Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 7 - Bertemu lagi



Di SMA Nenggala bel istirahat baru saja berbunyi, para siswa dan siswinya langsung berhambur keluar dari ruang kelas menuju kantin untuk berbelanja makanan, demi mengisi perut kosong mereka setelah berjam-jam belajar.


“El, kamu mau ke kantin gak?” tanya Lavi.


“Em, iya. Aku mau cari sesuatu” jawab Elea.


“Ekhem, mau cari apa tuh? Cowo ya?” goda Eve yang tiba-tiba sudah ada di ruang kelas Elea dan Lavi. Begitu pun Geya yang udah nongol aja di mari.


“Ya gaklah. Nyari cowo tuh di tempat yang berkelas dikit, masa iya nyari cow di kantin sekolah. GAK MUNGKIN!!” ucap Elea kesal.


“Kenapa cuma dikit berkelasnya, gak banyak aja?” tanya Geya dengan wajah polosnya yang pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Elea, membuat Eve dan Lavi langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya, Geyapun ikut tertawa kecil melihat Lavi dan Eve.


“Tau ah!!” Elea yang kesal langsung berjalan meninggalkan mereka bertiga.


Melihat Elea langsung pergi begitu saja, spontan mereka bertiga berhenti tertawa dan langsung mengejar Elea.


“Eleaaa... Tunggu!” sambil berlari kecil mereka berusaha memanggil Elea namun tak diacuhkan oleh Elea.


Saat sampai di kantin dan mereka duduk menghadapi hidangan makan siang masing-masing Elea langsung mengatai mereka.


“Berisik!! Kalian sangat berisik” ucap Elea yang masih kesal secara tiba-tiba, sedangkan 3 orang yang ada di dekatnya hanya bisa tersenyum menahan tawa mereka.


“Dasar pengganggu! Awas saja kalian” Elea masih menumpahkan kekesalannya pada 3 orang yang sedang berada di hadapannya itu, sembari ia melahap makanannya kasar.


“Pelan-pelan makannya. Nanti keselek lho” tegur Eve.


“Hemh” Elea membalas teguran Eve dengan malas dan ekspresi yang masih kesal.


Karena makan terlalu cepat tiba-tiba saja Elea tersedak ditambah lagi dengan melihat pemandangan tak biasa di hadapannya, salah seorang lelaki yang bercap playboy sekolah itu yang sedang berusaha menggombal cewe jatuh terpelanting di hadapannya. Melihat Elea yang tersedak dengan sigap Eve memberinya air dan menepuk-nepuk punggung Elea agar ia merasa lebih nyaman.


“Makanya dikasih tau tuh nurut, jangan sok julid” bisik Eve.


“Hem” Elea masih bersikap julid karena kesal.


Namun saat Elea kembali melihat ke arah lelaki playboy itu ia tertawa kecil, bahkan semua orang di sekitar situ tersenyum. Mereka semua berusaha keras menahan tawa, tapi lain halnya dengan empat orang bersahabat ini yang malah tertawa melihat lelaki itu.


“Kenapa kalian tertawa?” tanya lelaki itu kesal.


“Memang kenapa? Apa ada peraturan di sekolah ini yang melarang orang untuk tertawa?” jawab Lavi sembari menyilangkan tangannya di depan dada.


“Ohh... Lho berani sama gue?” lelaki itu menghampiri Lavi.


“Kenapa harus takut?” jawab Lavi santai.


“Berdiri!! Maju lho kalau berani” tantang lelaki playboy bernama Rav tersebut.


Lavipun berdiri dan langsung mendekati Rav tanpa rasa takut sedikitpun, sebab Lavi sudah tau siapa Rav dan keluarganya itu. “Gue bukan pengecut!!” bisik Lavi tepat di telinga Rav dengan tegas.


Rav hanya tersenyum miring dengan gaya angkuh saat mendengar perkataan Lavi. Kemudian Rav mengangkat tangannya ingin menonjok Lavi, namun belum sempat tangannya mendarat di tubuh Lavi, tangan Lavi sudah terlebih dahulu menangkap tangan Rav tersebut dan memutarnya ke arah belakang.


“Aaarghh!” rintih Rav kesakitan.


“Bagaimana rasanya?” bisik Lavi.


“Lepaskan tanganku atau aku akan hubungi Ayahku, dan akan ku pastikan kau memohon di bawah kaki ku ini” ancam Rav.


“Dasar pecundang!” Lavi melepaskan tangan Rav dengan kasar, lalu ia menyorongkan tangan kanannya kepada Rav untuk berjabat tangan. Dengan senang hati Rav menyambut tangan Lavi, karena ia pikir Lavi ingin meminta maaf padanya.


“Sudah menyesal? Cepat sekali” ucap Rav angkuh yang langsung menjabatkan tangannya dengan Lavi, sedangkan Lavi sedari tadi ia hanya memasang wajah dingin nan datarnya itu.


“Tidak, aku hanya ingin berkenalan” ucap Lavi yang dingin, sedingin-dinginnya ia saat ini.


“Kenalan?, memangnya siapa kamu?” tanya Rav sambil berusaha meremas tangan Lavi.


Rav dan teman-temannya kaget karena Lavi bermarga Jedzler, secara keluarga bermarga Jedzler adalah keluarga kaya yang disegani banyak orang karena kekuasaannya, termasuk keluarga Rav yang merupakan bawahan keluarga Jedzler.


“Nona muda Jedz, Lavina” ucap Rav dalam batinnya kaget sambil menelan salivanya kasar.


Remasan tangan Rav mulai melemah, Lavi yang menyadari hal itu langsung membalas Rav dengan meremas tangannya juga. Walaupun ia seorang perempuan, tetapi Lavi sangat maco tenaganya pun tidak sembarangan, setidaknya cukup untuk meremukkan tangan lawannya. Tapi Lavi tahu yang mana kawan yang mana lawan, sementara Rav hanyalah bawahan. Jadi Lavi hanya memberikan remasan peringatan.


“Arrrgghh...!!” teriak Rav yang kesakitan. “Dasar gadis sialan!!” gerutu Rav saat Lavi melepaskan jabatan tangannya dengan Rav.


“Dasar bodoh!!” kesal Lavi yang kemudian berlalu meninggalkan Rav dan teman-temannya.


Sementara orang-orang yang memerhatikan pertarungan Lavi dan Rav tersebut masih berusaha keras menahan tawa mereka, Rav yang merasa malu langsung pergi meninggalkan kantin.


Selesai makan siang empat bersahabat ini langsung masuk ke ruang kelasnya masing-masing, karena bel tanda bermulainya pelajaran akan segera berbunyi pada pukul 01.10. Setelah jam makan siang ini adalah jam pelajaran terakhir sebelum mereka pulang.


Setelah selesai makan siang Nick juga kembali ke kantornya bersama Arkha, sedangkan Delvin kembali melanjutkan tugasnya sendiri dan sibuk mempertimbangkan permintaan dari Nick untuk menjadi salah satu siswa di SMA Nenggala, yaitu tempat dimana Elea menuntut ilmu jenjang menengah atas. Rasa penasaran Nick akan Elea harus diobati sesegara mungkin, jadi Delvin harus bisa membantunya kalau tidak maka nyawa adalah taruhannya.


Jam pelajaran terakhir di SMA Nenggala sudah tuntas, kini sudah waktunya untuk semua siswa/i SMA tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing. Seperti biasa, Elea, Eve, Lavi dan Geya akan pulang berjalan kaki bersama, melintasi jalanan yang agak sepi di bawah pohon-pohon besar yang rindang, karena dekatnya jarak rumah mereka dengan sekolah kecuali rumahnya Eve.


Perjalanan yang dihiasi oleh canda tawa menambah kesan persahabatan pada setiap netra yang melihat mereka berempat walau itu dari kejauhan sekalipun. Lagi-lagi, Nick melintasi jalan di waktu gadis-gadis ini sedang dalam perjalanan pulang.


“HUWAAAAW... Itukan, mobil yang hari itu. AAAAA!!!” ucap Geya yang salah tingkah ketika melihat mobil hitam mewah milik Nick melintas.


“Mana?!!” tanya Lavi.


“Lihatlah ke arah belakang!” ucap Geya lebay sambil menghentak-hentakkan kakinya salah tingkah.


“AAARGHHH, benar itu mobil yang kemarin” Lavi juga ikut salah tingkah seperti Geya.


“Kalian ini!” Elea memutar bola matanya malas. Sedangkan Eve hanya diam tanpa memedulikan topik pembahasan mereka.


Akhirnya mobil Nick berlalu. Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan pulangnya walaupun Geya dan Lavi masih saja salah tingkah akibat mobil mewah itu melintas. Sementara di dalam mobil, Nick yang tidak memerhatikan sekitar karena sibuk dengan laptopnya tentu saja tak melihat empat bersahabat itu. Sungguh Nick tidak beruntung hari ini.


“Kami pulang!!” ucap Elea dan Eve yang langsung menghampiri kedua orang tua Elea yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Orang tua Elea sedang menyambut tamu, Elea dan Eve yang melihatnya hanya memberikan senyuman dan sedikit membungkukkan badan mereka pada para tamu itu kemudian pergi ke kamar.


“BRUKKK...” Elea melempar tasnya sembarang, begitupun Eve. Kemudian mereka merebahkan tubuh di kasur dan menatap langit-langit kamar.


“Kau atau aku yang duluan mandi?” tanya Eve.


“Kau saja” jawab Elea.


“Tapi aku masih ingin rebahan, lebih baik kau saja”


“Haih kau ini, tadi bertanya sekarang menyuruh. Aku tidak mau!!” ucap Elea merajuk.


“Kau saja yang duluan Eleaaa” bujuk Eve.


“Aku gak mau!!, gimana kalo kita suit aja?” tanya Elea sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


“OK” jawab Eve singkat.


“SUIT!!” ucap mereka serempak. Beberapa kali mereka melakukannya pemenang belum bisa ditentukan. “SUITTT!” ini yang terakhir, dan Elea menjadi pemenang dengan memilih gunting dan Eve harus menerima kekalahannya karena membentuk kertas dengan jari-jarinya.


“Baiklah, aku yang duluan” ucap Eve terpaksa.


Dengan malas Eve mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan Elea hanya bermain ponsel sambil rebahan di kasur empuknya itu. 10 menit bermain ponsel kini sudah giliran Elea untuk membersihkan diri, karena Eve sudah keluar dari kamar mandi.


“Hm, segar rasanya” ucap Eve. “Kau cepatlah mandi, lalu kita turun untuk makan malam” kata Eve pada Elea.


“Ya” jawab Elea singkat, lalu pergi ke kamar mandi.