Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 6 - Libras



Kini sang penunjuk waktu sudah menggambarkan pukul 09.30, sesuai dengan dugaan Nick Arkha memang datang ke mansionnya. Namun ia tidak melihat mobil milik Nick, untuk mendapat informasi lebih pasti Arkha masuk ke dalam mansion dan bertanya pada kepala pelayan di sana.


“Paman, dimana Nicholas?” tanya Arkha pada kepala pelayan itu.


“Tuan Nick sudah pergi ke kantornya tadi pagi-pagi sekali, Tuan juga berkata bahwa ia akan bertemu dengan Tuan Delvin jam 11 nanti” ucap kepala pelayan memberitahu.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menyusulnya ke kantor. Terima kasih Paman” ucap Arkha yang kemudian berlalu.


Arkha menginjak pedal gasnya dan langsung menyusul Nick ke kantornya, sementara Delvin sibuk mengumpulkan dan menyimpan beberapa bukti tentang Elea yang ia temukan ke dalam sebuah tas yang akan ia bawa pada Nick. Setelah sampai Arkha langsung memarkir mobilnya dan bergegas masuk ke kantor, ia terlihat sangat terburu-buru seakan ada sesuatu yang sangat penting yang harus ia bahas dengan Nick.


“Tok tok...” Arkha mengetuk pintu. Nick yang melihat Arkha melalui layar yang tersambung dengan cctv di depan pintu ruang kerja pribadinya langsung menyuruh Arkha untuk masuk. Arkha pun masuk dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Nick.


“Ada apa? Kau terlihat panik” tanya Nick dingin, Nick juga sudah memerhatikan gerak gerik Arkha.


“Ada sebuah kelompok yang baru memasuki wilayah kita ini” meskipun baru pindah kemari beberapa hari yang lalu, tetapi saat dulu berkunjung ke sini sejak saat itu daerah ini menjadi wilayah kekuasaan milik Nick dan dijaga olehnya.


“Siapa?” tanya Nick penasaran tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


“Nama kelompoknya Libras, aku baru mendapat informasi tentang mereka kemarin malam”


“Libras?” Nick mengulang ucapan Arkha, ia tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


“Ada apa, apa kau mengingat atau mengetahui sesuatu tentang hal ini?”


“Libra yang berarti neraca, berarti...” Nick langsung mengambil peluru yang tadi ia simpan di laci mejanya. “Lihatlah peluru ini” Nick memberikan peluru itu pada Arkha.


“Dari mana kau mendapatkan benda ini?” tanya Arkha tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus pada peluru itu.


“Itu adalah peluru yang mengganggu pertemuan kita di cafe kemarin sore” jawab Nick.


“Lambangnya adalah neraca, apa maksudmu peluru ini adalah milik kelompok Libras?” tanya Arkha langsung memberikan tatapannya yang heran pada Nicholas.


“Ya seperti itulah” jawab Nick sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Tapi orang itu berkata bahwa Edward yang menyuruhnya untuk mengganggu kita kemarin” Nick menceritakan tentang kejadian di markas belakang mansionnya.


“Aku sungguh tidak mengerti, siapa sebenarnya mereka dan apa hubungan mereka dengan Edward. Petunjuk ini hanya memberikan kebingungan yang bagaikan tiada jalan keluar” ucap Arkha akan rasa bingung yang menghantui mereka, membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


“CEKLEK...” pintu ruang kerja Nick tiba-tiba saja terbuka, membuat Nick dan Arkha kaget. Ternyata, itu kerjaan Delvin yang main nyelonong masuk tanpa permisi bahkan tidak mengetuk pintu, sungguh tidak tahu sopan santun.


“Sialan kau! Aku sampai kaget kau buat” kesal Arkha.


“Lain kali kalau masuk ke ruangan seseorang ketuk dulu pintunya, apalagi kalau pintunya tertutup” timpal Nick. “Untung saja ini di kantor kalau tidak, mungkin sudah ada peluru yang bersarang di tubuhmu saat ini” lanjut Nick.


“Maaf, aku lupa mengetuk pintu karena terlalu bersemangat” kata Delvin.


Arkha menghembuskan nafasnya kasar sambil mengelus dadanya yang kaget hampir jantungan karena ia sedang membahas bisnis lain dengan Nick.


“Apa gadis ini yang kau maksud?” tanya Delvin dengan menunjukkan salah satu foto, yaitu foto Elea.


“Ya, gadis itu. Tapi bagaimana kau menemukannya, bahkan mendapat fotonya?” tanya Nick penasaran.


“Kau jangan lupa aku juga berkecimpung di bidang pendidikan, dan dengan kekuasaan yang ku punya mudah bagiku untuk menyusupi bahkan celah-celah kecil yang ada di negeri ini. Dan disaat kamu sampai kantor kemarin itu sekitar pukul 01.45, siswa/i di SMA Nenggala kemarin pulang lebih awal jadi aku mencari tahu siapa yang pulang terlambat kemarin ternyata hanya 4 gadis itu yang pulang terakhiran” jawab Delvin panjang lebar agar Nick tidak memberikan pertanyaan yang membuat kepalanya pusing.


“Kalau begitu kai bantu aku untuk menjadi salah satu siswa di SMA itu” perintah Nick pada Delvin, membuat mata Delvin dan Arkha melebar seketika.


“Kau ini ingin berbisnis atau mengejar gadis itu?” tanya Arkha heran.


“Dua-duanya” kata Nick dengan santainya yang semakin membuat mata Arkha dan Delvin melotot heran.


“Dasar bajingan!” umpat Arkha yang sudah geram dengan sikap Nick ini.


Delvin hanya bisa sedikit menundukkan kepalanya sambil bergeleng, mana berani ia menyela pembicaraan dua orang bertubuh kekar itu, bisa tamat riwayatnya. Ketika menunduk tanpa sengaja ia melihat ke arah meja dan mendapati sebuah peluru berwarna silver mengkilat berlambangkan neraca dengan ukiran huruf L yang tampak samar-samar dengan simbol neraca itu. Sungguh mata Delvin sangat jeli ya, tapi entah matanya yang jeli atau memang ia sudah pernah menemukan yang seperti ini sebelumnya.


“Peluru ini. Dimana kalian mendapatkannya?” sambil mengambil peluru itu Delvin bertanya pada dua orang yang berada di hadapannya saat ini.


“Aku memungutnya kemarin sore setelah mendengar suara tembakan di cafe itu” jawab Nick. “Kenapa wajahmu terlihat kaget begitu? Apa kau tahu sesuatu tentang peluru ini?” tanya Nick.


“Dengan lambang ini membuktikan bahwa peluru ini adalah peluru milik kelompok bernama Libras. Kelompok ini sudah lama menghilang, aku dan banyak orang berpikir bahwa mereka sudah dibubarkan, tak ku sangka kemarin sore mereka menyerang” Delvin menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Libras dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


“Tetapi orang yang menembak kemarin mengatakan bahwa Edward yang menyuruhnya, sedangkan kelompok Edward baru terbentuk beberapa tahun yang lalu, bagaimana bisa kelompoknya meghilang dan muncul lagi?” Nick mengemukakan opininya yang menghantui sedari pagi tadi.


“Entahlah, aku juga tidak bisa memastikan hal ini” ucap Delvin yang sedikit pasrah dengan keadaan.


“Menurutku bukan sekarang waktunya untuk kita membongkar siapa dalangnya” kata Arkha mencairkan suasana.


“Ya mungkin saja bukan sekarang waktunya” timpal Nick dengan menghela nafasnya kasar.


“Apanya yang mungkin? Memang sudah dipastikan bukan sekarang waktunya” ucap Arkha membuat Nick dan Delvin bingung dengan kata-katanya.


“Apa maksudmu?” tanya Delvin.


“Maksudku sekarang adalah waktunya makan siang bukan untuk membongkar rahasia ini. Lihatlah sekarang sudah jam berapa? Terlalu asik bercerita membuat kita lupa waktu” ucap Arkha yang sudah menyadari bahwa sekarang sudah jam 12 lewat, membuat Nick hanya bisa tertawa kecil.


“Ayo kita keluar dan cari makan” ajak Nick yang langsung diiyakan oleh Arkha dan Delvin.


"Kau yang bayar!" ujar Arkha spontan.


"Dasar sialan!" umpat Nick.


Merekapun pergi keluar, berjalan berdampingan menuju parkiran. Pergi untuk mencari tempat makan siang yang enak, demi mengisi ruang kosong yang hadir di dalam rongga lambung mereka.