Handsome Twins

Handsome Twins
bab 17 Tidak becus



"Wuuaahh, apakah disini tempatnya." Tanya Zafran penasaran setelah turun dari mobil melihat rumah sederhana yang ada di depannya.


"Iya disini. " Jawab Hyunso setelah turun dari mobil juga.


"Ayo masuklah ke dalam dan ingatlah pesan tuan besar. " Lanjutnya.


"Haaahh.... Situa itu suka sekali mengatur. " Cibir Zafran kesal.


Hyunso hanya bisa mengabaikan kekesalan Zafran dan mengajaknya masuk ke rumah itu.


"Apa pemilik rumah ini yang berhutang pada moster itu. " Tanyanya lagi ketika berada di hadapan pintu rumah tersebut.


"Iya." Jawab Hyunso singkat.


"Aiisss... Dasar bodoh, udah tau lintah darat masih aja di dekati. "


"Sebaiknya cepatlah. " Hyunso yang tidak sabar lagi mendengar ocehan Zafran daritadi karena mereka sedang di awasi dari jarak jauh.


"Permisiiiiii. " Ucapnya lembut.


"Apa yang kau lakukan, berbicara lah dengan keras jangan lembut seperti itu... " Pesan Hyunso pada Zafran yang tidak terlihat seperti yang kakeknya inginkan.


"Ahhh.... Itu tidak baik Hyung.. "


"Ini bukan masalah baik atau tidak tapi.... Ah lakukan saja ayolah.... Jangan membuat hidupku dalam bahaya. "


"Ketok pintunya dengan keras juga. " Lanjutnya.


"Tapi aku tidak membawa tanganku yang kuat untuk memukulnya. Cengirnya.


" Zafraaaaaannnnnn. " Panggil Hyunso lembut dan pasrah terhadap kelakuan Zafran.


"Baiklah baiklah. " Final Zafran dan akan memulai keseriusan.


DORR.... DOOR.. DOR.. RR.... DOORRRR...


anggap saja suara pintu yang yang di pukul keras oleh Zafran 😌


"WOII.... BUKA PINTUNYA..... "Suara lantangnya terlihat menakutkan.


Hyunso yang berada di sampingnya tersenyum bangga.


" Buka pintunya cepat sebelum aku menendangnya. "Lanjutnya.


Lumayan lama menggedor pintu pemilik rumah itupun membukanya setelah Zafran mengancam akan membakar rumah itu.


Pemilik rumah itu nampak bergetar ia memang sebelum nya tidak pernah melihat Zafran tapi melihat Hyunso ia jadi tau maksud kedatangan orang orang ini.


" A-ada ap-appa.... T-tuan... "Gemetar orang itu yang terlihat sudah berumur.


" Ah Hyung... Dia sudah tua aku jadi tidak tega... "


"Lalu kenapa kau tega membulli teman sekelas mu. " Hyunso memang tau sedikit tentang kenakalan Zafran yang suka membulli saat ia mendengar pertengkaran Zafran dan Pak Kim.


"Ahhh... Ituuu.... Karena.. Hm... Tau ah bingung... " Cengirnya.


"Cepat lakukan perintah tuan besar. "


"Kau tidak tega juga kan jika melihat kepalaku di penggal. " Lanjut Hyunso.


"Eeee........." Zafran tak tau lagi apa yang harus dia katakan, karena ia juga tidak tega menyiksa orang tua yang seperti kesakitan begitu, Orang itu terlihat lemah.


"Aiisss.... Hei pak cepat bayar hutangmu... " Bentak Zafran.


"Ampun tuan.... Saya belum punya uang...... Karena saya sudah memakainya untuk... K-keperluan putra saya.... " Mohon pak tua itu sambil bersujud di lutut Zafran.


Zafran nampak kasihan melihat orang itu ia melirik Hyunso meminta saran tapi Hyunso malah menyuruhnya tetap terlihat menakutkan lewat isyarat matanya.


Dengan terpaksa Zafran pun harus melakukan ini. "arrggghhh...... Aku tidak ingin mendengar alasan mu..... Cepaaat.... " Kasar Zafran berusaha menendang Pak tua itu hingga jatuh ke lantai.


"Arrggghhh... Hah... Hah.... " Terlihat Pak tua itu memegang dadanya dengan nafas tersendat sendat. Zafran yang melihat itu mulai panik karena ini adalah ulahnya.


" Hyuuungggg...... " Lirih Zafran namun Hyunso tetap menyuruh Zafran melanjutkan tugasnya.


Zafran terdiam ia masih belum mengambil tindakan hingga Hyunso menegurnya.


"Apa yang Kau lakukan jangan diam saja..... Cepat tagih hutangnya. "


"Hyung tapi dia................... "


"La, ku, kan. " Tegas Hyunso namun terkesan memohon.


Tidak bisa membantah lagi Zafran pun menarik paksa Pak tua itu tak memperdulikan kondisi beliau.


"Cepat mana uang mu... " Tegas Zafran sambil mencengkram kerah baju si bapak itu yang sedang susah bernafas.


Sungguh ia sangat tau bagaimana rasanya sesak dan susah bernafas karena inilah teman hidup nya tapi kalaupun tau begitu Zafran menepis rasa kasihannya pada bapak itu dan terpaksa melakukan kekerasan.


Walaupun selama ini Zafran suka kekerasan tapi ia masih punya sisi kepedulian seperti pada orang ini. Kenapa hatinya tak tega padahal inilah makanan nya sehari hari yaitu menyiksa orang sesukanya.


"T-tolong ampuni... S-saya nak..... " Rintih orang itu pada remaja yang sedang mencengkram kerah baju nya.


"Aku tidak peduli..... "


Hyunso yang melihat Zafran melakukan tugasnya ia merasa senang karena nyawanya tidak jadi terancam.


"A-ampuuuunnn... N-nak.... "


"CEPAAAAATTTT...... " kasar Zafran hendak menonjok bapak itu tapi hampir beberapa centi lagi tangannya terhenti karena mendengar aba aba pemberhentian.


Bukan itu bukan Hyunso tetapi ia adalah putra dari bapak yang hampir dipukul Zafran.


Seorang pemuda yang baru pulang dari rumah temannya ia heran melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Setelah mendekati rumah ia mendengar keributan dan benar saja pemandangan yang pertama ia lihat adalah ayahnya yang hendak dipukuli oleh orang asing maka disitulah emosinya meledak.


"BERHENTIIIIII....... " emosi pemuda itu dengan wajah memerah mengepalkan kedua tangannya. Terlihat umurnya lebih tua dari Zafran dan memiliki postur tubuh yang ideal dengan otot yang cukup menawan, wajahnya tidak terlalu tampan namun meninggalkan kesan manis setiap orang melihat nya.


Dengan cepat pemuda itu menghampiri Zafran dan langsung dihadiahi bogeman mentah darinya membuat Zafran tersungkur dan bibirnya sedikit sobek.


Hyunso yang melihat itu hanya bisa terdiam karena menurut perintah ia tidak boleh melakukan apapun.


Belum selesai Zafran menyeimbangkan tubuhnya, lagi lagi pemuda itu menghajarnya dengan membabi buta. Di rasa sudah cukup pemuda itupun berhenti dan memaksa zafran berdiri dan menatapnya.


"Uhuukk.. Uh.. Uhuk.... "


"BERANI BERANINYA KAU MENYAKITI AYAHKUUU..... MAU APA KAU HAAA... "


bentak pemuda itu marah.


"Akkhh.... Ahh... Ak-aku.... Akk.. " Belum selesai menyelesaikan kalimatnya perut Zafran terasa bergejolak mendapat tinjuan maut dari pemuda bertubuh kekar itu.


Hyunso yang melihat itu hanya menatap Zafran iba, ingin membantu tapi ia belum siap mati sia sia. Sedangkan Pak tua itu sudah sedari tadi pingsan di tempat.


Zafran luruh ke lantai nafasnya memburu menetralkan rasa sakit.


"C-ccukup... Ak-aku... Mengalah.... Bu-bukan aku yang mencelakai ayahmu.. Sungguh.. " Lirih zafran terbata bata.


"LALU SIAPA LAGI KALAU BUKAN KAU BA****NG... DASAR BRENGSEK.... AYAHKU PUNYA PENYAKIT JANTUNG DAN KAU...... kau membuatnya takut.... Hiks... Aku sangat takut kehilangan ayahku.... Hiks... Karena hanya dia yang aku punya sekarang.... Hiks..... Hiks..... " Pegangan yang awalnya kuat di kerah Zafran kini meluruh dengan sendirinya serta air mata pria itu.


Zafran yang melihat itu ikut sedih dan tau bahwa pria ini bersikap kejam padanya karena berusaha melindungi orang tersayang nya. Dan ia juga merasa bersalah atas perbuatannya tadi.


"Mm-maafff... Akh... " Hanya itu yang dapat Zafran katakan sebagai bentuk rasa bersalah nya.


Hyunso yang daritadi berdiri bagaikan patung juga ikut menyeka airmata yang hampir jatuh, sama hal nya dengan Zafran ia juga terpaksa melakukan ini karena kakek brengsek itu.


"Apa kau tidak punya ayah hm.. Sampai tega menyiksa Seorang ayah seperti nya.... Hiks......." Lirih pria itu sambil beranjak memeluk ayahnya yang pingsan.


Matanya memerah air mata yang ditampung tumpah seketika, jika tadi air mata nya untuk mengkasihani orang lain tapi sekarang air mata nya itu untuk mengkasihani nasibnya sendiri.


Hyunso yang mendengar itu juga terkejut dan ia sangat tau kalau Zafran pasti sangat sangat terpukul mendengar hal itu.


Ingin sekali ia berteriak namun tak bisa karena rasa sakit didadanya sedang bertamu padanya memang inilah salah satu nasib sialnya. Tangannya tergerak meremas dadanya nafasnya juga ikut memburu pertanda jantung nya sedang kumat. Menyadari ada hal yang lain pada Zafran, Hyunso pun dengan cepat menghampirinya.


" K-kau kenapa.. " Tanya Hyunso panik memangku Zafran ke pangkuannya.


"D-dadaku.... Ss-sakiit... Arrghh... Hah... Hah..hah.... " Lirih menyembunyikan kepalanya di perut Hyunso.


"Kita kerumah sakit.. K-kau bertahanlah.. "


Dengan segera Hyunso memapah Zafran ke mobil dan menuju kerumah sakit meninggalkan dua orang itu dan melupakan tujuan utama mereka.


Kepergian mereka itupun membuat orang di seberang sana mengumpat kesal di depan layar Komputernya. "dasar bodoh. "


Dengan kecepatan mobil di atas rata rata Hyunso pun sampai dirumah sakit dan dengan cepat Zafran ditangani oleh dokter.


Dengan raut wajah panik ia mengusap wajah frustasi dibalik pintu ruang Zafran ditangani, ia tidak menyangka akan seperti ini. Sungguh pasti tuannya akan marah besar jika tugas yang diberikan padanya dan Zafran gagal.


Dua kepanikan yang melanda hatinya satu sisi ia khawatir akan keadaan Zafran dan disisi lain ia juga khawatir akan hidup nya karena gagal melakukan tugas dari tuannya.


Tak berhenti ia berdoa mulut nya seakan seperti mesin yang bekerja tanpa lelah hingga deringan handphone menghentikan ratapan dari mulutnya.


Jantung nya seakan berhenti tiba tiba melihat nama yang tertera di layar handphone nya, jika ia menekan tombol merah maka nyawanya semakin dalam bahaya dan jika ia menekan tombol hijau mentalnya harus siap mendengar umpatan sekarang dan benar ia pun menekan tombol hijau.


(Berbicara di dalam telpon)


"H-hall.................. "


" DASAR BODOH TIDAK BERGUNA KENAPA KALIAN TIDAK BISA MELAKUKAN TUGAS SEMUDAH ITU HAA... DAN ANAK ITU JUGA DASAR PENYAKITAN...... KALAU TAU BEGINI LEBIH BAIK AKU SENDIRI YANG TURUN TANGAN.... Percuma aku punya cucu sepertinya dasar lemah.... Kenapa ia tidak melawan saat itu.... AAARRGHHH...... AKAN KU HUKUM DIA NANTI DAN KAU JUGA SAMA...... cepat bawa pulang dia. " Umpat nya di seberang sana.


" T-tapi ia sedang ditangani dokter tuan dadanya tadi sakit... " Ucapnya takut sambil menjauhkan handphone dari telinga nya mengingat akan mendapat respon bagaikan petir seperti tadi.


" AKU TIDAK PEDULI... CEPAAT ATAU KAU TIDAK AKAN BISA MELIHAT MATAHARI BESOK....... "


" T-tuan.. T-tapp.............. "


Ttttuuuutt,.... Ttttuuuutt....


Belum selesai Hyunso bicara telpon dimatikan secara sepihak oleh tuannya.


" Aaaarrgghh..... BAGAIMANA iniiiii. " Teriaknya frustasi sambil menggaruk garuk kasar kepala nya yang tidak gatal membuat pengunjung lain di rumah sakit itu tercengang melihat nya tapi Hyunso tidak peduli ia terlampau kesal sekarang.


Kekesalannya pun terhenti saat melihat dokter yang menangani Zafran keluar, langsung saja Hyunso menerkam dokter itu dengan pertanyaannya yang panik dan tidak sabaran.


"D-dokterr bagaimana keadaan nya dia baik baik saja kan. " Tanya Hyunso panik.


"D-di............" Belum setengah kalimat pun Hyunso memotong pembicaraan dokter itu dengan cepat karena kepanikan nya.       


" Tolong jangan katakan berita buruk....dia baik baik saja kan dia bisa pulang sekarang kan dokter.....lukanya tidak terlalu parah kan....."


"Ak.........." Lagi lagi Hyunso memotong nya hingga dokter itu frustasi bahkan beliau lebih frustasi menangani keluarga pasien daripada pasien sendiri.


" Tolong selamatkan aku ya Tuhan.......dokter aku boleh membawanya pulangkan. " Tanya Hyunso lagi tanpa merasa bersalah karena mengabaikan jawaban yang akan diberikan pak dokter.


" Tolong tenang...tenang nak....tenang lah saya akan menjelaskan padamu jadi tolong dengar kan saya dulu. " Ucap pak dokter yang sudah berumur itu berusaha tenang.


"Ee...baiklah.." Patuh Hyunso.


Sebelum memberi keterangan, pak dokter itu menghela nafasnya dan mempersiapkan lontaran kata yang tepat untuk menangani keluarga pasien ini. "Lukanya lumayan parah dan terdapat lembam lembam ditubuhnya karena mungkin pukulan yang diberikan itu bertubi tubi.......juga.....masalah pada jantung nya..........eeee......."


" Apa katakan dokter..." Panik Hyunso menunggu jawaban.


" Sepertinya pasien ini punya riwayat penyakit yang membuat jantung nya berdetak lemah bahkan hampir tidak terdeteksi sebelumnya hingga menimbulkan sakit secara tiba tiba."


Penjelasan dokter itu cukup membuat Hyunso membulatkan matanya karena ia memang tidak tau menahu soal cucu majikannya dan jika benar penuturan dokter itu tentang Zafran maka ia merasa sangat bersalah karena membiarkan Zafran di hajar habis habisan tadi sungguh ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.    


Hyunso merasa bimbang sekarang terlebih lagi mendengar kondisi Zafran dan perintah dari tuannya.


Jika ia mematuhi tuannya bagaimana dengan nasib Zafran dan jika ia memikirkan Zafran bagaimana juga dengan nasibnya.


Sungguh cerita ini dipenuhi banyak pilihan antara keputusan yang sangat tidak diinginkan antara keduanya.


" Sebaiknya pasien tetap dirawat disini sampai benar benar pulih karena masalah nya bukan pada luka fisiknya saja tapi ada kelainan juga pada organ dalamnya. " Tutur dokter itu memberi tau sesuai penanganan nya tadi pada Zafran.


Hyunso diam mematung walaupun mendengar ucapan dokter itu tapi ia sungguh tidak bisa meng iyakan nya.


" Kalau begitu saya permisi silakan di jenguk saudaramu. " Dokter itupun pergi meninggalkan Hyunso yang masih tak bergeming ditempatnya.


Ia benar-benar sedang memutar otaknya untuk berpikir menemukan cara agar bisa keluar dari masalah ini namun jalan pikiran nya sekarang buntu ia tidak tau harus melakukan  apa selain keterpaksaan.


" Tidak ada cara lain selain.......... Yah.... Maafkan aku Zafran.. Bukannya aku pengecut tapi...... Aah... Maafkan aku... Aku benar-benar harus melakukan ini... " Lirih Hyunso.


                 ********************


DITEMPAT NYA KIM ZIYAN


Masih ditempat yang sama namun dengan waktu yang berbeda.


Sekarang sudah masuk waktu siang Ziyan dan Pak Bahar pun pulang karena ingin makan siang bersama dengan seorang wanita yang menunggu kehadiran mereka dirumah.


Ziyan dan Pak Bahar berjalan sambil berceloteh ria sebenarnya hanya Ziyan saja yang berceloteh bagaikan anak kecil dan Pak Bahar sebagai pendengar yang budiman.


Tapi tiba tiba saat sedang asyiknya bercerita Ziyan reflek memegang dadanya yang terasa aneh, tidak sakit tapi seperti ada sesuatu. Pak Bahar yang melihat itu pun bingung dan bertanya padanya.


" Ada apa nak. " Tanya Pak Bahar cemas Sambi memegang pundak cucunya.


" Gak tau kek.... Dadaku terasa aneh gitu gak tau kenapa, tidak sakit tapi seperti.... Ah... Aku kenapa ya. " Herannya sambil memegang dadanya.


Pak Bahar pun semakin bingung dibuat nya bagaimana mungkin seperti itu oh apa ini jangan jangan... Ziyan kan bukan hanya satu tapi ia punya kembaran apa ini pertanda.


"... Kau baik baik saja kan... " Tanya Pak Bahar semakin cemas sebenarnya rasa cemas nya itu lebih pada sosok yang tidak pernah ia tau keberadaan nya tapi ia yakin sosok itu pasti ada buktinya Ziyan bisa merasakannya.


Tapi ia takut ini adalah pertanda kalau sosok itu sedang tidak baik baik saja melihat respon Ziyan seperti itu.


" Iya kakek... Aku baik baik saja tapi dadaku terasa aneh. "


" Kau tau Ziyan??... K-kau punya kembaran kan. " Tanya Pak Bahar datar.


 


Ziyan bingung namun setelah ditelaah ia tau maksud dari kakeknya.


"Mungkin ini adalah pertanda dari adik kembar mu. " Lanjutnya.


Mendengar itu Ziyan merasa sangat khawatir dan takut kehilangan sosok yang belum pernah ia temui walau pada nyatanya ia memang sudah kehilangan.


" Tidak..... Semoga saja adikku baik baik saja aku yakin dia pasti anak yang sehat seperti ku bahkan hidup nya pun lebih bahagia aku yakin itu jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan kek... Lagipula ini mungkin hanya kelelahan ku saja. " Ziyan menepis jauh jauh pikiran buruknya itu walaupun pada nyata ia lebih dari khawatir memikirkan saudara kembarnya.


Meskipun mulutnya berkata lain tapi Pak Bahar bisa membaca pikiran Ziyan sekarang hanya saja Ziyan berusaha menepis nya. Sama dengan Ziyan  Pak Bahar pun tak ingin membuat Ziyan  semakin cemas iapun mengajak cucunya untuk melanjutkan perjalanannya untuk pulang.


" Iya nak semoga cucuku itu baik baik saja Yasudah kalau begitu ayo kita pulang nenekmu pasti sudah menunggu. " Pak Bahar berusaha setenang mungkin.


" Ah iya kek... Pasti nenek sedang berceloteh menunggu kita karena terlambat...... Ummm.... "


" Tapi kau benar baik baik saja kan. " Tanya Pak Bahar memastikan.


" Iya kakek Ziyan baik kok yaudah ah ayooooo..... " Ajak Ziyan tak sabaran.


Melihat itu Pak Bahar hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah gemas cucunya.


                      **************