Enough

Enough
Chapter 16



Setelah dua hari memikirkan siapa teman prianya yang akan ia gandeng sebagai kekasih sementaranya untuk datang ke pesta ulang tahun Caira, Tari menjatuhkan pilihannya pada Cakra, teman satu kantornya di perusahaan teknologi, tempatnya bekerja dulu.


"Tari, kenapa kau nampak gugup?" tanya Cakra.


"Aku tidak gugup. Aku hanya kurang nyaman datang ke pesta yang hampir seluruh tamunya tidak aku kenal." Tari merapihkan rambut melalui pantulan dirinya di dinding lift.


"Ya, kau terlihat sangat gugup. Apa karena tuan pengusaha, yang kau ceritakan di mobil tadi?" tanya Cakra kembali.


Di perjalanan menuju apartement Caira, Tari sempat bercerita sedikit mengenai Caira, Gala dan juga Tara. Tari bercerita agar Cakra tahu bagaimana dirinya harus bersikap sebagai pacar sementaranya di depan mereka bertiga.


"Aku tidak ada urusan dengannya, lagi pula belum tentu juga ia akan hadir, karena setahuku dia sangat sibuk."


Lift berbunyi dan pintunya perlahan membuka. Tari dan Cakra bisa mendengar musik mengalun dari ujung beranda. Cakra menggenggam erat tangan Tari membimbingnya keluar dari lift, "Mari kita mulai sandiwara ini." ucapnya dengan penuh semangat.


Hanya ada satu pintu yang terlihat di beranda, sehingga mereka berdua berjalan ke arah pintu tersebut dan menekan bel.


"Kenapa hanya ada satu pintu di sini?" tanya Cakra heran, karena biasanya dalam satu lantai gedung apartement ada beberapa unit.


"Karena seluruh lantai ini, milik Caira."


Cakra tergelak. "Dan dia bekerja untukmu? Ini Gila sih!" ia menggelengkan kepalanya.


Secara perlahan pintu terbuka, dan Tari merasa lega melihat Caira berdiri di depannya sedang memegang gelas sampanye. Caira langsung menyambar tangan Tari. "Ayo masuk, masuk."


Caira menarik Tari ke dalam, dan Tari meremas tangan Cakra lalu menyeretnya di belakang Tari. Caira terus menarik mereka berdua membelah kerumunan orang sampai mereka tiba di sisi lain ruang tamu. "Sayang!" serunya, menarik-narik lengan suaminya.


Gala berbalik dan tersenyum pada Tari, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Tari. "Kau sudah datang Tari?"


Tari tersenyum sembari menjabat tangan Gala. "Ya baru saja." ia melirik ke arah belakang dan sekeliling, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Tara, Tari merasa hari ini sangat mujur karena Tara tengah sibuk mengurus mega projectnya.


Gala mengulurkan tanganya ke Cakra dan menyalaminya. "Hai, senang berkenalan dengamu."


Cakra merangkul bahu Tari. "Aku Cakra!" serunya, "Aku tunangannya Tari."


Tari hampir saja tersedak mendengar pernyataan Cakra, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Cakra. "Bicara apa kau ini? Kesepakatan kita hanya pacar pura-pura, bukan tunangan."


Caira kembali menyambar lengan Tari dan menariknya menjauh dari Cakra. "Aku pinjam tunanganmu sebentar." ucapnya.


Cakra mengangguk mempersilahkan dengan senang hati Caira membawa Tari pergi, sementara dirinya asik mengobrol dengan Gala.


Tari mengikuti Caira ke dapur yang kemudian ia menyodorkan segelas sampanye ke tangan Tari. "Minumlah," ucapnya, ia menatap Tari dengan serius. "Benarkah itu tunanganmu?"


Tari mengangguk sembari menyesap sampanye yang di berikan oleh Caira.


"Wahhh selamat Tari, aku doakan semoga kau dengannya segera menikah." Caira memberikan pelukan hangatnya kepada Tari.


Tari memaksakan diri untuk tersenyum sembari memikirkan kebohongan yang nantinya akan ia lontarkan kepada Caira mengenai batalnya pertunangannya dengan Cakra.


"Dapurmu luas sekali, bahkan lebih luas dari apartemenku." Tari mencoba mengalihkan pembicaraan, ia sudah tak ingin terjebak dalam kebohongan yang di buat oleh Cakra.


Caira cekikikan. "Ya beginilah," jawabnya. "Dan asal kau tahu, aku menikah dengan Gala bukan karena uang. Aku menerima lamarannya di saat ia hanya punya uang satu juta di dalam tabungannya, dan awal kita menikah, kita hanya tinggal di rumah petak. Aku bersedia meninggalkan rumah mewah orang tuaku, karena aku sangat sangat mencintai suamiku."


Caira menghela nafas leganya. "Yah, kami menikmati rollercoaster kehidupan berumah bersama-sama, dengan penuh cinta."


Tari tak menyangka jika ternyata Caira yang terlihat manja pernah hidup susah. "Sangat menginspirasi," ucap Tari.


Lagi-lagi Tari terpaksa tersenyum saat Caira kembali membahas Cakra. Pintu dapur terbuka dan Cakra melangkah masuk "Suamimu mencarimu," ucap Cakra pada Caira. Caira bergegas keluar dari dapur sambil menari-nari, dan tertawa sepanjang waktu.


Cakra bersandar di meja, dan berkata. "Oh ya, ku rasa aku baru bertemu dengan tuan pengusaha itu."


Jantung Tari langsung berdegup kencang. "Bagaimana kau tahu jika dia orangnya? Apa dia memperkenalkan diri padamu?" tanya Tari sembari menyesap sampanyenya kembali.


Cakra menggeleng. "Tidak, tapi dia tak sengaja mendengar Gala memperkenalkanku ke tamu lain sebagai tunanganmu. Rasanya cara dia menatapku bisa membuatku hangus terbakar, karena itulah aku kabur ke sini. Aku hanya tunangan pura-puramu, dan tak sudi mati hanya karenamu."


Tari tergelak. "Jangan khawatir! Aku yakin tatapan maut yang ia berikan sebenarnya hanya sebuah senyuman."


Pintu mengayun terbuka lagi, dan Tari langsung tegang, tapi rupanya hanya petugas catering. Tari mendesah lega.


Cakra mendekat, ia mengambil sampanye dan meneguknya sampai habis, kemudian meraih tangan Tari. "Ayo kita berbaur," ucapnya sambil menarik keluar dari dapur meskipun Tari tidak mau.


Ruangan terlihat semakin sesak, mungkin ada sekitar seratus tamu yang di undang oleh Caira dan Gala untuk datang ke pestanya. Mereka berdua berkeliling dan membaur dengan para tamu. Sepanjang membaur, Tari lebih banyak diam. Separuh perhatiannya tertuju memperhatikan setiap sudut ruangan yang ia lalui, separuh laginya tertuju pada Tara, ia mencari tanda-tanda keberadaan Tara. Ia tak melihatnya di mana pun, sehingga ia mulai ragu apakah pria yang di ceritakan Cakra benar-benar Tara.


"Hmmm, gambar yang aneh," cetus seorang wanita bergaun putih.


Tari mendongak dan menyadari wanita itu sedang menatap sebuah karya seni di dinding. Kelihatannya seperti foto yang di cetak kanvas.


"Ini jelek sekali, gambarnya kabur. Kita sama sekali tidak tahu sebetulnya itu gambar apa." wanita itu lalu pergi dengan jengkel.


Sebenarnya Tari pun melihat gambar itu agak aneh, tapi ia merasa tak memiliki hak untuk menilai selera Caira.


"Bagaimana menurutmu?"


Suara pria itu dalam dan tepat berada di belakang Tari. Tari memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas agar tenang, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku suka, meskipun aku tidak terlalu yakin itu gambar apa. Tapi menurutku menarik, adikmu punya selera yang bagus."


Tara bergeser hingga berada di samping Tari, menghadap ke arah Tari. "Kau kemari mengajak tunanganmu?"


Tara mengucapkannya seolah itu adalah sebuah pertanyaan yang santai, tapi sebetulnya tidak. Itu semacam interogasi.


Ia mencondongkan badannya sampai berbisik di telinga Tari, "Apakah dia benar-benar tuananganmu?"


Tari menelan ludah, karena mendadak tenggorokannya seolah tersumbat oleh tatapan tajam Tara, lalu berkata, "Memangnya kenapa jika dia tunanganku?"


Tara tersenyum sinis kemudian ia menghabiskan minuman di tangannya. "Oh, selamat kalau begitu." Tara melempar gelas minumannya ke arah tempat sampah yang kosong di sudut ruangan. Bidikannya tepat, tapi gelas itu hancur berkeping-keping saat membentur dasar tempat sampah yang kosong.


Tari melirik sekeliling, tapi tak seorang pun menyaksikan apa yang terjadi. Saat Tari kembali menoleh, Tara sudah pergi. Ia lenyap ke salah satu ruangan, dan Tari masih berdiri memandangi foto itu lagi.


Saat itulah Tari mulai mengerti dan mengenali rambut itu. Itu adalah rambutnya, dan tempat itu adalah rooftop tempat pertama kalinya ia berjumpa dengan Tara.


Tara memperbesar foto tersebut dan mendistorsinya sehingga tak seorang pun mengetahui itu gambar apa. Tari memegang lehernya, darahnya seolah mendidih dan seketika ruangan terasa sangat gerah


Caira muncul di sebelah Tari. "Gambar yang aneh ya?" tanyanya seraya memandang foto itu.


Tari mengibas-ngibaskan tangannya. "Di sini panas sekali," ucapnya. "Bagaimana menurutmu?"


Caira memandang sekeliling "Oh ya? Aku tidak sadar karena sedikit mabuk. Akan ku beri tahu Gala supaya menyalakan AC."


Caira kembali lenyap, dan semakin lama Tari menatap foto tersebut ia semakin jengkel. Tara menggantung foto dirinya di apartemen Caira, dia memberikan makananan untuknya, dia menunjukan sikap kesalnya pada Tari karena membawa 'Tunangan' ke pesta adiknya, dia bertingkah seolah ada sesuatu yang istimewa di antar mereka padahal Tara sama sekali tak pernah memberikan status yang jelas pada hubungan mereka.