Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 41 - Ke Markas Eve



Elea menginjak dalam pedal gas mobilnya, ia memacu begitu laju. Berusaha melampiaskan semua kesedihannya, namun tiada guna. Yang terjadi sudah terjadi, semuanya berlalu begitu cepat. Elea memerintahkan anak buahnya untuk terus menyelidiki keberadaan Eve, ia yakin Eve masih hidup karena tidak mudah untuk membunuh seorang Eve.


Elea kini sudah sampai di kampusnya. Saat ia keluar dari mobil, terlihat dua gadis cantik sudah menunggu kedatangannya. Kedua gadis itu berdiri dengan wajah dingin dan sedihnya yang menjadi satu. Mereka menunggu Elea untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kejadian yang menimpa keluarga Eve.


"Geya..? Lavi..?" gumam Elea saat melihat kedua sahabatnya.


Sementara Geya dan Lavi berjalan perlahan menghampiri Elea, begitupun Elea yang berjalan perlahan ke arah kedua sahabatnya. Langkah kaki mereka semakin cepat, hingga pada saat yang bersamaan mereka sedikit berlari dan akhirnya saling berpelukan dan menangis kecil.


"El.. Kamu kuat!" ucap Lavi sambil menepuk punggung Elea.


"Lea.. Kamu itu panutannya Geya, kamu lebih hebat dari yang orang lain bisa lihat. Geya tau kalau Elea bisa melalui semua ini" Geya mengelus-elus punggung Elea.


"A-aku gak ku-at menghadapi SEMUA INI!, a-aku JA-TUH Lav, Gey" Elea menangis meraung do pelukan kedua sahabatnya.


Untung saja parkiran sedang sepi, kalau tidak mereka bertiga yang dikenal sebagai kulkas berjalan akan menjadi tontonan hangat bagi mata para netizen.


"Kamu bisa El, kalau kamu gak bisa kamu gak akan menghadapi ini semua! INGAT ITU!" tegas Lavi sambil menangis di pelukan Elea.


"Lavi benar, El.. Aku yakin sama kamu, jadi kamu harus yakin sama diri kamu sendiri, OK!" Geya berusaha menghibur Elea.


Mereka saling melepaskan pelukan dan menghapus begitu banyak air mata yang sudah membasahi pipi mereka.


"Terima kasih, terima kasih banyak guys, kalian selalu ada di saat aku butuh. Maaf jika terkadang aku tak ada di saat kalian butuh" kata Elea yang sedang berusaha untuk tersenyum, dan dibalas gelengan kepala oleh kedua temannya.


"Kamu gak perlu berterima kasih, selain kami dan Eve kita semua ini juga saudara, El" ucap Lavi sembari tersenyum.


"Lavi benar, kita adalah saudara yang terikat satu sama lain" timpal Geya yang juga mulai tersenyum.


Elea mengangguk, ia begitu bersyukur memiliki teman yang sangat setia meskipun mereka tidak punya hubungan darah walau hanya setetes saja.


"Selesai kuliah nanti aku ingin pergi untuk mencari tau keberadaan Eve, aku akan menggunakan Fevel untuk melacak keberadaan majikan mereka" ucap Elea yang membuat Lavi dan Geya kaget.


"Kau yakin? Ini jauh lebih berbahaya El, kita bahkan belum pernah melakukan ini" kata Lavi yang kaget.


"Aku yakin, Lav" Elea menjawab dengan singkat.


"Kalau Elea yakin, aku juga yakin maka aku akan ikut" ucap Geya.


"Baiklah... Aku juga akan ikut" Lavi pasrah.


Elea mengangguk. "Pergilah, cuci muka kalian, terlihat jelas kalau kalian habis menangis" ejek Elea.


"Kau juga ya" balas Geya dengan wajah kesalnya.


"Kau juga" ucap Elea dan Geya serempak menunjuk Lavi.


"Kau juga" balas Lavi dengan tawa kecilnya.


Mereka saling mengejek padahal tadi mereka sangat sedih. Lalu, sambil tertawa mereka berjalan menuju toilet kampus. Meski mereka tertawa namun di dalam hati mereka masih merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk kehilangan sesosok Evellie Bellse.


*skip selesai kuliah*


Elea keluar dari gedung kampus dan berjalan menuju parkiran dengan gaya elegannya. Salah satu tangannya memegang ponsel yang diletakkan di telinganya.


"Halo, kita bertemu di cafe ****G*******reen*** 15 menit lagi" ucap Elea yang kemudian memutuskan sambungan telfonnya.


Lalu, ia sampai di mobil dan langsung pergi menuju tempat yang ia sebutkan tadi, cafe Green. Di dalam perjalanan Elea kembali memikirkan kejadian yang baru saja menimpa keluarganya, ia dibuat penasaran dengan pelaku pembantaian keluarga Eve. Entahlah, tapi setelah begitu banyak pemberontakan mengapa tiba-tiba mereka menyerang keluarga Eve.


"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Elea dalam batinnya sambil melajukan mobil yang sedang ia kendarai.


Selama kurang lebih 10 menit berkendara, Elea sudah sampai di cafe Green. Sebenarnya Elea akan bertemu dengan siapa sih? Serius sekali dari tadi.


"ELEA?!!" sapa seorang gadis yang melihat kedatangan Elea sembari melambaikan tangannya.


"Hai!" sahut Elea yang juga ikut melambaikan tangannya dan berjalan ke arah gadis tersebut.


"Geya mana?" tanya Elea sembari duduk di salah satu kursi di dekat Lavi.


"Lagi ke toilet, sebentar lagi juga balik" sahut Lavi.


"Oohhh.. Kalian udah pesan?" tanya Elea.


"Belum, kami nunggu kamu" jawab Lavi dengan senyuman manisnya.


"Udah pama nunggunya yaa?" tanya Elea yang merasa tidak enak.


"Gak juga kok, baru sekitar 10 menit, sans aja El" kata Lavi yang membuat Elea tersenyum.


"Hello guys, Geya yang cantik dan menawan ini sudah kembali" sapa Geya tiba-tiba dengan gaya periangnya yang membuat Lavi dan Elea terkejut.


"Astaga Geya, lo bikin gua jantungan tau gak!" kesal Lavi.


"Mwehehe, emang tujuan aku itu" ejek Geya dengan santainya.


"BANGSAT LO!" umpat Lavi yang semakin kesal.


"Udah-udah, mending kita pesan makan aja" sela Elea yang berusaha mendamaikan kedua gunung berapi ini.


(Elea dan Eve adalah gunung es, sementara Geya dan Lavi adalah gunung berapi. Itu julukan dalam circle mereka).


"Mba!" panggil Elea sembari melambaikan tangannya ke arah seorang pelayan cafe.


"Mau pesan apa?" tanya sang pelayan cafe dengan begitu ramah.


"Samakan aja" ucap Lavi dan Geya serempak.


"Lemon tea ice tiga, kentang goreng dan burger mediumnya tiga juga" kata Elea dengan ramah pula.


"Baik, ditunggu ya kak" ucap pelayan itu yang kemudian pergi untuk menyiapkan pesanan Elea dan kawan-kawan.


"Jadi, kita mulai dari mana?" tanya Lavi tanpa basa-basi.


"Markasnya Eve, setelah ini kita langsung ke sana" jawab Elea.


"Apa yang akan kita cari?" tanya Geya yang bingung, karena setiap kali mereka ke markas Eve tak banyak hal aneh yang mereka temukan.


"Hasil kerja Eve selama ini, tidak mungkin mereka mengubur semua jerih payah itu di saat majikan mereka menghilang begitu saja. Pasti ada petunjuk tentang mereka" jelas Elea.


"Kau yakin kita bisa menemukan sesuatu di sana?" tanya Lavi yang ragu dengan pemikiran Elea.


"Mereka begitu setia dengan majikan mereka, jadi sudah pasti mereka mau bekerjasama untuk mencari tahu keberadaan Eve. Lagipula aku adalah adiknya Eve, aku adalah nona muda mereka" ucap Elea meyakinkan.