
Malam yang indah, Nick bersama Arkha kembali melakukan penyergapan terhadap transaksi gelap milik De Thevil, di bawah sinar rembulan purnama yang menyinari. Mereka berdua hanya mengintai dari semak-semak, tapi anak buah mereka bekerja keras malam ini. Demi memanipulasi lawan, Nick dan Arkha harus terus bersembunyi agar identitas mereka aman. Tapi jika keadaan sudah di luar kendali, mereka juga harus turun tangan.
Beruntungnya, malam ini pertarungan tak begitu sengit. Dengan mudah pasukan milik Nick, menyerang dan melumpuhkan setiap pasukan lawan. Malam ini Nick kembali meraih kemenangan, dan ia bersorak gembira dalam hati, begitupun dengan Arkha. Setelah selesai, Nick langsung kembali ke mansion untuk beristirahat karena ia punya urusan penting besok. Sedangkan Elea, ia sudah terlelap setelah selesai membuat laporan mingguan perusahaan. Dan besok ia masih harus bangun pagi untuk pergi bekerja.
Akhirnya.... Fajar bertaut mentari kembali menyapa, walaupun sang mnetari masih malu-malu untuk muncul. Tapi tak apa, sebab dua orang pejuang kehidupan ini sudah bangun untuk menghadapi hari, yang satu si mafia gagah berani yang satunya lagi perempuan cantik nan pintar. Indahnya tampilan meja makan, dengan berbagai hidangan yang siap menjelajahi perut penikmatnya.
“Ibu, apa Ayah akan ke kantor hari ini? Aku tidak melihatnya sedari pagi” tanya Elea yang sedari bangun tidak menjumpai keberadaan Ayahnya.
“Ayahmu punya urusan penting bersama temannya, ia tidak akan hadir di kantor hari ini. Lagipula ia sudah pergi dari jam lima tadi” jawab Ibunya Elea.
“Kenapa pergi pagi-pagi sekali? Urusannya sepenting apa sih?” kata Elea.
“Entahlah, Ayahmu hanya bilang dia ada urusan mendadak dan harus pergi secepatnya. Bahkan dia bersiap dengan sangat buru-buru, sampai lupa mengganti celana piyamanya” ucap Ibunya Elea yang mengecilkan suaranya di akhir kalimat sembari tertawa kecil.
Mendengar hal itu, Elea pun ikut tertawa kecil kemudian ia melanjutkan makannya. Situasi di mansion Nick juga sama, sepi sekali pagi ini. Membuat suasana sarapan Nick terasa hampa, kemudian Arkha datang ke mansionnya pagi-pagi sekali. Bahkan Arkha berteriak-teriak memanggil nama Nick.
“NICHOLAS!!!... BANGUN! Hei, NICHOLAS CHRISTLY CHULLEN!!! Apa kau masih terlelap?!” teriak Arkha.
“Hei bajingan, diamlah. Kau ingin membuatku jadi tuli?” ucap Nick geram.
“Ohh, kau sudah bangun rupanya. Aroma makananmu sangat enak” ucap Arkha sembari menyorong tangannya dan ingin mengambil makanan yang ada di atas meja makan.
Nick langsung menepuk keras tangan Arkha, membuatnya merintih kesakitan. “Apa kau tidak punya hati? Aku kan juga mau makanan enak ini” kesal Arkha.
“Setidaknya kau tahu sopan santun” ucap Nick.
“Baiklah, berikan aku piring, akan ku temani kau makan” sahut Arkha.
"Memangnya kau belum makan?" tanya Nick dengan nada agak kesal karena kelakuan Arkha tadi.
"Tentu saja sudah. Tapi kalau ada suguhan yang seperti ini, kenapa mesti ditolak?" ucap Arkha yang sangat mengingat makanan.
"Dasar...." ucap Nick terhenti.
"Apa? Bajingan? Memang aku bajingan" sela Arkha yang mencibir Nick.
Merekapun sarapan bersama, menghabiskan semua makanan yang ada tanpa sisa. “Masakannya lezat, sepertinya aku harus meminjam kokimu itu Nick” ucap Arkha.
“Boleh saja, tapi uang sewanya dua kali lipat gajimu” sahut Nick dengan nada yang masih kesal dengan Arkha.
“Dasar brengsek!” kesal Arkha.
Nick tertawa puas melihat betapa kesalnya Arkha. Sangat jarang Arkha melihat Nick tertawa lepas seperti ini, Arkha merasa sangat senang bila melihat Nick bisa tertawa.
“Aku rasa kau perlu pasangan hidup Nick” ucap Arkha tiba-tiba membuat sorot mata Nick menjadi tajam seketika.
“Aku tidak mau menikah sebelum misi kita selesai!” tegas Nick.
“Ayolah, kau ini. Tidak ada habisnya, apa kau ingin melajang seumur hidup?” ejek Arkha.
“Apa maksudmu?” tanya Nick yang berpura-pura polos.
Arkha menghela nafasnya kasar. “Huft... Aku melihatmu merasa begitu kesepian, ku rasa kau perlu pendamping. Orang yang selalu bisa menemanimu untuk melewati hari, itu yang kau butuhkan. Kau melemah akhir-akhir ini, kau harus tahu satu hal. Jika kau lemah, maka semua pasukan kita juga akan melemah, mengertilah” nasihat Arkha.
Nick hanya diam mendengarkan, ia belum siap untuk menghadapi dunia pernikahan. Apalagi tujuannya sama sekali belum tercapai, baik untuk menemukan Efely ataupun membalas dendam kematian keluarganya.
Nick tersenyum kecil. “Bajingan kecilku, kau tidak perlu buru-buru. Aku tidak ingin menerima kontrak pengajuan kerja sama itu” ucap Nick membuat Arkha bingung dan dipenuhi sejuta tanya.
“Apa maksudmu?” tanya Arkha.
“Akan ku ceritakan di perjalanan nanti, tapi sekarang kita tetap harus berangkat ke kantor” kata Nick. “Paman, aku dan Arkha akan ke kantor sekarang. Kami akan pulang agak malam, jadi jangan menunggu. Dan berhati-hatilah” ucap Nick pada kepala pelayannya itu.
“Baik, Tuan” ucap kepala pelayan itu.
Nick dan Arkha langsung berangkat menuju kantor. Begitupun Elea yang sudah selesai sarapan, dan langsung berangkat ke kantor di antar oleh sopir pribadinya.
“Jika Tuan Nick sedang bersama Tuan Arkha mereka terlihat seperti kakak beradik ya” ucap koki kepercayaan Nick.
“Iya, mereka benar-benar seperti kakak beradik jika bersama” sahut kepala pelayan.
“Semoga misi mereka segera berhasil, hidup mereka terlihat begitu hampa. Tiada yang menghiasi, aku kasihan melihat mereka berdua” ucap koki iba.
“Aku juga merasa begitu”
“Aku sangat berterima kasih pada mereka, karena telah menyelamatkan ku dari kejamnya dunia luar”
“Itulah sebabnya kita harus tetap setia kepada mereka, meski dunia mengenal mereka sebagai mafia. Karena tak banyak yang tahu bahwa mereka berdua adalah orang baik” ucap sang kepala pelayan.
“Aku akan tetap setia sampai akhir hayat. Seluruh darah yang mengalir di tubuhku seakan sudah dibeli oleh Tuan Nick” ucap koki yang matanya mulai berkaca-kaca.
“Sudah, sudah. Lanjutkan pekerjaanmu, atau sebelum musuh menghabisimu Tuan yang akan mencincangmu duluan” tegur kepala pelayan.
Suasana kantor Elea hari ini terlihat biasa saja, tidak ada masalah baru. Tapi ada kabar gembira yang menyambut Elea di ruang kerjanya hari ini. Saat Elea masuk ke ruang kerjanya ia melihat ada sebuah buket di atas meja, lalu Elea memeriksa buket itu. Ada sebuah surat yang tertempel di salah satu sisi buket itu.
“Selamat atas kerja kerasmu selama ini. Semoga buket ini bisa menjadi pengingatmu untuk terus kuat dalam menghadapi hari” isi surat tersebut.
Tiba-tiba saja beberapa karyawan masuk dan memenuhi ruang kerja Elea, mereka semua tersenyum lebar dan mengucapkan selamat pada Elea atas kerja kerasnya selama dua bulan di perusahaan ini.
“Terima kasih” sahutnya. “By the way, siapa yang membuat kejutan ini” tanya Elea.
“Of course, that’s your father” sahut ayah Elea tiba-tiba.
Elea tersenyum girang dan langsung berlari lalu memeluk Ayahnya penuh suka cita. “Terima kasih Ayah” ucapnya.
“Sama-sama” sahut Ayah Elea sembari membalas pelukan putrinya. “Sudah, sekarang kalian harus kembali bekerja. Ini kan masih jam kerja” ucap Ayah Elea.
Semua karyawan yang tadi memenuhi ruangan kerja Elea, kini bubar dan yang tersisa hanyalah Elea dan Ayahnya.
“El, kapan kau akan mulai kuliah, nak?” tanya Ayahnya serius.
“Permulaan kuliahnya minggu depan” jawab Elea.
“Em, kau akan pergi sendiri atau bagaimana untuk kuliah nanti”
“El, berangkat sendiri saja, Ayah”
“Baiklah kalau begitu” sahut Ayahnya