
Satu Bulan Kemudian
Tari dan putrinya nampak begitu terlihat anggun dalam balutan busana kebaya warna merah bold dipadukan bersama rok kain motif Batik warna coklat saat hendak menemani suaminya wisuda.
Ranu tak hentinya memandangi keduanya. "Kalian sungguh cantik sekali," ucapnya, ia membungkuk sembari merentangkan tangannya, memberi pertanda bagi keduanya untuk memeluknya.
Tari dan Kerlip berhambur memeluk Ranu. "I'm proud of you, papi," Kerlip mengecup pipi Ranu kanan Ranu, sementara Tari mengecup pipi kirinya. "Aku bangga sekali padamu, sayang."
Masih jelas dalam ingatan Tari, bagaimana saat Ranu masih menjadi preman pasar senen yang menumpang tidur di kamarnya, namun kini semuanya berubah. Ranu bukan lagi preman pasar senen, kini ia memiliki segalanya, dan hanya satu yang tak pernah berubah dari Ranu, ketampanan dan kelembutan hatinya.
Dulu Tari sering memimpikan berada di situasi ini, kini ia tak menyangka jika mimpinya itu terwujud. Ia hidup bersama Ranu, dan sebentar lagi akan memiliki anak darinya. Tari menarik jas yang di kenakan Ranu, kemudian ia membenamkan wajahnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ranu saat mendengar suara isak tangis dari mulut istrinya.
Tari menggeleng, kemudian ia melepaskan pelukannya. "Entahlah," ucapnya sembari menghapus air matanya. "Mungkin ini hanya hormon kehamilan, tapi yang jelas tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan."
Ranu mengelus punggung Tari dengan lembut. "Sudah siang, kita berangkat yuk." ia menggandeng Kerlip di sebelah kanannya dan merangkul Tari dengan tangan kirinya.
Upacara wisuda berlangsung dengan khidmat, rasa bangga terpancar jelas di wajah Tari dan putrinya. "Mom, I want to be like papi and daddy," ucapnya, Kerlip bukan hanya mengagumi sosok Ranu, tapi juga mengagumi sosok Tara, ayah kandungnya yang sering kali mengajaknya berkunjung ke kantor dan lokasi projectnya.
Tari mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Ya, kamu memiliki dua ayah yang sangat luar biasa."
Selesai acara ceremony, Ranu hanya berfoto sebentar dengan keluarga kecilnya, kemudian ia mengajak anak dan istrinya untuk datang ke peresmian taman rekreasi yang di kerjakan oleh Tara.
Butuh waktu sekitar kurang lebih 5 tahun untuk Tara dan timnya mengerjakan project tersebut, meski sempat mendekam di penjara, ia tetap memantau perkembangan projectnya melalui sekretarisnya yang selalu rutin mengunjunginya di lapas.
"Congratulation, daddy," ucap Kerlip pada Tara, dengan rasa bangganya memiliki daddy yang sangat luar biasa di matanya.
Tara menggendong putri semata wayangnya, "Thank you baby," ia mencium pipi chubby putrinya. Tara bukan hanya mendapatkan ucapan selamat dari putri tercintanya, namun juga dari Ranu dan Tari.
"Maaf kami datang terlambat," Ranu menunjuk ke arah tempat peresmian yang sudah mulai sepi.
Tara mengangkat bahunya. "Tidak apa-apa, yang penting kalian datang," ucapnya. Tara memaklumi jika putrinya datang terlambat karena terlebih dahulu menghadiri wisuda Ranu. "Apa kalian mau main?"
Ranu nampak memperhatikan sekeliling. "Sepertinya lain kali saja, ini terlalu ramai."
Ranu mengangguk, ia berjanji akan datang lain kali saat pengunjung tidak begitu ramai sehingga ia dan keluarganya bisa menikmati berbagai wahana yang ada.
Setelah berbincang cukup lama, Ranu dan keluarganya pun pamit untuk menghabiskan masa liburan semester di Bogor, Jawa Barat.
Tara memeluk putrinya lama sekali. "See you next week, baby," bisiknya. "I will be miss you," ia mengecup pipi dan kening Kerlip.
Kerlip membalas pelukan hangat Tara. "I will miss you, too, daddy." ucapnya, sembari melepaskan pelukan Tara, ia mendekat ke arah Ranu dan menggandeng tangannya berjalan menuju parkiran.
Ada perasaan sedih pada diri Tara ketika melihat putri semata wayangnya pergi berlibur bersama Ranu dan Tari, namun di lain sisi ia juga bahagia melihat putri semata wayangnya tumbuh menjadi anak yang ceria dan bahagia. Dalam batinnya, ia berterima kasih kepada Tari karena pernah memintanya untuk melepaskannya, sehingga putrinya sama sekali tidak pernah melihat sisi buruknya.
"Tari, apakah kamu masih ingat dengan cahaya senja di tepi danau?" tanya Ranu.
Tari mengangguk, semua tentang Ranu tak ada yang tak ia ingat. "Kotak musik yang pernah kamu berikan padaku, di hari ulang tahunku yang ke delapan belas?"
"Ya," jawab Ranu. "Inilah villa kita, cahaya senja di tepi danau." ia merentangkan tangannya memperlihatkan villa yang baru saja ia bangun untuk istri dan anaknya. "Aku belum bisa membuat rumah pohon karena kau sedang hamil, aku tak ingin nantinya kau merengek minta naik ke atas," ucap Ranu sembari tersenyum.
Tari menggeleng, baginya ini sudah cukup. Ranu benar-benar menepati semua janji-janjinya yang pernah ia ucapkan. "Ini sudah lebih dari cukup, sayang." Air mata Tari kembali mengalir deras di wajahnya, ia hampir tak bisa berkata-kata dengan kejutan yang Ranu berikan untuknya.
"Semula aku berniat membuat ini di Swiss, namun aku tidak bisa meninggalkan ibu, aku juga tidak bisa memintamu untuk meninggalkan cafe impianmu dan juga bundamu," ucap Ranu. "Terkadang sebuah janji pun harus melihat situasi."
Di tepi danau Tari memeluk Ranu dengan erat. "Janjimu lunas, sayang. Terima kasih untuk segalanya."
Lama mereka berpelukan, hingga Kerlip memanggil kedua orangtuanya dan mengajaknya memancing.
"Tentu saja, honey. Kita akan memancing dan membuat api unggun di sini. Bagaimana?" ucap Ranu.
Kerlip bersorak sembari melompat kegirangan, Tari tertawa melihat tingkah menggemaskan putrinya, dalam benaknya, ia tak hentinya ia bersyukur dengan semua kebahagiaan yang Tuhan berikan padanya.
...-The End-...