Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 39 - Elea: EVE!!!!



"DOR..!! DOR..!! DOR..!!" suara beberapa tembakan terdengar begitu jelas.


*di markas Navarda*


"Siapa lagi yang berani melakukan pemberontakan ini?" tanya Nick dengan begitu datarnya.


"Entah, petunjuk yang masih sama seperti sebelumnya, Esdav!" ucap Arkha yang menemukan bukti mengenai Esdav dari kejadian ini.


"Aku tidak mengerti, Esdav berhenti melakukan transaksi, dan kini malah memberontak" Nick bingung dengan tingkah Esdav akhir-akhir ini.


"Siapa bilang mereka tidak melakukan transaksi?" suara wanita yang baru saja masuk ke ruangan Nick dan langsung menyambung pembicaraan, siapa lagi kalau bukan Eve yang melakukannya.


"Apa maksudmu?" Nick datar.


"Mereka masih melakukan transaksi, tapi mereka menutup mata kalian dengan peristiwa pemberontakan ini" tegas Eve sembari duduk.


"Nona Eve bisakah kau tidak bermain-main" Arkha seakan kesal dengan pernyataan Eve.


"Kau boleh memotong lidahku jika aku berbohong" Eve tidak mau basa-basi.


"Atur strategi dan selesaikan semua ini, aku bahkan tidak mengurus masalah kuliah karena kejadian ini" ucap Eve yang merasa kesal dengan sikap Arkha dan NIV yang tidak bertindak.


"Mari pergi ke ruang inti" Nick langsung berdiri dan pergi menuju ruang inti.


"Jadi kita bertindak seperti ini... blalaldhkdndhsinsgsudndsujsbdkcdihsnsgdidnwbysisjdydurndhskwowhghexunshsiwkdhdhsijah" Nick menjelaskan strateginya dengan terperinci.


"Bagaimana, kalian paham?" tanya Nick.


"gak" Arkha dan Eve menyahut serempak.


"Huft.. sabar Nick" Nick bicara pada dirinya sendiri.


"HAHAHAHAHA" Arkha dan Nick malah tertawa.


"Aku paham, kau bagaimana, Kha?" ucap Eve.


"Tentu, aku juga sangat paham. Kami hanya mengerjaimu tuan Nicholas" ledek Arkha.


"Dasar sialan! ya sudah sana, laksanakan tugas kalian" ucap Nick yang kesal.


"eitts... tunggu, bukannya yang pertama adalah tugasmu tuan Nicholas?" tanya Eve dengan nada mematikan.


Nick pergi tanpa sepatah katapun dan langsung melaksanakan tugasnya.


Mereka terus melanjutkan rencana, dan akhirnya pemberontakan pun berhenti. Mereka semua senyap, tidak ada pergerakan sedikitpun, tidak ada transaksi, tidak ada tembakan. Seakan mereka semua sudah lenyap ditelan bumi.


*di markas utama Fevel*


"Kemana mereka semua?" tanya Nick yang heran.


"Mungkinkah mereka mundur karena gertakan dari kita?" tanya Arkha seperti orang polos.


"Tidak mungkin! Aku yakin pasti ada sesuatu dibalik diamnya mereka. Kalian ingat saat dulu mereka senyap seperti ini, bukankah mereka tetap kembali, bahkan dengan tindakan yang lebih mengerikan" jelas Eve.


"Kau benar!" timpal Nick.


"Jadi, mereka kemana?" tanya Arkha yang merasa sangat bingung.


"Entahlah, tapi sebaiknya tetap dipantau, dan kalian harus selalu waspada dengan gerak-gerik mereka!" tegas Eve.


"Oke, aku akan menyuruh anak buahku untuk berjaga" ucap Nick.


"Emm.. baiklah, sekarang sudah sore, sebaiknya kita pulang" ucap Eve sembari memeriksa jam yang melingkar di tangannya.


"ya sudah, kalau begitu kita bubar juga. Jangan adakan pertemuan untuk beberapa hari ke depan" kata Nick untuk berjaga-jaga.


"Tapi, bagaimana kalau mereka membuat masalah lagi secara tiba-tiba?" tanya Arkha.


"P3K!" sahut Eve singkat sembari berjalan keluar meninggalkan Nick dan Arkha.


"Tuan rumah tidak tahu sopan santun!" umpat Arkha, sementara Nick sudah menyusul Eve keluar dari ruangan.


Nick, Arkha, dan Eve pulang ke rumah masing-masing. Namun, saat sampai di depan rumah Eve terkejut karena ada beberapa mobil hitam terparkir di depan rumahnya.


"Mobil siapa ini?" gumam Eve.


"AKHHH!!!" pekik seorang lelaki dari dalam rumah.


"Ayah?!" ucap Eve saat mendengar suara pekikan tersebut, lalu ia berlari sampai di depan pintu.


Dari depan pintu Eve melihat ke dalam melalui kaca kecil yang ada di pintu tersebut. Eve melihat orang tuanya disiksa, ibunya diperkosa di depan ayahnya dan seketika ia goyah melihat semua itu. Ia mematung tak bisa berbuat apa-apa. ia hanya menangis, ia berusaha melangkah maju tapi ia teringat sesuatu.


*flashback on


"Suatu hari jika sesuatu terjadi pada kami, jagalah adikmu, Eleandra Evalyna Bellse" pesan ayahnya.


"Sekalipun kami sudah di penghujung hayat, jangan pernah kamu berusaha menyelamatkan kami, pergilah sejauh mungkin dan lindungi adikmu" pesan Ibunya.


*flashback off


"Ayah.. Ibu.." lirih Eve sembari menangis dan ingin berjalan mundur.


Tiba-tiba ada yang menembak Eve dengan senjata tanpa suara, Eve hampir tumbang. Ia berusaha berbalik, tapi belum sempat ia berbalik ada orang yang membiusnya, alhasil Eve pun pingsan dan dibawa oleh mereka.


*di dalam rumah Eve


"Sudah selesai, mari kita pergi" ucap seorang lelaki yang mungkin adalah pemimpin mereka semua.


"Bereskan!" perintah seseorang yang berdiri di sampingnya.


merekapun pergi dan membawa jasad kedua orang tua Eve, dan mereka membuang jasad kedua orang tua Eve ke suatu tempat.


*di sisi Elea*


"Nona, kami menemukan jasad kedua orang tua nona Eve" suara dari seberang telfon Elea.


"Apa?! jasad kedua orang tua Eve?!" Elea kaget dan tidak bisa percaya dengan apa yang anak buahnya katakan.


"Iya nona, kami menemukan jasad kedua orang tua nona Eve di hutan pinggir kota" jelas anak buahnya.


"hanya jasad kedua orang tuanya? jangan katakan bahwa ada jasad Eve juga!" Elea gemetar.


"Tidak ada nona, hanya ada jasad kedua orang tua nona Eve" ucap anak buahnya yang membuat Elea lega.


"Syukurlah" Elea memegang dadanya karena merasa lega.


"Tapi nona, kami tidak bisa menghubungi nona Eve, dan kami menemukan ponselnya di depan rumahnya. kami juga sudah berusaha melacak keberadaan nona Eve, tapi..." ucapan anak buahnya terhenti.


"tapi apa?!" tanya Elea yang sudah mulai cemas.


"menurut laporan orang kita, ada yang melihat nona Eve tertembak dan dibius lalu dibawa oleh mobil orang-orang yang membunuh orang tua nona Eve" jelas anak buahnya yang sedih dan menyesal karena tidak bisa melindungi majikannya.


"APA?!" Elea syok, dia terduduk dan ponselnya tergeletak di lantai.


"EVEEE!!!!" teriak Elea yang mengagetkan kedua orang tuanya.


"HIKS.. HIKS.. HIKS.. EVE..!!!" Elea menangis dan mengingat seluruh kenangannya bersama dengan Eve.


"Elea?! buka pintunya, nak!" ucap ibunya Elea yang panik dari luar kamar.


"El, buka pintunya. kamu kenapa, nak?" Ayahnya juga merasa panik dengan teriakan putri semata wayangnya.


"dobrak aja, dia gak bakal buka pintunya" usul ibunya Elea.


Ayahnya Elea berusaha mendobrak pintu kamar Elea hingga setelah berhasil masuk mereka menemukan anak mereka dalam kondisi yang sudah acak-acakan. Sedikit luka di tangan, baju yang kotor karena darah, rambut yang berantakan, bahkan kamarnya juga berantakan.


"Nak, kamu kenapa?" ibunya Elea semakin panik.


Namun, Elea hanya diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia seketika goyah karena kejadian yang menimpa Eve, sesosok wanita hebat yang jadi panutannya, seorang kakak yang selalu menjaga dan berada di sampingnya saat ia sedang butuh. Elea merasa sangat terpukul dengan kejadian ini.


...----------------...