
Pagi hari telah menyinari.
Setelah sarapan Samuel dan Pak Bahar telah pergi ke kegiatan berkebun berhubung Samuel tak juga mendapatkan pekerjaan tetap.
Ziyan juga telah kembali bersekolah karena mengingat kondisinya yang sudah maksimal. Tinggallah Zafran bersama dua wanita berbeda usia dirumah.
Tau sendirikan karena ulah Zafran saat itu ia tidak diterima disekolah Ziyan dan ia menolak masuk ke sekolah yang lain.
Bukan Zafran namanya jika menikmati waktu seharian dirumah, biasanya jika dikorea dia pasti sudah nongkrong bersama para sahabatnya, ahh jadi rindu mereka.
Ingin telepon handphone nya sudah rusak karena insiden ia jatuh ke sungai kemarin bahkan sudah hilang.
Zafran menghampiri ibunya yang sedang mencuci pakaian dikamar mandi.
Menyadari kedatangan putranya ia pun menyapa Zafran.
" Hei ada apa sayang... " Tanya Sheliya sambil mengucek salah satu baju suaminya.
" Ma.. Aku bosaaann... " Lirih Zafran.
Mendengar itu Sheliya menghentikan kegiatannya sejenak.
" Eumm.... Bagaimana kalau kau menghampiri kakek dan papamu dikebun.. Mungkin disana kau punya sedikit kegiatan... " Usul Sheliya yang tidak buruk juga untuk Zafran daripada berdiam diri saja dirumah.
" Boleh juga.. "
" Pergilah dengan sepeda. "
" Baik maa... Kalau begitu aku pergi duluuu.. "
" Kau tau tempatnya kan.. "
" Tau lah maaa.. "
" Yasudah hati hati jangan terlalu kecapean sampai disana kau duduk saja dan bantu yang ringan saja. " Peringat Sheliya.
" Okee aku pergi dulu. " Zafran melenggang pergi darisana dan Sheliya pun melanjutkan kegiatannya.
Zafran mengambil sepeda yang terparkir disamping rumah. Ia mendorong sepeda sambil berjalan menuju ke kebun, jujur ia belum berani mengayuh sepeda.
Perjalanan yang sedikit memakan waktu akhirnya ia pun sampai, memarkir sepedanya terlebih dahulu lalu mendekati ayah dan kakeknya yang menyadari kedatangannya daritadi.
" Hah... Sampai juga... " Lirih Zafran lalu duduk ditepi kebun.
" Kau bosan dirumah hmm.. " Tanya Pak Bahar.
" Hehe iya kek... " Jawab Zafran nyengir.
" Sudah minta izin pada mamamu dulu..?? " Tanya Samuel sambil mencabut beberapa timun yang siap dipanen.
" Sudah pa.... "
" Baguslah daripada nanti singa itu mengamuk euurrhharr.. "
" Ahahaha papa lucuuu.. "
Pak Bahar terkekeh juga melihat kelakuan menantunya.
" Lalu kenapa tadi kamu mendorong sepeda, apa sepedanya rusak. " Tanya Pak Bahar lagi.
" Eeeuuu... Sebenarnya Zafran... Sebenarnya..... " Zafran malu malu mengatakannya hingga Samuel mewakili dirinya.
" Dia belum bisa mengendarai sepeda ayah... Makanya ia mendorong, takut terjatuh seperti kemariinn. " Jelas Samuel membuat Pak Bahar mengangguk ngangguk dan Zafran yang cuma nyengir.
" Kenapa tidak bilang.. "
" Hehe.. "
" Mau belajar sepeda lagii.. " Tawar Pak Bahar membuat Zafran mengangguk malu.
" Yasudah ayo kakek ajari.. " Zafran membulatkan mata sangat senang mendengar tawaran itu.
" Benarkah.. " Tanya Zafran semangat.
Pak Bahar mengangguk.
" Iya cucuku yasudah ayo.... Hei Kim kau tidak apa apa kan kutinggal sendiri hmm.. "
Berdua saja rasanya memetik buah ini tidak ada habis habisnya apalagi sendiri tapii yasudahlah.
" Y-ya baiklah.... " Jawab Samuel.
" Horeee ayo kakek.... "
" Ayooo.. "
Jadilah Samuel ditinggal sendirian disini selagi Zafran belajar bersepeda bersama Pak Bahar.
" Aiiiiss aku harus kuat demi cintakuuu... Semangat Kim... "
Samuel bisa saja menjadi sang CEO diperusahaan appanya namun ia dengan senang hati beralih profesi demi keluarga tercintanya.
Tapi tidak tau nantinya jika mereka memang akan menetap disini atau bisa saja pindah kesana lagi.
*************
Beralih disekolahnya Ziyan.
Singkat cerita waktu pulang telah tiba dan kini Ziyan sedang menuju keluar pagar.
Hari ini ia sangat aman karena pembulli itu tidak ada disini lagi, ini semua berkat Zafran namun kasihan juga karena hal ini Zafran juga kena imbasnya.
Saat ingin menuju jalan pulang tiba tiba sebuah sepeda menghalangi jalannya menampilkan wajah songong yang mengendarai sepeda itu.
Ziyan melihat orang yang menghalangi nya dan sedetik kemudian ia tersenyum senang dan terkejut melihat kembarannya yang sudah jago mengayuh sepeda.
" Butuh tumpangan tuan.. "
" Ahahahah kau sudah bisa bersepeda hmmm... Aku benarkan kita perlu jatuh dulu untuk bisa. "
" Lalu bagaimana dengan pilot apa dia perlu jatuh dulu untuk bisa. " Ucap Zafran menaik turunkan alisnya membuat Ziyan menatapnya malas.
" Itu cerita lainn.. Tapi bagaimana kau bisa secepat ini. " Tanya Ziyan.
" Kakek yang mengajari kuu.. " Jawab Zafran bangga.
" Ouuwwhh pantas saja. "
" Yasudah ayo naik.. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan menjadi orang yang menjemputmu menggunakan kendaraan tanpa bensin ini. " Ziyan terkekeh dibuatnya.
" Apa kau sudah bisa membonceng. "
" Tentuuu kakek tidak mengajari setengah setengah seperti mu. "
" Ahahah lalu awalnya kau membonceng kakek... "
" Hah iya walaupun mungkin sekarang kakek harus memakai beberapa koyo.. Hehe.. "
" Hah dasar yasudah ayo... Tapi hati hati aku tidak ingin memakai koyo seperti kakek... " Ziyan menaiki tempat penumpang dibelakang Zafran.
" Siaaappp majuu.. " Zafran mengayuh sepeda dengan lancar.
Ziyan pun mulai tenang diboncengi Zafran dan menikmatinya.
" Kita langsung pulang ya. "
" Iya bawel.. "
Mereka sampai dirumah dengan selamat.
Zafran memarkir sepeda dan masuk bersama Ziyan.
Zafran menghampiri meja makan terlebih dahulu karena Ziyan akan mengganti pakaian setelah itu baru makan.
Suasana meja makan seperti biasa selalu diisi dengan keramaian dan canda tawa.
Zafran sudah terbiasa hidup di desa ini, sungguh luar biasa yang dulunya hanya makan berdua dengan kakek disana atau terkadang sendiri tetapi sekarang ia bisa berkumpul dengan semuanya. Mulai dari kakek nenek yang sangat baik merasakan indahnya kebersamaan dengan orang tua dan lagi ia punya kembaran yang bisa diajak bercanda setiap saat.
Dia bisa merasakan indahnya hidup tidak terlalu terpuruk dengan kondisi fisiknya yang lemah walau dia tidak akan tau apa yang terjadi nantinya.
Setidaknya sekarang ia bisa merasakan indahnya keluarga.
Harta bukanlah hal yang bisa menjadikan ia bahagia buktinya saat ia hidup bergelimang harta ia tidak pernah merasa sebahagia ini.
Lelah memang diakui tapi seorang Kim Samuel lebih memilih hidup seperti ini daripada hidup berlimpahan harta tapi tak ada kebahagiaan sama sekali.
Sheliya juga bersyukur penantian dan kesabaran ia selama ini ternyata tidak sia sia.
Makan siang telah usai dan singkatnya kini telah memasuki waktu sore.
Ziyan mengajak Zafran untuk menemui ibu dan ayah angkatnya.
Rasanya rindu juga mana mungkin Ziyan melupakan orang yang berjasa padanya.
Mereka berjalan kaki karena sepeda dipinjam papanya katanya mau membonceng mama dengan sepeda itu lumayan buat jalan jalan sore.
" Masih jauh gak sih. "
" Sudah sampaaaiii... "
Mereka memasuki halaman rumah Raina dan Ziyan mengetok pintunya.
Tok tok tok tok...
" Permisiii... "
" Ayah ibuuu ini Ziyan... "
Tok tok tok...
" Permisiiiii..... "
" Gak ada orang kalii.. " Kata Zafran.
" Pasti ada... Per-
Ceklek......
Pintu dibuka menampilkan Raina dan langsung Ziyan memeluknya.
" Eh kalian ternyata. "
" Ziyan kangen sama ibu dan ayah.. "
" Kami juga kangen sama Ziyan. "
Dan Zafran hanya dikacangi oleh mereka.
" Ayo masuk dan Zafran ayooo. " Raina melepas pelukannya dan mengajak si kembar masuk.
Didalam sudah terdapat Arman yang duduk disofa sambil menyeruput kopi.
Menyadari kedatangan mereka ia juga sama senangnya dengan Raina.
" Akhirnya kau datang juga ayah kangen sekali pada jagoan ayah ini hmmm.... Dan kau membawa kembaran mu.. Juga. " Ujar Arman mengulas senyum pada Zafran yang dibalas senyum kikuk juga.
" Ayo duduk... Tunggu sebentar ya ibu ambilkan minum dulu. " Ucap Raina lalu menuju dapur.
Ziyan duduk disofa dan mendekat ke ayahnya sedangkan Zafran ingin duduk saja rasanya malu malu.
" Bagaimana kabar ayah. " Tanya Ziyan.
" Ayah baik lalu bagaimana denganmu hmm.... " Tanya Arman balik.
" Ziyan baik juga.. " Ziyan tak pernah melepas senyumnya sedari tadi membuat Zafran geli sendiri.
" Nak Zafran juga baik kan.. " Tanya Arman melirik ke seorang remaja yang sedang diam daritadi.
" Ahh iya ak- ee saya baik kok..om." Jawab Zafran kikuk.
" Panggil ayah juga agar sama seperti Ziyan... Jangan malu malu nak. " Ucap Arman sedikit mengurangi kegugupan Zafran.
" Ahaha biasanya dia ini malu maluin kenapa sekarang kamu jadi malu malu Zafran. " Zafran melotot kearah Ziyan yang bocor itu.
Arman terkekeh lalu tersenyum pada keduanya.
Raina datang sambil membawa nampan berisi minuman untuk mereka.
" Ayo minum dulu. " Ucap Raina sambil menaruh nampan itu di depan mereka dan bergabung duduk disana.
" Ohya ay-
Srekk.
Gluk gluk gluk gluk...
" Ahhhh~leganya.. "
Semua mata menatap Zafran yang minum terburu buru langsung Mengosongkan gelas itu.
Zafran sadar karena membuat dirinya menjadi bahan perhatian, ia pun cuma nyengir, jujur saja melihat air berwarna oranye ditambah es batu siapa yang tidak tergoda apalagi daritadi ia haus.
Sedetik kemudian semua tertawa melihat kelakuan Zafran barusan.
Dan Zafran hanya bisa menahan malu dengan wajah memerah.. Kenapa ia bisa sebegok ini ya.
" Kamu haus yaa.. " Tanya Raina lembut.
Zafran menggaruk kepala nya yang tak gatal dan mengangguk pelan.
" Mau ditambah lagi minum-
" Eh gak usah gakpapa udah kenyang saya.. " Kekeh Zafran.
" Zafran Zafran, kamu tidak akan bisa menyembunyikan sifatmu itu hah... Dasar kau yaaa... " Goda Ziyan.
Zafran merengut kesal membuat semua orang menatapnya gemas.
Suasana pun jadi ramai karena kelakuan Zafran.
**************
Ditempatnya Samuel bersama Sheliya.
Ingin boncengan gaya estetik eh ternyata ban nya bocor jadilah mereka mendorong sepeda sambil berjalan.
" Maaf ya istriku kita harus berjalan kaki seperti ini. "
" Hussss tidak usah minta maaf lagipula kita jadi punya banyak waktu untuk berbincang sambil berjalan seperti iniii... "
" Ahaha kau ini. "
" Ohya kau ini masih cantik saja ya padahal sudah punya anak remaja lhoo.. " Lanjut Samuel membuat Sheliya berlayang layang.
" Heuh.. Kau juga sama masih tetap Kim Samuel yang tengil. "
" Tapi ngangenin kaaann... "
" Iuuuuhh.. Heuh.. "
" Hmm ya sebenarnya benar kamu itu memang ngangenin sih.. " Lanjut Sheliya.
" Tu.. Kaaannn... "
Sheliya menunduk malu dan tersenyum geregetan.
" Aku bersyukur karena kamu adalah orang yang menjadi takdirku.. " Ucap Sheliya giliran Samuel yang dibuat berlayang layang.
" Ternyata pilihan ku menikahi mu adalah keputusan yang sangat berharga... Dulu aku pernah dijodohkan dengan seorang wanita disana tapi aku menolaknya dan berakhir menikahimu. " Jelas Samuel.
" Aku juga sempat benci pada takdir karena aku ditinggal nikah oleh pak Arman tetapi aku sadar ternyata Tuhan telah mempersiapkan semuanya untukku... Dirimu datang sebagai pengobat luka... Lalu mewarnai hidupku yang awalnya abu abu. "
" Cinta kita hebat ya walau bertahun tahun tidak bersama tetapi tetap setiaa.. " Ucap Samuel memandangi tatanan wajah cantik disampingnya.
" Hahah... Iyaa... Setia cinta kita saling sabar menunggu sedangkan setia cinta Pak Arman dan istrinya karena saling menguatkan. " Tutur Sheliya.
" Kenapa dengan Pak Arman. " Tanya Samuel.
" Kau kan tau sendirikan ayah bilang istri Pak Raina tidak bisa mengadung lagi karena kecelakaan waktu itu dan Pak Arman tetap setia mencintai istrinya walau beliau tak sempurna lagi.. Bahkan Pak Arman rela berhenti menjadi guru demi menguatkan sang istri saat itu. " Jelas Sheliya membuat Samuel mengangguk paham.
" Waww indah sekali ya percintaan mereka.. "
" Cinta itu hebat jikalau jatuh ditangan pasangan yang tepat. "
" Cuuiiihhh istriku pandai sekali berkata kata. "
" Siapa dulu dong. "
" Istri Kim Samuel tentunya.. " Ucap Samuel mencolek hidung istrinya.
" Aiiss kau inii.. "
" Ahahah yasudah ayo kita pulang. "
" Ini kan memang menuju jalan pulang Kim.. "
" Oiya aku sampai lupa karena terpesona dengan paras mu. "
" Aihh sudahlah. " Ucap Sheliya malu malu.
" Ahahah... "
**************