Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 21 - Mela jatuh cinta



Pagi yang indah kembali menyapa seluruh tokoh di dalam cerita ini. Seminggu masa ujian kelulusan sudah usai, kini hanya perlu menunggu diumumkannya hasil dari ujian kelulusan para siswa-siswi SMA Nenggala. Pada hari dimana hasil ujian kelulusan diumumkan, pada hari itu juga para siswa dan siswi SMA Nenggala ini akan mendapatkan undangan bagi orang tua mereka untuk hadir di acara kelulusan bagi yang berhasil lolos ujian.


Suasana di meja makan di rumah Elea sedang dalam keadaan baik, orang tuanya sedang senang sekaligus tidak sabar menanti keluarnya hasil ujian anak mereka.


“Kalau aku lulus, pada hari dilaksankannya ujian kelulusan Ibu dan Ayah harus hadir” pinta Elea memaksa.


“Tentu saja nak. Kami akan meluangkan waktu untukmu sayang” ucap Ibunya Elea penuh kasih.


“Em, Ayah juga akan meliburkan seluruh pekerja di kantor Ayah pada hari kelulusan mu itu” celetuk Ayahnya Elea.


“Ayah serius?!!” tanya Elea kaget.


“Tentu saja Ayah serius. Bukan hanya itu, Ayah akan mengadakan acara besar-besaran di salah satu gedung aula mewah milik teman Ayah dan Ayah akan undang semua kerabat, keluarga, teman, serta karyawan di kantor Ayah” timpal Ayahnya.


“Kau yakin sayang? Aku bisa memercayai perkataanmu ini kan?” ucap Ibunya Elea memastikan.


“Iya, tentu saja kau harus percaya. Kalian adalah prioritas ku, akan ku lakukan segalanya untuk kalian” ucap Ayahnya Elea sambil melahap makanannya.


Elea hanya tersenyum mendengar perkataan Ayahnya, yang Elea bisa lakukan saat ini hanyalah menanti akan tibanya hari kelulusan itu.


“El sudah selesai makannya. El mau ke kamar dulu ya Bu, Ayah” ucap Elea.


“Iya nak” sahut Ibunya Elea.


Di kamar Elea langsung duduk di kasur dan membuka laptopnya. Pada hari dimana terjadi pemberontakan kecil di taman kota, saat Elea sedang bersama dengan Mela ia sempat mengambil beberapa peluru berlogo yang ditembakkan oleh lawan. Baru hari ini Elea memiliki waktu yang benar-benar luang sehingga ia bisa menelusuri tentang siapa pemilik peluru itu, ditambah lagi ia sedang tak bersama dengan Eve.


Total peluru yang diambil oleh Elea ada sekitar 10 peluru. Beberapa diantara peluru itu berlambangkan api dengan segitiga bermudanya, lalu ada juga yang berlambangkan bunga mawar dan sisanya berlambangkan sebuah ukiran api polos yang indah dan sangat spesial, sangat berbeda dengan logo api yang memiliki segitiga bermuda itu.


“Peluru dengan lambang bunga mawar ini sudah tentu milik kelompok Mawar Api. Peluru yang berlambangkan api dengan segitiga bermudanyaaa... Aku ingat Eve pernah bilang ini adalah milik kelompok bernama Esdav yang diketuai oleh seseorang bernama Edward, walau aku tak pernah tahu yang mana orangnya” ucap Elea sambil melihat-lihat lambang pada peluru itu.


“Peluru ini,, lambangnya adalah api tanpa hiasan apapun. Hm, sejauh yang aku tahu lambang ini merupakan lambang milik....” Elea berpikir sejenak.


Elea memetik jarinya. “Ini adalah lambang milik kelompok Mardav, dari klan Dav yang masih keluarga dengan kelompok lain yang memiliki nama Dav di belakang nama kelompoknya”


Yaa Elea bukan hanya berpendidikan, tetapi dari segi pengetahuan diam-diam Elea menyimpan pengetahuan yang lebih banyak tentang kelompok-kelompok mafia dibandingkan Eve. Eve tidak pernah mengetahui sisi lain dari adik sepupunya itu, yang ia tahu hanyalah Elea yang selalu ia lindungi karena Elea cukup lemah, lebih manja dan tak terbiasa dengan dunia seperti itu.


“Jika ini memang milik kelompok Mardav, apa hubungannya dengan Esdav?” tanya Elea pada dirinya sendiri. “Eve seharusnya tau, bukankah dia sudah menelusurinya sejauh ini” ucap Elea dengan senyum miringnya.


“Ckk, kenapa Eve terus diam? Apa yang membuatnya tak ingin membagi hal ini denganku?”


Elea mengacak rambutnya kesal. “Aku harus apa? Darimana aku bisa mendapat informasi melalui belakang Eve? Walau aku tau klan Dav itu berkeluarga tapi ikatan seperti apa yang ada di antara mereka ini?” ucap Elea frustasi.


“Tunggu sebentar...” Elea menyadari sesuatu.


Elea mengambil beberapa bukti di dalam brankas penyimpanannya yang tak pernah diketahui oleh Eve. Di brankas itu terdapat beberapa foto, berbagai jenis peluru, dan hasil penyergapan yang diam-diam Elea selundupkan untuk suatu hal.


“Ini, ya ini juga” ucap Elea sambil mengeluarkan beberapa barang dari brankas yang berukuran sedang itu.


“Mawar Api? Logo api? Mereka bukan sekedar bekerja sama, hubungan mereka sudah pasti lebih dari ini. Walaupun lambang penanda komplotan mereka jauh berbeda namun hal lainnya menyatukan. Kenapa harus ada nama Api, kaitannya apa dengan logo api pada kedua jenis peluru ini?” ucap Elea yang baru menyadari hal janggal ini.


Tiba-tiba saja ada notifikasi di ponsel Elea yang membuatnya terkejut. Ahh ternyata itu pesan dari Mela yang ingin bertemu dengan Elea karena ada sesuatu yang ingin ia ceritakan, Elea sempat kaget ia takut jika itu adalah notif pesan dari Eve.


“El, kalau kau tidak sibuk mari bertemu di cafe pinggir pantai. Ini lokasinya” Mela mengirimkan lokasi cafe tersebut.


“Aku akan tiba dalam 30 menit” balas Elea.


Elea bergegas mengganti bajunya dengan stelan casual untuk bepergian. Elea yang sudah siap berangkat langsung turun menghampiri orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga, Elea meminta izin untuk keluar menemui temannya sebentar.


“Ayah, Ibu. El mau keluar dulu sebentar ya, mau ketemu teman” kata Elea sembari menunjukkan senyuman membujuk pada kedua orang tuanya itu.


“Mau kemana kamu?” tanya Ayah Elea.


“Cafe island yang di pinggir pantai itu, Yah” ucap Elea sopan.


“Iya nak, pergilah. Jangan pulang terlalu sore ya” kata Ibu Elea dengan senyuman lebar khas kasih sayang seorang Ibu.


“Hm, jangan nakal-nakal” ucap Ayah Elea sedikit menunjukkan sikap tegasnya seorang Ayah.


“OK. Dadah Ayah, Ibu” Elea melambaikan tangan dan juga memberikan kiss bye pada kedua orang tuanya itu.


Elea pergi mengendarai motor dengan kecepatan sedang agar sampai tepat waktu sesuai janjinya dengan Mela tadi. Setibanya di cafe itu, Elea langsung berjalan masuk mencari keberadaan Mela di cafe tersebut.


“Hai!” sapa Elea pada Mela.


“Em, hai El!” sahut Mela.


“Sudah lama nunggu?” tanya Elea basa-basi.


“Tidak juga. Ayo pesan camilan atau minuman, aku yang traktir” ucap Mela dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.


“Wah, sungguh?”


Elea melambaikan tangannya, memanggil salah seorang pelayan untuk melakukan pemesanan makanan.


“Iya nona, anda ingin memesan?” tanya pelayan itu ramah.


“Ya, boleh saya lihat menunya?” Elea pun berkata dengan sopan juga.


“Ini nona” ucap pelayan itu sembari memberikan menunya pada Elea.


“Aku pesan segelas es teh lemon, hamburger medium, dan hidangan pencuci mulut ini. Sudah itu saja”


“Baik nona. Silahkan ditunggu” ucap pelayan itu kemudian ia pergi untuk menyiapkan pesanan Elea tadi di dapur dan meminta koki memasak hidangannya. Tak lama kemudian pramu saji menghidangkan segelas es teh lemon pada Elea.


“Terima kasih” ucap Elea ramah.


Pramu saji itu hanya membalasnya dengan senyuman lalu kembali pergi ke dapur untuk mengambil pesanan yang lainnya.


“Jadi, apa yang membuatmu mengajakku bertemu Mel?” tanya Elea membuka topik.


“Aku hanya sedang senang dan ingin bercerita” ucap Mela dengan senyuman.


Sepertinya suasana hati semua orang hari ini dalam keadaan baik, tak ada satupun orang yang berbicara dengan nada sedih maupun kesal pada Elea hari ini.


“Hal menyenangkan apa yang membuat suasana hatimu jadi riang gembira seperti ini?”


“Ada seorang lelaki tampan datang menemuiku kemarin. Ia menghampiri ku saat aku sedang asyik membaca buku di taman sekolah” ucap Mela dengan pipi yang mulai memerah malu.


“Emh, kau sedang jatuh cinta ya?” sindir Elea.


“Ya bisa dibilang begitu, tapi tidak begitu juga”


“Apa maksud mu? Aku tidak mengerti”


“Jadi, lelaki itu menghampiriku dan memberiku sebuah buket bunga dengan coklat kesukaanku beserta sebuah surat yang berisi nomor telfonnya. Dia memintaku menghubunginya”


“Jadi kau menghubunginya?” ucap Elea menyela dengan nada kagetnya.


“Tentu saja!” sahut Mela bangga.


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Elea penasaran, namun belum sempat Mela menjawab pramu saji sudah datang lagi dan menyajikan makanan pesanan Elea tadi.


“Ini hamburger mediumnya, dan ini hidangan penutup spesialnya” ucap pramu saji itu memberitahu.


“Terima kasih” lagi-lagi ucap Elea sopan.


“Sama-sama” sahut pramu saji itu kemudian pergi meninggalkan Elea dan Mela.


“Jadi, aku menghubungi lelaki itu kemudian kami terus menerus berbalas pesan melalui WhatsApp. Mana ku tahu kalau rasanya akan begini, cinta itu ternyata indah juga ya” ucap Mela lagi-lagi dengan senyuman yang lebar menandakan betapa bahagia dirinya.


“Harus ku akui cinta itu indah, tapi aku lebih tertarik pada sebuah kesuksesan” balas Elea sambil menyantap hidangan yang dibawa pramu saji tadi.


“Kau itu penuh dengan ambisi, sangat cocok jika kau yang berada di posisi Eve” ucap Mela dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


“Aku rasa tetap lebih baik jika aku tetap pada posisiku dan apa adanya aku” celetuk Elea.


“Hm, sudahlah. Aku mengajakmu kemari untuk membahas hubunganku dengan lelaki itu”


“Kau yang memulainya” cibir Elea. “Jadi siapa nama lelaki itu?” tanya Elea.


“Namanya Aleix Fhaul” jawab Mela.


“Namanya bagus sekali” puji Elea. “Lalu, apa status kalian sekarang?”


“Kami sudah positif berpacaran” jawab Mela santai.


Uhuk... Uhuk... Elea tersedak saat mendengar jawaban Mela. Dengan sigap Mela memberi minum pada Elea yang tersedak itu.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Mela khawatir.


“Tidak, aku hanya kaget saja” ucap Elea yang masih memegang dadanya.


“Hm kau ini, segitu kagetnya” cibir Mela.


“Sudah, lanjutkan makan saja. Aku tidak mau tersedak lagi” ucap Elea.


Mela tertawa kecil. “Baiklah, nikmati makananmu” ujar Mela.


Selesai makan mereka langsung pulang, karena Elea beralasan bahwa ia masih punya banyak pekerjaan. Mereka tidak memiliki rencana untuk bertemu lagi besok, tapi jika Mela tiba-tiba memerlukan teman curhat Elea akan hadir di sampingnya. Elea masih ingin menyelami lebih dalam tentang informasi dari kelompok mafia yang terlibat cekcok dengan Fevel, tak terkecuali Navarda yang secara mereka bekerja sama namun Navarda tetap memiliki sedikit kaitan dengan Fevel.