Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 15 - Bersekolah kembali



Elea, Lavi, dan Geya berangkat sekolah di pagi yang indah ini. Sinar matahari pagi ini tampak bersahabat, cahaya jingga dari ufuk barat yang membelai kulit dengan hangat dan begitu lembutnya membuat suasana pagi ini terasa damai.


Mereka bertiga berangkat sekolah lebih awal sebab harus melaksanakan upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari Senin. Eve juga sudah bangun dan siap untuk berangkat, sedangkan Nick dan Arkha sudah berada di kantor dan sibuk mempersiapkan ruang rapat untuk meeting bersama client penting.


“El, kenapa Eve tidak masuk sekolah hari ini?” tanya Geya yang tidak tahu alasan Eve tidak menghadiri kelasnya di hari pembukaaan semester baru ini.


“Keluarganya ada urusan penting di luar kota, jadi Eve harus ikut dan tidak bisa bersekolah hari ini” jawab Elea.


“Berapa hari Eve akan tinggal di luar kota?” tanya Lavi.


“Katanya sekitar 3-4 hari saja” kata Elea sambil menyipitkan matanya agak bimbang.


“Bel akan berbunyi dalam 25 menit lagi, aku belum piket kelas” ucap Geya panik saat ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.50.


“Kalau begitu ayo lari!” Elea ikut panik dan berlari sekencangnya dengan kedua tangannya yang menarik tangan Lavi dan Geya.


Mereka sampai di sekolah tepat waktu, Geya juga masih sempat melaksanakan piket kelasnya. Selesai Geya piket bel masukpun berbunyi, semua anak berlari menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Kelasnya Elea yang mendapat giliran bertugas, dan Elea sebagai perwakilan kelas ia akan bertugas sebagai pembawa acara. Selesai melaksanakan upacara bendera mereka semua kembali ke ruang kelas masing-masing dan bersiap untuk melaksanakan pembelajaran.


“Lavi, punya pensil tidak?” tanya salah seorang teman sekelasnya.


“Tidak, coba kau tanya Elea”


Temannya itu pun menghampiri Elea. “Elea, kau punya pensil tidak?” tanya murid yang tadi pada Elea.


“Punya, ini!” Elea memberikan pensilnya pada orang itu.


“Aku pinjam dulu ya” ucap murid itu yang langsung berjalan kembali menuju mejanya.


Tak sampai 5 menit orang itu kembali lagi mendatangi Elea untuk mengembalikan pensil yang ia pinjam tadi.


“Ini pensilmu, terima kasih Eleaaa” ucapnya dengan senyum yang lebar.


“Ya, sama-sama” jawab Elea sopan.


Hal yang selama ini Elea rindukan, saling pinjam meminjam barang dengan teman sekelasnya, mendengar keributan para lelaki di kelas. Sungguh hari ini sangat menyenangkan, tapi tanpa kehadiran Eve saat jam istirahat terasa begitu sepi.


“Kira-kira apa yang sedang Eve lakukan ya sekarang?” tanya Lavi tiba-tiba.


“Pasti Eve sedang berjalan-jalan menikmati indahnya dunia luar” jawab Geya dengan gaya bicaranya tersendiri.


“Kalian ini. Kalian kan tau kalau Eve sedang ada urusan bukan sedang liburan” kata Elea.


“Hadehh, iya El kami kan hanya bercanda” jawab Lavi kesal. “Tidak mengerti arti candaan” gerutu Lavi.


“Kring...!!” bel tanda masuk kelas pun berbunyi.


“Udah bel, ayo kita ke kelas” ajak Elea. Mereka pun langsung bergegas pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas.


Pelajaran berlanjut hingga pukul 02.45 dan bel pulang sekolah berbunyi, mereka semua berhamburan keluar dari ruang kelas setelah pembelajaran selesai. Elea dan 2 sahabatnya pulang berjalan kaki bersama, mereka bercerita sepanjang perjalanan. Tapi cerita mereka terasa hampa tanpa kehadiran seorang Eve.


“Aku pulang!!” ucap Elea saat tiba di rumah tanpa semangat.


“El cuma ngerasa sepi aja karena gak ada Eve, Bu” curhat Elea pada Ibunya.


“Ohh, Eve kan sedang ada urusan di luar kota dengan keluarganya. Paling 2-3 hari lagi dia akan pulang. Jangan sedih dong, hilang cantiknya anak Ibu nih..!” hibur Ibunya Elea.


Elea menghela nafasnya kasar. “Ya sudah Bu, El ke kamar dulu ya”


“Iya, jangan lupa turun untuk makan malam ya nak” kata Ibunya Elea.


Elea pergi ke kamarnya, ia meletakkan tasnya di atas meja belajarnya dan pergi mandi. Selesai mandi dan mengenakan pakaian Elea langsung menyalakan komputernya, mencari sesuatu tentang kelompok Navarda. Sialnya apa yang Elea ingin ketahui tentang kelompok Navarda tak bisa ia temukan, karena Nick selaku ketua kelompok Navarda sudah memblokir sebagian besar informasi tentang kelompoknya itu. Elea tak pernah tahu siapa ketua kelompok dari Navarda, padahal ia berharap bisa menemukan informasi tentang ketua atau wakil ketua Navarda.


Tapi kenapa baru sekarang Elea sibuk mencari tahu tentang Navarda. Sebenarnya Elea sering mencoba mencari tahu tentang Navarda, tapi baru kali ini author membahasnya. Yang Elea tahu Navarda adalah sebuah kelompok besar yang kekuasaannya mengalahkan kelompok Fevel milik Eve.


“Kenapa tidak ada informasi tentang pengurus dari Navarda? Apa mungkin ada orang yang sudah memblokir informasinya?” bingung Elea dalam batinnya.


“Hah Sial!” kesal Elea, ia mengacak rambutnya frustasi sembari menghembuskan nafas sekasar-kasarnya. Tak bisa digambarkan dengan jelas betapa frustasinya Elea dengan keadaan ini.


Elea melihat jam yang melingkar di tangannya, ia berniat untuk pergi ke suatu tempat bersama temannya, Mela. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 04.00, Elea memutuskan untuk bersiap-siap keluar sore ini. Elea mengambil ponselnya dan menghubungi Mela, kemudian ia turun untuk berpamitan dengan Ibunya.


“Bu, El mau keluar dulu ya” ucap Elea pada Ibunya.


“Mau kemana kamu?” tanya Ibunya.


“El mau ketemu sama Mela” jawabnya.


“Ohh. Ya pergilah, hati-hati di jalan. Pulangnya sebelum jam 06.00 ya nak” kata Ibunya Elea.


“Iya Bu” Elea pun berlalu meninggalkan Ibunya.


Elea dan Mela bertemu di salah satu cafe dekat taman kota, selama Eve sibuk dengan alasan berurusan dengan Derry Elea juga sering bertemu dengan Mela. Elea bercerita tentang kelompok Navarda, Mela juga tahu tentang kelompok itu.


“Mel, kamu tau gak siapa ketua dari Navarda?” tanya Elea.


“Aku tahu kelompok Navarda, tapi aku gak pernah tahu siapa orang-orang yang terlibat di kelompok itu” jawab Mela dengan jujur.


“Aku kok jadi makin penasaran ya dengan kelompok ini. Aku juga curiga beberapa kejadian aneh akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Navarda” ucap Elea sambil menyipitkan matanya.


“Kamu gak perlu ambil pusing masalah ini. Eve yang merupakan ketua Fevel aja sepertinya gak peduli dengan keberadaan Navarda” timpal Mela.


“Eve sepertinya tidak mau berurusan dengan Navarda” lanjut Elea.


“Ya sudah kalau begitu kita bahas yang lain aja. Skip masalah Navarda ini” ucap Mela berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Asyik bercerita tak terasa jam yang melingkar di tangan Elea sudah menunjukkan pukul 05.30, Elea harus segera pulang kalau tidak Ibunya bisa marah.


“Sudah sore, aku pulang dulu ya Mel” ucap Elea.


“Iya, aku juga mau pulang. Sampai jumpa El”


“Sampai jumpa” balas Elea yang kemudian meninggalkan area taman kota itu