Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 37 - Bertemu Eve



*pukul 07.15*


Elea sudah duduk santai di meja makan dan menikmati sarapannya.


"El, apa kau akan ada mata kuliah sore nanti?" tanya Ibunya.


"Tidak, Bu. El hanya ada mata kuliah sampai jam 1 nanti" sahut El sambil menikmati sarapannya.


"Em, baiklah" ucap Ibunya.


"Ada apa, Bu?" tanya Elea.


"Tidak, tidak apa-apa" kata Ibunya.


"Ohh, iya. Setelah kuliah nanti El ada janji dengan Eve, mungkin akan pulang agak sore" ucap Elea memberitahu.


"Kalau begitu berhati-hatilah, dan jangan pulang terlalu sore" sahut Ibunya.


"Baik" ucap Elea dengan senyuman sembari meletakkan tangannya di ujung alis, memberi hormat.


Eleapun berangkat ke kampusnya. Seperti biasa, ia kendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan rata-rata yang tidak membahayakan. Sesampainya di kampus, Elea langsung pergi ke ruang kelasnya. Duduk santai di pojokan sambil membaca buku materi kesukaannya.


"Hai El!" sapa Violetika. "Nanti siang kamu ada janji, gak?" tanyanya.


"Ada sih, tapi setelah selesai kuliah, kenapa?" jawab Elea.


"Ohh, rencananya tadi aku mau ajak kamu makan siang bareng" kata Violetika.


"Em, ayo aja" sahut Elea nada santuynya.


"Oke deh, jam setengah 11 ya!" ucap Violetika.


Elea hanya melingkarkan jari jempol dan telunjuknya lalu ia memberikan senyuman, dan akhirnya ia kembali membaca buku.


Mata kuliah pertama sudah selesai, sekarang Elea dan Violetika sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran untuk mengisi amunisi mereka. Elea mengajak Violetika untuk makan di salah satu restoran favorit Elea, yaitu restoran Tradisi, dengan nuansa khas Indonesia dan makanan yang sangat menggugah selera.


"Wah, tempatnya bagus, El" ucap Violetika dengan mata berbinar kagum saat melihat betapa indahnya corak tradisional yang dipadukan dengan nuansa modern. Membuat setiap netra yang memandang merasa bagitu kagum, dan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Selain bagus, makanan di sini juga enak lho" sahut Elea membuat Violetika semakin kagum dengan restoran ini.


"Mau coba apa dulu, nih? Nasi padang?, gudeg?, empek-empek?, rendang?, atau apa?" tanya Elea.


"Dari dulu, aku itu penasaran dengan yang namanya empek-empek. Gak pernah makan itu soalnya" ucap Violetika dengan tawa manisnya.


"Ya udah, kamu pesan itu aja. Terus makan nasgor, porsinya pas" kata Elea membuat Violetika menelan air liurnya.


"Hm, oke deh" sahut Violetika.


Melihat lambaian tangan Elea, seorang pelayan restoran tersebut langsung menghampiri mereka dan memberikan kertas menu yang ada di tangannya.


"Kami pesan 2 porsi nasi goreng dan 2 porsi empek-empek saja" ucap Elea tanpa menyentuh daftar menu.


"Baik, minumnya apa?" tanya pelayan itu.


"Aku es teh saja" ucap Violetika.


"Aku, lemon tea ice" ucap Elea.


"Baik, ditunggu" sahut pelayan itu dengan ramah.


Elea dan Violetika duduk dan menikmati makanan mereka dengan tenang. Selesai makan, mereka berdua langsung kembali ke kampus untuk melanjutkan mata kuliah terakhir mereka hari ini. Setelah itu, Elea langsung pergi untuk menemui Eve di markasnya.


"Ada hal penting apa yang memaksamu untuk bertemu denganku?" tanya Elea dengan gaya manis manjanya.


"Menghilang lah dulu dari dunia gelap ini. Kita ikuti cara yang sama dengan mereka, satu hilang yang lain muncul" ucap Eve menyorong rencana indahnya itu.


"Lalu, setelah aku bersembunyi kau akan kemana?" tanya Elea santai namun sambil memutar bola matanya malas.


"Kau bilang kita harus mencoba memancing mereka, jadi buatlah seakan kita tahu rencana mereka" sahut Eve.


"Tapi, apa hubungannya denganku? Mereka kan tidak tahu kalau aku ikut andil dalam dunia seperti ini" bantah Elea.


"Baiklah.. Aku akan bersembunyi" ucap Elea pasrah.


Urusannya sudah selesai, kini Elea pergi meninggalkan markas Eve dan pulang ke rumahnya.


Seperti biasa, di kamar Elea membuka perlengkapan bukti dan barang-barang pentingnya yang menyangkut dunia gelap ini. Dia masih menyembunyikan semua ini dari Eve. Elea punya cara pikir sendiri, entah hal apa yang membuatnya melakukan ini semua.


"Tring... Tring... Tring..." ponsel Elea berdering.


"Eve?!" Elea sedikit terkejut saat melihat bahwa Eve yang menelfon dirinya.


"Ada apa?" tanya Elea.


"Jam berapa kau akan berangkat kuliah besok?" tanya Eve dengan nada suara yang terdengar aneh.


"Aku akan ada mata kuliah jam 9 pagi" sahut Elea dengan penuh tanya dalam benaknya.


"Ada apa dengan Eve? Kenapa nada suaranya terdengar aneh? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Elea dalam benaknya.


"Baiklah, aku ingin bertemu. Tapi sayangnya kau sibuk disaat aku senggang" alasan Eve terdengar begitu aneh.


"Kalau begitu dilain waktu saja" Elea masih merasa heran namun ia bersikap seakan-akan ia tidak sadar perubahan seorang Eve.


Hari-hari berlalu, namun Elea tak ada lagi mendengar atau mendapat kabar langsung dari Eve. Terkadang ia merasa cemas, tapi terkadang ia juga tak peduli.


"Apa sebenarnya ini semua?" Elea berusaha mengingat semua kejadian, berharap terlintas petunjuk di dalam benaknya.


"Elea?!" seorang gadis menepuk bahu Elea dari belakang, membuatnya terkejut.


"Tika!!! Kau mengagetkan ku saja" ucap Elea.


"Maafkan aku" Violetika sedikit bercanda.


"Tring... Tring... Tring..." ponsel Elea berdering.


Segera Elea mengangkat telfon dari Eve tersebut. Ia ingin melepas kecemasannya tersebut.


"EVE?!!" Elea dengan suara cemasnya.


"Bisa kita bertemu siang nanti?" tanya Eve tanpa basa-basi.


"Dimana?" ekspresi Elea langsung berubah seketika.


"Restoran Tradisi, jam makan siang" ucap Eve yang kemudian langsung mematikan telfonnya tanpa sahutan dari Elea.


"Sebenarnya ada apa dengan Eve?" pertanyaan yang tak pernah hilang dari benak Elea.


"El?!" panggil Violetika yang melihat Elea melamun.


"Emh. Maaf, kakak sepupuku ini sedikit membuatku bingung. Akhir-akhir ini dia membuat ku banyak berpikir dan agak melamun"


"Aku yakin dia sedang ada masalah, hingga tanpa sadar ia juga melibatkanmu" hibur Violetika sembari tersenyum.


Elea tertawa kecil dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas. Saat mata kuliah selesai, Elea langsung pergi tanpa pamit. Bersama mobilnya, ia melaju kencang menuju restoran Tradisi untuk menemui kakak sepupunya tersebut.


Sesampainya di sana, Elea tak melihat Eve. Ia duduk di dalah satu meja yang sudah Eve pesan untuk mereka. 30 menit menunggu membuat Elea merasa sangat bosan, kemudian tak lama Eve pun datang.


"Maafkan aku sudah membuat mu menunggu lama" ucap Eve sembari duduk.


"Tidak apa-apa" sahut Elea yang langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Ada apa? Kau mengajakku bertemu tapi kau terlambat datang" tanya Elea setelah selesai memesan makanan.


"Aku ingin membahas hal penting..."


"DOOORRRR...!!!!!" tiba-tiba terdengar suara tembakan.


Elea dan Eve dengan sigap menyikapi suara tembakan tersebut. Mereka mengevakuasi orang-orang di sekitar, lalu berusaha menangani situasi, tapi para penembak tersebut berhasil kabur.