
"TRING...!!! TRING...!!! TRING...!!!" ponsel Elea berdering begitu keras.
"Halo?" ucap Elea saat menjawab telfon dari Eve tersebut.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Eve khawatir.
"Sudah jauh lebih baik. Oh ya, bagaimana dengan kasus pemberontakan minggu lalu" Elea langsung teringat kejadian di restoran Tradisi seminggu yang lalu.
"Belum ada informasi yang lebih pasti. Aku rasa mereka tidak mengincar kita, tapi aku masih mencari informasi lebih detail mengenai motif pemberontakan mereka" Eve berbicara dengan nada frustasi.
"Hubungi aku jika kau perlu bantuan, aku selalu siap untuk membanty semampuku. Jangan lupa jaga kesehatanmu" Elea selalu siap sedia mensupport kakak sepupunya tersebut.
"Iya.. Sudah ya, aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja"
"Baiklah, sampai jumpa" Elea pun mematikan sambungan telfonnya.
"Semoga Eve baik-baik saja" batin Elea terus merasa khawatir.
*Markas utama Fevel*
"Dari mana harus kita mulai? Semuanya terlihat begitu rumit" Eve sedang mengatur strategi pertahanan dan penyerangan bersama anggotanya.
"Nona, sebaiknya kita bertindak seakan-akan kita tidak tahu tentang kejadian ini. Buatlah Fevel terlihat sangat bodoh, dan biarkan Purple tetap bermain di luar sana" ucap salah seorang kepercayaan Eve.
Eve mengangguk. "Kalau dilihat dari pola ini..." pola penyerangan mereka berbentuk huruf L. "Harusnya target mereka selanjutnya adalah Navarda!" ucap Eve tegas.
Eve langsung meninggalkan area diskusi yang di sana terdapat meja dengan jalur penyerangan lawan berbentuk huruf L seperti ukiran lambang kelompok Libras.
"HALO?!!!" Eve sedikit ngegas karena panik. Arkha sampai kaget dan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Bisa santai sedikit? Kau bisa membuat ku tuli!" Arkha merasa kesal.
"Kalian dimana? Kita harus bertemu!" ucap Eve tanpa basa-basi.
"Ada apa memangnya? Kau terdengar sangat tergesa-gesa"
"Jangan terlalu banyak bertanya, aku akan tiba di markas kalian dalam 15 menit. Jangan buang waktu!" Eve langsung menutup sambungan telfonnya dan meluncur ke markas Navarda.
"Ada apa?" tanya Nicholas dingin saat melihat Eve tiba di markas utamanya.
"Pemberontakan akhir-akhir ini, kau tahu siapa yang melakukannya? Atau mungkin kau punya petunjuk tentang mereka?" tanya Eve membuka percakapan.
"Tidak" Nicholas sedang dalam mode kulkas 15 pintu, dinginnya tak tanggung-tanggung.
"Menurut pencarian ku selama ini, bentuk penyerangan mereka adalah huruf L. Jadi, penyerangan berikutnya adalah kalian!" ucap Eve membuat Arkha tercengang, sementara Nick hanya diam dan berpikir.
"Kau yakin kami adalah target berikutnya?" Nick menjadi semakin serius.
"Sangat yakin, aku sudah mengikuti pola penyerangan mereka. Kau bisa melihatnya kalau mau, aku sudah memotret polanya" Eve meyakinkan Nick, lalu ia menunjukkan foto dari papan penyelidikannya selama ini.
"Aku juga tidak menduga bahwa Libras tengah bermain fi antara kita" timpal Eve.
"Libras? Kau berpikir bahwa ini adalah pekerjaan Libras?" Nick sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Iya, memang kau pikir siapa? Dari pola penyerangan ini mereka membentuk huruf L, siapa yang punya lambang seperti ini selain Libras?" Eve membalas nada tinggi Nick.
"Bukan, mereka adalah kelompok senior. Tidak mungkin mereka bermain kotor. Lihatlah, kalau kau memang jeli, petunjuk kecil satu ini mengarah pada Esdav bukan Libras" Nick menunjukkan salah satu bukti yang merupakan barang milik Esdav.
"Esdav? Bagaimana mereka bisa berani menggunakan Libras sebagai umpan untuk melindungi mereka?" Eve sangat bingung.
"Itu hal yang mudah. Jaringan komunikasi Mardav dan Clodav bukan hal yang remeh, ayah dan paman Edward akan selalu siap membantunya" kesimpulan yang membuat Eve terdiap dan berpikir sejenak.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Eve spontan.
"Aku akan menjadikan Navarda sebagai umpan, tapi Fevel harus membantu. Sementara Fel junior tetap berjaga. Dan ya, buat seakan Fevel adalah Navarda, kita kecoh mereka" jelas Nick mengenai rencananya.
"Baiklah" sahut Eve tanpa pembantahan.
"Bermalam lah di sini, kita susun strategi bersama" pinta Nick.
Tanpa pembantahan, Eve mengikuti alur cerita yang Nick buat. Mungkin ia juga lelah, sehingga tidak banyak protes. Selesai menyusun strategi, Eve pergi bersiap untuk tidur. Di atas kasur empuknya, Eve terdiam dan kembali berpikir.
"Bagaimana mungkin Esdav berani menggunakan Libras sebagai umpan? Secara Libras adalah kelompok senior, sementara Esdav hanya anak manja yang bernaung di bawah ketiak Mardav dan Clodav" Eve masih merasa sangat janggal.
*ruangan Nick*
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa ini adalah ulah dari Esdav, bukan Libras?" tanya Arkha yang juga diselimuti sejuta tanya.
"Akhir-akhir ini aku menjumpai hal aneh di antara kedua kelompok ini, terkadang aku melihat sendiri pertemuan antara Esdav dengan Libras. Aku sudah merasa bahwa mereka mempunyai kesepakatan, lalu, aku mengirim anggota kita. Dan hasilnya sesuai dengan dugaanku" ucap Nick pada Arkha lalu ia meminum teh hangatnya, karena Nick tidak suka minum minuman beralkohol.
"Kau harus meyakinkan gadis sialan itu, dari raut wajahnya aku yakin dia belum bisa menerima bahwa Esdav yang melakukan permainan ini"
"Kau saja yang melakukannya, aku tidak tertarik" Nick langsung pergi meninggalkan Arkha tanpa permisi.
Arkha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nick, lalu ia berdiri dan pergi bersiap untuk tidur.
*di balkon kamar Nick*
Nick menatap ke arah langit, tersenyum melihat indahnya malam.
"Sungguh miris nasibku. Aku datang mencarimu, tapi tak kunjung bertemu denganmu. Apakah takdir tak ingin kita bersama?" Nick masih tersenyum, ia menahan tangis, menarik nafas sedalam mungkin, berusaha menstabilkan suasana hatinya.
"Efely? Terkadang aku berpikir, masihkah kau mengingatku? jugakah kau mencariku, atau aku hanya menjalani kisah yang pada akhirnya menjadi cinta bertepuk sebelah tangan?" air mata Nick mulai menetes.
Sebelum ia larut lebih jauh lagi, Nick langsung masuk ke dalam kamar, membanting diri ke atas kasur, menarik selimut. Menutup mata lalu berlabuh. Sampai jumpa dunia, semoga aku bermimpi indah.
Sementara Arkha dan Eve sudah terlelap, mungkin mereka sangat kelelahan. Ditambah mereka harus bersiap untuk menghadapi hari-hari mendebarkan berikutnya.