Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 40 - SYOK!



"Nak, kamu kenapa? apa yang terjadi?" tanya ayahnya Elea.


"El, coba jelaskan pada ibu kenapa denganmu? tanganmu luka-luka, nak" ibunya Elea semakin khawatir dengan kondisi putrinya.


"ELEA?!" ibunya menggoyangkan tubuh Elea, berharap anaknya mau berbicara dan menjelaskan tentang apa yang terjadi sehingga ia menjadi seperti saat ini. Namun sayang, Elea masih sangat setia dengan diamnya.


"DRRTTT.. DRRTTT.. DRRTTT...!" ponsel Elea bergetar karena ada panggilan masuk.


Ayahnya Elea mengambil ponsel tersebut dan mengangkat panggilan telfonnya.


"Halo nona" terdengar suara anak buah kepercayaan Elea dari sebrang telfon sana.


"Ada apa? Saya ayahnya Elea" sahut ayahnya Elea.


"tu-tuan?!" anak buah Elea tersebut kaget dan sedikit gugup.


"Ada apa? Apa kau tau apa yang terjadi barusan ini, aku mendengar Elea berteriak dan sekarang dia mematung" jelas ayahnya Elea yang berusaha mencari tau penyebab kondisi putrinya saat ini.


"emm.. keluarga nona Eve dibantai, tuan. Dan kami menemukan jasad kedua orang tuanya di hutan pinggir kota, tapi kami tak menemukan jasad ataupun tanda-tanda keberadaan nona Eve. Hanya saja, salah seorang anak buah ada yang melihat nona Eve dibawa oleh orang yang membunuh kedua orang tuanya" jelas si anak buah dengan terperinci.


"Apa kau bilang? Kau tidak bercandakan?" ayah Elea yang tidak percaya dengan yang dikatakan anak buah Elea berusaha memastikan kebenaran berita tersebut.


"Saya tidak berani tuan, jika anda tidak percaya anda bisa langsung mengeceknya sendiri. jasad orang tua nona Eve sudah diamankan dan sekarang sedang dilakukan pengecekan oleh pihak berwajib" anak buah Elea kembali menjelaskan dan meyakinkan ayahnya Elea.


"Apa ini?" ucap ayah Elea lirih dan ponselnya terjatuh.


"Ada apa, sayang?" tanya ibu Elea yang kaget dan bertambah bingung saat melihat sikap suaminya.


"Tidak mungkin" gumam ayahnya Elea.


"Sayang?!" ibunya Elea menggoyangkan tangan suaminya.


"Emhh.." ayahnya Elea kaget.


"Sepertinya... semuanya sudah dimulai, kakak dan kakak ipar sudah... tiada" ucap ayahnya Elea sambil menahan air matanya yang hendak jatuh.


"Apa?!" ibunya Elea kaget bukan kepalang.


"Bagaimana bisa?" gumam ibunya Elea yang berusaha keras menahan isak tangisnya.


"Jasad mereka berdua sudah diamankan, kita bisa mengeceknya" ucap ayahnya Elea.


"Tapi El...?" ucapan ibunya Elea terhenti.


"Kalau begitu aku saja yang mengeceknya, kau di rumah saja jaga El ya" sahut ayahnya Elea yang dibalas anggukan oleh istrinya dan ia langsung pergi untuk mengecek jasad kakak dan kakak iparnya.


Sementara, ibunya Elea yang sudah tau alasan yang membuat kondisi putrinya menjadi seperti ini langsung pergi mengambil P3K dan mulai mengobati beberapa luka kecil di tangan putri semata wayangnya itu.


"El, jangan begini terus ya.. El harus kuat, ibu tau El bisa" ibunya mengelap air matanya yang mulai menetes.


"Ibu tau, kamu kuat nak. Maafkan kami para orang tua yang tak bisa menjagamu lebih lama lagi" batin ibunya Elea juga begitu terpukul dengan kenyataan dunia ini.


"El jaga diri baik-baik ya, nak" kalimat terakhir yang diucapkan oleh ibunya Elea sambil mengobati tangan putrinya.


Setelah selesai mengobati luka di tangan anaknya, ibunya Elea pergi dari kamar anaknya menuju kamarnya.


"Sebentar lagi... Elea jangan lemah, ibu tau kamu bisa, nak!" ucap ibunya sambil menangis di dalam kamar.


Sementara di kamarnya Elea, ia masih mematung dengan tatapan yang begitu kosong. tapi ia terus berbicara di dalam hatinya.


"Kenapa? Apa semua ini? Tuhan, aku rasanya ingin mati" tangis batinnya Elea.


"Evellie Bellse orang pertama yang membuat ku menjadi seperti ini, orang yang membuat ku berdiri sendiri dengan begitu kokohnya. Lalu, kenapa kau pergi Eve? Kenapa kamu tidak meminta ku membantumu mengatasi kekacauan di kota ini? Aku sudah berdiri begitu kokoh, tanpa kamu ketahui aku punya sisi kehidupan lain" ucap Elea dalam hatinya.


"Akan ku buktikan pada dunia, Eleandra Evalyna Bellse bukanlah orang yang lemah. Aku berjanji aku akan bangkit, tapi untuk saat ini biarkan aku jatuh, biarkan aku menangisi segala hal nahas ini" janji Elea.


*ke esokan harinya*


"Aku tidak tidur semalaman, aku harus bagaimana hari ini. Yang pasti aku harus berakting seakan aku baik-baik saja, dan kemarin aku hanya kaget" gumam Elea yang masih merasa begitu sedih, bahkan selama semalaman ia hanya menangis dan mengingat kebersamaannya dengan paman dan bibinya, serta Eve.


"Jam berapa sekarang?" Elea melihat jam di atas meja kecil di kamarnya.


"Masih jam setengah 6, huftt.. mending aku tidur dulu" Elea merebahkan tubuhnya perlahan.


"Aku berjanji, aku akan mencarimu Eve" ucap Elea yang langsung menutup matanya dan membuat air matanya menetes.


"KRING...! KRING...!" alarm jam Elea berbunyi dan membuatnya terbangun.


"erghh.. hoamm..." Elea mengeluarkan suara serak-serak khas bangun tidur.


Elea pergi mandi dan bersiap untuk pergi kuliah, lalu ia turun dan bertemu dengan ibunya di meja makan. Dengan santainya Elea duduk, seakan tak terjadi apa-apa kemarin. Elea memperlihatkan ekspresi wajah dengan senyuman, meski orang biasa sekalipun yang melihatnya bisa memahami bahwa senyuman Elea adalah buatan.


Tapi, bagaimana bisa Elea yang kemarin sangat syok hari ini sudah biasa-biasa saja, kemarin dia sangat terpukul sekarang sudah seperti tidak terjadi apa-apa. Ya, itulah kelebihan Elea yang sangat pandai merubah suasana hati dan bisa menyembunyikan banyak hal menyakitkan sendiri. Oleh karena itu, seluruh keluarganya yakin bahwa Elea bisa menghadapi semua kesulitannya dengan enteng.


"Sudah bangun?" tanya sang ibu basa-basi.


"Sudah" Elea masih setia dengan senyum palsunya.


Melihat senyum palsu itu sang ibu tak ingin mengungkit hal kemarin, padahal ia sangat ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Emm.. ayah mana?" tanya Elea karena sedari tadi ia tak melihat ayahnya.


"Ayahmu pergi tadi, katanya ada urusan mendadak" jawab sang ibu dengan santainya, namun tampak seperti menyembunyikan sesuatu dan disadari oleh Elea.


"Ohh..... Bu, nanti selesai kuliah aku tidak langsung pulang ya, ada urusan sedikit" ucap Elea yang sebenarnya ingin meminta izin.


"Iya, nak. Hati-hati ya, jangan keluyuran terlalu jauh, pulanglah sebelum matahari terbenam" kata ibunya dengan rasa khawatir untuk melepas putrinya disaat-saat seperti ini.