Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 23 - Hari wisuda



Hari terus menerus berlalu, meninggalkan sisa kenangan. Betapa indah dunia ini, gelap malam tiba menyingkirkan sinar mentari, kemudian cahaya jinggapun muncul menepis malam. Terus menerus seperti itu tiada henti. Elea menikmati indahnya hari libur kemarin, kini ia sedang merasa gugup untuk menghadapi hari ini.


“El...” panggil Eve. “Kau sudah siap belum?”


“Belum, sebentar lagi. Memangnya kau sudah?” tanya Elea.


“Aku hanya tinggal memakai sedikit aksesoris” jawab Eve.


“Jangan terlalu minor, kau bisa ditertawakan nanti” ejek Elea.


“Heh, kau ini”


“Aku kenapa memangnya?”


“Tidak, kau tidak apa-apa” ucap Eve pasrah.


Elea hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Oh ya, aku dengar ada transaksi gelap besar-besaran malam ini” ungkap Elea.


Eve kaget mendengar apa yang Elea katakan. “I-iya, dari mana kau tahu itu?” Eve tak bisa berbohong, ia hanya bisa bertanya dari mana adiknya bisa menemukan informasi itu.


“Apa kau lupa? Kau sendiri yang membiarkan ku tahu”


“Ohh, aku lupa. Aku membiarkan mata-mata mu itu mendapat informasi di markasku”


“Dasar bodoh!” celetuk Elea geram.


“Aku lupa! Maaf” sahut Eve.


Elea hanya mengabaikan perkataan Eve, ia hanya menatap Eve dengan julid kemudian kembali merias dirinya untuk acara wisuda ini.


“Apa kau sudah selesai Eve?” tanya Elea.


“Sudah, ayo kita turun” ajak Eve.


Mereka berdua pergi ke lantai bawah untuk menemui orang tua mereka. Dengan sangat lincah mereka menuruni setiap anak tangga tanpa takut riasan mereka akan berantakan.


“Heii! Hati-hati nak” tegur Ibunya Eve.


“Bunda, lihat kami! Cantik kan?” ucap Eve dengan gaya kekanak-kanakkannya.


“Anak-anak Bunda sangat cantik” ucap Ibunya Eve sambil tersenyum.


“Benar sekali, kalian terlihat sangat cantik dan berseri. Mirip dengan Ibu” sahut Ibunya Elea.


“Ihh, Ibu kepedean” celetuk Elea.


Mereka berempat tertawa bersama di ruangan itu. Dan tiba-tiba saja terdengar suara berat yang menghentikan tawa mereka, ya siapa lagi kalau bukan para Ayah.


“Kenapa kalian tertawa?” tanya Ayahnya Eve yang tak tahu sebab mereka tertawa.


“Sudah pasti itu karena lucu, Bang” sahut Ayahnya El.


“Ada-ada saja” ucap Eve.


“Abang lihatlah, bukankah mereka berdua ini sangat cantik seperti ku?” ucap Ibunya Elea.


“Ayah, bukankah kepedean Ibuku itu berlebih?” ucap Elea pada Ayahnya Eve.


Ayahnya Eve menggelengkan kepalanya pasrah. “Kalau anak perempuan sudah pasti ngikut Ibunya. Tapi menurut Ayah, kalian terlihat jauh lebih cantik” ungkap Ayahnya Eve, membuat mereka semua tertawa kecuali Ibunya Elea.


“Sayang, lihatlah! Abangmu itu mengatai ku” adu Ibunya El pada sang suami.


“Mau bagaimana lagi? memang seperti itu kenyataannya” sahut Ayahnya Elea sambil membuang nafasnya kasar.


“Ish, kalian ini menyebalkan” cibir Ibunya Elea, kemudian ia tersenyum.


“Sudah. Ayo kita berangkat, nanti terlambat” ajak Ayahnya Eve.


Mereka berangkat ke sekolah Eve dan Elea dengan menggunakan dua mobil. Eve satu mobil dengan kedua orang tuanya, begitupun Elea. Lavi dan Geya juga berangkat bersama dengan keluarganya.


“Ayah tidak lupa dengan janji Ayahkan?” tagih Elea pada Ayahnya.


“Tentu saja tidak, Ayah sudah menyiapkannya” sahut Ayahnya Elea.


“Ayahmu sudah menyiapkannya dengan sangat baik, dan kita akan mengadakan acaranya hingga malam hari” sambung Ibunya Elea.


“Wow, tidakkah itu terlalu lama?”


“Tidak, itu wajar saja” sahut Ayahnya.


Tak terasa mereka sudah sampai di SMA Nenggala, dan tanpa disengaja empat bersahabat ini tiba secara bersamaan di sekolah. Lavi dan Geya yang melihat dua orang sahabatnya itu langsung berlari menghampiri sembari memeluk mereka. Meskipun sedikit lebay, namun hal itu tetap disambut hangat oleh Eve dan Elea.


“Kalian apa kabar?” tanya Lavi.


Mereka bertiga langsung tertawa saat mendengar nada jawaban Eve, Eve sendiri pun ikut tertawa melihat mereka bertiga. Orang tua mereka berempat juga berkumpul, mengingat mereka merupakan sahabat sedari remaja tentu saja orang tua mereka sudah saling mengenal satu sama lainnya. Orang tua mereka saling berjabat tangan dan bersalam-salaman, dengan rasa persaudaraan yang ada semakin mempererat ikatan mereka.


“Mari kita masuk” ajak Elea.


“Ya, di luar sangat panas” ucap Geya lebay.


“Kau ini, hujan tidak suka, panas juga tidak suka. Jadi yang kau suka apa?” tanya Lavi yang mulai kesal.


“DIA!” ucap Geya dengan gaya seperti orang salah tingkah.


“Sudah! Ini masih pagi” sela Elea.


“Kalau mau mengkhayal tunggu acaranya sudah selesai, nanti kalian malah makin gemetar” timpal Eve.


“Menyebalkan. Awas saja!” cibir Geya dengan sorot mata kesalnya.


Mereka semua tertawa dan kemudian berjalan masuk ke gedung aula tempat dilaksankannya wisuda itu. Anak kelas lain ikut serta dalam meramaikan acara ini, ada yang menampilkan kesenian, olahraga, dan banyak hal lainnya. Kemudian setelah pertunjukkan itu selesai, satu per satu anak muridnya dipanggil untuk mengambil hasil pembelajaran mereka.


Elea dan yang lainnya berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Bukan hanya dengan teman-temannya, tapi Elea juga berfoto dengan keluarga dan dua sahabat karibnya. Empat keluarga ini berfoto dalam satu frame, mereka terlihat seperti sebuah keluarga besar.


Selesai berfoto dan mengurus hal lainnya, Elea, Eve dan keluarga mereka langsung pergi menuju tempat acara perayaan kelulusan mereka berdua. Ayahnya El sudah menyiapkan beberapa gaun untuk digunakan oleh Elea dan Eve.


“Berapa jauh lagi?” tanya El yang tidak sabaran.


“Sedikit lagi sampai” sahut Ayahnya.


“Apa Ayah sudah mengundang semua orang?”


“Tidak semua orang, hanya orang yang keluarga kita kenal saja”


“Iya, itu yang El maksud”


“Ya, tentu saja sudah”


Tak berapa lama kemudian mereka sampai di gedung itu. Elea dan Eve langsung pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka dengan gaun indah yang sudah disediakan.


“El, lihat gaun ini! Serasi untukku” sorak Eve.


“Aku rasa gaun biru malam atau hitam akan jauh lebih cocok untukmu” gurau Elea sembari tertawa lepas.


“Diam! Akan ku potong lidahmu itu”


Elea masih saja tertawa. “Jangan! Aku tidak akan bisa bicara lagi jika kau potong lidahku. Bagaimana aku bisa mengomentari penampilanmu nanti?”


“Sudah! Kau ingin ku pukul?” geram Eve.


“Uuuuu.... mengerikan!! Lebih baik aku kabur” ucap Elea dengan nada sangat mengejek.


“ELEAAAA....!!!!” teriak Eve geram.


Elea berlari menghindari Eve sambil tertawa. Saat kondisi dirasa aman, Elea kembali untuk berganti pakaian. Ia melihat betapa kesalnya raut wajah yang Eve tunjukkan, ia tak berani menatap. Elea fokus mengganti pakaian dan merias dirinya lagi.


“Aku sudah selesai” ucap Elea memberitahu.


“Ayo turun!” ajak Eve.


Mereka turun bersama sambil bergandeng tangan, kedatangan mereka berdua begitu memukau pada setiap netra yang menatap dengan rasa kagum. Namun, tak disangka oleh keduanya ternyata Luis dan keluarganya juga menghadiri acara ini. Elea yang tak sengaja melihat Luis, sontak ia diam mematung dan hanya menatap Eve dengan rasa kaget dan ekspresi yang sulit digambarkan karena saking campur aduknya perasaan Elea.


“Eve, aku rasa aku melihat Luis”


“Kau yakin?”


“Iya, aku rasa itu benar”


“Dimana kau lihat dia?” Eve mulai penasaran.


“Di sebelah sana, bersama dengan Ibunya” Elea menunjuk dengan jari telunjuk secara sembunyi-sembunyi dan matanya yang menyematkan kode.


“Aku rasa kita dalam situasi tidak aman terkendali”


“Kau benar” timpal Elea.


Dengan cepat Elea dan Eve berjalan menghampiri orang tua mereka untuk bertanya pendapat dari kostum yang mereka kenakan.


“Bagaimana penampilan kami?” tanya Elea.


“Bagus, cantik sekali!” ucap Ibunya Eve dan Elea serempak.


“Sekarang kalian makanlah” kata Ibunya Eve, kemudian Elea dan Eve mengangguk dan pergi untuk mengambil makanan.