Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 28 - Siapa mereka?



Delvin sedang menunggu kedatangan Nick dan Arkha di restoran Tradisi, ia membuka sebuah buku yang berbentuk kliping. Buku itu berisi hasil penyelidikan Delvin dan anak buahnya. Tak lama kemudian Delvin melihat sebuah mobil mewah yang memasuki kawasan parkir restoran ini. Kemudian ada dua orang berbadan kekar yang keluar dari mobil tersebut, itu adalah Nick dan Arkha.


“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Arkha basa-basi.


“Seharusnya sangat lama” jawab Delvin asal.


Nicholas menepuk tangannya, memberi kode pada pelayan bahwa ia ingin memesan. Pelayan yang peka pun langsung mengambil buku menu dan mendatangi Nicholas.


“Ini daftar menunya, Tuan” ucap sang pelayan.


Nick memeriksa daftar menunya dan memesan beberapa makanan dan minuman, lalu Arkha juga memesan beberapa makanan berbeda dengan Nick lengkap dengan minumnya.


“Itu saja?” tanya pelayan.


“Iya” jawab Nick.


“Baik, ditunggu” ucap pelayan dengan begitu ramahnya.


Kemudian pelayan itu pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan milik Nick dan Arkha. Sementara Nick, Arkha dan Delvin melanjutkan perbincangan mereka.


“Jadi, kenapa kau ingin bertemu?” tanya Nick pada Delvin.


“Aku baru saja mendapat sebuah kabar tentang Libras” ucap Delvin.


Ekspresi wajah Nick seketika berubah menjadi jauh lebih serius, Arkha pun begitu bahkan mereka sedikit kaget.


“Ada apa dengan Libras?” tanya Nick penuh kedinginan.


“Libras kembali membuat onar, ia menciptakan kekacauan besar-besaran” sahut Delvin.


“Dimana?” tanya Arkha yang bingung, karena ia sudah menyelipkan pengamanan ganda dan ekstra di setiap sudut kota ini.


“Bukan di kota ini, di kota lain. Yang membuat kekacauan di kota ini adalah De Thevil, bahkan itu disaat yang bersamaan. Aku curiga ada sesuatu di antara dua kelompok ini” ungkap Delvin dengan yakinnya.


“Pasti ada hubungannya antara pemberontakan Libras dan transaksi gelap De Thevil. Tapi apa?” tanya Nick bingung.


“Kenapa Libras sangat suka bermain teka-teki?” ucap Arkha geram.


“Mungkin mereka minta digeprek!” timpal Delvin membuat canda tapi tak ada yang tertawa.


Pembicaraan mereka terhenti sejenak, karena dua orang pelayan datang membawa pesanan mereka tadi. Kemudian Nick, Arkha, dan Delvin mulai menyantap makanan mereka.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Delvin.


“Aku dan Arkha masih harus mencegah transaksi gelapnya. Kau sebaiknya telusuri saja tentang dua kelompok ini, dan apa hubungan mereka” perintah Nick.


“Baiklah, tapi....”


“EKHMM” Arkha tiba-tiba saja batuk pelan, seperti sedang memberi kode.


“Kau kenapa?” tanya Nick.


“Tidak, aku tidak apa-apa. Em, Nick sepertinya kita masih punya sedikit pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan” ucap Arkha.


Nick dan Delvin langsung mengerti bahwa itu adalah peralihan topik, mereka tahu bahwa Arkha bermaksud memberitahu kalau ada sesuatu yang janggal menurutnya. Mereka bertiga bergegas menyelesaikan makan siang mereka, dan kemudian pergi dari restoran itu.


“Ada apa?” tanya Nick pada Arkha di dalam mobil.


“Entahlah, aku merasa dua orang pelayan yang mengantar pesanan kita tengah memerhatikan perbincangan kita tadi” ungkap Arkha.


“Apa kau yakin?” Nick bertanya lagi.


“Iya, aku merasa seperti itu. Dan kalau aku tidak salah, aku pernah melihat mereka berdua saat melakukan penggrebekan bersama Eve di muara sungai waktu itu”


“Lajukan sedikit mobilnya, aku rasa ada yang mengintai kita” ucap Nick.


Tanpa basa-basi Arkha langsung menginjak lebih dalam pedal gas mobil yang mereka kendarai itu, meninggalkan sebuah van yang sepertinya memang mengikuti mereka berdua. Lalu telfon Arkha berbunyi, ia mendapat panggilan masuk dari Delvin.


“Kita diintai, mungkin itu mata-mata lawan” sahut Nick, karena mereka memasangkan panggilan itu ke speaker mobil.


“Sepertinya mereka bukan orang biasa, kita harus mengecoh mereka untuk lolos” usul Delvin.


“Ayo!” sahut Arkha bersemangat.


Nick membuka peta dan menghidupkan GPS agar mereka bisa mencari jalan mudah untuk mengecoh lawan. Mereka bertemu di salah satu jalur yang terhubung oleh simpang tiga jalur yang mereka lewati. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju sebuah hutan belukar terpencil yang berbahaya. Para mata-mata yang tidak tahu ada bahaya yang juga mengincar mereka, tetap saja mengintai Nick, Arkha, dan Delvin demi informasi besar.


Di hutan itu mereka berpencar lagi, dua van putih itu juga ikut mengejar mobil Nick, Arkha, dan Delvin. Mereka masing-masing mengejar satu mobil lawan, lalu mereka dikecoh lagi dan dibawa ke salah satu hutan berbahaya yang biasa digunakan sebagai tempat eksekusi. Di sana, Nick, Arkha, dan Delvin keluar dari mobil dan berpencar. Para pengintai itu tidak tahu bahwa mereka sedang dijebak, alhasil mereka tetap turun dan menelusuri keberadaan Nick, Arkha, dan Delvin.


Arkha memulai tembakan dan menjatuhkan salah satu pasukan lawan, untungnya senjata yang digunakan Arkha tidak mengeluarkan suara sama sekali, maklum saja senjata mahal. Kemudian, disusul oleh Nick dan Delvin. Satu per satu dari lawan mulai jatuh, diserang dari yang paling belakang membuat mereka tak menyadari bahwa teman-teman mereka mulai berkurang.


Saat dua orang pengintai utama itu mulai sadar, mereka melihat ke belakang dan menjumpai teman-teman mereka yang tergeletak sudah tak bernyawa. Mereka berusaha mencari lawan, menatap ke sekeliling dengan liar namun tak menjumpai seorang pun lawan. Lalu, Arkha dan Delvin tiba-tiba muncul di belakang mereka, dan saat mereka berbalik ke arah Arkha dan Delvin Nick juga muncul dari arah yang berlawanan.


“Siapa kalian?” tanya Arkha dengan dingin dan geram.


“Bukan urusan kalian” jawab salah satu pengintai itu dengan lantang dan tanpa rasa takut.


“Singkirkan semua benda tajam itu dari mereka” ucap Nick dingin.


Arkha dan Delvin mengerti tujuan Nick, tanpa banyak tanya mereka langsung menyingkirkan berbagai benda tajam itu dari pihak lawan.


“Katakan! Siapa bosmu?” tanya Nick dengan sorot mata tajam.


“Anak buah tidak boleh mengkhianati majikan” jawab mereka berdua dengan percaya diri.


“SIKSA MEREKA!!!” perintah Nick.


Arkha menarik tubuh salah satu orang itu, dan mulai menggores-goreskan pisaunya. Lalu Delvin ia mencambuk lembut tubuh pengintai lainnya.


“Kalian mau bicara atau bertemu maut?” ancam Nick.


“Berbicara atau tidak, kami akan tetap tiada” ucap salah seorang dari mereka.


Mereka berdua diam tanpa perlawanan, bahkan juga tak bicara. “Mereka tidak akan buka mulut. Eksekusi saja!” perintah Nick.


“Baik” ucap Arkha dan Delvin serempak.


Arkha dan Delvin langsung menyerang dua orang itu tiada ampun, sehingga keduanya meninggal di tempat. Lalu Arkha melihat tato neraca di lengan atas tangan kiri dari kedua orang tersebut, Arkha yang tidak tahu pasti kebenaran tanda itu langsung memberitahu Nick.


“Di lengannya ada sebuah tato, itu gambar neraca. Apa pendapatmu?” ucap Arkha.


“Apa mereka adalah orang-orang Libras?” tanya Nick bingung.


“Itu bisa jadi, tapi kenapa permainan mereka sangat kotor?” sahut Arkha yang juga diliputi kebingungan besar.


“Aku rasa ini jebakan, dan yang mereka gunakan adalah orang terpercaya. Orang-orang kelompok Libras yang menggunakan tato simbol asli kelompok mereka merupakan orang-orang terpercaya. Mereka siap hidup penuh siksaan demi setia kepada sang majikan” jelas Delvin.


“Itu berarti ada bahaya yang mengintai” ucap Nick spontan.


Nick yang penasaran dengan orang-orang ini, kemudian mulai melakukan pengecekan terhadap barang-barang bawaan mereka. Ia mendapati dua buah ponsel dan mencoba untuk memeriksa ponsel tersebut, namun sayangnya orang-orang itu memasang kunci layar jadi tak sembarang orang bisa membukanya. Untung saja Delvin bisa memblokir kunci layar tersebut, dan mereka mendapati sebuah nomor yang bernama “BOSS” dan sering dihubungi.


Nick mencoba menelfon nomor tersebut, dan kemudian... “Halo” terdengar jelas suara dari telfon tersebut. “Apa kau sudah menyelesaikan mereka?” ucapnya lagi.


“Halo... Halo? KAU DENGAR TIDAK?!”


Arkha langsung memberi kode pada Nick, lalu Nick menjawab perkataan orang itu. “Kami sudah menyelesaikan mereka, Tuan. Kau hanya tinggal membereskan jasad mereka” ucap Nick.


Orang itu tertawa puas. “Baik, akan ku bereskan sisanya. Kirimkan lokasinya padaku”


“Akan ku kirimkan” sahut Nick. tit..tit.., telfonnya berakhir, lalu Nick langsung mengirimkan lokasi mereka saat ini.


Setelah mengirim lokasi itu, Nick, Arkha dan Delvin langsung pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian mereka membawa beberapa barang bukti seperti senjata, peluru, dan salah satu ponsel mereka yang tadi digunakan untuk menelfon BOSS itu.