Enough

Enough
Chapter 54



Lima Bulan Kemudian


Setelah Tara di tahan, Tari mulai kembali pada kesibukannya di cafe. Ia sangat menikmati masa-masa kehamilannya, di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, sehingga Tari tak begitu merasa sedih maupun kesepian tanpa Tara di sampingnya.


Secara rutin baik Surinala, Caira maupun ibu mertunya bergantian mengantar Tari periksa kandungan, mereka semua turut memantau perkembangan janin dalam kandungan Tari.


Tak hanya memantau perkembangan janin, mereka semua juga membantu Tari dalam mengurusi persiapan kelahiran buah hati Tara dan Tari. Seperti yang di lakukan oleh Gala dan Caira, hari ini mereka berdua menemani Tari berbelanja selimut dan pakaian bayi.


Caira membantu memilihkan pakaian yang nyaman untuk bayi. "Kau benar-benar yakin tak ingin mengetahui jenis kelamin bayimu?" tanya Caira, ia melihat barang belanjaan Tari di penuhi oleh warna-warna netral seperti hijau, coklat, putih, dan abu-abu.


Tari menggeleng. "Nanti saja untuk kejutan," ucap Tari. "Aku dan Tara tidak mempermasalahkan jenis kelamin, yang terpenting bayi kami sehat."


Gala mendekat ke arah Tari dan Caira, ia mengambil tas belanjaan darintangan istrinya. "Ada lagi yang mau di beli?" tanyanya.


Tari menggeleng. "Sepertinya sudah semua."


"Ya sudah kalau begitu aku ke kasir sebentar ya," Gala berjalan menuju kasir, namun dengan cepat Tari mencegahnya. "Gala, biara aku saja yang membayarnya," ucap Tari.


"Biarkan saja, Tari." sahut Caira. "Anggaplah ini hadiah untuk menyambut keponakan tercinta kami," ucap Caira, kemudian ia mengajak Tari untuk mencari tempat duduk sembari menunggu suaminya membayar barang belanjaan Tari.


Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Gala menghampiri Tari dan Caira dengan membawa dua kantong besar belanjaan milik Tari. Melihat hal itu Tari jadi menjadi merasa tidak enak. "Maaf ya aku jadi merepotkan kalian."


"Tidak apa-apa, Tari. Kami senang bisa membantumu. Apa ada lagi yang bisa kami bantu?" tanya Gala.


Tari tertegun sejenak, ia menatap Caira dan Gala secara bergantian. "Minggu depan sudah memasuki HPLku, aku ingin mengunjungi Tara, apa kalian mau mengantarku ke lapas?"


Caira tersenyum mengangguk. "Sebenarnya kemarin kami baru menengok Tara, tapi tidak masalah, hari ini kami akan mengantarmu." ia menggandeng tangan Tari keluar dari mall, di ikuti oleh suaminya dari belakang.



Tiba di lapas Tari mengatakan kepada Caira dan Gala ingin menemui Tara seorang diri. "Kalian tidak keberatan kan?"


"Tentu saja tidak, bicaralah dengan suamimu sepuasnya," ucap Caira, ia dan Gala memberikan ruang kepada Tari untuk berbincang secara pribadi bersama suaminya. "Kami akan menunggumu di sini, kabari kami jika ada apa-apa," sahut Gala.


Tari pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke lapas tempat suaminya di tahan. Dengan ramah sang petugas mengarahkan Tari menuju ruang kunjungan, kemudian petugas pergi meninggalkannya untuk memanggil Tara di sel.


Kurang dari 15 menit Tara sudah berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan istrinya yang tengah duduk menanti kedatangannya. Dari sorot matanya, Tara ingin sekali bisa berhambur merengkuh istrinya, namun sayangnya Tari justru mengisyaratkan Tara untuk duduk di hadapannya.


Tara menarik kursi, dan duduk di hadapan Tari. "Kemarin Caira bilang, kau melukis wallpaper di dinding kamar bayi kita. Apa kau ingin memperlihatkannya padaku?"


Tari mengambil handphonenya di tas, kemudian ia memberikannya kepada Tara. "Perlu dua hari untuk menyelesaikan ini," ucapnya.


"Wow," cetus Tara. Ia terlihat nampak kagum dengan desain kamar bayi mereka, Tari melukis sebuah kebun lengkap dengan sayur dan buah-buahan, kemudian Tari pun sudah memasang tempat tidur, berikut dengan seprai dan selimut berwana coklat muda dan hijau, senada dengan lukisan kebun yang Tari buat.


Mendapatkan pujian dari Tara, membuat Tari hampir menangis, ia sangat menyukai moment dimana ia membagi apapun tentang kehamilan atau tentang bayinya kepada Tara. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan melihat Tara seantusias itu mendengarkan semua hal yang menyangkut bayinya, meski Tara tak bisa ikut langsung mendampinginya.


"Mau bermain kejujuran?" tanya Tari sembari memasukan handphonenya ke tas.


Tara menghembuskan nafas panjangnya. "Silahkan."


Tari sedikit bergeser, mencari posisi nyamannya. "Bagaimana kalau kamu yang mulai duluan."


Tara memandang Tari lekat-lekat, hingga Tari memalingkan wajahnya. "Aku ingin sekali mengambil peran dalam kehidupan kalian, aku ingin membantumu. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk anak kita, tapi berada di dalam sini membuatku tak bisa berbuat banyak untukmu."


Ya kejadian malam itu membuat Tara harus mendekam di penjara, sehingga ia tak bisa secara langsung membantu Tari. Namun apa pun yang pernah terjadi, Tara merupakan ayah dari anak yang Tari kandung, entah suka atau pun tidak suka, namun secara hukum Tara memiliki hak penuh terhadap anaknya.


"Kamu tak perlu khawatir, aku tak akan pernah menjauhkanmu dari anak kita hanya karena kamu sedang berada di sini. Saat kunjungan aku akan menceritakan apa pun mengenai bayi kita, tapi..."


Tara terkulai membenamkan wajahnya yang ketika mendengar kata terakhir Tari.


"Tapi aku menyimpan kecemasan saat nanti kau keluar dari sini, saat kau sedang berdua dengan bayi ini," ucap Tari.


Beberapa hari yang lalu, Tari mendapat kabar dari ibu mertuanya jika Tara mendapatkan remisi tahanan, sehingga kurang dari lima bulan lagi Tara akan bebas.


Kepedihan membanjiri matanya, Tara menggeleng penuh tekad. "Tari, aku sudah menantikan moment keluar dari sini dan bisa berkumpul bersama anak kita, tentu aku tak akan pernah..."


"Aku tahu, Tara. Kau tak akan pernah menyakiti anak kandungmu dengan sengaja. Aku bahkan sampai sekarang masih tak percaya kau dengan sengaja menyakitiku, tapi inilah yang terjadi. Kau menyakitiku!!!" ucap Tari, menatap tajam mata Tara. "Aku ingin percaya pada kata-katamu dengan segenap hatiku, tapi mengertilah, aku tidak bisa." Tari menggelengkan kepalanya. "Jika saatnya nanti kau keluar dari sini, aku mohon bersabarlah hingga aku bisa kembali percaya padamu."


Tara mengangguk setuju. "Aku akan ikuti semua aturan yang kau buat." Ia mendongak menatap langit-langit. "Lalu bagaimana dengan kita?" bisiknya.


Bercerai atau rujuk, keduanya bukan pilihan yang ingin Tari ambil. "Aku tak ingin memberikan harapan palsu untukmu," ujar Tari. "Kalau aku harus mengambil keputusan hari ini... Mungkin aku akan memilih untuk bercerai. Tapi aku tidak tahu apakah keputusan ini benar-benar keputusan yang matang atau hanya sekedar pengaruh hormon kehamilanku yang sedang sensitif. Jadi rasanya akan adil jika kita membahas ini setelah bayi kita lahir." ia melirik ke arah pintu, di mana petugas sudah memberi kode jika waktu berkunjung tinggal lima menit lagi.


"Sepertinya aku sudah harus keluar," Tari mengambil tas jinjingnya, ia berusaha untuk bangkit dari tempat duduknya, namun entah mengapa di minggu-minggu ini ia sulit sekali untuk bangkit dari tempat duduk.


Tara mendekat dan meraih tangan Tari untuk membantunya berdiri. Satu tangan menggenggam tangan Tari, sementara tangannya yang lain memegang pinggang Tari. Saat Tari sudah berhasil berdiri, ia membawa Tari kedalam pelukannya.


Berada dalam pelukan suaminya, membuat Tari berpikir betapa mudahnya orang-orang di luaran sana menghakimi dirinya, seperti yang ia lakukan selama bertahun-tahun menghakimi ibundanya yang memilih bertahan bersama orang yang telah menyakitinya.


Ya saat tidak berada di posisi ini, orang akan mudah mengatakan bagaimana bisa mencintai orang yang telah menganiyaya kita, bukankah sangat mudah untuk pergi tanpa harus berpikir panjang. Namun saat kita sendiri yang berada di posisi ini tentu akan sulit untuk membenci orang yang menganiyaya kita sementara banyak sekali memory indah yang sudah ia berikan.


Tara meelepaskan pelukannya, ia merangkum wajah Tari dan menempelkan keningnya di kening Tari "Kau cantik sekali, Tari." bisiknya.


Tari menangkap sorot mata Tara menyiratkan sebersit harapan, dan Tari sangat membenci itu, karena dapat menurunkan perisainya. Tari memejamkan matanya, ia merasakan sakit di perutnya. "Awww... Sepertinya aku sedang kontraksi."