
Situasi di mansion Nick sekarang sangat tenang, karena tidak ada masalah apapun di mansion saat ini. Nick yang baru sampai di mansion langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, selesai membersihkan diri Nick turun dan pergi ke ruang makan untuk menyantap makan malam.
“Paman, aku akan pergi malam ini. Tidak perlu menungguku pulang, aku akan pulang terlambat nanti” ucap Nick memberitahu kepala pelayan itu.
“Baik Tuan” sahut kepala pelayan itu.
Tepat pukul 9 malam Nick pergi keluar bersama Arkha, mereka akan menggagalkan sebuah transaksi senjata. Tidak banyak, hanya sekitar 500 senjata api, 100 gram bubuk mesiu, 1.000 butir peluru berlogo, dan 1 bom kecil nonaktif.
Di lokasi, Arkha dan Nick hanya mengintai melalui semak-semak. Mereka jalan mengendap-endap di balik rerumputan, melihat secara jeli dengan mata elang mereka. Tak satupun gerak-gerik musuh yang luput dari tatapan mereka berdua.
“Apa Edward akan turun kali ini?” tanya Nick.
“Aku rasa tidak, dengan barang-barang sedikit ini hanya akan membuang-buang waktunya” kata Arkha.
“Benar juga” ucap Nick dengan senyum miringnya.
Setelah melihat situasi dan kondisi yang aman terkendali, Nick memerintahkan anak buahnya untuk langsung menyerang anak buah Edward dan menyita seluruh barang transaksi mereka. Jumlah anak buah yang Edward turunkan memang cukup banyak, namun dari segi kekuatan mereka kalah dengan anak buah Nick yang kerjaannya tiap hari hanya melatih otot-otot untuk bertarung seperti malam ini. Seperti biasa, pertarungan dimenangkan oleh Nick.
“Tuan, transaksi malam ini gagal lagi” lapor salah seorang anak buah Edward.
“ARGGHHH!!, lagi-lagi bajingan itu mengacaukan bisnisku” ucap Edward kesal, ia mengahambur barang-barang yang ada di meja di depannya.
“Apa yang kalian kerjakan, kenapa tidak bisa menghalangi Nicholas itu?” tanya Edward geram pada anak buahnya.
“Maaf Tuan” ucap anak buahnya serempak.
“Aku tidak bisa kembali berbisnis di Switzerland, di sana sangat terganggu. Hanya di sini aku bisa berbisnis, tapi harus berhadapan dengan Nicholas. HARRGGGHHH!!!” kesal Edward sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.
Malam ini bukan hanya Nicholas dan Arkha yang berkeliaran, tapi juga si berandalan elite, Eve. Entah ada masalah apa malam ini Eve kembali bermain tembak-tembakkan dengan orang yang tak begitu ia kenal. Bahkan Eve sendiri bingung dari mana asalnya para lelaki sialan ini. Eve yang malas menurunkan anggota karena jumlah lawan yang terbilang sedikit membuatnya hanya turun sendiri, Eve memberantas lawan-lawannya itu dengan mudah.
“Kalian ini tidak punya kerjaan lain apa? Yang bisa kalian lakukan hanyalah bermain hal yang membahayakan orang saja” ucap Eve kesal.
“Berandalan elite!... Dia Eve ketua Fevel, si berandalan elite itu” ucap salah seorang dari mereka yang mengenali Eve.
“Dia cantik juga” sahut yang lainnya dengan nada licik. “Kita sikat saja, lumayan gratisan” sambungnya.
“Kalian mau apa? Seorang perempuan, cari saja di rumah bordil sana” sahut Eve dengan nada ngejek.
“Untuk apa? Kau saja sudah cukup” ucap salah satu dari mereka dengan menunjukkan ekspresi penuh kelicikan seorang buaya darat.
Doorrr... Eve melemparkan sebuah tembakan ke arah mereka sebagai tanda dimulainya pertarungan.
“Langsung pada intinya saja” ucap Eve yang langsung menarik gas motornya dan mulai menumbangkan satu persatu lawannya. Setelah selesai bermain Eve langsung pulang, namun sebelum kembali ia mengabari Elea terlebih dahulu agar ada yang membukakannya pintu.
Di tengah jalan Eve di cegat beberapa orang yang tampaknya masih 1 perkumpulan dengan kelompok berandalan yang tadi di berantas olehnya. Eve hanya tersenyum angkuh dengan wajah datar dan sikap dinginnya itu.
Eve sudah terbiasa dengan hal seperti ini, ia bisa langsung mengecoh para lelaki itu dan kabur begitu saja, Evepun pulang dengan selamat. Sesampainya di rumah, Elea langsung membukakan pintu untuknya dan Eve langsung masuk ke kamar bersama Elea. Eve terlebih dahulu pergi untuk membersihkan diri dan kemudian bersiap-siap untuk tidur. Selesai mandi dan mengenakan piyama malamnya, Eve langsung merebahkan dirinya di kasur empuk itu.
“Bagaimana tadi?” tanya Elea.
“Sangat membosankan, mereka kalah dengan mudah” jawab Eve santai.
“Sesimpel itukah membereskan mereka?”
“Ya, ternyata sangat gampang. Sungguh di luar dugaanku”
“Haha, ya sudah kalau begitu kita tidur saja” ajak Elea.
“Ya, besok kita harus bersekolah. Apa semua tugasmu sudah selesai?” tanya Eve.
“Aman” ucap Elea sembari menunjukkan jari jempolnya.
“Ayah dan Ibu tidak tahu kan kalau aku kelayapan jam segini?” tanya Eve takut.
“Tentu saja tidak! Kau pikir aku bodoh? Kalau kau tertangkap aku juga akan kena imbasnya” jawab Elea geram.
“Baguslah kalau begitu. Urusan kita masih banyak, sebelum semua itu selesai orang tua kita tidak boleh tau, kau mengertikan El?” tanya Eve namun tidak mendapat balasan dari Elea
“EL!! Kau dengar tidak?!!” Eve bertanya sambil menggoyangkan tubuh Elea.
“Hm, pantas saja tidak menjawab ia sudah tidur duluan rupanya” ucap Eve yang melihat Elea sudah menutup matanya karena lelah.
Baru sebentar terbaring, Elea sudah tertidur dengan sangat lelap dan Eve juga langsung menyusul Elea ke alam mimpi. Sedangkan di mansion, Nick baru saja sampai setelah berhasil menang dengan telak dari musuh-musuhnya yang bodoh itu. Ia langsung pergi menaiki tangga menuju kamarnya, dan langsung membersihkan dirinya lalu berganti pakaian dengan piyama gelapnya.
“Tadi ada sedikit pemberontakan kecil di jalan xxx” notif pesan dari Arkha mengagetkan Nick yang sudah hampir terlelap di gelapnya malam.
“Lalu bagaimana kondisinya?” tanya Nick.
“Informasi dari anak buah kita Eve lah yang sudah menghalau pemberontak itu. Aku juga mengecek lokasi kejadian, di sana ku dapati sebuah peluru berlogo Api polos namun ukirannya begitu indah” balas Arkha.
“Ketua Fevel itu sangat suka bermain, dia itu bodoh jika terus-menerus seperti ini. Ini bukan pemainan anak TK gadis sialan” gerutu Nick dalam batinnya.
“Baiklah. Besok kau datang kemari dan bawa peluru itu, aku ingin memeriksanya” ucap Nick.
“Aku akan datang” ucap Arkha patuh.
Pesan terakhir Arkha diabaikan oleh Nick sebab Nick yang sudah sangat kelelahan langsung tumbang di atas kasur dan terlelap begitu saja. Sungguh hari yang melelahkan bagi mereka, karena aktivitas mereka hari ini pada malam harinya mereka semua langsung tumbang dan pergi berlayar ke pulau mimpi.
Tembak-tembakan adalah olahraga sehari-hari mereka, dalam kehidupan yang seperti ini suara lesatan peluru yang lepas dari senjata sudah menjadi hal biasa, bukan hanya tembak-menembak baku hantam pun sudah bagaikan olahraga menyenangkan bagi mereka. Setelah selesai bermain tembak-tembakan mereka akan langsung tertidur lelap begitu saja karena kelelahan.