Enough

Enough
Chapter 33



"Maafkan aku Tari, aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf, dan berjanji tak akan mengulanginya."


Tari hanya ingin Tara menjauh darinya, ia mendorong Tara dengan sekuat tenaganya, hingga Tara terjengkang ke belakangan, tangannya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Naas tangan kanan Tara mengenai pecahan gelas, perlahan Tara mengakat tangannya yang berlumuran darah.


Tara beranjak menuju tempat pencucian piring dan menaruh tangannya di bawah air keran yang mengucur. Tari berdiri tepat di saat Tara mencabut serpihan gelas kaca itu dari tangannya.


Tari penuh kemarahan atas perbuatan Tara yang mendorongnya hingga terjatuh, tapi ia sangat mencemaskan Tara. Ia bergegas mengambil handuk dan menjejalkannya di tangan Tara agar darah berhenti mengalir.


Dengan tangan gemetar Tari membantu menghentikan pendarahan pada tangan Tara, namun Tara menarik tangannya menjauh dari Tari. "Tidak usah memperdulikan tanganku. Kamu baik-baik saja?" Tara menatap bolak balik ke mata kanan dan kiri Tari dengan panik, ia memeriksa apakah ada luka sobek di wajah Tari.


Tara merangkul leher Tari, dengan putus asa ia memeluk Tari. "Aku bentul-betul minta maaf, aku sangat menyesal." ia membenamkan wajahnya ke rambut Tari. "Aku mohon jangan membenciku. Aku mohon, Tari."


Tari hanya terdiam tak menjawab ucapan Tara.


"Aku benar-benar minta maaf," ucapnya kembali. Tari mundur sedikit, ia melihat mata Tara yang nampak merah, dan Tari tak pernah melihat Tara sesedih itu.


"Aku panik, aku tak bermaksud mendorongmu. Satu-satunya yang ku pikirkan hanyalah meeting besok lusa, dan filenya hilang.. Aku benar-benar minta maaf Tari." Tara memeluk Tari dengan sepenuh hati, ia mencengkram Tari seolah tak ingin lepas.


'Tara tidak seperti ayah, ia tidak mungkin seperti itu,' batin Tari.


Tara melingkarkan lengannya di pinggang Tari, kemudian membopong tubuh Tari. Ia melangkah dengan hati-hati, melewati pecahan gelas yang berserakan. Sepanjang jalan menuju kamar, Tara menciumi Tari. Bahkan ketika ia merebahkkan tubuh Tari di atas tempat tidur, Tara masih menciumi Tari. "Maafin aku, Tari." Tara mengecup mata Tari yang membentur lemari. "Aku benar-benar menyesal."


Tari sama sekali tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, hatinya begitu sakit namun tubuhnya mendabakan permintaan maaf Tara lewat sentuhan lembut yang Tara berikan. Tari ingin sekali bereaksi (marah) seperti dulu yang selalu ingin ia lihat pada bunda saat ayahnya menyakiti bunda, tapi jauh di lubuk hati, Tari ingin percaya bahwa tadi adalah kecelakaan dan Tara tidaklah sama dengan ayahnya.


"Maaf aku ingin ke kamar mandi." ucap Tari, Tara mengecup kening Tari kemudian ia melangkah turun dari tempat tidur mempersilahkan Tari untuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi ia melihat banyak darah Tara di pakaiannya, ia mengganti pakaiannya dan menyambar kotak P3K.


Saat Tari keluar dari kamar mandi, Tara berjalan masuk ke kamar, rupanya ia baru saja dari dapur mengambil sekantong kecil es batu. "Untuk matamu," ucap Tara.


"Untuk tanganmu," ucap Tari, ia memperlihatkan kotak P3K yang dibawanya.


Dengan telaten Tari membalut luka Tara, ia bernafas lega karena ternyata lukanya tak separah yang ada di pikirannya. "Tara sebenarnya aku bisa mengembalikan file yang sudah terhapus meski file tersebut tidak ada di recycle bin, dan aku sering melakukannya."


Tara menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur, ia kelihatan nyaris menangis. "Aku memang bodoh, aku kalut hingga tak terpikir ke arah sana," ucapnya. "Seandainya aku bisa memutar waktu...."


"Kita tidak bisa mengulang waktu," Tari memotong ucapan Tara. "Aku tahu kamu menyesalinya, lebih baik kita tidak usah membahas ini lagi." pinta Tari sembari menyimpul perban di tangan Tara, ia menatap mata Tara dalam-dalam. "Tapi Tara, kalau ini terulang lagi, aku akan pergi meninggalkanmu."


Tara menatap penuh sesal. "Ini tak akan pernah terulang lagi. Aku bersumpah padamu, aku tak sama seperti...."


Tari menggeleng. "Aku tahu kamu berbeda dengan ayahku," ucap Tari. "Hanya saja, jangan buat aku ragu padamu."


Tara membelai lembut wajah Tari. "Kau bagian terpenting dalam hidupku. Aku ingin kau bahagia bersamaku, bukan tersakiti." Tara mengecup kening Tari. "Pegangi es ini selama sepuluh hingga lima belas menit." ucapnya.


Tari mengambil alih kantong es batu tersebut. "Kamu mau kemana?"


"Aku mau membereskan pecahan gelas, agar kau aman saat kedapur." Tara beranjak pergi meninggalkan Tari di kamar.


Selain merapihkan pecahan gelas, Tara juga membuang sampanye, ia tak ingin lagi ada kekacauan yang di sebabkan oleh alkohol.


Dua puluh menit kemudian Tara kembali ke kamar Tari dengan membawakan segelas teh hangat. "Minumlah!"


"Terima kkasih." Tari menerimanya, dan ia meneguknya beberapa tegukan, kemudian menaruhnya di meja di samping tempat tidurnya.


Tara menyibakan selimut, ia menyelimuti tubuhnya dan tubuh Tari. Ia memandangi Tari sembari membelai lembut wajahnya. "Aku mencintaimu, Tari."


Kata-kata itu begitu hangat merasuk di hati Tari. "Aku juga mencintaimu, Tara." ucap Tari.


Tara mengecup kening Tari dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.