
Malam harinya dirumah Chun Yo tempat tinggal Samuel dan Ziyan sementara waktu.
Terlihat dua orang dewasa sedang bicara serius dikamarnya Chun Yo.
Siapa lagi kalau bukan Samuel dan Chun Yo sendiri.
Samuel telah menjelaskan semuanya mulai dari ia bertemu Sheliya dan rencananya besok untuk mengeluarkan Sheliya dan Zafran dari rumah itu.
Chun Yo mengangguk paham dan dengan senang hati bersedia membantu.
" Pagi besok setelah kira kira appa mu pergi ke kantor kita akan langsung kesana."
" Kau benar dan masalah ini jangan sampai Ziyan dan Mina tau biar kita saja yang menyelesaikan ini." Jawab Samuel.
" Ya dan apakah kita harus melibatkan polisi??." Tanya Chun Yo.
" Tidak, kita tidak bisa melaporkan appa ku karena kita tidak punya cukup bukti lagipula appa orang yang licik dia pasti bisa lolos dengan cara apapun." Jelas saja Samuel Chun Yo mengangguk paham.
" Ya ya. "
" Tetap berhati-hati karena appa punya banyak anak buah. " Lanjut Samuel.
Lalu ia mengecek salah satu nomor mencoba menghubungi beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban membuat ia kesal sendiri.
Chun Yo yang melihat itu merasa heran dan menegurnya.
" Kamu kenapa sih."
" Ck..ini lho Chun daritadi Sheliya tidak mengangkat telphon ku aku takut terjadi apa apa."
" Tenanglah mungkin dia sibuk kau tau sendirikan dia menyamar sebagai apa, pasti sekarang ia sedang melakukan tugasnya. " Kata Chun Yo mencoba menenangkan sahabatnya.
Samuel menepis perasaan yang tidak tidak semoga saja Sheliya baik baik saja. " Tunggu lah Sheliya aku akan menjemputmu besok dan mengeluarkan anak kita dari kekejaman pria jahat itu. "
" Ya aku akan selalu membantumu. "
" Terimakasih. " dan dibalas senyum oleh Chun Yo.
" Sekarang keluarlah dari kamarku nanti mereka curiga kita melakukan apa."
" Hei kita sudah tua lagipula setan mana yang berpikiran seperti itu."
Chun Yo tertawa mereka adalah sahabat semenjak sekolah SMP dulu, jadi jangan tanya bagaimana keakraban nya terkadang orang mengira mereka itu rada aneh tapi yang penting mereka tidak melakukan hal yang tak senonoh.
Singkat cerita keesokan harinya masih dirumah Chun Yo.
Setelah sarapan, Lee Mina pamit pergi ke sekolah diantar oleh supir sedangkan Ziyan ia sedang les kelancaran bahasa Korea dirumah karena ini juga usul dari Chun Yo agar ia bisa lebih lancar berkomunikasi.
Lalu Chun Yo ia memilih mengorbankan pekerjaannya hari ini karena ia dengan senang hati membantu sang sahabat.
Disinilah mereka disebuah cafe yang tak terlalu jauh dari rumah.
Chun Yo dan Samuel memilih mengobrol disini untuk rencana mereka karena kalau dirumah pasti ada Ziyan.
" Jadi bagaimana." Tanya Chun Yo memulai pembicaraan setelah menyeruput cappucino hangat itu.
" Seperti yang kukatakan semalam tunggu Pak Kim itu berangkat ke kantorr.." jawab Samuel lalu mencomot kentang goreng dihadapannya.
Chun Yo melirik jam dan sekarang ini sudah lebih dari yang mereka tunggu.
" Apa sebaiknya kita berangkat sekarang." Usul Chun Yo.
" Ah tunggu. " Ucap Samuel sambil memasukkan segenggam kentang goreng hingga memenuhi mulutnya lalu mengecek ponselnya.
" Aiss dasar apa dirumah tadi kau tidak makan eoh." Cibir Chun Yo memang daridulu seorang Kim Samuel adalah pencinta makanan tapi walaupun begitu badannya tetap tidak gendut itulah yang ia herankan.
" Arrghh.....kenapa gak diangkat sih dia kemana." Kesal Samuel karena Sheliya tak kunjung menjawab panggilannya Beberapa kali.
" Siapa. " Tanya Chun Yo penasaran.
" My wife dari semalam dia gak ada kabar aneh bukan. " Samuel mengusap wajahnya frustasi.
" Tenanglah mungkin.............."
" Mungkin apa. " Tanya Samuel karena Chun Yo tidak melanjutkan kalimatnya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
4 detik.
5 det-
Braaakkk...
Chun Yo menggebrak meja sambil bangkit dari duduknya sampai mengejutkan Samuel.
" Lo kenapa sih. "
" Kim mungkin ada yang tidak beres sebaiknya kita cepat kesana. "
Samuel tak protes lagi, mereka pun menaiki mobil menuju ke Mension Kim Jongsuk Jon Jae.
" Chun setelah mengeluarkan Sheliya darirumah itu kau jemput Zafran ya disekolahh... "
" Lalu kamu. "
" Aku juga ingin menemui appa ku dikantornya. "
" Tap-
" Sssstt....aku harus menemuinya."
Setelah itu hening tidak ada yang bersuara didalam mobil sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah Mension yang sangat mewah.
" Parkir mobilmu sedikit berjauhan dari sini agar mereka tidak curiga. "
Chun Yo menuruti lalu melajukan mobilnya pelan setidaknya tidak tepat didepan gerbang yang dijaga oleh para anak buah itu.
Mereka pun turun dari pintu berlawanan, sejenak Samuel tampak tercengang melihat rumah yang selama ini ia tinggalkan.
Rumah yang dulunya terpancar aura kebahagiaan semua berubah setelah kematian eommannya.
Sang appa yang tidak ikhlas dengan kepergian eommannya membuat dirinya menjadi sekejam sekarang.
Samuel menangis mengingat appanya yang dulunya memanjakan nya berubah menjadi selalu membentaknya hingga membuat ia pergi dari rumah ini.
Chun Yo menepuk pundak Samuel menyadarkan nya.
" Ah maaf aku jadi mengingat masa masa ituu. " Samuel menyeka air mata.
" Ayo setelah ini pasti semua akan berakhir. " Ucap Chun Yo.
" Iya, ohya kita tidak bisa masuk lewat gerbang depan karena disana ada penjaga bagaimana kalau kita lompat lewat samping. " Usul Samuel yang juga tak terlalu buruk untuk Chun Yo.
" Ya baiklah ayo cepat. "
Pelan pelan mereka menyusup melompati pagar dengan hati hati tanpa ketahuan para penjaga itu.
Gerbang pertama berhasil dilewati sekarang masalahnya dipintu utama yang juga dijaga oleh dua penjaga berbadan kekar.
" Aisss lebay sekali sih appa mu pakek penjaga sebanyak itu. " Chun Yo bersembunyi dibalik dinding begitu juga dengan Samuel.
" Yah namanya juga pak tua. "
" Tapi bagaimana caranya kita melewati mereka kalau kita masuk pelan pelan juga pasti ketahuan, ini tidak segampang saat kita melewati gerbang tadi. " Jelas Chun Yo.
Sejenak Samuel berpikir dan tak sengaja melihat banyak balok balok kayu disana. Ide pun muncul diotak cerdas nya.
" Hei kemari. " Samuel menarik Chun Yo mendekat dan berbisik ke telinganya.
Ide yang didengar barusan oke juga menurut Chun Yo.
" Sekarang. " Tanya Chun Yo.
" Ya pastilah, ayo tapi hati hati. "
Pelan pelan mereka mendekat ke arah para penjaga itu yang membelakangi pintu tak lupa membawa balok kayu masing masing.
Brughh...
Samuel berhasil melumpuhkan penjaga didepannya, sekarang tinggal Chun Yo.
" Hei ka-
Brughh...
Chun Yo lebih dulu memukul pundak penjaga itu dan berhasil menumbangkannya.
Mereka tersenyum karena berhasil.
" Jadi keinget masa nakal kita. " Ucap Chun Yo sambil melempar balok itu sembarangan.
" Udah ingetnya nanti aja ayo masuk." Samuel juga melakukan hal yang sama sebelum mereka masuk ke rumah itu.
Mereka sudah berada didalam namun tetap berhati-hati dengan berjalan pelan takut ada lagi yang mengawasi.
Puk....
Sebuah tepukan halus mendarat dibahu Samuel membuat dirinya merapal kan doa keselamatan.
Chun Yo yang menyadari Samuel berhenti ia pun melihat kearahnya.
" Tuan muda. "
Deg.
Panggilan lembut itu tak terasa asing ditelinga nya dan dengan segera ia membalikkan diri menghadap ke sumber suara.
Benar....!! Orang yang menepuk bahunya adalah wanita paruh baya yang menjadi pengasuhnya sejak dulu bagaimana ia bisa lupa.
" Bibi Ahn...."
Grepp
Samuel langsung memeluk wanita itu sambil menangis karena juga rindu terhadap orang yang dulunya sering dijahili bersama Chun Yo.
Wanita yang menemaninya selagi appa dan eomma nya pergi.
" Kemana saja tuan...hiks....kenapa menghilang selama ini hiks..."
Chun Yo juga meneteskan air mata melihat hal ini, ia juga sangat kenal siapa wanita tua yang baik ini. Wanita yang selalu menjadi teman ceritanya bersama Samuel waktu sepulang sekolah.
Tiba-tiba teringat sesuatu dengan segera ia melepas pelukannya.
" Ohya bibi dimana Sheliya..." Tanya Samuel.
" Sheliya??... Tidak ada yang namanya Sheliya disini. " Jawab wanita itu keheranan.
" Ah eee....i-itu... seorang wanita yang menjadi pengasuhnya Zafran siapa namanya itu eee...."
" Cha eunsang maksudnya.." ucap bibi Ahn dengan segera Samuel membenarkan.
" Tapi kenapa tuan mencarinya dan kenapa tuan bisa tau tentang tuan muda Zafran, kan selama ini tuan menghilang bahkan sebelum tuan muda Zafran dibawa kesini. " Ucap wanita itu yang memang tidak tau apa apa.
Samuel gelagapan ia melirik Chun Yo guna mendapat jalan keluar namun Chun Yo malah mengendikkan bahu.
" Eee i-itu...aaaeee...i-
" Bi kami mohon nanti saja kami menceritakannya sekarang tolong bi, beritahu kami dimana Shel- ee maksud ku cha eunsang, kami janji setelah itu kami akan menceritakan semuanya. " Kini Chun Yo yang bersuara karena kesal Samuel hanya aaee aae.
Bibi Ahn tak banyak tanya lagi, ia pun mulai menceritakan kejadian mengerikan yang ia saksikan semalam.
" Semalam adalah kejadian dimana puncak kemarahan Tuan besar meledak dikarenakan Tuan muda Zafran menolak kemauan kakeknya. Tuan besar marah sampai memukuli Tuan muda Zafran karena membantah dengan lancang, dan disaat itu cha eunsang datang melindungi Tuan muda namun ia juga kena imbasnya, cha eunsang diseret ke gudang dikurung semalaman disana sampai sekarang. Dan Tuan muda Zafran telah kabur dari rumah karena tidak tahan atas sikap kakeknya dan sampai sekarang Tuan muda belum juga kembali. " Cerita bibi Ahn panjang lebar.
" Kurang ajar. " Umpat Samuel.
" Tak sampai disana Tuan besar juga mengerahkan anak buah untuk mencari Tuan muda Zafran dan saya takut jika suruhan Tuan besar menemui Tuan muda, maka Tuan besar akan menghukumnya lagi karena telah berani kabur. "
" Saya khawatir ditambah lagi Tuan muda Zafran kabur dengan keadaan lemah habis dipukuli saya khawatir terjadi apa apa. " Lirih bibi Ahn lagi.
" Appa Lo sudah benar-benar keterlaluan Kiim. " Chun Yo juga marah mendengar hal itu.
Samuel tak dapat mengeluarkan sepatah katapun, dadanya bergemuruh ingin segera menonjok wajah appanya.
Tapi sekarang ia juga harus melepaskan sang istri dulu.
Samuel beranjak darisana, Chun Yo juga mengikuti nya meninggalkan bibi Ahn tapi sebelum itu ia juga memberikan isyarat pada bibi Ahn.
Sampailah mereka di depan gudang tempat Sheliya dikurung.
" Sheliya apakah kamu didalam sayaaang.." Samuel mendekat kan telinganya ke pintu gudang.
Dari dalam Sheliya dapat mendengar suara itu, ia menyudahi tangisnya lalu mendekat ke pintu.
" Kim Samuel ia aku disini...hiks....buka pintunya..hiks..."
" Benar.....!!!!!. Sheliya kamu tenang dulu ya sekarang kamu menjauh dari pintu aku akan mendobraknya bersama Chun Yo. "
Sheliya mengikuti arahan dari suaminya ia berdiri berjauhan dari pintu menunggu dobrakan.
" Chun bantu aku. " Chun Yo mengangguk dan mulai membantu Samuel mendobraknya.
Braaakk..
Braakk...
Braakk..
" Hah Hah sekali lagi Kim."
Gubraakk....
Pintu berhasil dibuka menampilkan Sheliya dengan penampilan kacau, langsung saja Samuel memeluknya dan menciuminya berkali kali.
" Hiks....hiks...untung kau cepat datang...hiks..."
" Ssssttt tenanglah sekarang ada aku ada suami mu tidak usah takut lagi hmm.. "
Lama mereka larut dalam kerinduan, Chun Yo pun menegurnya karena mereka tak punya banyak waktu.
" Ekhemm Hem bukannya aku ingin mengganggu kalian tapi kita harus cepat meninggalkan tempat ini. "
Sheliya dan Samuel tersadar dan langsung saja mereka pergi darisana.
Mereka sudah keluar dari pintu utama namun tak bisa keluar dari gerbang karena masih ada penjaga.
Jadilah mereka melompati pagar kembali dan akhirnya berhasil juga.
Lalu mereka menghampiri mobilnya Chun yo.
" Chun bawalah istriku kerumah mu dan pertemukan dia dengan Ziyan. " Samuel mengatakan itu dan hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Sheliya.
" Mau kemana. " Tanya Sheliya seakan tak rela melepaskan suaminya.
Samuel berbalik dan menatap dekat wajah penyamaran istrinya.
" Aku akan pergi menemui si penjahat itu dikantornya. "
" Tidak tidak ada yang boleh pergi. " Datar Sheliya.
" Sayang hanya sebentar aku janji aku akan kembali tunggulah aku dirumah Chun Yo lagipula Ziyan sudah menunggumu disana. " Jelas Samuel.
" Berapa lama lagi aku akan menunggu setelah bertahun-tahun aku menunggumu untuk kembali, tidak usah ucapkan janji jika nantinya kau sendiri yang mengingkari. " Sheliya meneteskan airmatanya sungguh tak rela jika kejadian itu terulang kembali.
Samuel menghela nafas, mengerti akan ketakutan istrinya tapi ia juga harus menemui appa nya dan mencari keberadaan Zafran putranya yang satu lagi.
" Tolong-
" Tidak hiks....hiks....tidak tidak ada yang boleh pergi hiks.....tidak....aku tidak mau......aku tidak mau kehilangan lagi....hiks....sudah cukup aku mandi airmata selama bertahun-tahun hiks....aku aku...ak-
" Sssttt tenang Sheliya tenang tidak ada yang akan hilang lagi aku hanya sebentar...." Samuel menenangkan Sheliya yang meracau.
Chun Yo ikut merasa kasihan melihat Sheliya yang memang menyimpan banyak luka selama ini.
Sheliya menggeleng tetap tak mengizinkan suaminya sedetik pun.
" Sheliya-
" Tidak. " Sergah Sheliya cepat.
Samuel kehabisan cara ia mengusap wajah frustasi.
" Aku ha-
Cupp....
Sheliya tak bisa melanjutkan kalimatnya ketika bibirnya ditabraki oleh bibir suaminya.
Chun Yo yang melihat adegan itu ia memilih memandangi burung burung yang hinggap dipohon walau burung itu ada juga yang melakukan hal yang sama.
Sudah menjadi nasibnya duda anak satu namun tak pernah ada niat mengganti kan ibunya Mina dihatinya.
" Aiiss iya sih suami istri tapi ingat tempat juga dong kasihan kek sama aku heeeehh. " Gerutu Chun Yo.
Setelah dirasa cukup Samuel pun melepas nya membuat jantung 💓 Sheliya tak aman sekarang.
Samuel harap cara ini bisa meluluhkan hati sang istri.
" Sebentar ya. "
" Zafran juga anak kita, dia harus segera ditemukan sebelum appaku menemukannya aku janji tidak akan lama, ayolah sayang aku janji tidak akan terluka dan langsung kembali setelah itu. " Samuel dengan hati hati meluluhkan hati Sheliya.
" Janji ya. " Lirih Sheliya berusaha mengizinkan.
" Iya sayang aku janji. " Ulang Samuel.
Melihat Sheliya yang bisa luluh Chun Yo ikut senang.
" Masuklah ke mobil, Ziyan sudah menunggumu dirumah Chun Yo. "
" Selahkan..." Chun Yo membukakan pintu mobil bagaikan menyambut sang ratu.
" Jaga permaisuri ku baik baik selagi sang raja pergi. "
" Baik tuan raja hamba akan menjaga sekuat tenaga. " Chun Yo yang peka juga menyambung candaan Samuel membuat Sheliya terkekeh.
" Ayo sayang masuk. "
Sheliya memasuki mobil menuruti suaminya Tapi sebelum itu ia sempatkan dulu untuk menatap suaminya.
" Kamu harus baik baik disana, jika perlu bantuan tidak usah menunggu untuk menelpon ku. " Ucap Chun Yo sambil menutup pintu mobil jok kedua tempat Sheliya duduk.
" Pasti. "
" Dan satu hal lagi, kalau sampai kau pulang tidak lengkap akan kutambah tidak lengkap lagi mengerti kau. "
Samuel terkekeh mendengar sahabatnya yang ia yakini ini adalah sebagai bentuk kepeduliannya.
" Tenang saja ohya aku pergi ya bawa dia sampai rumah. " Samuel pun beranjak dari sana.
" KAU PERGI DENGAN APA." teriak Chun Yo.
" Taxsiii~~~~" Jawab Samuel dari kejauhan yang sudah menghilang dari pandangan.
Chun Yo pun memasuki mobil dan mengemudinya.
Dimobil tak ada satupun yang bersuara membuat Chun Yo yang canggung dengan suasana seperti ini memulai pembicaraan.
" Eee Ziyan pasti senang karena bisa menemukan ibunya, tak bisa dibayangkan bagaimana wajah bahagianya nanti. " Sesekali Chun Yo melirik kaca depan memperlihatkan Sheliya yang sepertinya enggan menjawab.
" Aku sahabatnya Samuel, tenang saja Kim itu anak yang kuat ia pasti bisa melalui semua ini. " Ucapnya lagi namun tetap saja Sheliya mendiaminya.
" Putar balik. " Chun Yo tampak terkejut mendengar ucapan yang barusan dikeluarkan Sheliya.
" Apa??.."
" Putar balik. " Ulang Sheliya lagi.
" Tap-
" Putar baaliikk. " Ulang Sheliya ketiga kalinya.
" Aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya, sudah cukup aku bertahan selama 16 tahun ini dan aku...hiks...hiks...aku tidak mau....aku tidak mau melepasnya lagi hiks..."
Chun Yo sangat Iba melihat Sheliya yang kembali menangis, ia pun dengan terpaksa putar balik tidak memenuhi permintaan Samuel untuk mengantar Sheliya Sampai rumah.
Mobil itupun melaju kearah kantor Pak Kim Jongsuk.
             *************