Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 12 - Eve bingung



Terbangun dari tidur di lewat tengah malam hanya karena sebuah mimpi buruk, membuat Eve menjadi sulit untuk tertidur lagi. Eve menghela nafasnya kasar, ia bingung dengan apa yang dimaksud oleh mimpinya itu.


Eve bermimpi memiliki seorang adik laki-laki, tapi saat adik laki-lakinya itu berusia 1 bulan ia mati terbunuh oleh seorang laki-laki kejam. Eve semakin sulit untuk tidur ketika mengingat mimpinya itu, namun lelah dan kantuk mengalahkan rasa campur aduk di hatinya itu. Eve kembali tertidur dengan nyenyak sampai pagi datang menyambut.


Pagi hari sudah memberikan salam pada semua orang yang daerah tempat tinggalnya sudah menjumpai pukul 07.00, cahaya mentari menembus jendela dengan sangat hati-hati membelai kulit para pemalas yang bangun siang hari di hari Minggu ini.


Bahkan seorang Nick yang hobinya bangun pagi-pagi sekali, kini ia sedang bermalas-malasan di atas kasur empuknya itu, ia memeluk bantal gulingnya dan berselimut hingga di bawah leher dalam ruangan ber-AC itu. Elea pun sama, hanya Eve yang memilih untuk bangun dan membersihkan diri lalu sarapan.


“Dimana aku harus mencari NIV?, belum tentu ia ada di markasnya” tanya Eve dalam batin.


“Nak...” panggil Ibunya Eve saat melihat anaknya melamun.


“Emm, iya Bund?” tanya Eve pada Ibunya.


“Bunda lihat kau melamun terus, ada apa?” tanya Ibunya Eve.


“Ahh, tidak ada Bund. Oh iya, dimana Ayah?” kata Eve mengalihkan pembicaraan.


“Ayahmu tadi pergi menemui pamanmu” jawab Ibunya.


“Paman John?”


“Iya, ayahnya El”


“Em, OK. Bunda, aku sudah selesai sarapan aku ke kamar dulu ya” ucap Eve yang bangkit dari tempat ia duduk.


“Iya sayang” jawab Ibunya Eve.


Eve pun pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya dengan membawa rasa bingungnya itu, Eve kembali merebahkan dirinya di kasur. Ia terus memikirkan cara untuk bertemu dengan Nicholas.


“Apa aku harus pergi ke kantornya atau ke markasnya? Tapi ini hari Minggu, Nick belum tentu akan hadir di dua tempat ini” ucap Eve frustasi.


“Aku akan pergi ke kantornya saja, mungkin bisa menemukan tangan kanannya itu. Jika tidak aku bisa bertanya alamat rumah Nicholas dengan anak buahnya yang ada di kantornya itu” dalam pikiran Eve. Kemudian Eve pergi mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke kantor Nick.


Nick baru saja terbangun lagi dari tidurnya di akhir pekan ini, sekarang Nick memilih untuk bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi karena jam yang ia lihat sudah menujukkan pukul 08.00. Ini sudah cukup siang untuk orang yang rajin bangun pagi seperti Nick. Selesai mandi Nick turun untuk pergi menikmati sarapannya, saat ia kaget melihat Arkha yang sudah nongkrong di salah satu kursi di ruang makannya itu.


“Baru bangun? Tumben sekali” ejek Arkha.


“Kau tidak tahu arti lelah ya? Atau kau sekarang sudah terbuat dari mesin seperti robot” ucap Nick yang geram.


“Santai saja, aku baru sampai beberapa detik yang lalu. Aku juga bangun lebih siang dari pada biasanya” kata Arkha sambil melahap beberapa buah yang ada di hadapannya itu.


“Apa yang membuatmu datang kemari pagi-pagi?” tanya Nick.


“Tidak ada, aku hanya berjalan” jawab Arkha.


“Humph, terserah kau saja. Aku ingin sarapan, setelah ini kita ke kantor ada barangku yang tertinggal, harus aku ambil” ucap Nick.


“OK, aku ikut saja”


Nick sudah menghabiskan sarapannya, ia pergi ke kamarnya dan mengambil jas lalu pergi keluar bersama Arkha.


"Paman, aku akan pergi ke kantor bersama Arkha. Jagalah mansion ini dan jangan sampai ada penyusup yang mendapat informasi tentang kita, sekarang kita sedang dalam lingkar merah" ucap Nick pada kepala pelayan itu dengan jelas.


"Baik, Tuan. Sebaiknya Tuan berhati-hatilah juga" sahut kepala pelayan itu.


Nick hanya mengangguk kemudian mereka pergi menuju kantor, dan di tengah perjalanan Nick mendapat telfon dari salah satu anak buahnya yang sedang berjaga di kantor saat ini.


“Halo, ada apa?” tanya Nick dingin.


“Halo Tuan, ada yang mencari Tuan” jawab anak buahnya.


“Siapa?”


“Seorang perempuan Tuan, ia tidak memberitahu namanya”


“Iya Tuan”


“Baiklah suruh dia tunggu, aku akan sampai sebentar lagi”


“Baik Tuan” ucap anak buahnya patuh, kemudian ia mematikan sambungan telfon tersebut dan memberitahu bahwa Nick menyuruh perempuan itu menunggunya.


“Siapa?” tanya Arkha tiba-tiba saat Nick meletakkan ponselnya di saku.


“Salah seorang anak buah yang sedang bertugas di kantor saat ini” jawab Nick.


“Ada apa dia menelfon?” Arkha penasaran.


“Dia bilang ada seorang perempuan yang mencari, entah siapa” jawab Nick jujur.


“Ohh, menarik” celetuk Arkha.


Arkha dan Nick melanjutkan perjalanan dengan santai, hingga akhirnya mereka tiba di kantor yang sekarang sudah resmi menjadi kantor pusat bisnis milik Nicholas. NCP Company namanya yang memiliki kepanjangan Nicholas Christly Property Company. Perusahaan yang menjadi tonggak awal bangkitnya seorang Nicholas, kini berdiri kokoh bersama kelompok mafia miliknya.


“Lama sekali!!” teriak Eve saat melihat Nick keluar dari mobilnya.


“Ternyata perempuan ini. Aku pikir orang spesial mana yang rela menunggu kedatanganku” ucap Nick dengan kepedean tingkat dewanya.


“Cihh... Aku rela menunggu mu itu hanya demi sebuah hal penting, jika tidak aku juga tidak akan sudi menampakkan diri di depan kantormu ini” cibir Eve.


“Hal penting? Sepenting apa?” ucap Arkha menyela.


“Bisa bicarakan di tempat yang lebih aman?” tanya Eve.


“Di dalam saja” ucap Nick.


Mereka masuk ke dalam kantor dan berjalan menuju ruang meeting khusus milik Nick itu. Mereka bertiga duduk di dalam ruangan dan mulai membahas hal penting yang dimaksud oleh Eve.


“Hal penting apa yang kau maksud?” tanya Arkha.


“Tidakkah kalian merasa janggal dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Mawar Api tadi malam” tanya Eve pada dua orang lelaki yang berada di hadapannya itu.


“Ya, tapi kami tidak tahu apa yang janggal” kata Nick.


“Aku sudah menyelidikinya tadi malam, dari informasi yang anak buahku temukan. Dan bukti-bukti yang aku dapat, sebuah geng yang menaungi Mawar Api adalah geng yang memang merupakan musuhmu, Nicholas” jelas Eve.


“Siapa?” tanya Nick dingin.


“Esdav, dengan peluru berlambang api yang ditemani oleh segitigia bermuda khas miliknya. Kau pasti tau siapa yang aku maksud” kata Eve merujuk pada Edward.


“Maksudmu Edward?” tanya Nick meyakinkan dirinya.


“Ya, tapi aku rasa Edward tidak sendiri. Mungkin ada campur tangan Arya selaku ayah dari Edward, sebab rencananya sangat bagus dan rapi. Tidak mungkin Edward bekerja sendiri untuk mendapatkan rencana sebagus ini"


“Kau benar juga, Eve” ucap Nick memuji. “Arkha, kau telusuri terus gerak gerik mereka” perintah Nick pada Arkha.


“Baik” jawab Arkha singkat.


“Em, Eve. Bagaimana jika kita bekerja sama? Kau kan orang asli sini.” ajak Nick.


“Boleh saja” balas Eve sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat yang disambut oleh Nick dan juga Arkha secara bergantian.


“Aku harus pulang sekarang” kata Eve.


“Baik, berhati-hatilah” ucap Arkha.


Eve pun berlalu meninggalkan 2 orang lelaki bertubuh kekar dengan wajah tampan ini. Akhirnya ia lega sudah memberitahu pada Nick, kini ia serahkan semua urusan itu pada Nick ia hanya terima beres kali ini.