
Hari-hari telah berlalu, pada Kamis sore ini Eve akan kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan urusan di luar kota bersama keluarganya. Selama berada di luar kota, Eve bukan hanya ikut membereskan urusan keluarganya tapi ia juga terus mencari informasi tentang kerjasama Esdav dengan kelompok lain di kota yang ia kunjungi. Sayangnya, yang Eve temukan Esdav hanya melakukan kerjasama dengan 2 kelompok besar di luar sana, yaitu Mardav dan Clodav.
Eve berusaha mencari tahu tentang dua kelompok besar yang bekerjasama dengan Esdav, tapi Eve tak menemukan satu petunjuk pun, Eve juga tidak memberitahu tentang hal ini pada Nicholas. Entah hal apa yang sedang mengganggu Eve sampai ia tidak mau membahas hal ini dengan orang-orang dari Navarda.
“Ayah, Ibu...” ucap Eve sembari berlari memeluk orang tua Elea yang dipanggilnya Ayah dan Ibu itu.
“Anakku” ucap Ibunya Elea girang.
Mereka semua memang sangat dekat satu sama lain, bukan hanya Eve yang memanggil orang tua Elea seperti Elea memanggil mereka. Tapi juga sebaliknya, Elea juga memanggil orang tua Eve dengan panggilan yang biasa Eve gunakan.
Orang tua Elea dan Eve sedang duduk bersama sambil menikmati makanan di ruangan outdoor belakang rumah Elea, sedangkan Eve dan Elea berada di kamar dan sedang berbagi cerita. Mereka saling bercerita tentang keadaan satu sama lain karena mereka sudah lama tidak bertemu.
“Apa yang terjadi selama aku berada di luar kota?” tanya Eve.
“Tidak banyak kekacauan yang terjadi. Hanya saja beberapa hari ini terasa hambar tanpa kehadiranmu Eve” jawab Elea dengan wajah sedihnya.
“Maafkan aku. Sungguh aku tidak punya pilihan lain” ucap Eve sembari menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Lagipula aku tidak menyalahkanmu, aku hanya sedih karena harus berpisah jauh denganmu” kata Elea sambil tersenyum, menghanyutkan suasana.
“Kau ini! Bagaimana jika suatu hari kau menikah? Apa kau akan kabur dari pelukan suami mu dan mengejarku, begitu?” celetuk Eve sambil menahan tawanya.
“Yang benar saja?! Untuk apa aku menjauh dari suamiku hanya demi dirimu?”
“Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak bisa berpisah jauh dariku, mau mengelak?”
“Tapi beda kalau sudah menikah!” tegas Elea. “Aku lebih memilih untuk berdiam di dalam pelukan hangat suamiku dari pada harus mengejar langkah kakimu” sambungnya.
“Cihh,, tidak setia!” cibir Eve.
“Memangnya kau akan tetap memangku diriku saat kau sendiri sudah menikah?” tanya Elea tak mau kalah.
“Ya tentu tidak! Aku akan menyuruhmu menikah jika kau belum menikah” sahut Eve.
“Haiss... Dasar sialan!” cibir Elea.
“Yayaya, brengsek! Kita impas. OK?!”
“Ok” ucap Elea mengulurkan tangannya. “Aku mau ke toilet dulu, kebelet” ucap Elea yang langsung lari menuju toilet.
“Aku harap lelaki yang mengisi hidupmu di masa depan adalah lelaki yang tepat dan bisa menerima kondisi kehidupan yang seperti ini. Kau harus melewati sebuah hal besar, dan itu tak bisa sendiri, bahkan aku belum tentu bisa menemani” ucap Eve dalam batinnya.
“Lega rasanya” ucap Elea yang baru keluar dari toilet, Elea melihat Eve sedang melamun ia memetik jarinya di depan wajah Eve. “Hei! Apa yang kau pikirkan?” tanya Elea heran.
“Em, tidak.. Tidak ada. Ayo kita turun saja” ajak Eve. “Aku lapar” rengeknya sambil menepuk-nepuk pelan perut kosongnya itu.
Elea tertawa melihat sikap Eve. “Baiklah, ayo kita turun” Elea menarik tangan Eve menuju lantai bawah dimana orang tua mereka sedang bersantai menikmati makan malam.
Setelah selesai makan dan berbincang Eve dan keluarganya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka, dan tak ingin merepotkan keluarga Elea. Sesampainya di rumah Eve langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kemudian Eve duduk di pinggiran kasur sambil memakan camilan yang ia beli sebelum kembali ke rumah, Eve mengambil ponselnya dan memeriksa notifikasi pesan dari Nicholas.
“Apa kau masih di luar kota?” tanya Nizcholas melalui pesan yang ia kirim pada Eve.
“Tidak, aku baru saja sampai rumahku” balas Eve.
“Baguslah, anak buahku kini bisa bebas berkeliaran. Tak perlu mengganggu urusan kelompokmu itu” jawab Nick.
Eve tidak membalas pesan Nick itu, ia hanya membacanya kemudian mengabaikannya. Eve pergi ke balkon kamarnya, menatap langit malam yang bertaburkan bintang-bintang dan ditemani dewi malam yang sinarnya tampak sangat terang malam ini. Entah perasaan macam apa yang sedang menghantui Eve sampai ia meneteskan air matanya.
“Dunia macam apa ini?” ucap Eve lirih sambil menangis. “Sekejam inikah kehidupan? Jika iya, lantas mengapa harus Elea? Mengapa tidak aku saja, kenapa harus Elea yang menghadapinya?” Eve terus berucap dengan nada lirih dan mengeluarkan air matanya. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, kemudian ia terduduk di balkon dan menyandarkan dirinya ke pagar balkon.
“Sungguh, aku tak sanggup jika harus melihat hal ini terjadi. Eleaaaa....” lirih Eve.
Eve hanya duduk diam di balkonnya, meratapi nasib hidup yang akan dihadapi adiknya sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar karena udara dingin di luar sudah mulai menusuk kulitnya. Eve berebah di kasurnya lalu menarik selimutnya, ia mengambil ponsel beserta headsetnya lalu memutar lagu favoritnya dan mulai menutup mata. Eve mulai terlelap setelah berusaha menenangkan diri dengan mendengar lagu favoritnya itu. Namun di tengah malam Eve lagi-lagi terbangun karena mimpi buruk.
“Mimpi apa itu?” ucap Eve yang kaget dengan nafasnya yang masih terengah-engah.
“Lagi-lagi mimpi yang seburuk ini” ucap Eve sambil memegang keningnya. Kemudian ia melihat ponselnya yang mendapat banyak pesan dari Nicholas.
“Apa kau masih punya anak buah yang bisa digunakan? Mereka lagi-lagi melakukan pemberontakan” isi pesan dari Nicholas.
“Ada, akan ku kirimkan mereka. Kirim lokasi mu padaku” balas Eve.
Nick kemudian mengirimkan lokasi nya yang sedang melakukan penyergapan saat ini. “Maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu dan terima kasih atas bantuannya” ucap Nick.
Eve kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membantu Nick dan ia kembali berusaha untuk tidur setelah mimpi buruk yang ia alami. Dengan susah payah akhirnya Eve bisa kembali tertidur lelap dan melewati malam mengerikan ini. Sedangkan Nick, ia masih sibuk melakukan olahraga malam yang ia sukai ini. Dibantu oleh anak buah Eve, Nick berhasil merenggut kemenangan dari lawannya yang menyebalkan itu. Sebenarnya Nick bisa menang walau tanpa bantuan Eve, hanya saja ia ingin menyimpan kekuatan untuk menghadapi hari yang jauh lebih kejam lagi.