
Seminggu telah berlalu di dalam kehidupan mereka semua, namun Nick masih belum berhasil menemukan tanda lain dari kelompok Libras. Siapa sebenarnya kelompok Libras ini? Lagi-lagi mereka menghilang bak ditelan bumi.
“Apa ada informasi tentang mereka?” tanya Nicholas pada Arkha.
“Tidak ada. Lagi-lagi mereka menghilang tanpa jejak” jawab Arkha sedikit kecewa.
“Sialan!!” umpat Nicholas. “Mereka sangat suka main petak umpet” sambungnya.
Nick dan Arkha sedang berada di mansion milik Nick, mereka sedang berbincang tentang kelompok Libras ini dan juga rencana penyergapan transaksi terlarang yang akan berjalan besok malam. Namun, transaksi ini bukanlah milik Edward, transaksi kali ini skalanya jauh lebih kecil dari pada milik Edward. Yang melakukannya juga kelompok kecil di bawah naungan sebuah geng yang belum diketahui siapa dalangnya.
“Masalah kelompok Libras saja belum selesai, sekarang kita sudah harus mengerjakan hal lain” tutur Nick sembari menghela nafasnya kasar.
“Ya begitulah sudah nasib kita” timpal Arkha.
“Jelaskan padaku informasi yang kau dapat tentang transaksi terlarang besok malam” pinta Nick.
“Yang melakukan transaksi ilegal besok malam adalah sebuah kelompok kecil di bawah naungan sebuah geng dengan kekuasaan yang lebih besar. Yang aku tau kelompok kecil itu bernama Mawar Api, sedangkan geng yang menaungi mereka sangat privasi. Tak secuil informasi pun tentang geng itu yang dapat dikorek oleh anak buah kita” jelas Arkha.
“Cukup hebat. Sepertinya skil mereka jauh di atas kita” ucap Nick memaklumi.
Arkha hanya mengangguk mendengar apa yang Nick katakan. “Jadi apa rencanamu untuk besok malam” tanya Arkha.
“Aku rasa kita harus turun bersama. Kau hubungi Delvin, katakan padanya bahwa kita akan menurunkan sebagian besar pasukan kita dan suruh dia untuk waspada terhadap sergapan lawan” perintah Nick.
“Akan ku hubungi dia nanti” sahut Arkha.
"Oh iya.. Ini sudah seminggu, apa kau dapat informasi lebih lanjut tentang peluru berlogo api itu?" tanya Nick yang tiba-tiba teringat peluru dengan ukiran api yang begitu indah.
"Hm, peluru itu adalah milik kelompok Mardav. Dan kelompok Mardav tidak beroperasi di kota ini, mereka berkuasa di daerah lain" jelas Arkha.
"Kalau begitu kenapa mereka memberontak di kota ini?" ucap Nick heran.
"Entahlah. Tapi apa kau sadar akan sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa nama kelompok ini sedikit mirip dengan nama kelompok milik Edward?" ucap Arkha.
Nick berpikir sejenak. "Kau benar. Mardav dan Esdav" sahut Nick sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sepertinya ada suatu hubungan di antara mereka" timpal Arkha.
"Telusuri!" perintah Nick yang diiyakan oleh Arkha.
Selain Nick dan Arkha, Elea dan Eve juga harus turun tangan mengatasi berandalan yang merupakan anak buah dari kelompok Mawar Api, kelompok yang akan melakukan transaksi gelap besok malam. Eve dan Elea mendapat kabar bahwa selain melakukan transaksi gelap besok malam kelompok Mawar Api juga akan mengacau di beberapa daerah lainnya, Eve dan Elea akan turun membantu menghentikan pemberontakan besok malam. Ini memang hanya sekelompok kecil namun karena dinaungi oleh geng besar maka Mawar Api bisa melakukan tindakan yang lebih leluasa.
“Besok malam Minggu, akan ada sedikit pemberontakan dan aku perlu bantuanmu” ucap Eve yang langsung memberitahu Elea saat masuk ke dalam kamar.
“Pemberontakan dari siapa?” tanya Elea yang masih fokus dengan novel yang ia baca sambil duduk di bibir kasur.
“Mawar Api” jawab Eve singkat.
“Mawar Api? Bukankah setelah kedatangan Navarda mereka tidak pernah berbuat usil lagi?” tanya Elea saat mendengar nama Mawar Api.
“Mawar Api memang sudah lama tidak berkeliaran, tapi menurut informasi yang ku dapat ada sebuah geng besar yang melindungi pergerakan Mawar Api” jawab Eve.
“Geng besar?!! Geng apa?” tanya Elea memastikan.
“Bagaimana bisa?”
“Entahlah, yang penting kita harus berhati-hati dalam operasi penyergapan besok malam. Jangan sampai lengah!” tegas Eve pada adik sepupunya.
“Baiklah kalau begitu” Elea menurut. “Untuk transaksi gelap yang mereka laksanakan apa kita juga yang akan mengurusnya?” tanya Elea.
“Biarkan Navarda saja yang menumpas mereka pada transaksi besok malam, kita cukup atasi mereka yang memberontak di beberapa daerah itu” ucap Eve yang menunjuk pada peta titik pemberontakan besok malam.
Nick, Arkha, Elea, dan Eve pergi ke markas mereka masing-masing untuk melakukan persiapan agar mereka bisa merebut kemenangan besok malam. Mereka mengatur rencana dengan sangat hati-hati tanpa membiarkan sedikitpun celah tersisa untuk musuh.
Saat hari sudah menjelang sore mereka keluar dari markas masing-masing, pergi menuju sebuah restoran di pinggiran kota. Restoran ini bernuansa tradisional khas Indonesia, namanya Restoran Tradisi. Tanpa sengaja mereka berempat sama-sama memilih tempat makan yang sama, yaitu Restoran Tradisi ini.
Saat memasuki Restoran ini Elea seakan merasakan sesuatu yang janggal, ia melihat sekitar kemudian menyadari hal yang membuatnya merasa janggal. Ya, keberadaan Nick di Restoran itu mengubah suasana makan mereka.
“Eve, coba lihat di sana” kata Elea.
“Ada apa?” tanya Eve heran.
“Itu” tunjuknya ke arah Nicholas dan Arkha.
“Haa” Eve kaget matanya pun melebar dan mulutnya ditutup dengan kedua tangan lentiknya. “Itukan lelaki angkuh itu” ucap Eve kaget.
“Iya, haruskah kita pergi?” tanya Elea.
“Untuk apa? Kita tidak perlu pergi, makan di sini saja aku sudah lapar” ucap Eve.
“Hm, baiklah” Elea memutar bola matanya malas.
“Ayo duduk” Eve menarik tangan Elea.
Mereka duduk agak jauh dari tempat Nick dan Arkha duduk. Pramu saji sudah menyajikan pesanan mereka di atas meja. Mereka berempat melahap makanan itu dengan cepat, dan langsung membayar bon pesanan mereka setelah selesai makan. Eve dan Elea yang baru selesai makan memilih langsung pulang dari pada mereka harus ditanya-tanya jika pulang terlambat, ditambah lagi mereka ingin menghindari Nick dan Arkha.
Nick dan Arkha juga sudah selesai makan, setelah duduk santai kurang lebih 15 menit mereka juga memutuskan untuk pulang. Nick mengantarkan Arkha sampai ke depan pintu rumahnya, di dalam perjalanan mereka juga membicarakan sedikit masalah pekerjaan. Dua orang bertubuh kekar ini hanya terus membahas pekerjaan, seakan tak ada hal lain yang terlintas di pikiran mereka itu.
“Istirahatlah dan bersiap untuk besok” ucap Nick pada Arkha yang baru turun dari mobilnya itu.
“Baiklah, kau juga” balas Arkha.
Sesampainya di mansion Nick langsung pergi membersihkan diri dan bergelud dengan laptopnya untuk menyelesaikan beberapa proyek penting. Nick memiliki lebih banyak proyek saat ia baru pindah ke Indonesia, membuatnya sering lembur semingguan ini. Tak hanya itu, ia juga masih disibukkan dengan pemindahan kantor pusatnya ke Indonesia, yang akan resmi pada hari Minggu.
Tapi kenapa proses pemindahan kantor pusatnya harus resmi pada hari Minggu? Sebab surat keputusan (SK) dari pihak yang berwenang baru akan keluar pada hari Minggu, atau lebih tepatnya 2 hari lagi. Sungguh, demi menemukan Efely teman lamanya, Nick rela menghabiskan begitu banyak waktu dan juga uangnya. Untungnya pemindahan kantor pusat Nick prosesnya bisa berjalan lebih cepat.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 09.00, Elea dan Eve harus bersiap-siap tidur agar stamina mereka terisi penuh. Karena jadwal mereka besok sangatlah padat, pagi sampai siang mereka harus bersekolah dan malamnya harus melaksanakan operasi penyergapan terhadap anak buah kelompok Mawar Api. Sungguh besok akan jadi hari yang sangat melelahkan.
“Kau sudah selesai berganti pakaian?” tanya Eve.
“Sudah, aku akan mengambil air di dapur” ucap Elea, dan ditanggapi dengan anggukan oleh Eve. Tak berapa lama Elea kembali ke kamarnya dengan membawa teko air dan dua buah gelas di dalam sebuah baki, Elea meletakkannya di atas meja dan ia langsung pergi ke kasur.
“Matikan lampunya” perintah Eve. Dengan sekali lentikan jari lampu di kamar tersebut langsung mati atas perintah tuannya, Elea dan Eve sekarang sudah terkapar dan menutup mata agar bisa berlayar ke pulau mimpi yang indah.
Nick yang melihat jam juga langsung pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama malam yang nyaman. Nick mematikan laptopnya dan pergi berlabuh ke pulau kapuknya yang sangat empuk itu. Lagi-lagi saat Nick sedang berbaring santai di atas kasur ia teringat akan Efely, hingga tak terasa air matanya mengalir ditambah lagi kenangan pahit akan kehilangan keluarganya kembali menghantui. Dendam Nick kini diperparah oleh keadaan, entah kapan waktu yang tepat akan tiba, ia sudah tak sabar untuk membalaskan dendamnya itu.
Karena hari sudah semakin larut, mereka yang tadinya terbaring di kasur sambil memikirkan hari esok, kini sudah terlelap dan bermimpi indah. Otak mereka sedang beristirahat, dan tubuh mereka sibuk mengumpulkan stamina untuk pertarungan besok malam.