
6 bulan berlalu, sekarang penghujung semester sudah tiba. Selama 6 bulan ini Eve terus bekerja sama dengan Nicholas. Mereka saling membantu dalam misi pemberantasan mulai dari penyelundupan senjata, obat-obatan terlarang, hingga jual beli organ manusia. Sedangkan Elea, yang ia tahu hanyalah Eve sering bertemu dengan Derry selama 6 bulan terakhir ini.
Karena ini merupakan penghujung semester, jadi siswa/i SMA Nenggala sudah mendapatkan liburan akhir tahun. Sebagian waktu liburannya dipakai Elea untuk mencari beasiswa untuk anak berprestasi, agar Elea tidak perlu pusing memikirkan biaya pengeluarannya semasa kuliah nanti. Setelah mengikuti beberapa tes, Elea berhasil mendapat beasiswa dan akan melanjutkan pendidikan berikutnya tahun depan di salah satu universitas ternama dunia yaitu “Platina International University” (PIU).
Meski berasal dari keluarga bergengsi namun Elea takut jika suatu saat terjadi masalah keungan di keluarganya, sehingga Elea berantisipasi untuk mengambil beasiswa. Ditambah kepintaran dan kcerdasan yang Elea miliki harus tetap digunakan sebaik mungkin. Semua itu Elea lakukan demi mendapat kenyamanan selama berkuliah di Universitas impiannya.
Setelah berhasil mendapat beasiswa tersebut Elea sekarang menghabiskan waktu liburannya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati hari santainya bersama Eve, Lavi, dan Geya.
“Wahh, selamat ya El. Kamu berhasil dapat beasiswa di Platina International University, kalau dibolehkan aku juga mau masuk di universitas itu” ucap Lavi.
“Tinggal mendaftar saja, kau kan juga berasal dari keluarga bergengsi” timpal Geya.
“Betul sekali! Aku juga akan masuk di universitas itu, tapi aku tidak menggunakan beasiswa” lanjut Eve.
“Yayaya, aku akan mendaftar nanti” ucap Lavi pasrah dan geram.
“Kalian ini, tidak ada habisnya” sela Elea.
“Hari terlihat mulai gelap, mungkin hujan akan turun. Kita pulang aja yok, dari pada kehujanan” kata Geya yang tidak suka basah-basahan seperti kucing.
“Ayo. Oh iya El, aku gak nginap ya” ucap Eve memberitahu Elea.
“OK, No Problem!” balas Elea.
Mereka berempat berjalan menuju mobil masing-masing dan pulang. Nick saat ini sedang berada di mansion, mencoba biliard yang baru ia beli bersama dengan Delvin dan Arkha. Mereka bertiga juga sedang menikmati liburan, meskipun terkadang harus melakukan penyergapan di malam hari, namun hal itu tidak mengganggu liburan Nick dan Arkha.
“Yang itu! Masukkan bola yang itu Nick” kata Arkha.
“Baiklahh, akan ku coba” ucap Nick. Tek... bola itu masuk tepat sasaran.
“Waw, ternyata kau tidak buruk dalam biliard Nick” ucap Delvin kagum.
“Meskipun masih berusia 20 tahun pengalamanku juga cukup banyak” kepedean tingkat dewa milik Nick sudah kambuh lagi.
“Tidak bisa dilawan Ar” ucap delvin pada Arkha.
“Tidak usah, fokus bermain saja” timpal Arkha yang kemudian mengarahkan tongkatnya dan berhasil memasukkan satu bola.
“Hebat juga ternyata” ucap Nick yang terus menerus merasa kagum di dalam batinnya.
Mereka bertiga terus bermain sampai semua bola berhasil dimasukkan. Tidak ada satu bolapun yang tersisa di atas papan.
“Permainan selesai!” ucap Arkha.
“Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa” Delvin pamit dan berlalu begitu saja dari hadapan Nick dan Arkha.
“Kau ingin pulang atau tetap di sini?” tanya Nick pada Arkha.
“Aku pulang saja. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menemani mu di mansion yang sebesar dan sesepi ini” ucap Arkha yang membuat Nick geram.
“Terserah kau saja! Sudah, pulang sana” usir Nick yang geram.
“Ya, aku pulang. Sampai jumpa” Arkha langsung pergi meninggalkan Nick.
Nick sendiri langsung pergi ke kamarnya lalu membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Nick duduk di bibir kasur dan membuka ponselnya, Nick mendapat notif dari anak buahnya.
“Tuan, menurut informasi dari tim penyusup kita, Edward memang masih melindungi Mawar Api. Edward juga sedang berusaha mencari jalan keluar untuk mengeluarkan Hary yang masih merupakan ketua dari kelompok Mawar Api” isi pesan dari anak buah Nick tersebut.
“Terus cari informasi tentang kerja sama Mawar Api dan Esdav” balas Nick.
Kemudian setelah mendapat informasi tersebut dari anak buahnya, Nick langsung menghubungi Eve dan menelfonnya. Untung saja Eve tidak sedang menginap di rumah Elea, akhir-akhir ini Eve memang jarang menginap di rumah Elea karena ia harus terus berkomunikasi dengan Nick tanpa sepengetahuan Elea.
“Halo, ada apa?” tanya Eve melalui telfon.
“Esdav memang masih menaungi kelompok Mawar Api, apa rencanamu sekarang?” ucap Nick balik bertanya.
“Dasar sial!! Kau sungguh tidak bisa bertindak tanpaku, dan hanya ingin menggunakanku saja” ucap Nick geram.
“Bisa apa aku? Kalau sudah ada yang menawarkan diri, sayang sekali jika tidak diterima”
“Terserah kau saja. Akan ku laksanakan permintaanmu itu”
“Nah, begitu lebih baik”
“Ya, kabari jika kau mendapat informasi tentang mereka” ucap Nick yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
“Dasar gadis sialan!!” ucap Nick kesal sambil membanting ponselnya ke kasur.
Memang sial komplotan Mawar Api itu. Meskipun mereka berada di bawah naungan Esdav namun tetap saja Hary ketua mereka, sudah selama enam bulan ini ia mendekap di penjara dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Edward pun tak bisa mengeluarkannya dari jeruji besi itu, Edward dibuat tak berdaya dengan keadaan akibat keberadaan Nick yang didukung oleh Eve.
Selesai bertelfonan Nick kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur, kembali teringat akan Efely. Sudah enam bulan Nick tinggal di sini tapi tak kunjung menemukan sang kawan lamanya itu, bahkan Nick tidak pernah lagi mendapatkan informasi tentang Efely, tak satupun intel miliknya mendapat informasi tentang keberadaaan Efely.
“Walau tak ada informasi, tapi kenapa aku merasa bahwa Eve juga mirip dengan Efely. Sikap dinginnya, cara bicaranya, dan gayanya mirip dengan Efely” kata Nick di dalam batinnya.
Sikap dingin Eve memang sama seperti Efely jika Efely sedang marah pada Nick, cara bicara dan gaya antara Eve dan Efely juga lumayan mirip, membuat Nick bingung siapa sebenarnya Eve ini. Secara, yang dia tahu hanyalah nama panggilan dan gelar Eve tanpa tahu nama lengkapnya.
“Tuan, makan malam sudah siap” ucap kepala pelayan dari luar kamar yang membuyarkan lamunan Nick.
“Baik, aku akan turun sebentar lagi” balas Nick.
Lelaki tampan berusia 20 tahun ini langsung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan di lantai satu mansionnya. Setiap hari Nick akan menikmati makanannya sendirian di meja makan, membuatnya merasa kesepian. Ia hanya akan memiliki teman makan bila ada Arkha atau Delvin yang berkunjung. Selesai makan, Nick langsung kembali ke kamarnya dan tidur, ia merasa sangat lelah setelah memikirkan Efely.
Elea yang juga baru selesai makan malam hanya duduk di pinggir kasur sambil membaca novel romansanya, Elea yang baru saja mendapat beasiswa merasa tenang dengan urusan perkuliahannya. Ucapan selamat terus membanjiri ponselnya, hampir setiap menitnya selalu ada yang mengirimi Elea pesan. Sedari pagi ponsel Elea terus mendapat notifikasi tentang ucapan selamat itu, bahkan ia sampai mengaktifkan mode hening karena banyaknya notifikasi yang masuk.
“Novel ini sungguh menarik. Aku harap ini bukan sad ending” ucap Elea.
“Andai kisah hidupku semenarik ini. Menikah dengan seorang pria tampan, kaya, dan hebat. Kapan ya aku akan menemukan pangeran berjubah seperti itu” halu Elea.
“Elea sayang” panggil Ibunya dari balik pintu kamar.
“Ya Bu?” Elea langsung tersadar dari lamunannya. “Masuk saja, tidak ku kunci” sambungnya.
Ibunya Elea langsung membuka pintu masuk ke dalam kamar putri semata wayangnya itu, dan duduk di samping Elea.
“Ada apa Bu?” tanya Elea.
“Kapan kau akan masuk sekolah lagi?”
“Tiga hari lagi” jawab Elea.
“Sebentar lagi ya”
“Iya Bu, memangnya ada apa?”
“Tidak, kau hanya akan bersekolah selama 3 bulan kan pada semester 2 ini?” tanya Ibunya.
“Iya Bu, kurang lebih 3 bulan” jawab Elea.
“Saat kau libur panjang nanti ikutlah bekerja di perusahaan ayahmu” ucap Ibunya.
“Baik Bu, aku akan ikut ayah” Elea patuh.
“Sekarang istirahatlah, sudah malam” perintah Ibunya Elea.
“Baik Bu, selamat malam”
“Malam sayang” Ibu Elea mencium kening anaknya dan keluar dari kamar putrinya itu.