Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 18 - Ujian kelulusan



Indahnya sapaan pagi ini, udara segar di pagi hari menambah semangat Elea untuk bangun dan segera pergi mandi. Hari ini Elea akan mendapatkan bimbel sebelum melaksanakan ujian kelulusan, yang itu berarti Elea akan pulang lebih lama dari biasanya. Selama satu minggu ini Elea akan mendapatkan bimbel mulai dari pulang sekolah hingga pukul 05.00 sore.


Elea yang akhir-akhir ini sikapnya lebih penuh dengan ambisi sama sekali tidak terganggu dengan keadaan dunia luar, ia hanya menghabiskan banyak waktunya untuk belajar. Elea ingin prestasi yang ia miliki terus berkembang, karena jika begitu Elea bisa mendapat beasiswa lebih. Mengingat keadaan perusahaan Ayahnya, Elea ingin agar ia bisa berkuliah dengan damai tanpa gangguan apapun, hal itu juga didukung oleh kedua orang tuanya.


Seminggu sudah berlalu, besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa/i SMA Nenggala. Mereka kini sudah gugup untuk menghadapi hari ujian kelulusan, rasa takut dan gerogi bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang membuat hampir seluruh siswa panas dingin jika mengingatnya.


“Aku berharap nilaiku tidak buruk” ucap Geya melalui sambungan telfon. Ya, empat orang bersahabat ini sedang melakukan panggilan telfon untuk berbagi cerita demi menghilangkan ketegangan yang ada.


“Aku juga begitu. Aku ini tidak begitu pandai dan tidak suka belajar, entah mengapa aku bisa nyasar dan tiba di kelas unggulan itu” sahut Lavi panjang lebar.


“Kalian hanya perlu relax dan belajar saja. Lihatlah Elea, dia sama sekali tidak tegang menghadapi hari ujian kelulusan itu” cibir Eve pada dua sahabatnya itu. Sedangkan Elea, ia hanya sibuk membaca novelnya sambil menyimak perbincangan tiga orang yang tidak jelas itu.


Lavi menghembuskan nafasnya kasar. “Elea sepertinya sedang sibuk membaca novelnya, sangat membosankan! Aku ingin belajar saja. Sampai jumpa” Lavi langsung memutuskan sambungan telfonnya itu.


“Aku juga mau kabur” disusul oleh Geya yang ikut memutuskan sambungan telfon tersebut.


“Kau sedang apa El? Sedari tadi kau hanya diam tanpa sepatah katapun” tanya Eve heran.


“Aku hanya sedang membaca novel favoritku” jawab Elea singkat.


“Ya sudah, kalau begitu aku matikan telfonnya” Eve langsung memutuskan sambungan telfonnya menyusul Lavi dan Geya yang sudah kabur duluan.


Malam sudah larut, Elea memilih untuk tidur karena besok dia harus sekolah untuk menghadapi ujian kelulusan. Sementara keadaan di mansion Nick masih seperti biasa, Nick sendiri belum tidur karena masih sibuk mengerjakan proyek pentingnya. Pukul 23.30 saat Nick baru memeriksa jam dan tanpa basa-basi ia langsung mematikan laptopnya dan pergi tidur, Nick langsung tertidur dengan nyenyak walau baru beberapa menit menutup matanya itu.


Nuansa pagi ini dihiasi dengan ketegangan karena siswa/i SMA Nenggala akan menghadapi ujian kelulusan hari ini, bahkan Elea yang sudah melakukan persiapan matang saja tetap merasa gugup. Bahkan jantung Elea serasa mau copot karena terus menerus berdebar dengan cepat. Elea yang sudah berada di meja makan hanya duduk menghadapi sarapannya, ia diam tak berkutik. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Elea sampai membuat Ibunya heran dengan perubahan sikap anaknya tersebut.


“Elea” panggil Ibunya sambil memegang pundak Elea.


Sontak Elea terkejut saat Ibunya memanggil secara tiba-tiba. “Ada apa Bu?” tanya Elea.


“Ibu lihat kamu diam saja dari tadi, ada apa sayang?” tanya Ibunya Elea.


“Iya, Ayah juga bingung tidak biasanya kamu seperti ini Nak” timpal Ayahnya.


“Tidak apa-apa, Elea hanya merasa sedikit gugup karena akan menghadapi ujian kelulusan ini” jawab Elea jujur.


“Ohh, tidak apa-apa Nak. Kau gugup itu wajar, tapi Ibu yakin kau bisa melewati ini semua”


“Benar, Ayah juga yakin kau bisa. Kau adalah Putri Ayah, tidak mungkin kau kalah dari Ayah”


“Aku juga tidak takut sebenarnya, tapi sedikit banyaknya rasa gugup itu akan tetap adakan?”


“Emm, iya. Tapi kau jangan khawatir, dulu Ayah juga seperti mu ini merasa gugup dan sedikit tegang. Tapi Ayah berhasil lulus ujian dengan nilai terbaik di sekolah Ayah dulu”


“Benarkah Yah? Wah Ayah hebat juga ternyata” ucap Elea kagum.


“Ibu dulu juga lulus dengan nilai terbaik satu sekolah, bahkan ada beberapa bidang studi yang berhasil Ibu kalahkan dengan nilai 100” balas Ibunya Elea.


“Wahh, Ibu hebat juga”


“Itu sebabnya kau tenang saja, hadapi ujianmu dengan santai dan berbahagialah” ucap Ibunya Elea.


Elea menjadi bersemangat lagi, selesai sarapan ia langsung berangkat menuju sekolah. Hari ini empat bersahabat itu berangkat diantar oleh sopir pribadi mereka masing-masing, kemarin malam mereka sepakat untuk berangkat sendiri-sendiri agar dalam perjalanan menuju sekolah mereka bisa menggunakan waktu untuk belajar.


Setelah sampai di sekolah Elea langsung masuk dan mencari ruang ujiannya, ia langsung duduk dan membuka bukunya untuk kembali belajar. Tanpa ia sadari ternyata si lelaki cerdas berbakat dari kelas IPS duduk tepat di depan Elea, ketampanan lelaki itu tidak mengganggu kefokusan belajar Elea.


“Hai! Kau Elea kan, dari kelas 12 A-IPA?” sapa lelaki bernama Kevin itu.


“Hai! Iya aku Elea”


“Senang bisa bertemu denganmu, namaku Kevin dari kelas 12 A-IPS”


“Nice to see you too Kevin”


“Wow, your english speaking is very good”


“Thank you”


Guru pengawas sudah memasuki ruang ujian dengan membawa sebuah amplop besar berwarna coklat yang berisi lembar soal ujian beserta lembar jawabannya. Seluruh siswa semakin tegang begitu melihat kedatangan pengawas tersebut. Namun lain halnya dengan Elea dan Kevin yang terlihat santai saja ketika pengawas itu masuk dengan wajah datarnya. Guru pengawas itu membagikan lembar soal dan jawabannya kepada seluruh peserta ujian di ruang 9 tersebut.


“Baca perintah yang tertera di lembar soal dan jawaban tersebut, lalu laksanakan sesuai perintah jika tidak kalian akan berada dalam masalah. Yang ingin pergi ke toilet silahkan pergi sekarang, karena selama ujian berlangsung tidak seorangpun peserta ujian yang boleh keluar dari ruangan" pengawas itu memberitahu semua peraturan yang berkaitan dengan proses ujian.


“Apa kalian mengerti?” tanya pengawas itu memastikan.


“Mengerti Bu” jawab seluruh peserta ujian itu serempak.


“Bagus, sekarang kalian sudah boleh mulai mengerjakan ujian tersebut”


Seluruh peserta yang ada di ruangan itu langsung mengerjakan soal-soal ujiannya. Tampak dari wajah mereka bahwa sebagian siswa merasa kesulitan dalam menjawab soal-soal ujian itu, namun lain halnya dengan Elea yang terlihat tenang-tenang saja saat menjawab soal ujian itu, begitupun Kevin yang merupakan siswa terpintar di kelas IPS. Siswa yang sudah selesai mengerjakan soal ujian diperbolehkan untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Elea yang sudah yakin dengan jawabannya langsung keluar dan mengumpulkan kertas ujiannya. Setelah keluar dari ruang ujian Elea langsung pergi mencari Eve dan yang lainnya, namun Eve dan yang lainnya masih terjebak di dalam ruang ujian. Beberapa saat kemudian Eve dan yang lainnya menyusul Elea keluar dari ruang ujian.


“Apa soalnya sangat sulit?” tanya Elea sambil menikmati camilannya.


“Tidak juga” ucap mereka bertiga serempak.


“Baguslah kalau begitu”


Bel pulang sekolah berbunyi seluruh siswa sudah diizinkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Sementara mereka yang belum selesai mengerjakan ujian, harus segera mengumpulkan lembar ujiannya baik itu selesai ataupun tidak.