
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa kerja sama Eve dan Nick sekarang sudah mulai renggang seiring berjalannya waktu, namun keduanya masih sering turun bersama untuk memberantas kejahatan di kota ini.
“Nanti malam akan ada transaksi jual beli organ manusia, kau mau ikut tidak?” ucap Nick melalui sambungan telfon dengan nada dinginnya.
“Milik siapa?”
“Tentu saja milik Edward!” sahut Nick geram.
“Aku akan turun, kirim lokasinya” balas Eve dengan nada yang datar.
Nick langsung mematikan sambungan telfonnya dan mengirim lokasi transaksi milik Edward tersebut. Kedua orang ini memang memiliki aura dingin, jika mereka dihadapkan satu sama lain terlihat bagai tiada kehidupan di antara mereka, hanya aura kematian yang terasa. Arkha saja akan bergidik ngeri jika melihat kedua orang dingin ini sedang melakukan meeting untuk membahas bisnis. Tak lama setelah menerima telfon dari Nick, kini Elea yang menelfon Eve membuat suasana hatinya langsung berubah.
“Tumben sekali kamu nelfon. Ada apa El?” tanya Eve.
“Kamu masih ingat Luis gak?” El bertanya balik.
“Luis anaknya Om Hans itu?”
“Nah iya itu”
“Ingat, kenapa memangnya?”
“Tadi tu anak datang bareng keluarganya, aku sempat kaget. Tapi ternyata dugaanku benar, aku mau dijodohkan sama Luis” jelas Elea dengan nada kesal.
“APA?!! Jadi kamu bakal nikah sama Luis?” tanya Eve kaget.
“Ya gak lah. Aku gak sudi nikah sama lelaki lemah kek gitu” ucap Elea jijik.
“Syukurlah, aku pikir kau akan mulai mengbabu karena harus menikah dengan lelaki seperti Luis itu” ejek Eve dengan tawanya.
“Jaga bicaramu! Hanya karena kita membicarakannya lewat telfon jangan pikir aku tidak bisa mencincang mulutmu itu” ucap Elea geram.
Sementara Eve, ia hanya tertawa tiada henti karena memikirkan nasib adik sepupunya bila harus menikah dengan Luis yang memiliki sikap seperti anak-anak.
“Dasar menyebalkan!” Elea langsung mematikan sambungan telfonnya dan menghempaskan keras ponselnya di kasur.
Malam telah tiba, kini sudah saatnya untuk Eve, Nick dan Arkha beraksi. Karena transaksinya bukan skala kecil, apalagi barangnya bukan sembarangan membuat Edward sendiri yang harus turun tangan untuk pengamanan dan menghadapi sergapan dari Navarda.
Nick dan Arkha mengintai melalui semak-semak dengan jarak cukup dekat dengan lawan, sementara Eve ia memantau dari kejauhan dengan teropong. Eve menyebar anak buahnya untuk mengintai dengan lebih leluasa terhadap pergerakan lawan.
“Mobil Edward sudah terlihat, mobilnya diiringi 3 mobil bak yang penuh dengan pasukan bersenjatanya” kata Eve memberitahu Nick melalui sambungan telfon di headset bluetoothnya.
“Berapa jaraknya?” tanya Nick tanpa mengalihkan pandangannya dari pasukan lawan yang sedang berjaga dan menanti kedatangan tuan mereka.
“Sekitar 900 meter dari posisimu”
“Mana box yang berisi barang transaksi mereka?” tanya Nick pada Arkha.
“Yang itu dan yang di sana” tunjuk Arkha pada dua box yang berisi organ manusia. “Aku rasa box yang itu juga, yang berwarna merah dengan ukuran yang lebih kecil” sambung Arkha.
“Pastikan pandanganmu selalu tertuju pada tiga box itu. Perintahkan mereka semua untuk bersiap siaga” titah Nick.
“Baik” ucap Eve yang langsung lari menuju motornya dan pergi menuju muara sungai untuk menghabisi anak buah Edward yang bersembunyi.
Ketika sampai di lokasi dan perlahan-lahan disergap oleh lawan, Edward kaget bukan kepalang sebab bukan hanya Navarda yang menyerang dan menggagalkan bisnisnya. Tapi kelompok mafia kota ini yang bernama Fevel juga ikut menggagalkan transaksinya dengan cara bekerjasama dengan Navarda.
“Ternyata ini alasan mengapa setiap kali anak buahku ku kirim mereka tak pernah lolos dari sergapan lawan. Gadis sialan itu juga turut campur dalam masalah ini” batin Edward.
Nick yang melihat Edward hanya berdiri mematung langsung menyerang dan menghajar Edward habis-habisan. Edward kewalahan dan hanya bisa menerima serangan bertubi dari Nick, tak ada pilihan ingin mengelak tak sempat ingin melawan tak bisa. Tamatlah sudah riwayat Edward malam ini, ia harus menerima jika dirinya pulang dengan babak belur karena serangan Nick. Nick sengaja tidak memasukkan Edward ke penjara, Nick hanya ingin bermain dengan Edward.
“Pulanglah, malam sudah larut” ucap Nick pada Eve.
“Kenapa kau perhatian padaku? Aku akan pulang jika aku mau” jawab Eve angkuh.
“Dasar gadis sialan! Terserah kau saja, aku hanya khawatir karena kau itu perempuan. Tapi kalau tidak mau pulang itu terserah padamu” ucap Nick geram lalu pergi meninggalkan Eve.
Eve berdiri sendiri di pinggir pantai sambil memandang anak buahnya yang bekerja membereskan anak buah Edward. Tanpa Eve sadari ada seorang lelaki yang mengintainya, dan kemudian lelaki itu menangkap Eve. Eve yang panik hanya bisa berteriak histeris dan tak bisa melawan lelaki itu.
“Nicholas!! Tolong aku... NICHOLASSS!!!” teriak Eve. “Jangan menuli, Nicholas!!” Eve terus berteriak hingga Nicholas melihatnya.
Saat Nicholas melihat Eve yang ditahan oleh seorang lelaki, Nick langsung menghampiri Eve untuk menyelamatkannya. Lelaki itu juga berusaha membius Eve, namun karena Eve memberontak ia jadi sulit untuk membius Eve. Untung saja Eve tidak sempat terbius dan Nick sudah datang lalu menghajar lelaki kurang ajar itu, Nick melumpuhkan lelaki itu sampai ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Nick pada Eve.
“Aku tidak apa-apa” jawab Eve dengan gemetar dan rambutnya yang sudah acak-acakan.
Nick melepaskan jasnya lalu memasangkannya pada Eve. Ia melihat gadis yang selama ini selalu bersikap tangguh kini sedang berada dalam fase ketakutan.
“Ada satu lagi di sini!” teriak Nick pada anak buahnya, memberitahu masih ada satu tubuh lawan yang sudah tergeletak tak berdaya itu.
“Ayo, kita ke mobilku saja” ajak Nick. Eve yang masih syok hanya menurut pada Nick.
Nick merangkul Eve dari samping, membimbingnya berjalan menuju mobil. Saat sampai di mobil Eve langsung duduk dan mulutnya tetap diam tak berkutik, kemudian Nick duduk di samping Eve ia ingin memastikan keadaan gadis ini baik-baik saja.
“Aku akan katakan pada Arkha bahwa aku akan mengantarmu pulang. Motormu akan dibawa oleh anak buahmu saja” ucap Nick.
Eve hanya mengangguk patuh, gadis ini masih syok akibat kejadian tadi. Nick mengantarkan Eve sampai ke depan rumahnya. Eve sedari tadi hanya diam, ia baru pertama kali mengalami hal yang seperti ini sampai ia syok berat.
“Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini” ucap Nick saat sampai di depan pintu.
“Tidak apa-apa, aku akan masuk sendiri. Terima kasih” sahut Eve dengan suara samar-samar.
“Hm. Masuklah cepat, di sini dingin” Nick berkata dengan wajah datarnya.
Eve hanya menurut dan segera masuk ke dalam rumahnya. Sementara Nick, ia memilih untuk kembali ke lokasi penyergapan, namun saat di tengah jalan Nick mendapat notif pesan dari Arkha.
“Tak usah kembali kemari, kami sudah selesai” isi pesan Arkha.
Nick hanya membaca pesan tersebut dan memerintahkannya sopirnya untuk putar balik menuju arah pulang. Sopirnya pun langsung memutar balikkan mobil menuju arah pulang ke mansion. Sesampainya di mansion, Nick langsung pergi ke kamarnya dan segera membersihkan diri lalu beristirahat di atas kasur empuknya itu.