Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 27 - De Thevil



Nick baru saja bangun tidur, namun ia sudah mendapat ratusan pesan bertuliskan “pangggilan tidak terjawab”. Siapa yang menelfon Nick sepagi ini? siapa lagi orangnya kalau bukan Arkha yang tidak tahu jam. Ia hanya bisa diam saat jam makan, jika hanya jam istirahat maka ia akan berevolusi menjadi devil tak bernurani. Apapun dia lakukan demi menghubungi orang penting, walau harus mengganggu orang tersebut secara terang-terangan.


Nick menelfon balik Arkha, ia penasaran hal penting apa yang membuat Arkha menelfonnya sampai sebanyak ini. Tentu itu adalah hal yang tidak biasa, namun berhubungan erat dengan dunia gelapnya. Arkha langsung marah-marah pada Nick atas kecerobohannya yang mengabaikan telfon dari Arkha, hanya karena istirahat Nick yang Arkha anggap berlebih.


“Dasar Brengsek! Kau mengabaikan telfonku. Kau ini kemana saja, hah? Tidur seperti orang mati” Arkha mulai mengomel.


“Hm, ada apa?” tanya Nick dengan suara serak-serak khas bangun tidur.


“Gadis brengsek itu memberiku informasi besar. Ia bilang bahwa beberapa hari lalu, saat kita berusaha menggagalkan transaksi gelap milik de thevil (DT (the devil)) anak buahnya juga masuk ke sana dan menembus pertahanan milik gadis itu” ungkap Arkha memberitahu.


“Ya, tentu saja, itu hal biasa. Bahkan pasukan kita sulit menghadapinya” balas Nick.


“Tapi bukan itu inti permasalahannya”


“Lalu apa?”


“Masalahnya, apa yang mereka inginkan dari kita?” tanya Arkha heran.


“Iya, aku juga bingung. Kenapa kau tidak coba hubungi gadis brengsek itu dan korek informasi ini lebih dalam lagi” sahut Nick.


“Sudah ku coba, namun yang ku dapati hanya sebuah untaian kertas dengan lilitan benang yang mengikatnya” jawab Arkha.


“Tunggu, apa yang kau maksud? Itu nyata atau hanya kiasan?” tanya Nick dengan ekspresi kaget yang sulit untuk digambarkan.


“Itu nyata, kiriman dari pihak lawan melalui Fevel team” jelas Arkha.


“Temui aku di mansion sekarang” perintah Nick yang langsung Arkha laksanakan.


Setelah mematikan telfon Arkha langsung mengambil kunci mobil, ia menginjak pedal gas mobilnya agar melesat cepat menuju mansion milik Nick. sedangkan Nick, ia langsung mengambil handuk dan pergi mandi lalu turun untuk sarapan.


Saat Nick sedang berada di meja makan, Arkha pun sampai. Mereka sarapan bersama lalu pergi ke ruang kerja milik Nick untuk berbincang. Arkha juga membawa kertas berlilitkan benang yang diberikan oleh pihak lawan melalui kelompok Fevel. Nick memerhatikan dengan jeli setiap sudut barang yang ada di tangannya itu.


“Ada apa? Apa makna benda ini, sampai-sampai kau kaget dan menyuruhku datang kemari secara tiba-tiba?” tanya Arkha yang masih bingung.


“Ini sebuah kode milik sebuah kelompok” jawab Nick tanpa mengalihkan pandangannya dari barang itu.


“Kode? Lalu apa arti kode itu?” Arkha terus bertanya.


“Selembar kertas coklat ini berarti akan ada seseorang dari kalangan seperti kita yang sebenarnya adalah orang baik. Dan lilitan benang ini merupakan sesuatu yang mengikat keadaan” jelas Nick yang masih bingung dengan maksud musuh yang mengirimkan hal itu.


“Aku tidak mengerti” ucap Arkha.


Nick berpikir sejenak, kemudian ia memicingkan matanya memberi sorot mata tajam, saat ia mulai mengingat wajah musuhnya. Nick mengerti apa yang akan musuhnya lakukan, tapi itu bukan padanya, pada orang lain yang mungkin jauh lebih berharga.


“Mereka ini bajingan macam apa? Maksud mereka mengirim barang ini adalah untuk memberitahu kita, bahwa suatu saat mereka akan menyekap seseorang yang terkotori karena dekat dengan orang seperti kita. Sama seperti benang ini melilit kertas, seperti itu juga orang itu akan diikat dan disiksa oleh rajutan benang yang lebih besar” jelas Nick.


“Ternyata bukan hanya nama, tetapi tindakan mereka juga seperti iblis” ucap Arkha kesal.


“Bukan seperti iblis, mereka memang iblis” timpal Nick.


“Ya, kau benar juga” sahut Arkha.


“Selain ini kau punya informasi apa?” tanya Nick.


“Tidak ada yang spesial, tapi Delvin ingin bertemu denganmu”


“Kapan?”


“Dia bahkan tidak tahu, dan meminta agar kau saja yang menentukan”


“Baiklah, besok di restoran Tradisi pada jam makan siang” ucap Nick.


“Baik, aku akan beritahu Delvin nanti” sahut Arkha.


Tiba-tiba saja ponsel Arkha berdering. Ternyata itu adalah talfon dari Delvin yang ingin bertemu dengan Nick sesegera mungkin. Entah hal penting apa yang Delvin temukan hingga membuatnya buru-buru ingin mengabari Nick.


“Halo?” ucap Arkha.


“Apa kau sudah katakan pada Nick kalau aku ingin bertemu?” sahut Delvin.


“Sudah, katanya temui dia besok di restoran Tradisi pada jam makan siang”


“Baik, kirim lokasinya”


“Akan ku kirim nanti”


“Apa kau bisa ikut bersama Nick besok?” tanya Delvin.


“Mungkin bisa” sahut Arkha.


“Baguslah, aku tutup dulu. Aku masih punya banyak urusan” ucap Delvin yang kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.


“Pak...” panggil salah seorang anak buahnya.


“Iya...?” jawab Arkha yang langsung berbalik menghadap sumber suara.


“Ada tamu jauh” ucap anak buah itu memberitahu.


“Tamu? Siapa?” tanya Arkha heran.


“Seorang perempuan, Pak. Tidak ada satupun dari kami yang mengenalnya”


“Baiklah, suruh dia tunggu sebentar, aku akan kesana”


Arkha pergi menemui tamu perempuan yang datang secara tiba-tiba itu. Saat ia melihat perempuan itu, ia begitu kaget. Ternyata perempuan yang bertamu itu adalah ketua Fevel, Eve.


“Kau tidak mau duduk?” tanya Eve pada Arkha yang masih kaget dengan kehadirannya.


“Kenapa kau kemari?” tanya Arkha dengan kasarnya.


“Santai saja, kau biasanya tak pernah marah-marah seperti ini” sahut Eve.


Arkha menarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia berusaha untuk tenang dan duduk berhadapan dengan Eve. “Apa yang kau inginkan?” tanya Arkha dingin.


“Aku hanya ingin berbagi informasi” jawab Eve dengan dingin pula.


“Tentang apa?” Arkha mulai penasaran.


“Tentang De Thevil” ucap Eve dengan santai namun dingin.


Mata Arkha melotot mendengar nama De Thevil. “Iblis dunia gelap itu mau apa?” tanya Arkha geram.


“Santai saja. Mereka hanya ingin kau dan Nicholas untuk tidak menganggu pekerjaan mereka”


“Apa maksud mu?”


“Memangnya apa lagi yang mereka incar jika bukan kebebasan?”


“Mana bisa begitu, keadilan tetap keadilan. Kalau mereka berbuat jahat, mereka harus dihukum atas kejahatan itu” tegas Arkha.


“Itu urusan kalian, aku hanya akan membantu. Bukan sebagai penyerang utama” Eve berkata dengan penegasan, kemudian ia langsung berdiri dan pergi tanpa pamit.


“Apa maksudnya semua ini? Aku rasa aku harus memberitahu Nick besok” ucap Arkha dalam batinnya.