
...#6 bulan kemudian#...
Enam bulan sudah berlalu, namun rencana De Thevil dan hilangnya anggota Vel Junior masih belum terkuak. Masalahnya malah menjadi semakin rumit, sebab Eleapun ikut terjerat kasus tak jelas ini. Selain itu, Nick dan Eve semakin jarang kontak, membuat mereka sering diterpa bahaya dari lawan.
Perepcahan menjadi tonggak awal lawan untuk memecah belah mereka semua. Lalu, membuka celah untuk kejahatan menguasai kota, negara dan akhirnya dunia. Hilangnya keadilan akan mengganggu kehidupan, pembantaian demi pembantaian terus terjadi. Eve dan Nick juga semakin jauh dari kata kerja sama, mereka berusaha mengatasi semuanya sendiri-sendiri.
Elea sedikit menyerah menghadapi keadaan ini, namun orang tua dan juga dua sahabatnya terus memberinya semangat. Bahkan ia terus mendapat dorongan agar tetap bisa mengatasi setiap masalahnya. Di sela kesibukannya sebagai seorang mahasiswi, Elea terus mencari tahu lebih dalam tentang masalah yang terjadi.
*Di taman kampus Platina*
"El, apa kau ada dapat kabar tentang Eve?" tanya Lavi
"Kami selalu berkabar, hanya saja kadang tidak ada bertemu atau telfonan, karena dia cukup sibuk" sahut Elea yang lalu menyeruput minuman coklat panas kesukaannya.
"Ohh... Jadi, dia masih sibuk dengan penyelidikan kecelakaan itu?" tanya Geya.
"Iya, bisa dibilang begitu" sahut Elea santai.
"Entah apa rencana De Thevil, ini sudah enam bulan tapi Eve masih belum bisa menemukan anggotanya. Bahkan ia belum tahu taktik De Thevil itu. Dia yang paling hebat dalam menghadapi misi seperti ini saja, tetap ia tidak bisa melakukannya dengan cepat, bagaimana jika kita yang ada di posisi itu?" ucap Lavi panjang lebar.
"Hai...!" sapa riang seorang gadis dari kejauhan.
Elea dan dua sahabatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut. Mereka melihat wajah cantik berseri yang sangat mereka kenali.
"Evellie...!" sorak mereka serempak.
"Bagaimana kabarmu Eve?" tanya Lavi sembari memeluk Eve.
"Tentu saja aku baik" jawab Eve meledek Lavi sembari membalas pelukannya.
"Ya ampun, drama mereka berdua ini" cibir Geya.
"Maklumi saja, mereka kan bestfriend forever" sahut Elea.
"Irikah? Sini kalau mau juga" ucap Eve.
"Iyuh... Geli aku" sahut Geya dengan gaya lebay girly-nya.
Elea, Eve, dan Lavi tertawa keras melihat sikap Geya yang kembali seperti dulu lagi. Sudah lama juga mereka tidak berkumpul seperti ini.
"Bagaimana kabarmu my baby, Geya?" tanya Eve sekaligus mengejek Geya, karena ia menggunakan nada bicara Geya.
"Ya ampun Eve... Ekhm,, ekhm, aku baik-baik saja" jawab Geya dengan senyum penuh manisnya.
"Hahaha... My baby sangat menggemaskan. Em, kau juga bagaimana, El? Apa kau baik?" tanya Eve.
"Aku baik. Kau sendiri bagaimana?" sahut Elea dengan senyum manisnya yang khas.
"Tentu saja dia baik" celetuk Lavi sambil menyuap ranggas camilannya.
"Kau ini, yang ditanya siapa yang jawab siapa" cibir Geya.
"Memangnya kenapa?" sahut Lavi dengan gaya tomboynya itu.
Eve dan Elea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sahabat mereka itu.
"Misimu belum selesai?" tanya Elea.
"Belum, De Thevil sangat pandai menutupi setiap hal, bahkan yang sangat kecil sekalipun" sahut Eve dengan ekspresi lelah dan pasrahnya itu.
"Aku rasa mereka punya rencana besar di balik tragedi kecil itu, itu sebabnya mereka sangat tertutup" sahut Lavi.
"Itu mungkin saja" sahut Eve.
"Menurutku kau harus memancing mereka, buat mereka mengatakannya sendiri. Mungkin dengan begitu kau lebih mudah untuk menyelesaikan misimu itu" saran Lavi.
"Hem, wajib dicoba. Akan ku lakukan itu nanti" ucap Eve seakan sudah mendapat penerangan yang hebat.
Eve melihat jam yang melingkar di tangannya, kini hari sudah cukup siang, perutnya pun sudah keroncongan. *pukul 12.14*
"Tidakkah kalian merasa lapar?" tanya Eve.
"Tidak!" sahut Geya sembari menyuap camilan yang ada di tangannya.
"Hem, pantas saja. Kau sangat rakus!" ucap Eve sembari menunjuk Geya dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Enak saja. Kau yang lebih rakus" jawab Lavi tidak terima.
"Sudahlah. Ayo kita ke restoran, aku ingin makan siang" ucap Elea yang sedikit pasrah dengan sikap kedua temannya.
"AYO!!!" sahut Lavi dan Geya serempak dengan penuh semangat.
"Mereka berdua sama rakusnya" bisik Eve pada Elea.
Elea hanya mengangguk mengiyakan dengan senyumannya yang manis namun sedikit mengejek, karena seperti yang dia tahu dua gadis itu sangatlah rakus.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Geya.
"Tidak, tidak ada" jawab Elea seperti gugup.
"Mencurigakan" sahut Lavi sambil menyipitkan matanya.
"Sudah, lupakan hal itu. Mari kita pergi" ajak Elea.
Lalu, mereka berempat berdiri dan kemudian berjalan bersama menuju mobil mereka masing-masing.
"Kita mau ke restoran mana?" tanya Lavi.
"Restoran tradisi, aku merindukan aroma masakan mereka" sahut Elea.
"Aku ikut saja" sahut Eve saat Lavi melemparkan sebuah tatap pertanyaan ke arahnya.
"Dan kau?" tanya Lavi pada Geya.
"Sama seperti Eve" sahut Geya santai.
"Baiklah, restoran tradisi" ucap Lavi.
Mereka semua menancap gas mobil, dan mengarahkannya menuju restoran tradisi yang sudah lama tak mereka kunjungi. Sudah lama juga mereka tidak berada dalam suasana seperti ini, sungguh menyedihkan.
*di mansion Nick*
"Ya ada apa?" tanya Nick.
"Tuan, kami menemukan sebuah petunjuk dari tragedi kecelakaan enam bulan lalu" ucap seorang pria dari sebrang telfon sana.
"Dimana kau sekarang?" tanya Nick semakin dingin.
"Di lokasi kejadian. Aku juga menemukan sesuatu di tempat yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian, Tuan" ucap orang itu.
"Bawa setiap hal yang kau dapatkan, dan temui aku sekarang di markas utama" perintah Nick yang langsung diiyakan oleh orang itu.
Nick memberitahu Arkha terlebih dahulu tentang hal ini, lalu ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju markas utama Navarda, dikawal oleh dua mobil anak buahnya.
*di markas utama Navarda*
"Ada apa?" tanya Arkha pada Nick yang baru saja tiba dan belum sempat duduk.
"Setidaknya biarkan aku duduk terlebih dahulu" ucap Nick kesal.
"Maafkan aku"
"Orang-orang kita menemukan sedikit petunjuk di lokasi kejadian" ungkap Nick.
"Benarkah? Itu sangat bagus" ucap Arkha sedikit gembira.
"Aku harap itu bisa mempermudah kita" sahut Nick yakin.
Arkha hanya mengangguk optimis. Dan tak berapa lama kemudian, ada beberapa anak buah Nick yang datang dengan membawa ransel hitam yang terlihat cukup berat.
"Apa yang kalian bawa?" tanya Nick dingin.
"Ini adalah beberapa barang bukti yang kami temukan di lokasi kejadian, Tuan" ucap salah satu anak buahnya yang merupakan pimpinan tim penyelidikan ini.
"Perlihatkan padaku semua hal yang kalian temukan" perintah Nick sembari menunjukkan wajah datarnya yang sangar.
"Baik, Tuan" sahut anak buahnya patuh.