Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 17 - Ujian sebentar lagi



Tiga bulan sudah berlalu, ada begitu banyak hari-hari sulit nan menyedihkan, penuh tangis serta kematian penuh misteri dan tragis yang harus dilewati oleh empat orang bersahabat ini dan juga orang-orang Navarda. Mereka berhasil melewati semua ini dengan kuat dan tegar, Geya saja yang merupakan gadis paling lemah di antara mereka berempat tetap berhasil melewati masa-masa sulit ini bersama 3 sahabatnya.


Karena sudah selama tiga bulan semester dua ini berjalan maka seluruh siswa-siswi kelas 12 akan menghadapi ujian akhir minggu depan yang akan menentukan masa depan mereka semua. Elea yang merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya, tentu saja ia sibuk belajar dengan begitu tekun saat akan menghadapi ujian kelulusan.


“Apa yang kau pelajari?” Eve tiba-tiba saja sudah berada di kamar Elea dan membuat Elea kaget setengah mati.


“Ckk, mengagetkan ku saja” ucap Elea dengan nada julid sambil memutar bola matanya.


“Maaf, aku hanya heran melihatmu belajar. Biasanya kan kau hanya sibuk bermain di komputermu itu” ujar Eve sembari menunjuk ke arah komputer milik Elea.


“Ujian kelulusan kan sudah dekat, jadi aku belajar untuk itu” jawab Elea dingin.


“Ohh, ya sudah belajar saja. Aku ingin berjalan-jalan” ucap Eve yang mulai berjalan dan ingin pergi meninggalkan Elea.


“Dasar pemalas!! Untuk ujian saja kau tidak ada persiapannya” umpat Elea kesal.


“Tidak perlu, akan ku bayar mereka untuk meluluskan namaku ini” sahut Eve.


“Namamu yang lulus, kamunya tidak!” sambar Elea geram.


“Terserah kau saja” ucap Eve pasrah.


Tiba-tiba saja alarm ponsel Elea berbunyi, Elea langsung mematikannya dan keluar dari kamarnya bersama Eve, mereka lalu turun menuju meja makan. Ya itu adalah alarm jam makan siang. Elea memasang alarm itu setiap hari Minggu agar ia selalu turun tepat waktu untuk makan siang, jika tidak Ibunya akan memarahi Elea.


“Wahhh, banyak sekali menunya. Ada hal apa yang membuat Ibu sampai memasak sebanyak ini?” tanya Elea sambil tersenyum ke arah Ibunya.


“Tidak ada sayang, Ibu hanya sedang merasa bahagia dan suasana hati Ibu sedang baik makanya memasak semua makanan kesukaanmu, Ayahmu, dan Ibu” jawab Ibunya Elea sambil mengambilkan nasi dan meletakkannya di piring Elea.


“Ibu tidak memasak makanan kesukaanku” celetuk Eve dengan nada kecewa.


“Kau datang saat Ibu sudah selesai memasak, Eve” elak Ibunya Elea.


“Sialnya aku!” sahut Eve sambil memanyunkan bibirnya kecewa.


Elea hanya tertawa kecil mendengar perkataan Eve. “Apa Ayah bakal pulang buat makan siang?” tanya Elea sambil menyantap sup kesukaan ayahnya itu.


“Iya, Ayahmu bilang dia akan pulang. Tadi sudah Ibu telfon”


Tak lama kemudian bel rumah mereka berbunyi dan terdengar suara Ayah Elea yang memasuki rumah sambil terus menghirup aroma wangi dari masakan sang Istri.


“Hemm, harum sekali!! Wahh, banyak sekali yang kau masak, sayang. Bagaimana kita akan menghabiskannya?” ucap Ayah Elea sambil tertawa.


“Kalau makan di rumahkan Ayah gak pernah ngira-ngira ngambil nasinya” celetuk Elea. Eve tertawa mendengar pernyataan adik sepupunya itu.


“Kau ini, Ayahkan tidak bisa bergerak lagi kalau sudah makan banyak. Nanti gimana Ayah bisa balik lagi ke kantor” cibir Ayahnya Elea.


“Itukan urusan Ayah, yang penting bantu Elea dulu menghabiskan semua ini”


“Kau tidak lihat? Itukan ada Eve di sampingmu, dia bisa membantumu” sahut Ayahnya.


“Sudah sudah, kalian ini tidak akan ada habisnya. Ayo kita makan saja” sela Ibunya Elea.


“Ayah sudah selesai”


“Yah cepat sekali, ini kan masih banyak Ayah. Nanti siapa yang bantuin El makan semua ini”


“Kan ada Ibumu dan juga Eve, Ayah sudah harus kembali ke kantor sekarang”


“Ayah curang, tega sekali membiarkan El yang menghabiskan semua makanan enak ini”


“El benar. Ayah curang, kami kan tidak mau menjalani ritual diet lagi” sahut Eve.


“Em” Elea mengangguk.


“Kau bisa bungkus untuk bawa pulang” ucap Ayahnya Elea pada Eve.


“Akan ku bungkus nanti” celetuk Eve.


Mereka semua tertawa mendengar keluhan Elea dan Eve terhadap Ayahnya Elea. Elea dan Eve kembali menyantap makanannya dengan lahap, kedua gadis ini belum puas dengan kelezatan masakan rumahannya hari ini. Sementara Ayahnya Elea langsung pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.


Selesai makan siang Elea langsung kembali ke kamarnya dan melanjutkan belajarnya, sementara Eve pamit untuk pulang karena ia juga punya urusan sendiri di rumahnya. Elea terus menerus belajar dengan serius, hingga tak terasa sore hari telah tiba. Elea pergi mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Elea yang malas untuk keluar dari kamarnya memilih untuk menikmati makan malam di kamarnya saja, ia meminta pelayan untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya. Selesai makan Elea langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya itu dan memilih untuk bermain ponsel sebab ia sudah lelah seharian membaca buku. Elea terhanyut dalam suasana malam dan tertidur begitu saja.


Sementara di mansion, Nick sedang mengobrol dengan Arkha yang datang berkunjung ke mansion sejak tadi sore. Arkha memutuskan untuk menginap di mansion bersama Nick agar ia bisa membahas lebih banyak tentang bisnis bersama Nick.


“Ujian kelulusan di SMA Nenggala itu sudah hampir tiba, gadis brengsek itu akan segera lulus dari sekolah tersebut. Sekarang apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Arkha.


“Gadis brengsek? Maksudmu ketua Fevel itu?” tanya Nick memastikan.


“Gadis mana lagi memangnya, tidak mungkin kan jika aku memanggil gadis cantik yang kau kejar itu dengan panggilan brengsek?” ucap Arkha geram. “Bisa tamat riwayat ku kalau begitu” gerutu Arkha dengan suara yang lebih kecil namun masih bisa terdengar oleh Nick.


“Apa yang kau katakan? Kau ingin mati?” tanya Nick dengan matanya yang melebar. “Sekali lagi kau berkata seperti itu akan ku kuliti kau!!”


“Benarkan aku?” batin Arkha pasrah. “Ya sudah, skip masalah ini. Sekarang kau ingin apakan gadis brengsek itu?” Arkha mengalihkan topik pembicaraan.


“Memangnya apa yang salah dengan ketua Fevel itu?” tanya Nick heran.


“Tidak ada. Tapi hatiku mengatakan bahwa dia adalah gadis berbahaya, entah kenapa hatiku tak bisa memercayai sikap gadis itu” kata Arkha yang mengungkapkan isi hatinya tentang Eve.


“Aku tidak tahu harus apa, tapi kalau bisa aku ingin melepas kerja sama dengannya. Aku juga sama seperti mu, tidak bisa begitu memercayai gadis brengsek itu” timpal Nick.


“Aku sangat yakin jika Eve itu menyembunyikan sesuatu dari kita” sahut Arkha.


“Sudahlah, tak usah bicarakan masalah si brengsek itu. Kau lihatlah jam di tanganmu itu, mari kita istirahat. Besok adalah awal pekan, kau tidak lupakan?”


“Astaga, sudah malam sekali. Aku akan ke kamarku sekarang juga. Selamat malam Nick, semoga mimpimu tidak indah” ejek Arkha.


“Sialan kau! Tidak ada hari tanpa ejekan” Nick mengepalkan tangannya dan segera beranjak pergi dari ruang kerjanya menuju kamarnya.