Get married with mafia

Get married with mafia
Chapter 10 - Penyergapan Malming



Pagi yang indah, dari ufuk barat mulai terpancar sebuah cahaya jingga yang sinar remangnya mulai berusaha menyentuh kulit manis dua orang gadis cantik dan seorang lelaki tampan, ya siapa lagi kalau bukan Eve, Elea, dan Nicholas. Di pagi yang cerah ini mereka bangun pagi dengan bersemangat, tepat pukul 05.45 mereka sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi.


Eve dan Elea meskipun sudah berpakaian rapi tapi mereka masih bersantai di kamar, karena ini terlalu pagi untuk turun dan sarapan jadi mereka hanya bermain ponsel. Sedangkan Nick, ia langsung turun untuk pergi sarapan. Saat sampai di lantai bawah mansionnya ia melihat seorang lelaki yang sudah muncul saja di mansionnya, padahal ini belum pukul 6 tepat. Orang itu adalah Delvin, bukan Arkha.


“Kenapa kau datang pagi-pagi sekali Vin?” tanya Nick sembari menghampiri Delvin dan duduk di kursi makannya.


“Aku ingin memberitahumu. Maaf sebelumnya, aku sama sekali tidak berniat mengecewakanmu, tapi...” ucapan Delvin terhenti sejenak.


“Ada masalah apa?” tanya Nick bingung.


“Sebenarnya aku tidak bisa membuatmu menjadi salah satu siswa di SMA Nenggala, aku sungguh minta maaf padamu, aku mengecewakanmu” ucap Delvin dengan suaranya yang mengecil.


“HAHAHA... Aku pikir ada apa tadi. Sudahlah tidak apa, aku juga tidak tertarik lagi untuk menjadi siswa di SMA itu” kata Nick sambil tertawa.


“APA?!! Apa yang membuatmu berubah pikiran Nick?” tanya Delvin yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Nick.


Nick membuang nafasnya kasar, “Aku berpikir jika aku menjadi salah satu siswa di SMA itu maka aku akan terus diincar walau sedang berada di sekolah. Aku tidak mau siswa-siswi di Sekolah itu ikut menjadi korban dari dunia gelap kita” Nick menjelaskan dengan wajah sedihnya.


“Kau benar juga” Delvin membenarkan perkataan Nick. “Ehh, jangan-jangan kau sendiri yang menggagalkan pergerakanku saat kau sudah mulai sadar dengan keadaan” ucap Delvin dengan mata yang sedikit melebar karena rasa geram akan kecurigaannya.


“Tentu saja tidak! Aku tidak mengganggu pekerjaanmu itu” bantah Nick.


“Aku pikir kau sendiri yang mengganggunya” gerutu Delvin.


“Sudahlah, Ayo kita sarapan” ajak Nick.


Setengah jam sudah berlalu, kini jam digital di samping kasur Elea sudah membunyikan alarm waktunya sarapan. Elea dan Eve pun langsung keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan untuk sarapan. Suasana di dua meja makan ini terasa sangat hangat dan tenang. Selesai sarapan Elea dan Eve langsung berangkat menuju sekolah dan Nick langsung pergi ke kantornya. Keadaan di kantor Nick dan juga sekolah Elea hari ini tampak biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu apapun yang mengganggu.


Sampai bel pulang sekolah berbunyi semuanya masih tampak biasa, Elea dan Eve hari ini pulang bersama namun tidak dengan Geya dan Lavi. Mereka berempat tidak pulang bersama karena Elea dan Eve punya masalah sendiri, namun setelah Geya sampai ke rumahnya Lavi langsung pergi menyusul Elea dan Eve. Lavi juga akan ikut dalam penyergapan malam ini bersama Elea dan Eve, Lavi juga sangat pintar dalam permainan senjata. Gadis tomboy satu ini juga bisa digunakan kalau dalam bisnis yang seperti ini. Setelah urusan selesai mereka memutuskan untuk pulang dan akan berkumpul di markas tepat pukul 08.00 malam.


Setelah makan malam Elea, Eve, dan Lavi saling kontekan dari rumah masing-masing, hari ini Eve tidak menginap di rumah Elea, mereka masih bersiap untuk penyergapan. Nick yang sudah selesai makan malam langsung pergi bersama Arkha untuk mencari tahu lebih dalam tentang kelompok Mawar Api dan geng yang melindungi mereka. Tentu saja mereka dibuat heran dan penasaran, secara Mawar Api bukanlah apa-apa bagi kelompok Navarda yang ada di dalam genggaman Nicholas. Ya, Navarda merupakan kelompok mafia besar milik Nicholas yang ia bentuk sedari masih muda bersama dengan Arkha.


“Apa kalian siap untuk malam ini?” tanya Eve melalui sambungan telfon yang menghubungkannya dengan Elea dan Lavi.


“Tentu saja siap!!” jawab Lavi bersemangat.


“Kau bagaimana El?” tanya Eve lagi.


“Aku akan selalu siap apapun kondisinya” kata Elea sambil mengepalkan tangannya karena kesal dengan kelompok Mawar Api.


“Bagus!! Tapi ingat untuk selalu berhati-hati” Eve memperingati mereka.


“Baik” jawab Elea dan Lavi serempak.


“Siap. Laksanakan!!” lagi-lagi ucap mereka serempak.


“Kita berkumpul di markas jam 8, pastikan seluruh anak buah kalian siap bertarung”


“Baik Eve” ucap Lavi.


Mereka sibuk menyiapkan untuk pertarungan malam ini, bahkan mereka tidak mematikan sambungan telfon itu. Sementara Nick sedang dalam perjalanan menuju lokasi bersama Arkha dengan mobilnya.


“Aku tidak menyangka Mawar Api akan melakukan pemberontakan besar-besaran malam ini” ucap Arkha pada Nick.


“Aku juga tidak, tapi siapa yang tahu keberuntungan akan berpihak pada siapa. Mungkin Mawar Api sedang beruntung malam ini” balas Nick.


“Oh iya, aku baru ingat, selain transaksi gelap ini mereka juga akan mengacau di beberapa daerah. Aku sungguh lupa memberitahu mu” ucap Arkha dengan sedikit menunduk.


“Sialan!! Bagaimana kau bisa lupa? Sekarang siapa yang akan mengatasi daerah-daerah itu, sementara kita sudah memfokuskan semua pasukan kita di titik ini” ucap Nick geram.


“Aku dengar akan ada 2 kelompok yang bekerja sama untuk mengatasi pemberontakan di daerah-daerah yang sudah ditentukan itu” jawab Arkha.


Nick menghelas nafas. “Aku lega mendengarnya, tapi kelompok siapa itu?” tanya Nick penasaran.


“Kau pasti tau kelompok Fevel kan?” Arkha balik bertanya pada Nick.


“Tentu saja” jawab Nick.


“Kelompok Fevel lah yang akan mengatasi masalah itu, dan dia juga bekerja sama dengan 1 kelompok lagi, tapi kelompok itu sangat private jadi susah untuk mendapatkan informasi tentang mereka” jelas Arkha pada Nick.


“Tak perlu kirim bantuan pada mereka, aku tahu bagaimana baiknya kinerja kerja kelompok Fevel itu” perintah Nick.


“Baik” jawab Arkha


Alarm ponsel mereka (Elea, Eve, dan Lavi) berbunyi, tandanya mereka harus segera berangkat ke lokasi penyergapan. “AYOO!!” ucap Eve bersemangat. Mereka semua bergegas menuju markas, dan Nick yang sudah tiba sedari tadi di lokasi terus memantau pergerakan musuhnya dengan mata elangnya itu. Tidak satupun pergerakan musuhnya yang lepas dari jangkauan mata elang milik Nick. Elea, Eve dan Lavi sudah tiba di markas dan langsung berangkat ke lokasi yang sudah ditentukan, mereka menghambur formasi untuk mengecoh musuh dan mempermudah pergerakan mereka.


Saat tiba di lokasi, tanda-tanda musuh sudah terlihat oleh mereka bertiga, tembak-menembak pun tak bisa dihindari, tak hanya bermain tembak-tembakan mereka juga harus berolahraga dan baku hantam.


Antara kelompok Elea, Eve dan Lavi dengan kelompok Mawar Api mereka saling tembak-menembak dan menghajar demi mempertahankan benteng masing-masing. Nick juga langsung menyerang lawan saat situasi dirasa sudah tepat, bersama dengan Arkha dan pasukannya mereka melumpuhkan satu persatu anak buah lawan. Daerah-daerah yang dipegang kendali oleh Elea, Eve dan Lavi kini sudah terkendali, Eve juga sudah membaca situasi saat ini yang lebih aman dari sebelumnya.


“Situasi aman terkendali sekarang, aku dapat info tentang keadaan di lokasi transaksi. Aku akan kesana sekarang dan membantu Navarda” ucap Eve melalui sambungan telfon di headset bluetooth mereka.


“Ya, berhati-hatilah, di sana jauh lebih berbahaya” ucap Elea.


Eve langsung menarik gas motor dan mengarahkannya ke arah pelabuhan tempat transaksi itu berlangsung. Di sana Eve melihat anak buah Nick yang kewalahan dalam menghadapi anggota Mawar Api, Eve langsung menurunkan anak buahnya untuk membantu Nick dan yang lainnya. Eve juga ikut turun tangan dalam penyerangan itu.