Handsome Twins

Handsome Twins
bab 31 Korea Selatan aku datang



Telah sampai Samuel dan Ziyan dinegara Korea Selatan.


Menurut informasi google jarak dari Indonesia ke Korea Selatan sekitar tujuh jam beberapa menit lebih dan jika ada salah mohon pengetahuan nya.


Samuel dan Ziyan sampai saat sore tadi dan sekarang sudah malam mereka pun berniat masuk ke sebuah cafe guna mengisi perut mereka.


" Kita makan dulu ya. " Ucap Samuel diangguki oleh Ziyan.


" Wuaaahh kota ini mewah sekali ya pa banyak sekali orang disini bangunannya juga tinggi tinggi. " Ziyan memandangi ke luar dengan mata berbinar.


Samuel tersenyum reaksinya tak seperti Ziyan karena ini memang negara kelahirannya.


" Oh ya pa, apa setelah ini kita akan langsung ke rumah kakek. " Tanya Ziyan.


Samuel terdiam jika mereka langsung pergi kesana ia yakin jika appanya tak mungkin langsung menerima kehadiran mereka. Ia harus bersabar menunggu waktu yang tepat.


" Kita akan kerumah teman papa semoga saja Lee itu masih tinggal ditempat yang sama. " Ujar Samuel.


Makanan pun datang tanpa menunggu lama langsung saja mereka menyantapnya.


Lumayan memakan waktu lama mereka selesai, Samuel membayar dengan sisa uang yang ia punya walaupun mata uangnya tak sama namun pemilik restoran itu mau bermurah hati.


Mereka keluar dari restoran itu.


" Apakah jarak rumah teman papa itu masih jauh. "


Samuel tersenyum sebelum menjawab


" Sabar ya. "


Demi menghemat uang mereka memilih jalan kaki lagipula jarak rumah temannya tak terlalu jauh.


Samuel jadi tak kesepian karena sepanjang jalan Ziyan selalu berceloteh sesekali menghafal bahasa yang ia pelajari dan Samuel tak tinggal diam untuk menimpalinya.


Hingga sebuah mobil mewah tak sengaja menginjak genangan air dan mengenai Ziyan.


Beruntung pemilik mobil itu baik untuk turun dan meminta maaf.


" Maaf maaf saya tidak sengaja maafkan saya. " Ucap pria seumuran Samuel itu memohon.


" Yak lain kali hati hati lihatlah kau membuat pakaian anakku jadi kotor. " Oceh Samuel sambil membersihkan baju Ziyan tanpa melihat kearah pria itu.


" Sudahlah papa tidak apa apa. " Ziyan berusaha menenangkannya sang papa.


" Saya benar-benar tidak sengaja. " Ucap pria itu lagi.


" Iya paman tidak apa apa lagipula tidak disengajakan sudahlah tidak apa apa. " Ziyan mengulas senyum pada pria itu namun membuat pria itu menatap Ziyan  terkejut.


" K-kau. " Tanya pria itu heran karena ia tidak asing lagi dengan wajah remaja didepannya.


" Yak ada apa untung saja anakku memaafkan mu kalau tidak kau ak-


Samuel tak sanggup meneruskan kalimat nya saat menatap wajah familiar didepannya.


Begitupun dengan pria itu yang sama terkejutnya saat bertemu tatap dengan Samuel.


" L-lee Chun yo. "


" Kim Samuel. " Balas pria itu lagi ya benar ia adalah Lee Chun yo orang yang pernah menolong Zafran siang tadi.


Grepp.....


Langsung saja Lee Chun yo menerkam tubuh sahabatnya bagaimana bisa ia lupa dengan wajah teman baiknya. Mereka berdua saling peluk dan menangis membuat Ziyan sedikit bingung namun saat ditelaah lebih lagi ia yakin kalau orang yang papanya peluk adalah orang yang penting.


" Kemana saja kau nyengir kuda aku merindukan mu hiks... Berani sekali kau pergi.. Hiks... Tanpa berpamitan pada ku.. Hiks... " Chun yo menangis.


" Aku juga merindukan mu kampret.. Hiks. " Samuel juga ikut menangis.


Sikapnya masih saja sama walaupun banyak perubahan pada pertumbuhan mereka.


Setelah dirasa cukup mereka pun melepas pelukan masing-masing.


" Ternyata kau anaknya sahabatku ha tapi kenapa sikapmu menjengkelkan tadi siang. " Chun yo belum menyadari kalau remaja yang didepannya adalah orang yang berbeda.


Ziyan dan Samuel saling menatap bingung bagaimana mungkin pria itu mengenalnya toh ia baru saja sampai di negara ini.


" Apa maksud mu. " Tanya Samuel.


" Yak apa lagi sikap anakmu tadi sangat menjengkelkan. " Balas pria itu.


" Tunggu tunggu, kami baru saja sampai tadi bagaimana bisa kau mengenal putraku. " Samuel masih terheran heran begitupun dengan Ziyan .


" Kamu Zafran kan. " Tanya Chun yo pada Ziyan .


" Kim Ziyan nama saya Kim Ziyan paman dan saya baru saja mengenal paman sekarang bukan tadi siang. " Jelas Ziyan membuat Chun yo semakin bingung.


Memang sih wajah yang ia temui sama namun dengan sikap yang sangat berbeda, jika tadi siang ia bertemu dengan sosok yang keras kepala dan menjengkelkan namun sekarang ia bertemu dengan sosok yang lembut dan sopan.


" Kok aneh bisa sama gitu ya wajah kalian tapi.... " Chun yo menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Apa yang kau temui itu adalah kembaran nya Ziyan . " Tanya Samuel curiga dengan wajah sumringah.


" Ck kok nanya aku sih kan aku gak tau makin bingung deh sebenarnya ini gimana sih. " Protes Chun yo.


" Eee yasudah tidak apa apa ohya Chun aku... Boleh minta tolong gak sama kamu untuk sementara tolong tampung kami sebentar dirumah mu. " Mohon Samuel.


" Ck kamu tu gimana sih yaiyalah aku mau banget kek bukan sahabat aja kamu ini... "


Samuel tersenyum begitu juga dengan Ziyan .


" Tapi kenapa gak langsung kerumah kamu aja eee bukannya aku ee ini loh aku cuman-


" Ceritanya panjang nanti aku ceritain dirumah kamu aja ya. " Potong Samuel.


" Oke oke yaudah yok naik kita pulang barengg. " Tawar Chun yo.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam menyimpan cerita saat sampai dirumah saja.


Singkatnya perjalanannya pun sampai. Mereka turun bersamaan didepan rumah mewah cukup ditinggali banyak orang.


" Masih sama juga rumah kamu ternyata gak banyak yang berubah. "


" Yok masuk. "


Lee Chun yo membuka pintu langsung saja tubuhnya dipeluk oleh putrinya yang sedari tadi menunggu dirinya pulang.


" Appa kenapa lama sekaliiii.... " Manja Lee mina tanpa tau kedatangan tamu.


" Aigooo putriku ini manja sekali padahal sudah SMA lho. "


" Eee.. Lee ini putrimu. " Tanya Samuel tiba-tiba mengejutkan Lee mina dan melepas pelukannya.


Lee Chun yo tersenyum.


" Ayo duduk dulu. "


Mereka berjalan menuju sofa dan duduk, Lee mina sangat terkejut dengan kedatangan Zafran pikirnya.


" Zafran?? Kok kamu-


" Ssssttt bukan dia ini Ziyan . " Ucap Chun yo memotong kalimat mina.


Ziyan mengulas senyum mirip sekali dengan Zafran kembali membuat Mina salah tingkah.


" Dia ini putri ku satu satunya Lee mina. " Ucap Lee Chun yo memulai pembicaraan.


Mina tersenyum seramah mungkin dan dibalas senyum juga oleh Samuel dan Ziyan .


" Kami tinggal berdua disini istriku sudah meninggal saat umur Mina lima tahun karena kecelakaan. " Lirih Chun yo terbaca raut sedih diwajahnya.


" Sungguh?? Aku turut berduka cita aku tidak tau yang sabar ya. " Samuel ikut sedih mendengar curhatan sahabatnya.


" Saat kepergian istriku aku dan Mina pindah ke Amerika dan seminggu yang lalu kami pindah lagi kesini dan berencana menetap disini. " Jelas Chun yo.


" Jadi kau baru kembali kesini. " Tanya Samuel.


" Tidak ada alasan lagi aku menetap disini saat itu mengingat kau pun sudah tak ada lagi disini. "


" Maaf aku pun pergi karena alasan tersendiriii. " Lirih Samuel.


" Tidak usah minta maaf ini sudah menjadi takdir hidup kita. " Chun yo tersenyum.


" Ya kau benar. " Balas Samuel.


" Sekarang kau berhutang cerita pada ku. " Tagih Chun yo membuat Samuel mempersiapkan diri untuk bercerita.


Samuel menghela nafas sebelum melirik Ziyan disampingnya dan setelah itu ia pun mulai bercerita sampai ke akar akarnya membuat Chun yo mengerti dengan jelas.


" Sebenarnya......-----------------------------------


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


...... Jadi begitu kisahnya. " Jelas Samuel panjang lebar.


Lee Chun yo menangguk paham, Mina yang berada disitu juga ikut mengetahui permasalahannya.


" Jadi Ziyan ini kembarannya Zafran?? Pantas saja sikap nya tadi berbeda ternyata beda orang toh. " Ucap Chun yo.


" Entah aku belum pernah melihat adik kembarnya Ziyan dan jika kau melihat remaja itu mirip Ziyan bisa jadi kemungkinan besar anak itu adalah putraku. " Lirih Samuel merindukan sosok itu.


" Tapi kau tahu sikap anak itu sangat menyebalkan dia sangat keras kepala sampai mengatai anakku yang padahal kami sudah menolongnya tadi. "


" Mungkin ia bersikap seperti itu karena pengaruh lingkungan disekitarnya. "


" Ohya apa kau satu sekolah dengan Zafran. " Tanya Samuel pada Mina.


" Bagaimana perangainya disekolah apakah dia anak yang buruk. " Tanya Samuel lagi.


" Aku tidak terlalu tau karena aku baru sekolah beberapa hari disana tapi aku pernah dengar dari siswa disana kalau yang namanya Zafran dan teman-temannya harus dijauhi kalau tidak mau dibulli." Jelas Mina menurut pengetahuan yang ia dapat dari teman barunya.


" Sungguh??? . " Samuel terkejut dan kecewa mendengarnya.


" Iya dan tadi disekolah, aku pun sempat dibentak olehnya karena tidak sengaja menumpahkan jus ke bajunya dan itu membuatnya marah besar, lalu saat pulang sekolah tadi aku melihatnya menabrak pohon karena ugal ugalan lalu aku dan appa menolongnya dan membawanya kesini. " Jelas Mina.


" Dan kau tau bagaimana sikap anakmu itu setelah ditolong ia malah tidak tau terimakasih. " Tambah Chun yo.


Samuel mengusap kepalanya, rasa kecewa timbul dihatinya saat mendengar hal buruk tentang anaknya.


" Aku minta maaf atas sikap nya. " Lirih Samuel.


" Aku tidak membencinya hanya saja heran melihat remaja senakal itu. " Kata Chun yo sambil menepuk pundak sahabatnya.


" Lalu apa rencana mu selanjutnya. " Lanjut Chun yo.


" Aku akan mencari istriku aku yakin Sheliya pasti ada dirumah itu. "


" Bagaimana bisa. "


" Kemana lagi ia pergi kalau bukan kesana mencari putranya dan aku tidak tau bagaimana nasibnya sekarang. "


" Aku akan membantu mu. "


" Terima kasih. " Samuel tersenyum memeluk Ziyan dari samping.


" Lihatlah wajah kalian sama tapi sifat kalian sungguh berbeda. " Ucap Chun yo pada Ziyan  mengarah pada Zafran.


" Terima kasih paman. " Ziyan tersenyum sangat manis membuat Mina berdegup kencang untuk kedua kalinya.


" Dia adalah zafran versi baiknya. " Batin Mina.


" Aku tidak tau seberapa menderitanya kau disana nak bersama seorang kakek yang kejam sepertinya, tunggulah papa nak papa akan mengeluarkan mu dan ibumu darisana. " Batin Samuel.


                  ****************


Pagi telah tiba.


Hari ini adalah hari libur, jadi Zafran bisa tidur tanpa terganggu alarm.


Karena hari libur Pak Kim pun bisa bersantai seharian dirumah namun yang namanya orang sibuk walaupun hari libur dirumah juga akan disibuki dengan pekerjaan kantor.


Di meja makan hanya ada Pak Kim sendiri sedang sarapan karena Zafran akan turun setelah puas tidur.


Itu sudah biasa setiap hari libur dan Pak Kim tidak peduli tentang cucunya.


Setelah menghidangkan makanan, Sheliya dan para pembantu lainnya kembali ke dapur.


Lumayan memakan waktu Pak Kim pun selesai lalu beranjak dari sana dan pergi ke taman belakang menghirup udara segar pagi.


Yang namanya seorang ibu pasti tidak akan tenang jika anaknya belum makan, Sheliya pun naik ke kamar Zafran mengetuk pintu agar zafran bangun tanpa bersuara.


Tok tok tok


Suara ketukan yang keras itu mampu membangunkan Zafran.


" Ck siapa sih ganggu aja nantilah gue mau mimpi lagi ini. "


Namun lagi lagi suara ketukan itu terdengar mambuat Zafran mau tak mau harus bangkit dan membuka pintu namun setelah dibuka ternyata tidak ada orang ia hanya menemukan selembar kertas bertuliskan.


* mandilah dan sarapan dulu setelah itu terserah kau mau melakukan apa tapi ingat jangan lakukan hal yang bisa membuat mu dihukum. *


Zafran tersenyum setelah membacanya ia yakin ini pasti ulah bibinya.


Ia pun pergi kekamar mandi membersihkan tubuhnya setelah itu memakai pakaian santai dan turun untuk sarapan.


Di meja makan telah tersedia beberapa potong roti dengan berbagai macam selai serta segelas susu dan bubur kesukaan Zafran.


Tanpa menunggu lagi ia pun menyantapnya dengan semangat membuat orang dibalik pintu tersenyum menatapnya.


" Melihat mu makan seperti itu saja sudah membuat ku sangat bahagia. " Batin Sheliya dibalik pintu.


Singkatnya setelah makan Zafran pun beranjak pergi ke kolam renang ingin bersantai disana malas juga kalau tidur lagi.


Zafran duduk di tepi kolam sambil menyeruput minuman kaleng.


Sedang memandang sejuknya air tenang di kolam tiba-tiba suara telpon mengejutkan dirinya.


( berbicara di telpon)


" Hallo bebi. "


" Yak Zafran jangan bikin gue geli deh dasar lo. " Umpat Jaywoo.


" Hehe serius amat sih lo eh ngomong ngomong ada apa kamu telphon pagi pagi.... Kangen yeeee. "


" Ck gue cuman mau nanya jadi gak nanti siang jalannya. " Tanya Jaywoo diseberang sana.


" Oww pastilah jadii, jangan lupa kabarin dua setan itu lagi. "


" Sipp yaudah kalo gitu gue tutup dulu yaa. " Ucap Jaywoo.


" Eh buset lo nelpon gue cuman mau nanya itu, benar benar lo ya ganggu gue aja tau gitu gak usah gue angkat. "


" Lah itukan penting udah yee gue disuruh cebokin Seohyun, nyesal gue minta adik lagi jadinya gue kan yang cebokin malah si kampret itu pura pura sibuk lagi ditambah pembantu sibuk masak, apes gue. " Celoteh Jaywoo.


" Ahahaha rasain nooo eh gue senang lo kalo lo apes hahaha. "


" Dasar setan sama aja lo kayak Hyung gue udah ya bye. "


Ttuutttttt ttutttt.........


" Kampret lo. " Kesal Zafran karena telpon diputuskan satu pihak.


" Kesal ya. " Suara berat itu membuat Zafran menghela nafas lagi lagi waktu nya terganggu.


Ya itu adalah Pak Kim dan tanpa aba aba beliau duduk dekat Zafran.


" Kenapa diliatin aja kolam renang nya kenapa gak langsung nyebur. "


" Suka suka aku. " Jawab Zafran kesal karena tau kakeknya sedang menyindir dirinya yang tak berani berenang takut terjadi masalah pada pernafasan nya apa lagi ia punya hal istimewa itu.


" Hahah raut wajahmu tidak usah begitu. "


" Bodo. " Cibik Zafran.


" Sayang sekali ya padahal kalo berenang itu seru lho. "


Terlampau kesal Zafran memilih pergi darisana meninggalkan Pak Kim sendirian.


" Hah dasar cucu keras kepala kau tidak ada bedanya dengan ku hahah. " Ucap Pak Kim menatap kepergian cucunya.


                 ***************


Ditempatnya Ziyan dirumah Lee Chun yo.


Setelah sarapan dua pria dewasa sedang duduk bersantai di ruang tamu sedangkan anak anak mereka sedang berada di taman belakang rumah.


" Wawww indah sekali ya taman ini. " Puji Ziyan memandangi bunga bunga indah disekitarnya.


Mina tersenyum ia sangat senang bisa mendapat perlakuan baik dari remaja ini beda dengan remaja yang ia temui kemarin walau sempat mengagumi pria itu.


" Ini taman kesukaan ku. " Balas Mina sambil tersenyum.


" Pantas saja pemiliknya saja cantik. " Ziyan keceplosan mengeluarkan kata kata membuat Mina senyum senyum sendiri.


" Ah kamu bisa aja. "


Ziyan hanya bisa menggaruk garuk kepala karena keceplosan.


" Ohya nanti siang aku mau ke toko buku apa kau mau ikut sekalian aku akan mengajakmu berkeliling kota ini hmm. " Tawar Mina.


" Mau banget serius kamu. " Jawab Ziyan  antusias.


" Serius lah. "


" Okee nanti siang yaa. "


Mina tersenyum mengangguk.


Beralih ditempatnya Samuel dan Chun yo diruang tamu.


" Tenang saja kau bisa bekerja ditempatku tapi hanya menjadi sebagai tukang bersih apa kau tidak keberatan sebab aku bekerja dirumah sakit. "


" Sama sekali tidak malah aku bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan untuk sementara waktu. " Samuel tak keberatan sama sekali.


" Baiklah tapi ingat jangan paksakan dirimu. "


" Oke oke. "


" Menurut mu kalau aku pergi kerumah ku hari ini bisa gak ya secara inikan hari libur appa ku pasti ada dirumah. " Lirih Samuel.


" Sabar jangan terlalu gegabah biarlah lambat asal selamat. " Tutur Chun yo.


" Kau benar aku memang harus bersabar dan menyusun waktu yang tepat... Tapi jujur aku sangat merindukan istri dan anakku. "


" Aku tau itu. "


Mereka saling tersenyum menyalurkan semangat.


                 ****************