Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 32 - Cafe Dara Phoenix



Elea akhirnya sampai di cafe Dara Phoenix, di sana ia melihat Mela yang tengah duduk santai menunggu dirinya. Elea pun langsung menghampiri Mela dan menyapanya.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Elea.


"Lumayan, mungkin sudah setengah jam kurang lebih" jawab Mela.


"Ya ampun, aku minta maaf sekali. Tadi jalanan sangat macet karena ada kecelakaan, lalu Eve memberitahuku untuk lewat jalan lain saja" Elea menjelaskan kejadian tadi.


Mela sontak terkejut mendengar bahwa ada kecelakaan yang terjadi. "Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Mela kaget.


"Iya, tadi ada kecelakaan antara dua mobil dari arah yang berlawanan" sahut Elea.


"Bagaimana bisa? Bukankah di kota kita ini sangat jarang terjadi kecelakaan besar seperti itu" ungkap Mela.


"Kau benar, kejadian ini sangat mengejutkan. Aku rasa hal ini perlu diselidiki, pasti ini direncanakan" kata Elea yakin.


"Kenapa kau begitu yakin? Memang ada hal yang janggal menurutmu?"


"Salah satu mobil itu adalah mobil milik anggota klan De Thevil"


"Berani sekali membuat kericuhan, bahkan itu adalah klan besar di dunia gelap" kata Mela.


"Iya. Tapi daripada kita membahas hal ini, lebih baik kembali ke topik awal yang kembali mempertemukan kita" kata Elea berusaha mengalihkan topik.


Mela tersenyum, ia sangat suka dengan gaya bahasa Elea yang seperti ini. "Aku sangat suka cara bicaramu, ini yang akan membuatku merindukanmu, El" katanya.


"Cara bicaraku ternyata cukup spesial ya, sampai membuatmu menyukai dan akan merindukannya" ucap Elea dengan senyum manisnya.


"Kalimat yang spesial dan senyum indah yang selalu terukir, itulah dirimu, Eleandra Evalyna Bellse" ucap Mela dengan senyuman.


"hmm, terima kasih" ucap Elea.


"kenapa kamu tidak memesan camilan atau minuman dulu?" tanya Mela.


"Oh iya, aku sampai lupa memesan sesuatu" kata Elea. "Pelayan...!!" panggilnya.


"Iya nona..?"


"Em, kertas menu?" tanya Elea dengan jari-jarinya yang menggambar persegi panjang seperti kertas menu di udara.


"Ini nona..." ucap pelayan itu sembari memberikan daftar menu yang ia pegang tadi.


"Ok, aku pesan 1 coklat panas dan 1 puding vanila ini" kata Elea sembari menunjuk gambar puding di menu.


"Baik, ditunggu..." ucap pelayan itu kemudian dibalas dengan senyuman oleh Elea.


"Jadi, apa topik kita hari ini?" tanya Elea.


Wajah Mela langsung berubah sedih. "Kau kenapa?" tanya Elea.


"Aku... Aku harus pindah, El" ungkap Mela.


"Ha?... Yang benar saja?... Pindah?... Kemana?... Kenapa? Kok kamu baru bilang sekarang?... Biasanya kamu cerita, kamu kenapa Mel? Kamu mau pindah kemana? Sama sia....?" tanya Elea bertubi-tubi.


"Satu per satu, ELEANDRA EVALYNA BELLSE...!!!" sela Mela kesal.


"upss... Sorry"


Lalu pelayan cafe tiba-tiba datang mengantarkan pesanan Elea. "Ini pesanannya nona..." ucap pelayan itu.


"Baik, terima kasih!" sahut Elea sembari tersenyum.


Kemudian, Elea dan Mela kembali ke perbincangan mereka tadi. Mela kini memberi tahu apa yang ingin dia sampaikan tadi.


"Aku harus pindah ke kota lain, karena kondisi keluarga ku yang tak memungkinkan. Seperti yang kau tahu, aku dan keluargaku harus mengambil antisipasi" ucap Mela.


"Kau yakin akan pindah? Kamu gak main-main kan Mel?!" tanya Elea tak yakin.


"Aku sungguh-sungguh akan pindah, El. Aku tidak bermain" ucap Mela meyakinkan.


"Ayah dan Ibuku semakin sering bertengkar, jadi Ibu memutuskan untuk tinggal terpisah dengan Ayah. Karena, jika ini terus berlanjut maka akan berpengaruh dengan masa depanku" jelas Mela.


"Tapi... Itu berarti bukan hanya kau dan Ibumu yang berpisah dengan keluargamu, tapi kita juga" ucap Elea sedih.


"Aku tau, El. Itu sebabnya aku bilang bahwa aku akan merindukanmu" Mela menunduk menahan air mata yang ingin mengalir deras.


"Melaaa..." ucap Elea yang bingung, ia juga berusaha kuat menahan air matanya. "Kenapa...?" kata Elea dengan suara lemah.


Mela masih menunduk, berusaha keras membendung air matanya. Ia tak berani menatap Elea dengan mata berkaca, Mela meletakkan telapak tangannya di dahinya. Ia merasa begitu sedih dengan keadaan.


"Aku... aku..." ucap Elea tak sampai selesai, Elea memijat dahinya frustasi. Elea merasa sangat sedih, ia tidak akan punya teman berbicara lagi. Meski masih ada Lavi dan Geya, namun Mela tetap jauh berbeda dengan mereka.


"Aku tidak tahu lagi, jika ini untuk kebaikanmu..." Elea terhenti. "Jika ini untuk kebaikanmu, maka pergilah. Ikutlah dengan Ibumu, karena aku tidak mengerti dengan keadaan keluargamu itu" sambungnya.


"El..." ucap Mela lemah.


Mela berusaha menikmati hidangan yang ia pesan tadi, namun Elea hanya bisa meminum dan memakan hidangan itu sebagai pelarian. Ia menutup mulutnya dan mengalihkan pandang. Elea bergegas menghabiskan hidangan itu, ia ingin pergi menenangkan diri.


"Aku sudah selesai, aku harus pergi. Ingatlah satu hal, kita adalah teman dan jangan lupakan aku" kata Elea.


"Dan......" Elea mengambil sesuatu di tasnya. "Ini..." Elea memberikan barang itu ke Mela, dan langsung disambut oleh Mela.


"Apa ini, El?" tanya Mela.


"Ini, jika kita tidak bersama lagi, dan mungkin suatu saat kau akan memerlukan ku, maka bukalah kotak ini. Benda ini akan membantumu menemukanku selama aku masih hidup, dan dimanapun aku berada" jelas Elea.


"Aku akan mengingatnya" kata Mela.


"Bukalah kotak itu hanya jika kau memerlukanku, dan sebelum kau pindah, jika kau memerlukan bantuanku maka jangan sungkan" ucap Elea. "Aku pergi dulu..." Elea pamit dan kemudian berlalu.


"Aku minta maaf, El" ucap Mela yang melihat kepergian Elea.


Elea pergi keluar sembari berlari kecil, lalu ia masuk ke dalam mobilnya dan menangis sesegukan. "Perpisahan memang menyakitkan, tapi rasa sakit ini lebih dari itu. Mengapa sesakit ini rasanya?" kata Elea begitu sedihnya.


"Maafkan aku, Mel" kata Elea.


"Ting...! Ting...!" ponsel Elea berdering cukup keras di sampingnya.


"Eve..." ucap Elea ketika melihat ponselnya, dan ia langsung mengusap air matanya yang sempat mengalir tadi.


"Kemana saja kau, BRENGSEK!!!" bentak Eve melalui sambungan telfon.


"Ada apa?" tanya Elea.


"Ada sedikit masalah. Datanglah ke markas segera!" perintah Eve.


"Baik, aku akan kesana" kata Elea yang langsung memutus sambungan telfon itu.


"Ada apa lagi ini?" tanya Elea pada dirinya sendiri, sembari ia menginjak pedal gas mobilnya dan roda-roda kendaraan itu melaju menuju markasnya.


Setibanya di markas Elea melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. "Aku rasa ada yang beda, tapi apa?" tanya Elea sambil melihat sekitar bingung.


"Kenapa penjagaan begitu ketat?" ucap Elea yang mulai menyadari perbedaan itu. Eleapun turun dari mobilnya, berjalan menuju pintu masik utama markas itu.


"Dari mana saja kau, dasar tengil!?" tanya Eve yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Elea.


Elea diam terpaku melihat tatapan dan sorot mata tajam milik Eve, ia merasakan aura kegelapan dan kematian bersarang di sekitarnya.


"Kenapa kau diam? Dan kau... Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa yang membuatmu menangis?" tanya Eve namun Elea masih diam tak berkutik. Ia mati ucap di hadapan Eve.


"Aku bertanya, maka jawablah!" bentak Eve. "Aku tau keadaanmu hanya dari suaramu, mengerti?! Jangan coba-coba berbohong denganku"


"Masuklah! Kita bicara di dalam saja" ajak Eve yang melihat kondisi adik sepupunya itu.


Elea tetap diam, dan hanya mengikuti Eve menuju ruang tempat mereka berdua sering berbincang. Ruang itu mengutamakan privasi, sehingga yang bisa masuk hanyalah orang-orang terpercaya.