Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 14 - Taman Kota



Pagi yang cerah, Elea hari ini tidak terlalu malas untuk bangun. Elea bangun pukul 06.30 dan langsung pergi menyikat giginya lalu mandi. Selesai mandi Elea turun untuk sarapan.


“Bu, El ingin pergi nanti. Bolehkan?” tanya Elea pada Ibunya.


“Kau mau kemana dan bersama siapa?” tanya Ibunya memastikan.


“Aku akan pergi bersama Mela, dia bilang ingin mengajakku melihat taman kota yang baru direnovasi” jawab Elea.


“Baik, pergilah tapi hati-hati ya” ucap Ibunya khawatir.


“Siap boss” ucap Elea sambil mengangkat tangannya memberi hormat pada Ibunya.


Pukul 10.15 Elea mendapat pesan dari Mela, Elea langsung bergegas pergi menuju taman kota menyusul Mela yang sudah tiba di sana beberapa menit lalu. Tak lupa Elea berpamitan dengan Ibunya sebelum ia berangkat ke taman kota. Saat sampai di taman kota Elea melihat ke sekitarnya mencari Mela dengan penglihatan liarnya itu. Elea melihat Mela duduk di salah satu kursi di sana, Elea pun menghampiri Mela.


“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Elea membuat Mela kaget.


“Ya ampun, kau membuatku kaget saja” ucap Mela sambil mengelus dadanya.


“Emm, maafkan aku. Jadi apa kau sudah lama menunggu?” tutur Elea sembari duduk di samping Mela.


“Tidak juga” jawab Mela dengan senyuman.


“Baguslah, jadi kau ingin cerita tentang apa Mel?” tanya Elea membuka pembahasan.


“Aku ingin bercerita banyak denganmu, tapi aku takut waktu yang kita punya tidak cukup karena banyaknya ceritaku ini” jawab Mela lalu tertawa kecil, Elea juga ikut tertawa mendengarnya.


“Ceritakan saja, waktu kita banyak seharusnya itu cukup” kata Elea.


“Bagaimana jika tidak?” ucap Mela mengalihkan pandangannya ke arah Elea.


“Akan kita lanjutkan lain kali kalau begitu” jawab Elea sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu itu.


Mela mulai menceritakan tentang keadaan keluarganya, kisah percintaannya, jalan hidupnya, impian dan cita-citanya. Beberapa kali Mela menangis saat menceritakan bagian sedih dari ceritanya, Elea pun terkadang juga ikut meneteskan air matanya.


“Keluargaku sering bertikai hanya untuk masalah sepele, terkadang Ayah memarahi Ibu hanya karna Ibu tidak mau menurutinya” ungkap Mela dengan mata berkaca-kaca.


“Menyedihkan sekali. Kenapa Ayahmu itu begitu keras?” tanya Elea.


“Entahlah, aku sendiri tak bisa mengerti Ayahku” air mata Mela mulai mengalir jatuh, tangannya ia kepalkan kuat mengingat bagaimana sikap Ayahnya. Mela hanya menceritakan sedikit keburukan Ayahnya, ia masih menyimpan sebuah rahasia besar dari Elea.


“Aku tidak tahu harus berkomentar seperti apa, yang aku bisa hanya mendengarkan saja” ucap Elea sembari menundukkan kepalanya sedikit.


Mela mengusap air matanya kasar. “Hm, aku percaya padamu, tolong jangan khianati aku. Simpanlah rahasia ini, cukup kau jadi muara kisah ku jangan jadi aliran yang menyiksa El” ucap Mela penuh ketulusan.


Elea merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan, yang ia bisa lakukan hanyalah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga rahasia sahabatnya itu. “Aku akan berusaha sebisaku untuk menjaga rahasiamu Mel” ucap Elea meyakinkan sambil memegang pundak Mela.


“Ibu sedang nonton drama apa?” tanya Elea.


“Em, kau sudah pulang. Ini ada drama korea yang baru keluar, kisahnya tentang kehancuran rumah tangga karena orang baru” jawab Ibu Elea tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


“Ya ampun Bu, El kira tadi drama apa ternyata drama korea toh. Ya sudah El masuk kamar saja, El tidak suka dengan drama seperti ini” kata Elea yang langsung pergi meninggalkan Ibunya yang masih asyik menonton drama favoritnya.


El langsung membersihkan dirinya dan pergi rebahan, El tidak turun untuk makan malam karena ia sudah makan bersama Mela di taman tadi. Sudah kurang lebih lima hari El tidak bertemu dengan Eve, mereka hanya saling berkabar melalui ponsel dengan cara mengirim pesan. Eve disibukkan dengan pelacakan tentang kelompok Mawar Api dan terkadang Eve juga membantu Nick dalam operasi pemberantasan kelompok mafia kejam.


Ke esokan harinya, Elea dan Mela kembali bertemu satu sama lain di taman kota yang sama dengan yang kemarin. Mereka bertemu hanya untuk saling bertukar kisah kehidupan menyayat hati, berbagi pengalaman yang mungkin bisa berguna.


"El, apa Eve tau bahwa kau datang kemari?" tanya Mela.


Elea menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar. "Aku dan Eve sudah seminggu tak bertemu"


"Kenapa?" Mela penasaran.


"Karena Eve sedang sibuk, entah pekerjaan jenis apa itu yang ia kerjakan. Aku tak mau turut campur, jadi aku dan Eve hanya sedikit berkabar melalui ponsel" jelas Elea.


"Ohh begitu rupanya"


Namun tiba-tiba saja pertemuan Elea dan Mela di hari Sabtu ini dikacaukan oleh segerombolan orang tak jelas yang datang membawa senjata, dan ditembakkan tak tentu arah. Doorrr.. Doorrr... Beberapa tembakan terdengar jelas di telinga Elea dan Mela, tembakan itu membuat semua orang berlarian untuk menyelamatkan diri.


Elea dan Mela yang melihat hal itu langsung mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya ke para pengacau itu. Tanpa mereka ketahui ternyata di taman kota ini ada Arkha yang juga ikut mengarahkan senjatanya ke para pemberontak kelas bawah ini. Mereka bertiga berhasil mengalahkan 7 orang pemberontak itu dan membawa orang-orang tersebut ke kantor polisi.


Elea dan Mela saat itu menggunakan masker karena itu adalah tempat ramai, 2 orang gadis ini tidak mau jika ada orang lain yang mengenali mereka. Hal itu membuat Arkha tidak pernah tahu siapa 2 orang gadis ini. Arkha pun sama sekali tidak tertarik untuk bertanya dan melihat wajah 2 orang gadis ini dengan lebih jelas. Setelah melewati semua ini, Arkha meminta Elea dan Mela untuk pulang ke rumah mereka masing-masing dan tidak perlu ambil pusing dengan 7 orang itu. Elea dan Mela juga lebih memilih untuk pulang dan membersihkan diri mereka.


Selama tiga hari ini Elea terus menemui Mela bahkan tanpa sepengetahuan Eve. Eve yang tidak tahu hanya mengira bahwa Elea hanya bermain-main biasa dan tidak membuat masalah. Memang tidak membuat masalah, Elea hanya menghabiskan waktunya bersama Mela yang juga merupakan teman dekatnya. Tiga hari sudah berlalu, besok Elea harus kembali bersekolah. Sementara Eve, di hari pertama mereka masuk sekolah kembali Eve malah tidak bisa masuk karena orang tuanya punya urusan mendesak di luar kota.


“Aku tidak akan sekolah besok” ucap Eve memberitahu Elea melalui sambungan telfon.


“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Elea heran.


“Ayah dan Bunda akan pergi ke luar kota, aku harus ikut” jawab Eve jujur.


“Em. Baiklah kalau begitu, akan ku kirim surat pada wali kelasmu”


“Ya, terima kasih El” ucap Eve kemudian ia mematikan sambungan telfonnya.


Setelah memberitahu Elea, Eve langsung menghubungi Nick dan memberitahu bahwa ia harus menemani kedua orang tuanya pada pertemuan bisnis di luar kota. Eve mengatakan bahwa ia sudah mengirim pesan pada adiknya (Elea) agar Elea bisa membantu Eve untuk menghandle keadaan kota sementara Eve pergi ke luar kota. Nick tidak pernah tahu siapa adiknya Eve, jika ia tahu Nick akan terus bertanya mengenai Elea pada Eve.


Pukul 08.30 malam, mereka semua sudah tertidur lelap karena besok semuanya harus bangun pagi di hari awal setelah liburan mereka selesai. Tidak satupun di antara mereka yang masih bangun malam ini, baik itu Nick, Arkha, Elea, Eve, Lavi, Geya, dan Mela. Mereka semua sudah berada di pulau mimpi yang sangat indah.