Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 24 - Pengacau



Malam pun tiba, Elea dan Eve pergi mengganti gaun dan kemudian pergi menemui Ibu mereka, karena asik bercerita mereka tak memerhatikan bahwa kedua Ibu mereka sedang duduk berbincang dengan keluarga Luis.


“Haiii.. Elea” ucap Ibunya Luis yang melihat kehadiran Elea. “Selamat ya El, tante bangga padamu” kata Ibunya Luis dengan girang.


Elea dan Eve kaget begitu melihat bahwa kedua Ibu mereka ini sedang duduk berbincang dengan keluarga Luis. “Ohh, hai tante” sapa Elea dengan gugup.


Eve yang teringat masalah perjodohan Elea dan Luis, langsung menyenggol lengan Elea, memberi kode sembari tertawa kecil mengejek Elea. “Hai om, tante, Luis..” sapa Eve sambil tersenyum lebar penuh ejekan pada adik sepupunya itu.


“Hai Eve” sahut Luis spontan dan hanya dibalas dengan senyuman ramah oleh Eve.


“Em, duduklah. Jangan berdiri terus, nanti kalian lelah” ucap Ibunya Luis.


“Aku rasa kau ini bukan Eve, tapi iblis pengacau” bisik Elea dengan begitu kesalnya.


Eve hanya tersenyum mendengar pernyataan Elea. “Nikmatilah kebersamaanmu dengan keluarga calon suami mu itu” ejek Eve yang kemudian mengalihkan pandangannya pada keluarga Luis.


“Ada apa?” tanya Ibunya Luis.


“Tidak apa-apa tante, Elea hanya memberitahuku bahwa dia gugup” jawab Eve mengejek yang langsung mendapat sebuah cubitan kecil dari Elea. “Aaaa..” rintih Eve.


“Kenapa?” tanya Ibunya Eve.


“Tak apa Bund, hanya saja sepertinya ada seekor semut yang menggigitku” jawab Eve.


“Eve, bisakah kau menemaniku ke suatu tempat?” tanya Elea.


“Kau mau kemana?”


“Mencari Ayah”


“Ohh, ayoo..”


“Em. Elea, Eve maukah kalian mengajak Luis untuk ikut bersama kalian?” tanya Ibunya Luis.


“Ohh, tentu. Mari Luis!” jawab Eve, membuat Luis tersenyum penuh kemenangan.


“Aku juga ingin pergi, aku akan menemui beberapa temanku yang hadir di sini” ucap Ayahnya Luis.


“Baiklah” jawab Ibunya Luis singkat.


Elea pergi bersama Eve dan Luis, Elea terus membuang pandangnya ke arah para hadirin demi menghindari dirinya bertatapan dengan Luis. Namun, secara tiba-tiba Eve menarik Elea dan menempatkannya di samping Luis, membuat Luis dan Elea kaget secara bersamaan namun keduanya hanya diam tak berkutik. Sedang Luis meski dia diam tapi dalam batinnya merasa begitu senang.


“Kalian harusnya jalan bersampingan seperti ini” ucap Eve sambil menaik turunkan alisnya, memberi kode ejekan pada Elea.


“Aku harus ke toilet” sela Elea kemudian ia berlari menuju toilet.


Saat Elea ingin kembali menemui Eve dan Luis, ia melihat Ibunya sedang berbicara serius dengan Ibunya Luis di hadapan Ibunya Eve. Elea langsung menghentikan langkahnya, berusaha menguping pembicaraan Ibunya itu.


“Maafkan aku Bu, tapi El tidak bisa menikah dengan Luis saat ini” ungkap Ibunya Elea, membuat Elea tersenyum namun hatinya merasa tidak nyaman.


“Ada apa? Memangnya kenapa mereka tidak bisa menikah saat ini? Ku lihat mereka adalah pasangan yang serasi” bantah Ibunya Luis.


“Hih, serasi apanya? Menjijikkan” ucap Elea dalam batinnya yang kesal.


“Iya, tapi Elea belum ingin menikah. Saya takut jika salah satu pihak tidak bisa menerima ini, malah membuat masa depan mereka berantakan” sahut Ibunya Elea. “Elea juga mengatakan ia takut jika ia menjalankan rumah tangga sambil kuliah, maka salah satu dari itu akan terganggu karena ia belum cukup dewasa dalam pembagian waktu” sambungnya.


“Elea benar juga, lebih baik tidak usah lanjutkan perjodohan ini. Aku takut jika itu akan berpengaruh pada kehidupan mereka yang akan datang” sahut Ibunya Eve.


“Jika memang itu masalahnya, maka Elea tidak perlu melanjutkan kuliahnya. Luis bisa kok membiayai dirinya” tutur Ibunya Luis penuh penegasan.


Ibunya Elea dan Eve kaget bukan kepalang mendengar pernyataan Ibunya Luis.


“Tidak bisa seperti itu dong Bu, Elea kan sudah mendapat beasiswa untuk kuliah. Sayang jika beasiswanya ditolak” bantah Ibunya Eve yang tidak terima.


“Biar saja, itu hanya beasiswa. Beasiswa itu takkan membiayainya seumur hidup” bantah Ibunya Luis.


“Tapi bu...” sela Ibunya Elea yang terhenti.


“Saya tidak mau tahu, mereka berdua harus menikah, titik” tegas Ibunya Luis.


“Tidak bisa begitu, Elea harus punya masa depan. Jika ia menjalankan rumah tangganya seperti ini bukan tidak mungkin jika masalah membuat rumah tangga mereka nanti hancur. Siapa yang akan menanggung kehancuran anakku jika itu terjadi. Jika kau terus memaksa aku juga bisa membuatmu tersiksa, dan merasakan apa yang Elea rasakan” balas Ibunya Eve panjang lebar demi membela keponakan tersayangnya itu.


DOORRR... Belum selesai para Ibu ini berbincang, tembakan sudah terjadi secara tiba-tiba, seluruh hadirin kaget dan lari berhamburan. Eve yang mendengar suara tembakan itu langsung mencari sumber suara itu, ia melihat sekitar dengan liar, mencari keberadaan Elea dan mengabaikan kehadiran Luis.


“Eve!” panggil Elea.


“Aku tidak tahu pasti” jawab Elea.


Kemudian Eve kembali mencari penembak itu dengan kedua netra liarnya. Eve melihat tanda-tanda pergerakan dari para pengacau itu, dengan sigap ia mengeluarkan senjatanya secara sembunyi-sembunyi dan menembak tanpa sepengetahuan orang di sekitarnya. Bahkan setelah menarik pelatuk senjata, tak ada suara apapun yang keluar sebab Eve menggunakan senjata yang tidak akan mengeluarkan suara tembakan.


Semakin lama para pengacau ini semakin membabi buta, mereka terus menembak tanpa arah, mereka tak memiliki sasaran dan hanya membuang-buang peluru. Eve dan Elea tak bisa tinggal diam, Eve memerintahkan seluruh anak buahnya yang berjaga untuk mengevakuasi para tamu dan membantu mengatasi serangan lawan ini. Sementara Elea, demi menyembunyikan identitasnya dan Eve, ia langsung menelpon pihak kepolisian agar mereka yang berurusan dengan para pengacau ini.


“Kau atasi Luis dan keluarganya, aku akan mengecoh mereka” bisik Eve pada Elea dengan posisinya yang sudah siap menyerang dan menerima serangan.


“Baik, kau berhati-hatilah!” ucap Elea.


Eve mengangguk kemudian ia pergi untuk memberantas para pengacau ini, sedangkan Elea ia harus menjadi aktris tanpa bayaran demi memanipulasi Luis dan orang tuanya sendiri. Elea mulai berpura-pura takut dengan kondisi ini, ia mengajak keluarga Luis dan keluarganya untuk menjauh dari area ini.


“Aku berhasil membawa mereka keluar” ucap Elea melalui headset bluetooth yang menghubungkannya dengan Eve.


“Bagus, sekarang bantu aku mengatasi orang-orang bodoh ini!” sahut Eve.


“Aku akan tiba di sana dalam beberapa menit” kata Elea.


Elea pergi meninggalkan semua orang secara sembunyi-sembunyi, beruntungnya semua orang itu sudah berhasil di evakuasi. Elea kembali menemui Eve untuk membantunya, Eve masih bermain dengan senang, ia merasa seperti kembali ke masa kanak-kanaknya dimana ia hanya bermain dengan orang-orang seperti lawannya ini sebagai lego musuh.


“Apa hanya kalian yang ada di sini?” tanya Eve dengan senyum miringnya.


“Eve..!!” teriak Elea sambil berlari.


Eve melihat ada seorang penembak yang mengarahkan senjatanya ke arah Elea, lalu ia langsung menembak tangan orang itu agar Elea tidak tertembak. Elea yang berhasil lolos dari serangan lawan langsung berlari dan kemudian melakukan roll depan untuk menghindari serangan lainnya. Kini kedua gadis itu sedang beradu punggung dan saling membelakangi, mereka meletakkan senjata di depan dada siap untuk menembak.


“Jumlah mereka ini lumayan, bukan tandingan yang mudah” bisik Elea.


“Ini jumlah biasa, aku sudah terbiasa menghadapi yang sebanyak ini. Kau atasi yang kau bisa jangkau saja, sisanya akan ku bereskan!”


“Kau bisa dengan mudah berkata seperti itu, tapi kau sama sekali belum tahu seberapa besar kekuatan yang mereka punya”


Tiba-tiba saja ada serangan kecil dari lawan yang menuju ke arah Eve dan Elea, dengan sigap mereka memisahkan tubuh yang tadinya disatukan oleh punggung mereka yang bersanding. Menyusul para anak buah mereka yang sudah berolahraga sedari tadi, Eve dan Elea juga melumpuhkan begitu banyak pasukan pemberontak itu.


Namun, pada saat yang bersamaan ada dua orang misterius yang menggunakan cadar dan baju serba hitam ikut menyerang musuh serta membantu Eve dan Elea. Tak diketahui pasti siapa dua orang itu, sebab mereka juga baru pertama kali bertemu dengan yang seperti ini. Tapi jika dilihat lebih jeli lagi sepertinya dua orang itu adalah perempuan, dan seni bela diri mereka memiliki level yang cukup tinggi.


Sebelum Eve selesai bermain dan menghabisi seluruh musuhnya, polisi sudah tiba di lokasi dengan membawa pasukan bersenjata atau lebih tepatnya beberapa personil militer. Mereka bekerjasama melawan pengacau itu, menumbangkan satu per satu tubuh kekar mereka. Memastikan lawannya bisa berada dalam kendali genggaman mereka. Akhirnya para lawan itu menyerah dalam kondisi tak berdaya, mereka kalah telak atas Eve dan Elea. Dan dua orang misterius yang membantu Eve dan Elea langsung pergi saat pertarungan telah usai.


“Apa kalian sudah lelah berolahraga?” ejek Eve.


“Dasar gadis tengil! Kau membawa hukum bersama mu, tentu saja kau menang” sahut lawannya itu dengan senyum miring nan angkuh khas lelaki arogan.


“Pak, tolong atasi mereka” ucap Eve pada kepala kepolisian itu.


“Baik, terima kasih atas kerjasamanya” jawab ketua polisi itu dan hanya mendapat anggukan dari seorang Eve.


Dua orang misterius yang membantu Eve dan Elea langsung pergi saat pertarungan telah usai. Melihat dua orang itu pergi, Eve berusaha mengejar mereka namun tak sempat. Kedua orang misterius tersebut sudah pergi cukup jauh, dan Eve malas mengejar mereka hingga terlalu jauh.


“Siapa mereka?” pertanyaan itu terus muncul dalam benak Eve mulai dari kemunculan dua orang misterius tersebut.


Elea melihat Eve berdiri mematung dengan wajah termenung, ia menghampiri Eve dengan segala pertanyaan yang membingungkan.


“Kau kenapa?” tanya Elea.


Eve kaget karena Elea tiba-tiba berdiri di sampingnya. “Tidak, aku tidak apa-apa” jawab Eve gugup.


“Jangan berbohong, aku tidak bodoh. Dasar brengsek! Aku tahu bahwa kau memikirkan tentang siapa dua orang bercadar tadi kan?” ucap Elea.


“Hm, kau benar”


“Mereka bukan bagian dari kita dan sepertinya mereka tidak berasal dari pihak hukum juga”


“Apa kau punya firasat lain tentang mereka?”


“Firasat yang seperti apa?” tanya Elea memastikan.


“Baik ataupun buruk asalkan itu berkaitan dengan mereka” jawab Eve.


“Aku rasa mereka bukan mafia, pemberontak, ataupun sejenisnya. Menurutku mereka adalah pembela keadilan” ungkap Elea mengenai pemikirannya.


Eve menghembuskan nafasnya kasar. “Akan ku coba cari tahu tentang mereka” ucap Eve lelah, kemudian Elea pergi meninggalkan Eve menuju ke sisi yang lain.