Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 33 - Penyebab Kecelakaan



Di ruang itu Eve masih membentak Elea dan bertanya tentang apa yang terjadi, sebab tak biasanya Elea bersikap seperti ini. Eve berusaha keras membujuk adik sepupunya untuk menceritakan semua kejadian yang menimpanya sehingga ia bersikap seperti itu, namun semua itu tak berguna. Elea tetap diam dan membuat Eve mati ucap.


"Aku tidak tahu harus bertanya dengan cara seperti apa lagi. Aku menyerah, El." ucap Eve sambil memijat kepalanya tak sakit.


"Kau ini kenapa? Kalau kau tak bicara maka aku tak mengerti. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi, tapi aku bukan peramal yang bisa menerawang setiap kejadian dengan cara mistis" sambung Eve yang kemudian berhenti sejenak, mulai pasrah.


"Kau tahu kan? Aku selalu mendengar setiap cerita, suka, dukamu, tapi kenapa hari ini kau sangat sepi. Tidak ada kisah hanya ada ekspresi sedih yang menghiasi. Aku ini sehebat apa sampai bisa tahu semua kejadian yang kau alami, HAH?!" Eve meninggikan nadanya kesal, namun suaranya lemah karena lelah dan pasrah.


"Apa menurutmu seorang keluarga akan menghancurkan keluarganya sendiri?" ucap Elea tiba-tiba.


Eve kaget, dan diam sejenak. "Ada apa?" tanya Eve dengan tatapan dingin yang lemparkan pada Elea.


"Mela akan pindah ke daerah lain" jawab Elea dengan pandangan kosong sedihnya.


"Penyebabnya?" tanya Eve.


"Keluarga..... Penyebabnya adalah keluarganya sendiri, kondisi keluarganya yang berantakan. Hal itu menghancurkan posisi hidup seseorang... Mela" kata Elea jelas.


"Kenapa tak kau katakan dari tadi? Kita tak perlu membuang banyak waktu jika seperti itu" ucap Eve.


"Aku bimbang, aku tak tahu harus apa, bagaimana? Aku sedih, tapi tak tahu harus berbuat apa?" ucap Elea.


"Huh! Jujur saja, aku juga tak bisa membantu. Tapi, jika memang dia harus pergi, maka itu adalah jalan terbaik dalam hidupnya. Lupakan saja, pertemanan kalian tidak akan berubah" ucap Eve dengan senyuman.


Elea mangangguk dan berusaha menenangkan dirinya. Dia mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan ekspresi sedihnya walau itu terasa sangat sulit.


"Jadi..." Elea terhenti sejenak. "Em, kenapa kau memanggil ku kemari?" tanyanya.


"Ohh, aku sampai lupa. Itu karena dirimu" ucap Eve kesal.


"Em, maaf"


"Sudahlah. Jadi aku memanggil mu kemari untuk memberitahu tentang kronologi kejadian tadi" ungkap Eve.


"Kejadian apa?" tanya Elea yang bingung.


"Kecelakaan yang membuat kemacetan tadi" jelas Eve.


"Ohh, ya ampun, aku sampai lupa dengan kecelakaan tadi" kata Elea. "Jadi, apa yang salah dengan kecelakaan tadi?" tanyanya.


"Kau pasti sudah tahu siapa orang pertama yang terlibat" kata Eve.


"De Thevil?"


"Ya, dan mobil lainnya adalah Vel **" sambung Eve.


***Vel ** adalah salah satu kelompok mafia kecil, ia beroperasi di bawah kendali Evellie. Vel ** adalah Fevel Junior, itu sebabnya ia dipegang oleh Eve. Kelompok mafia satu ini merupakan intel kecil namun hebat, tugasnya adalah membantu tim Fevel utama untuk menyelesaikan kasus.***


"Vel Junior? Kau serius?" tanya Elea kaget.


"Iya, itu sebabnya aku tahu dengan cepat mengenai kejadian itu. Dan itu juga alasan kenapa aku mencari tahu lebih dalam mengenai kecelakaan itu" jelas Eve.


"Tapi... Aku sama sekali tidak melihat tanda kepemilikan Vel ** di mobil itu" ungkap Elea heran.


"Kau ini! Itu adalah mobil intel Vel **, kalau mobil itu ada tanda kepemilikannya bagaimana dia bisa beroperasi?" ucap Eve agak kesal.


"Upss... Maaf, aku kan tidak tahu" canda Elea. "Lalu, ada hal lain apa mengenai kecelakaan tadi?" sambung Elea.


"Aku curiga tim De Thevil mengetahui bahwa itu adalah mobil intel Vel **, jadi mereka mengejarnya, namun sayang mereka gagal dan malah berakibat kecelakaan" Eve menjelaskan opininya.


"Nahas sekali. Lalu bagaimana dengan korban kecelakaan itu?" tanya Elea.


"HAARGHH! EVELLIEEE...!!! JANTUNG KU RASANYA INGIN COPOT" protes Elea yang kesal karena kaget.


"Em, maaf. Jadi, di dalam mobil yang dipakai tim Vel ** seharusnya ada tiga orang, namun saat dilakukan evakuasi dan pengecekan lebih lanjut, hanya ada dua jasad yang ditemukan dalam mobil itu. Dan dari mobil De Thevil, ditemukan juga tiga jasad. Kami tidak tahu apa itu jumlah sebenarnya atau masih ada orang lagi dari De Thevil" kata Eve panjang lebar.


"Jika memang ada orang lagi..... Itu berarti hanya ada dua kemungkinan, yang pertama, mereka sudah terbunuh duluan dan dibuang. Dan yang kedua, mereka sudah berada di markas De Thevil" ucap Elea.


"Itu bisa saja. Hm, bagaimana bisa aku tidak memikirkan dua kemungkinan itu" timpal Eve.


"Itu sebabnya kau memerlukanku" sombong Elea dengan senyum angkuhnya namun tetap manis.


"Baiklah, terserah kau saja. Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Eve meminta saran dari adik sepupunya yang pintar itu.


"Kau pikirkan saja. Kau kan hebat" cibir Elea. "Aku mau mencari makan" ucap Elea yang langsung berdiri ingin pergi.


"Dasar anak nakal! Kau mau kemana?" tanya Eve kesal.


"Aku ingin mencari makan!" balas Elea dengan kesal pula.


"Huh! Dasar! Pergi saja sana. Kembali setelah kau kenyang agar tidak merepotkanku nanti" ucap Eve dengan gaya jengkelnya.


"Apa di dapur ada makanan?" tanya Elea dengan mata berbinarnya.


"Ada, kau cari sendiri sana" sahut Eve dengan wajah datarnya yang masih terlihat sedikit kesal.


Melihat sikap Eve membuat Elea tersenyam-senyum, ia bahkan tertawa geli dengan suara kecil kalau mengingat tingkah kesal kakak sepupunya itu. Ia sangat senang jika bisa mengerjai kakak sepupunya itu, permainan mereka seakan tak ada habisnya.


***markas Fevel. Pukul 16.07***


"Ceklek...."


"Aaa..! Ish kau ini, mengagetkanku saja. Lain kali ketuk dulu pintunya sebelum kau masuk" ucap Eve yang masih agak kesal.


"Em, maafkan aku" ucap Elea yang masih tersenyam-senyum. "Lagipula membuatmu kesal adalah hal yang menyenangkan" ucap Elea dengan senyum manisnya, membuat Eve langsung melempar tatap tajam ke arahnya.


"APA?!" tanya Elea sambil membalas tatapan Eve dan sedikit menyipitkan matanya.


"Dasar bajingan!" kesal Eve, membuat Elea tertawa kecil.


"Kalau aku di sini terus, sepertinya aku bisa kena sumpah yang aneh-aneh. Alangkah baiknya jika aku pergi saja" ucap Elea yang berdiri perlahan.


"Pergi, ku bunuh kau!" ucap Eve spontan.


"Ya ampun, galak sekali" ejek Elea.


"Diamlah, duduk saja dengan tenang. Aku masih memerlukan mu untuk tahap penyelidikan" ucap Eve tiba-tiba.


Elea yang tadi sedang meminum air, langsung menyemburkan seluruh air yang ada di dalam mulutnya.


"PENYELIDIKAN?!!" kaget Elea.


"Apa ini? Kau memandikan semua barang-barangku" protes Eve.


"Itu salahmu" ucap Elea sambil mengacungkan jari telunjuknya, dan mengarahkannya pada Eve.


"Huwaaa! Gadis nakal! Dasar kau bajingan! Berandalan...." Eve mulai mengeluarkan sumpah serapahnya, tanda ia tengah meluapkan kekesalannya pada Elea.


"Awas saja kau! Eleandra Evalyna Bellse" maki Eve.


"Situasi di luar kendali, lebih baik aku pergi. Sampai jumpa Eve ku sayang" ucap Elea yang langsung kabur begitu saja.