arah lain.


Remaja polos berpipi gembul dengan mata besar ditambah lagi gigi kelinci yang menonjol menambah kesan imut pada remaja keras kepala ini. Itulah yang pertama di tangkap Pak Kim saat menatap cucunya.


Anak yang lahir dari rahim wanita yang dibencinya, menantu yang takkan pernah dia anggap sampai kapan pun.


Kini anak itu harus dijadikan penerusnya walaupun ia sangat membenci benih dari wanita itu. Tapi bagaimana pun juga anak ini adalah darah daging putra tunggalnya Kim Samuel yang telah lama menghilang. Sang putra yang membangkang hanya karena wanita itu, Sifat pembangkangnya Kim Samuel juga menurun pada cucunya ini.


"Tatap aku. " Suruh Pak Kim pada Zafran yang membuang pandangannya ke arah lain.


Sangat malas namun Zafran menuruti perintah dari kakek nya dengan menatap pria berumur itu.


Pria tua yang tidak berperikemanusiaan itulah yang di pikirkan Zafran saat menatap kakeknya.


"Aku tampan bukan. " Tanya Pak Kim pada remaja yang sedang menatap nya. Tunggu ada apa dengan kakeknya saat ini kenapa dia terlalu percaya diri dengan mengatakan hal itu Zafran saja yang mendengar nya merasa malu.


"Ckk... Jangan buat aku tertawa aku saja malu mendengarnya. " Sungguh saat jauh dari kata tampan pada pria yang sudah berstatus kakek ini apa lagi dengan kelakuan nya yang kejam bukannya tampan tapi menakutkan iya pikir Zafran.


"Lupakan itu, sekarang aku ingin bicara serius pada mu anak nakal. " Tatap Pak Kim tajam pada Zafran yang juga menatapnya.


Zafran hanya memutar bola mata malas mendengar kakeknya yang dari tadi hanya berbelit belit kenapa tidak langsung ke intinya Zafran sedang di serang pelet kasur sekarang.


"Hmmm.... Ekhemm hem.... " Gerhem Pak Kim sambil membenarkan dasi yang masih menempel di kerah bajunya.


Sungguh Zafran sangat kesal melihat kelakuan kakeknya yang sedang drama ini ayolah Zafran tidak kuat lagi berada disini.


"Baru pulang sekolah. " Tanya Pak Kim meskipun itu hanya untuk basa basi saja.


"Bahkan aku sudah makan. " Jawab Zafran melebihi pertanyaan.


Pak Kim tersenyum ia tau cucunya ini sedang kesal sekarang dan Pak Kim senang membuat cucunya kesal seperti ini, ia terlihat seperti bocah lima tahunan yang sedang merajuk. "tapi aku tidak bertanya tentang kau sudah makan atau belum. "


"Aiiisssss... Mmmmpphh... " Ingin sekali ia mengumpat tapi ia malas kena tabok kakeknya.


Pak Kim tertawa melihat ekspresi kesal Zafran yang hendak mengumpat tapi takut pada dirinya. "kenapa hmmm. "


"Bisakah kita langsung ke intinya tuan besar. " Kekesalan Zafran sudah memuncak agaknya.


"Oke kalau kau memaksa, tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu eumm... Besok hari apa. " Tanya Pak Kim yang memang sudah tau jawabannya.


"Apa kau sudah terlalu tua haa... Hari saja sampai lupa besok hari minggu hari libur memang nya kau mau apa mau mengubah hari juga. " Ocehnya lelah mendengar kakeknya masih berbelit belit.


"Owww... Yaa... Dan kau tau kan jika aku sudah menyuruhmu kesini berarti ada hal penting yang harus aku sampaikan hmm. " Zafran yang dari tadi mendengar kakeknya mengulur ulur waktu ingin sekali ia membunuh nya tapi itu mustahil kan.


"Yaaaaaa..... Sudah daritadi yaaa..... Kenapa tidak langsung ke intinya aku bosan mendengar pembicaraan mu aku lelah akuuuuu-


" Mulai besok kau harus bekerja untuk ku. " Potong Pak Kim tanpa menunggu Zafran menghabiskan kalimatnya.


Dan ucapan Pak Kim barusan membuat Zafran melotot dan tercengang ia tidak tau maksud dari kakeknya.


"Maksudnya." Tanya Zafran masih belum mengerti maksud kakeknya.


Wajar jika Zafran belum mengerti karena ini adalah yang pertama kali untuknya jadi Pak Kim akan menjelaskan maksudnya.


"Mulai besok dan seterusnya kau akan bekerja padaku menjadi orang suruhan ku untuk menagih hutang orang orang yang berhutang padaku. " Jelas Pak Kim Jongsuk.


"Jika orang orang itu tak mau membayar kau harus menggunakan cara kasar aku tidak mau tau yang penting aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan ambil secara paksa jangan sampai kau kalah dalam hal itu gunakan juga cara kejam agar orang orang merasa takut. " Lanjutnya.


"M-menjadi dept coleptor maksudnya. " Tanya Zafran yang menangkap tujuan dari penjelasan kakeknya.


"Ya. " Jawab Pak Kim singkat.


"Tidak aku tidak mau. " Sergah Zafran cepat jujur ia memang tidak mau melakukan hal itu walau di sekolah ia terkenal kejam tapi ia juga tidak mau melakukan hal yang lebih.


"Aku tidak mau mendengar alasan dari mu. "


"Dan aku tidak akan pernah mau melakukan hal itu. "Zafran bangkit berdiri dari duduk nya hendak keluar tapi tangan Pak Kim keburu memegang kerah bajunya hingga ia merasa tercekek.


" Beraninya kau membantah ku. " Marah Pak Kim sambil menarik kerah baju cucunya yang terhalang meja di hadapan mereka.


"L-lepaskan aku. " Zafran merasa tercekek karena Pak Kim menariknya dengan kuat.


"Dengar bocah ikuti perintah ku kalau tidak aku akan menghukummu. " Ancam Pak Kim yang tidak membuat Zafran takut sedikitpun karena bukan ini kelemahan nya.


"A-aku tidak peduli. " Ngeyel Zafran yang membuat Pak Kim semakin emosi.


Anak ini memang sudah terbiasa dengan hukuman dia pasti tidak takut lagi jika di ancam seperti ini tapi mungkin ada satu cara untuk membuatnya tunduk yaitu. "baiklah aku tidak akan menghukummu....... Tapi.... Aku akan menyiksa bibi Cha eunsang mu sebagai gantinya. "


Inilah kelemahan nya, Zafran terdiam tak mampu membantah lagi jika sudah menyangkut bibinya ya walaupun sekarang bibinya itu berubah tapi ia masih sangat sayang terhadap wanita itu ia takkan membiarkan bibinya di siksa oleh moster ini.


"Jangan bawa bawa orang lain dalam hal ini. "


"Aku tidak peduli, jika mau katakan dan jika tidak terima saja resikonya...... Mengerti. "


Zafran terdiam ia tidak punya pilihan jika dia menuruti kemauan kakeknya ia akan menjadi sosok yang tidak berperikemanusiaan sama seperti Pak Kim dan jika ia menolak ia juga tidak mau melihat orang yang dia sayangi disiksa oleh kakeknya itu.


Kenapa hidupnya di penuhi oleh pilihan yang sangat menyakitkan. Tidak ada pilihan yang tepat yang bisa di ambil dua duanya sama sama merugikan.


"Bagaimana hmmm... " Pancing Pak Kim sambil melepaskan cengkraman nya di kerah baju Zafran.


Masih tidak mengeluarkan suaranya Zafran memilih diam memikirkan keputusan yang tepat untuk dia ambil.


"Ck... Lama, ya sudah tonton saja penyiksaan yang akan kulakukan pada bibi kesayangan mu itu. "


"Tunggu....... "


Seperti nya Zafran sudah mengambil keputusan nya yang mana mau tidak mau tetap harus ia jalani daripada mengorbankan orang yang tidak bersalah.


Pak Kim tersenyum seakan tau dari raut wajah cucunya yang akan pasrah.


"Hahaha.... Apa... Mau kan jadi Dept coleptor orang yang tidak punya perasaan harus bersikap kejam dan menakutkan seperti ku. " Tawa Pak Kim senang melihat Zafran jatuh dalam perangkapnya.


"Ya." Singkat Zafran yang memang sangat benci melihat kakeknya yang senang di atas penderitaannya.


"Hmm... Tenang lah kau jadi Dept coleptor untuk sementara sebelum kau nantinya akan menjadi penerus ku yang harus mengelola perusahaan terbesarku.... Setelah aku tidak sanggup lagi dan mungkin akan meninggalkan dunia ini. " Jelas Pak Kim yang memang menjadikan Zafran sebagai dept coleptor untuk sementara sebelum nantinya cucunya itu menjadi pemilik perusahaan nya.


Itupun untuk melatih cucunya agar bisa menjadi seperti dirinya yang kejam dan kuat walaupun pada nyatanya Zafran adalah orang yang lemah di dunia ini yang hanya akan bergantung pada obat seumur hidupnya.


"Kalau begitu cepatlah mati.... " Ucap Zafran geram yang memelankan suara nya di akhir kalimat nya.


Namun itu tetap masih di dengar oleh Pak Kim yang memang pendengarannya masih tajam walaupun sudah tua.


Mendengar itu Pak Kim memang kesal tapi ia memilih diam dan tertawa melihat cucunya yang menahan amarahnya.


"Jangan marah nanti cepat tua. " Ejek Pak Kim yang menambah kekesalan Zafran.


"Ya, seperti mu. "


Pak Kim tertawa lagi melihat cucunya yang ternyata sangat menggemaskan ketika sedang marah.


Zafran tidak tahan lagi berada disini ia pun pergi dari hadapan kakeknya tapi sebelum itu ia sempat berdiri di ambang pintu keluar ruangan tersebut dan menyindir kakeknya dengan membelakangi beliau.


"Oh tuhaaannn izinkan aku melakukan satu kejahatan..... Aku rela di cap pembunuh....di penjara seumur hidup.........Ingin sekali rasanya aku jadi psikopat..... Dengan mencincang cincang kakek kakek itu. " Sindir Zafran dengan nada bicara berirama seperti sedang berpuisi.


Pak Kim yang mendengar nya marah namun juga tertawa melihat tingkah Zafran yang seperti itu ingin marah ia terlanjur di buat bengek oleh kelakuan cucunya sendiri.


Setelah mengatakan itu Zafran pun melesat keluar menuju kamarnya.


 


                    *****************


DI TEMPATNYA ZIYAN.


hari ini adalah hari minggu hari yang sangat di tunggu tunggu oleh para pelajar.


Mumpung hari libur Ziyan ingin berkunjung ke rumah kakek neneknya sekaligus menjenguk mereka juga. Setelah sarapan dan pamit pada orang tuanya, Ziyan pun pergi ke rumah kakeknya.


Sesampainya di sana ia di sambut gembira oleh kakek dan neneknya.


dirinya lalu di persilahkan masuk.


"Uuhhh.... Sayang nenek rindu sekali padamu kenapa sudah jarang ke sini hmm.... " Wanita tua itu memulai pembicaraan.


Ziyan hanya tersenyum manis ia tidak langsung menjawabnya.


" Bagaimana kabarmu. " Tanya kakek Bahar sembari menyeruput tehnya.


"Baik kek, dan bagaimana kabar kakek dan nenek juga. " Setelah menjawab Ziyan balik bertanya.


"Kami juga baik hanya saja aku selalu merindukan cucuku. " Nenek Yana sedang bertingkah manja sekarang.


Ziyan terkekeh di buatnya, neneknya ini memang sangat menggemaskan walaupun sudah tua😌


Lihat neneknya saja yang walaupun sudah tua tetap saja masih menggemaskan apa lagi ibunya Ziyan. Sekilas pikiran itu terlintas di kepalanya.


" Aku juga merindukanmu nenek. "


"Lalu kenapa kau jarang kesini. " Nenek ini walaupun sudah tua tetap saja masih bisa manja.


"Eeeee.......... "


"Hei Yana ingatlah umurmu jangan manja seperti itu pada cucumu. " Kini pak Bahar yang membuka suara.


"Memangnya kenapa kau pikir aku hanya bisa bermanja padamu, aku juga bisa bermanja pada cucuku... Ups... " Ah nenek ini😌


Ucapan nenek Yana tadi berhasil membulatkan mata pak Bahar lalu Ziyan  hanya tertawa melihat kondisi ini toh itu juga masalah mereka.


" Aduh... Hei lebih baik kau bereskan piring piring di dapur." Pak Bahar kehabisan kata kata pada istri nya yang polos ini.


"Huh.... Jahat sekali. " Ucap nenek Yana sambil melangkah menuju ke dapur karena jujur ucapan nya tadi juga membuat dirinya malu sendiri.


Apa kabar dengan Ziyan yang sudah dari tadi kenyang karena tertawa melihat tingkah kakek neneknya ini.


"Hei sudah jangan tertawa lagi memangnya kau mengerti apa bocah. " Ledek pak Bahar pada cucunya.


"Baiklah baiklah. " Ucap Ziyan di sela sela tawanya sambil menghentikan tertawaan nya.


Setelah di rasa tenang mereka pun mulai mengobrol lagi tanpa ada neneknya.


"Apa kakek hari ini tidak ke kebun." Tanya Ziyan pada kakeknya.


"Sebentar lagi. " Jawab pak Bahar.


"Kalau begitu aku ikut. " Semangat Ziyan.


"Tentu cucuku. " Ucap pak Bahar sambil mengacak acak surai hitam milik Ziyan.


Ziyan tentu sangat senang mendapat perlakuan ini dari kakeknya, ia bersyukur walaupun ia punya sisi kesedihan setidaknya ia masih punya sisi kebahagiaan dengan orang tua angkat nya dan kakek neneknya.


"Yasudah ayo kakek kita berangkat sekarang saja. " Semangat Ziyan terpancar ceria di wajahnya.


Sedangkan pak Bahar tersenyum melihat aksi kekanak kanakan dari cucunya ini, sifat cucunya ini juga berasal dari anaknya di saat Sheliya kecil merengek minta sesuatu yang ia sukai dengan tidak sabaran walaupun itu tidak semenyenangkan yang orang lain pikirkan. Ingatan lama itu kembali muncul karena ulah Ziyan yang menggemaskan namun pak Bahar menepis itu semua tak ingin membuat cucunya ikut sedih jika di ceritakan.


"Kakek ayolaaaahhh.... "


"Ah iya yasudah minta izin dulu pada nenekmu. "


"Siaaappp. " Jawab Ziyan semangat.


Setelah pamit pada neneknya Ziyan dan pak Bahar pun berangkat ke kebun tidak lupa membawa bekal untuk nantinya. Di sepanjang perjalanan Ziyan selalu ceria dan bersemangat ia benar benar bahagia seakan tiada beban yang ia pikul, sejenak melupakan kesedihan nya begitupun dengan pak Bahar, dengan melihat tingkah Ziyan saja serasa ia tidak merasa kehilangan. Sheliya kecil nya telah kembali di Ziyan.


Namun rasa kerinduan nya juga tetap di rasakan pada putrinya dan cucunya yang satu lagi. Walaupun tidak tau bagaimana keadaan cucunya yang satu lagi tapi beliau yakin kalau adik kembarnya Ziyan tidak jauh berbeda dan semoga cucunya itu bahagia dan masih hidup sampai sekarang.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan mereka pun sampai.


Melihat pemandangan hijau di pagi hari sangat menyenangkan seakan terasa tenang tanpa beban itulah yang di rasakan Ziyan sekarang.


"Wooaaahhh..... Sangat indah. " Gumamnya bagaikan anak kecil yang melihat sesuatu yang asing baginya.


"Tentu sungguh terasa sejuk bukan. "


"Iya kakek walaupun aku sudah sering kesini tapi setiap melihatnya aku selalu merasa takjub. "


Pak Bahar tersenyum mendengar nya.


Ziyan menengadah kan wajahnya ke langit merasakan sejuknya angin pagi.


"apa ibu juga sering kesini. " Lirihnya.


Pertanyaan dari Ziyan itu berhasil membuat pak Bahar tak kuat menahan kerinduan nya ia sungguh sangat merindukan putri nya yang keras kepala, walaupun putrinya sering membuat dirinya naik darah tapi sungguh ia sangat merindukan sosok keras kepala itu. Ia merindukan kenakalan nya ia merindukan tingkahnya.


Putri tunggalnya yang sangat ia sayangi melebihi apapun, anak perempuan yang selalu membuatnya marah namun sekarang Putri itu telah menghilang.


Ingin rasanya ia menangis tapi ia harus tetap kuat demi orang disamping nya.


"Selalu..... Putriku itu selalu kesini menemaniku..... Disini... Saat ia kecil ia tidak pernah lepas dari pangkuan ku....tuan putri yang keras kepala dan manja.....yang selalu membuat diriku kesal namun selalu merindukan tingkahnya. " Datar pak Bahar tak ingin menunjukkan ekspresi nya karena sungguh ia sangat lah sedih sekarang.


Ziyan yang mendengar nya meneteskan air mata ia juga sangat merindukan ibunya ingin merasakan pelukan dari ibu yang melahirkan nya.


Dan juga sangat merindukan ayah kandung nya.


"Sifat cerianya selalu terpancar dari wajahnya hingga di saat ia sedih pun aku tidak bisa menyadarinya. " Lanjutnya.


"Semoga sosok itu cepat kembali aku sungguh merindukan nya. " Lirih Ziyan.


Pak Bahar juga ikut mendoakan hal itu.


"Dan semoga ayah dan adikku juga secepatnya kembali aku juga ingin merasakan yang namanya keluarga sekandung.. " Lanjutnya.


Tak ingin membuat cucunya itu semakin rapuh Pak Bahar pun mulai mengajaknya membantunya.


Dan Ziyan yang memang tidak ingin berlarut dalam kesedihan ia segera membantu kakeknya.


Sekarang mereka sudah turun di perkebunan memetik sayur dan buah yang sudah bisa di panen.


Ziyan kembali ceria dan menepis perasaan nya tadi begitu pun dengan Pak Bahar, sekarang mereka terlihat fokus mengerjakan pekerjaannya dan tak lupa dihiasi dengan canda dan tawa mereka.


Beruntung sekali Ziyan karena bisa merasakan kasih sayang dari kakeknya sedangkan Zafran disana sungguh dari kebalikan ini semua.


Sosok kakek yang sangat berbeda. Yang satu hidup seadanya namun hatinya sangat lah mulia mengikhlaskan putrinya bersama pria yang seorang anak dari orang yang sangat kejam dan sombong.


Dan yang satu lagi hidup bergelimpangan harta namun hatinya tidak ada sama sekali yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan selalu memandang semua orang lebih rendah darinya.


                ***************