Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 22 - Pengumuman



Pagi yang indah di hari Senin yang merupakan hari pengumuman hasil ujian siswa dan siswi SMA Nenggala. Semua orang yang hadir di ruang kelas, tempat dimana akan diumumkannya hasil ujian sedang merasa gerogi, gugup, takut, dan jantung mereka berdetak cepat tak beraturan. Tak terkecuali seorang Eleandra, ia bisa merasakan aura menegangkan di ruang kelasnya, bahkan dirinya pun ikut merasa gugup dengan detak jantung yang tak beraturan.


“Semoga aku lulus...” ucap Elea khawatir dalam batin sambil memejamkan matanya.


Satu per satu nama siswa/i yang lulus ujian dipanggil, mereka dipanggil sesuai nilai yang diurutkan mulai dari terkecil hingga terbesar. Satu per satu teman Elea maju ke depan untuk bertanda tangan dan mengambil kartu undangan untuk orang tua mereka.


“Lavina Jedzler, dengan peraihan total poin rata-rata 89,7” ucap Guru yang mengumkan.


“Syukurlah, namaku lolos” ujar Lavi yang gugupnya mulai hilang.


“Lavina mendapat peringkat kedua dari 32 siswa kelas 12 A – IPA. Dan untuk peringkat pertamanya di dapatkan oleh....” ucap Guru menambah ketegangan, dengan membiarkan beberapa anak namanya tak dipanggil.


“Semoga ini namaku...” ucap Elea sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Selamat kepada... ELEANDRA EVALYNA BELLSE!! Dengan peraihan total poin rata-rata 95,4”


“Yeayyy” sorak Elea girang begitu mendengar namanya mendapat peringkat pertama.


“Wahhh ELEA!! Selamat!” seru Lavi yang ikut senang mendengarnya.


Elea maju ke hadapan Guru yang merupakan wali kelasnya tersebut untuk mengambil kartu undangan acara wisuda untuk orang tuanya.


“Selamat ya El!” ucap Guru perempuan itu menyelamati Elea dengan senyum lebarnya.


“Terima kasih Bu!” sahut Elea dengan ekspresi penuh kegembiraan.


“Semua siswa dari kelas ini lulus ujian!” tutur Guru itu mengumumkan.


“Haa... syukurlah” ucap semua siswa serempak.


“Selamat pada kalian semua!” ucap wali kelas mereka.


“Terima kasih Bu!” sahut semua siswa serempak.


“Ya, sama-sama. Kalian istirahat dulu nanti akan dipanggil lagi, Ibu permisi sebentar”


“Baik Bu”


Wali kelas mereka pergi meninggalkan ruang kelas 12 A – IPA tersebut. Elea dan Lavi langsung pergi keluar untuk mencari Geya dan juga Eve, mereka keluar dengan ekspresi sedih untuk memanipulasi Eve dan Geya. Mereka berempat bertemu di kantin sekolah dengan membawa selembar amplop berisi undangan.


“Kenapa El, Lav? Wajah kalian tampak murung” kata Geya.


“Apa kalian lolos?” tanya Eve spontan.


“Kami....” Lavi berkata dengan nada sedih.


“Kami apa? Kalian kenapa? Tidak loloskah?” Geya penasaran.


“Kami....” El melanjutkan aktingnya dan Lavi. “LULUS DENGAN SKOR TERTINGGI!!” sorak El penuh kegirangan sembari menunjukkan amplop yang berisi surat undangan tersebut.


“Hm, syukurlah” Eve bernafas lega.


Sementara Geya dan Lavi langsung berpelukan dan melompat-lompat seperti anak kecil yang kegirangan. Eve hanya menatap mereka sinis begitu melihat kelakuan kekanak-kanakkan mereka berdua, sedangkan El hanya bisa geleng kepala sambil tersenyum tak habis pikir.


“Kalian sendiri bagaimana?” tanya Elea.


“Kami sudah tentu lolos” ucap Geya penuh kesombongan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kemudian Eve mengajak kompak dan disambut oleh Geya.


“Idihh, sombong banget sih” cibir Lavi.


“Hm, menyesal aku bertanya pada kalian” Elea menghela nafasnya kasar.


Eve dan Geya hanya tertawa lepas saat mendengar cibiran dari Lavi dan Elea, meski nilai mereka tak sebagus milik Lavi dan Elea namun mereka tetap lolos di atas rata-rata.


“Pengumuman! Kepada seluruh siswa diharap untuk segera kembali ke ruang kelas masing-masing untuk menerima arahan lebih lanjut. Sekali lagi diharapkan seluruh siswa untuk segera kembali ke ruang kelasnya masing-masing” bunyi pengumuman oleh seorang Guru melalui toa.


“Dah disuruh balik. Yokk Lavi!” ajak Elea.


“Iya, ayo. Duluan my bby bestwi. Muach” ucap Lavi sembari memberikan kiss bye pada Eve dan juga Geya.


“Bye-bye” sahut Eve dan Geya serempak.


Eve, Lavi, Geya, dan Elea pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas mereka masing-masing untuk mendapat arahan lebih lanjut dari Wali kelas mereka.


“Sertifikat, rapor, ijazah dan surat-menyurat lainnya akan dibagikan pada acara wisuda kalian nanti” kata Wali kelas Elea.


“Baik Bu” sahut Elea dan teman-temannya serempak.


“Itu saja informasi yang bisa Ibu sampaikan, kurang lebihnya Ibu mohon maaf. Dan karena sebentar lagi kalian akan lulus dan meninggalkan sekolah ini, maka pesan Ibu selaku wali kelas kalian saat ini, jangan pernah lupakan semua guru yang pernah mengajar kalian” tutur wali kelas.


“Iya Bu, kami gak akan lupakan Ibu dan guru-guru lain” sambung yang lainnya.


Kemudian mereka semua berfoto sebagai kenang-kenangan bersama, dan setelah selesai mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia penuh suka cita.


“Ibu! Ibu...! Elea pulang!” teriak Elea girang.


“Jangan teriak-teriak, nanti Ibu bisa tuli mendengarnya” tegur Ibunya Elea.


“Hm” Elea nyengir. “Maaf Bu, Elea lagi senang soalnya”


“Kenapa nak?” tanya Ibunya.


“Elea senang karena gak lulus” sorak Elea. “Elea bakal stay lagi deh di SMA”


“Gak lulus kok senang?” tanya Ibu Elea dengan ekspresi kaget sekaligus marah.


“Canda Ibu, El lulus kok. Dapat peringkat pertama lagi” ucap Elea dengan sombongnya.


“Wahh, begitu baru anak Ibu”


“Kalau gak begitu, berarti El bukan anak Ibu dong?”


“Maksudnya ya gak begitu juga sayang”


Elea tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Ibunya katakan. “Ini surat undangannya” Elea memberikan surat undangan untuk acara wisudanya yang akan dilaksanakan 2 hari lagi.


“Ayo,, kita kerjai Ayahmu!” ajak Ibunya El dengan senyum liciknya.


“AYO!” sahut Elea penuh semangat.


Ketika Ayahnya Elea pulang ia mendapati putri semata wayangnya sedang duduk berhadapan dengan Istrinya seperti dalam sidang. Ibunya Elea menampilkan wajah seakan ia marah dengan Elea, sedangkan Elea terlihat begitu sedih dan takut dengan amukan Ibunya.


“Ada apa? Kenapa kalian melaksanakan sidang? Drama apa yang sedang kalian tiru?” tanya Ayah Elea dengan lugunya.


“Apa maksudmu? Putrimu ini tidak lulus ujian!” sahut Ibunya Elea dengan ekspresi marah dan nada bicara yang ditinggikan.


“APA?!” Ayah El kaget. “Tidak lulus ujian? Bagaimana bisa?” tanya Ayahnya Elea.


“Kau tanya saja pada putri kesayanganmu ini” tegas Ibunya Elea.


“Elea...” panggil Ayahnya, Elea menatap wajah Ayahnya. “Apa kau tidak lulus ujian?”


“Ayah...” ucap Elea lirih.


“JAWAB!!” Ayah Elea mulai geram.


“Aku.. Akuu...”


“Jawab El!”


“Aku lulus kok Yah” jawab Elea dengan gaya santainya.


“HAH?! Apa maksudnya?” tanya Ayah Elea heran.


“Anakku tentu saja lulus ujian dengan nilai terbaik. Kau tadi hanya dikerjai” timpal Ibunya El.


“Jika dia buruk kau sebut anakku, jika dia baik kau sebut anakmu” cibir Ayahnya Elea pada istrinya.


“Memangnya itu salah?” tanya Ibunya El.


Nyali Ayahnya El ciut begitu melihat wajah penuh amarah milik istrinya itu. Ya wajarlah, suami takut istri, kalau tidak bisa melayang jatah kopi dan lainnya.


“Tidak, kau bebas katakan sesuai keinginanmu” tutur Ayah Elea pasrah.


Elea yang melihat Ayahnya hanya bisa tersenyum, berusaha keras menahan tawanya.


“El mau ke kamar dulu ya” ucap Elea yang langsung berlalu meninggalkan kedua orang tuanya itu.


Elea pergi ke balkon kamarnya, ia menatap indah pemandangan taman belakang rumah di bawah kolong langit senja berwarna oranye itu.


“Sebuah hari besar menantiku, entah apa yang akan ku alami. Aku harus bersiap jika hal itu memang benar adanya” ucap Elea diliputi keyakinan yang begitu teguh dengan senyum manis yang hampir setiap saat terukir indah di wajahnya.


“Eve tahu tentang banyak hal, tapi ia selalu berusaha menyembunyikannya dariku. Sayangnya aku punya terlalu banyak mata-mata yang bisa membobol informasi darinya”


Elea kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di pinggiran kasur, mengambil ponsel dan memutar drama favoritnya untuk mengisi waktu luang sambil menikmati camilan lezat yang membuatnya tak tertarik dengan makan malam. Elea tertidur begitu saja saat sedang maraton drama favoritnya itu, ia langsung terlelap begitu nyenyak di atas kasur empuknya itu.