Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 25 - Bertemu Alvi



Sementara di sisi lain ini, Elea malah bertemu dengan salah seorang personil militer yang saling mengenal dengannya. Ya tentu saja, mereka kan adalah teman sedari lama, sudah tentu mereka saling mengenal satu sama lain.


“Nona Eleaa...!” sapa salah seorang militer yang bernama Alvi tersebut.


Elea menoleh ke sumber suara itu. “A-Al... kamu? Alvi kan?” ucap Elea kaget.


“Iya nona. Aku Alvi, senang bisa bertemu denganmu, nona..” kata Alvi dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.


“Senang bertemu denganmu juga, apa kabar?” tanya Elea.


“Aku baik, nona sendiri?”


“Aku juga baik, bahkan sangat baik”


“Keterampilan nona sudah semakin meningkat jauh, jika tuan muda ada di sini pasti ia akan sangat bangga pada nona” ucap Alvi dengan senyumnya yang agak sedih.


“Tak usah flashback pada masa lalu itu. Yang telah berlalu biarlah berlalu, sekarang kita pikirkan saja tentang apa yang akan terjadi ke depan nanti” sahut Elea.


“HEM!” ucap Alvi sembari menganggukkan kepalanya patuh.


Satu per satu orang yang tadi dievakuasi kembali ke ruang pesta tersebut, termasuk juga Luis dan orang tuanya. Luis melihat Elea begitu dekat dengan Alvi, membuatnya merasa begitu cemburu, karena calon istrinya itu dekat dengan lelaki lain. Padahal pernikahan keduanya ingin dibatalkan, namun Luis belum tahu tentang hal itu. Semakin lama rasa cemburu itu semakin membara, Luis yang sudah tidak tahan langsung menghampiri Elea dan Alvi, kemudian ia menarik kerah baju Alvi.


“Jangan kau berani mendekati ceweku!” ucap Luis penuh amarah.


Alvi adalah seorang militer, jika dibandingkan dengannya Luis bukanlah apa-apa. Alvi hanya diam dan membiarkan Luis memberontak.


“Hei?! Apa yang kau lakukan?” tanya Elea yang kesal melihat kelakuan Luis yang masih seperti anak-anak tersebut.


“Kalau kau berani dekati ceweku lagi, akan ku buat kau sengsara” bisik Luis penuh amarah.


“LUIS! HENTIKANNN...!” Elea berusaha untuk melepaskan tangan Luis yang menggenggam erat kerah baju Alvi. Kemudian Luis menepis tangannya kasar, kelakuan Luis ini disaksikan oleh para tamu yang masih hadir di pesta malam ini.


“Kenapa dengan kau ini?” tanya Elea heran.


“Dia mendekatimu, bagaimana aku tak marah?” sahut Luis dengan santainya namun penuh dengan amarah.


“Memang apa salahnya jika dia mendekatiku?” tanya Elea begitu kesal.


“Kau itu calon istriku. Apa kata orang jika Elea, calon Nyonya Luis Bettson dekat dengan lelaki lain?” ucap Luis dengan nada tinggi.


“Dan apa kata orang jika Tuan Luis Bettson memaki-maki lelaki yang merupakan sahabat dekat sekaligus kakak angkat seorang Eleandra, hal tersebut juga terjadi hanya karena lelaki itu dekat dengan Elea?” jawab Elea dengan nada tinggi tegas yang berhasil membuat Luis mati ucap.


“Kakak angkat?” ucap Luis yang kaget dalam batinnya.


“Apa benar nona El adalah calon istri lelaki ini?.. benar ataupun tidak, lebih baik aku pergi saja dan jangan mengganggu mereka” ucap batin Alvi.


“Nona El, sebaiknya aku pergi dulu” kata Alvi.


“Kau mau kemana? Setidaknya makanlah dulu” pinta Elea.


“Tidak usah, aku juga masih punya pekerjaan lain” sahut Alvi dengan senyuman.


“Em, baiklah. Aku tidak bisa memaksa kalau begitu”


“Aku permisi dulu nona, tuan...” pamit Alvi pada Elea dan Luis, kemudian ia berjalan menuju pintu keluar dan tersenyum pada orang tua Elea dan Eve.


Ketegangan mereda, pesta malam ini dilanjutkan dengan pengamanan yang jauh lebih ketat lagi. Beberapa tamu mulai pulang, dan berganti shift dengan tamu yang baru datang. Acara perayaan wisuda Elea ini diadakan dengan sangat meriah, begitu banyak orang dari strata sosial bergengsi yang menghadiri acara ini. Tak terkecuali dua orang sahabatnya, Geya dan Lavi yang juga diundang untuk datang ke acara ini.


Lavi dan Geya datang pada malam hari dengan membawa seluruh anggota keluarga mereka yang bisa ikut, termasuk adik laki-laki Lavi, Alfan Aksa Jedzler. Alfan baru saja ulang tahun untuk usianya yang baru mencapai 15 tahun, ia merupakan lelaki yang tampan dan keren. Meski menjadi idola para wanita di sekolahnya, namun sikap dan sifat Alfan sama saja seperti Lavi, yaitu berandalan.


“Kak Lavi... Ibu memanggil mu” ucap Alfan saat Lavi dan tiga sahabatnya sedang duduk santai bersama.


“Baik, aku akan kesana” sahut Lavi sembari bangkit dari tempat ia duduk dan langsung berjalan untuk menghampiri Ibunya.


Alfan yang ingin pergi juga langsung dicegat. “Eh, Alfan. Kau mau kemana?” panggil Elea.


“Em, aku mau melihat-lihat”


“Tidak usah pergi, duduk di sini saja bersama kami” ucap Elea.


“Iya, aku ingin bertanya beberapa hal juga padamu” sambung Eve.


“Ohh, OK” Alfan langsung duduk di salah satu kursi kosong di dekat tiga orang sahabat kakaknya itu.


“Al, apa kau mengenal Luis Bettson?” tanya Eve.


“Iya, benar” sahut Eve.


“Iya aku mengenalnya, ada apa memangnya?”


“Beri tahu kami apa yang kamu ketahui tentang Luis itu!” pinta Eve.


“Sejauh yang ku tahu, dia adalah salah satu anak dari keluarga kaya dan berkelas dunia. Ayahnya punya banyak perusahaan yang tersebar di beberapa negara maju di dunia, seperti Amerika, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara di Eropa” jelas Alfan.


“Ya ampun, keluarganya kaya sekali” ucap Geya kaget dengan gaya lebaynya.


“Sepertinya kau kalah dengan Luis itu, Geya” ejek Eve.


“Biarkan saja” sahut Geya tak peduli.


Alfan bergeleng kepala melihat sikap para sahabat kakaknya itu. “Tapi jauh berbanding terbalik dengan Ayahnya yang hebat dan kuat, Luis malah lebih lemah dan tak begitu pandai bertarung. Luis itu tidak lulus kuliah dengan nilai terbaiknya, melainkan dengan harta kekayaan keluarganya” Ungkap Alfan.


“Apa?!!... Aku pikir dia memang lebih berbakat dalam bidang akademik” tutur Elea kaget.


“Em, tidak! Kak El sungguh jauh lebih hebat dari pada Luis” puji Alfan.


“Kau berlebihan” ucap Elea pada Alfan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


“Tapi memang itu benar adanya. Lagi pula, jika Kak El menikah dengan Luis itu maka sejarah umat manusia di dunia akan berubah 100%” ucap Alfan yang bermaksud mengejek Luis.


“Berubah? Kenapa?” tanya Geya yang tidak mengerti.


“DORRR!!” teriak Lavi tiba-tiba yang membuat teman termasuk adiknya sendiri kaget setengah mati.


“LAVIIII...!!!” kesal Geya.


Lavi tertawa puas melihat ketiga teman dan juga adiknya yang kaget, sedangkan mereka hanya mengelus dada saking kagetnya dibuat Lavi.


“Kalian sedang membahas apa sih? Sepertinya serius sekali” tanya Lavi setelah selesai tertawa.


“Kepo loo” sambar Eve penuh kekesalan.


“Dihh, galak banget sih” cibir Lavi.


“Sudah! Kalian mau aku lanjut bercerita atau mau berkelahi?” sela Alfan.


“Cerita?” bingung Lavi.


“Stt.. lanjutkan ceritamu” ucap Geya.


“Luis itu anak manja, dia tidak bisa bertarung. Kalau Kak El sampai nikah sama Luis, itu berarti Kak El akan menjadi bodyguard utama Luis, bukan sebaliknya. Maka dari itu sejarah dan peraturan dunia ini akan berubah” jelas Alfan menjawab pertanyaan Geya.


“Yang seperti itu tidak ada dalam list Elea, benar kan El?” ejek Geya.


“Tentu saja benar” timpal Lavi spontan. “Elea... Jadi mimpi mu ituuu...” ucap Lavi yang terhenti.


“Jadi mimpi ku kenapa?” tanya Elea bingung.


“Memang menikah dengan mafia kaya raya yang bisa menjaga mu?” sambung Lavi.


“Haiss.. Kalian ini membuat ku berubah saja” kesal Elea.


“Kenapa?” tanya Eve, Lavi, Geya, dan Alfan serempak.


“Kalau dibahas terus aku bisa benar-benar bermimpi untuk menikah dengan mafia nanti” ucap Elea sembari sedikit memanyunkan bibirnya.


Mereka semua tertawa kecuali Elea yang masih bimbang di dalam hatinya, tentang keadaan dunia yang akan ia hadapi nanti. Ditambah ia mulai terbayang untuk menikah dengan seorang mafia kaya raya dan tampan.


Ibunya Eve datang dan memanggil mereka untuk makan. Mereka berempat pergi makan bersama dengan keluarga mereka. Tak lama setelah selesai makan, keluarga Geya dan Lavi pamit untuk pulang karena hari sudah larut malam. Elea dan Eve juga pulang tak lama setelah Lavi dan Geya pulang.


Selesai berganti baju, Elea pergi ke balkon kamarnya dan memeriksa kaktus miliknya. Elea menyiram kaktus kecil itu sedikit demi sedikit dengan air pupuk agar kaktusnya tumbuh subur. Kemudian Elea menatap betapa indahnya langit malam yang bertabur ribuan bintang dengan cahaya kerlap-kerlip yang begitu memukau.


“Haruskah aku menikah dengan seorang mafia?” lisan Elea berucap bimbang.


“Jika aku tidak menikah dengan mafia, apa yang akan terjadi? Aku bisa menikahi seorang mafia demi menghadapi kehidupan yang seperti itu nantinya”


Elea menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya bersama dengan seluruh kekesalan, amarah, keraguan, dan kesedihannya. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar, kembali memutar drama favoritnya dan maraton hingga ia tertidur dengan lelapnya.