Enough

Enough
Chapter 30



Pukul 16.00 Gala tiba di cafe dan bertanya bagaimana keadaan Caira dan Tari. Caira menjawab, "Dia perlu menambah beberapa orang pelayan."


Sementara Tari tengah membantu membawakan pesanan makanan seorang wanita ke mobilnya, tak lama kemudian Caira berjalan keluar seraya membawakan box makanan lainnya. "Kau perlu menambah beberapa orang pelayan," ucapnya kesal.


"Aku tahu," seru Tari. "Aku perlu menambah beberapa orang pelayan."


Caira mengangguk, kemudian mereka berdua tertawa sembari berjalan ke salah satu meja pengunjung dan duduk bersama Gala.


"Aku bangga padamu, Tari," ucap Caira.


Tari tersenyum . "Aku tak akan bisa menjalani bisnis ini tanpamu, Bubu."


Sejujurnya, ini salah satu hari terbaik Tari, karena hari ini ia mendapatkan banyak pengunjung. Promosi yang ia lakukan lewat sosial media, ternyata benar-benar sangat efektif, cafenya kini di kenal secara luas, bahkan banyak food vloger yang datang untuk mebuat konten di cafenya.


Namun ada perasaan sedih yang terus mengusik, karena Tara tidak menepati janjinya untuk datang di hari jum'at ini, bahkan ia pun tak mengiriminya pesan sama sekali.


"Kau mendapatkan kabar dari kakakmu?" tanya Tari pada Caira.


Caira menggeleng. "Belum, tapi aku yakin dia sedang sibuk."


Tari mengangguk, ia tahu jika Tara memang sangat sibuk.


Mereka mendongak saat seseorang masuk ke cafe, seketika senyum Tari mengembang melihat Tara datang.


"Panjang umurnya," ucap Caira.


Tari pun langsung berdiri menyambut kedatangannya. "Maaf aku terlambat, aku sudah berusaha untuk datang secepat mungkin." Tara memeluk dan mencium kedua pipi Tari.


Tari membalas pelukan Tara, dan berkata. "Tidak apa-apa, yang penting kau sudah ada di sini. Ini sempurna." Tari tak dapat menyembunyikan raut kebahagiaannya, karena Tara menepati janjinya.


"Kau yang sempurna, Tari," ucap Tara, ia kembali mencuim Tari.


Caira lewat sambil menyenggol kakaknya. "Kau yang sempurna, Tari," tirunya. "Mas Tara ayo coba tebak?" ia menatap ke arah Tara.


Tara melepaskan Tari "Tebak apa?"


"Tari perlu menambah pelayan, tugasku di dapur mengawasi juru masak, bukan mengantarkan makanan," protesnya.


Tari tertawa mendengar kalimat yang sejak tadi di ulang oleh Caira, Caira memang terlihat sangat menggemaskan saat sedang kesal.


Tara meremas tangan Tari dan berkata, "Kedengarannya cafemu semakin ramai."


Tari mengangguk, "Kami terus melakukan promosi besar-besaran, dan inilah hasilnya."


"So, kita mau makan malam dimana?" tanya Gala, sembari melirik istrinya.


Caira berfikir sejenak, kemudian ia berkata. "Bagaimana jika di sini saja?" ujarnya, ia melihat ke arah Tari dan Tara secara bergantian. "Kita nikmati matahari terbenam di lantai dua."


Ketiganya mengangguk setuju, dengan usul yang berikan oleh Caira. "Memang terasa lebih nyaman jika di tempat sendiri." Tari menggandeng Tara berjalan menuju lantai dua cafenya di ikuti oleh Gala dari belakang, sementara Caira berjalan ke arah dapur untuk memasan makanan langsung pada juru masak.


"Tempat ini sungguh sangat sempurna," ucap Caira, ia duduk di samping suaminya. Gala langsung merangkul dan mencium mesra istrinya. "Kau tidak menyuruh juru masakmu membuatkan sop durian kan? Aku tidak bisa menghamilimu nanti malam jika kau bau durian, aku tidak ingin dekat denganmu." ucap Gala, ia benar-benar tak suka dengan durian terlebih dengan baunya yang sangat menyengat.


Raut wajah Caira berubah, dan Tari langsung merasa kasihan padanya, meskipun Gala hanya berniat bercanda, tapi hal itu tentu membuat Caira sedih. Baru beberapa hari yang lalu Caira bercerita pada Tari, betapa tertekannya dia karena tidak bisa hamil.


"Sekarang aku tidak bisa makan duren, Mas Gala." ucap Caira.


"Bagus. Lebih baik jus nanas kesukaanku, itu sangat enak." ucap Gala, sembari tersenyum.


"Aku juga tidak bisa minum jus nanas." jawab Caira.


Wajah Gala berubah menjadi serius, ia menggeser posisi duduknya dan mencengkram bahu istrinya sehingga Caira menghadap ke arahnya. "Caira?"


Caira menganggukan kepalanya dan entah siapa yang terlebih dahulu menangis. Antara Tari, Caira, atau Gala. "Aku akan menjadi seorang ayah?" serunya.


Caira masih mengangguk. Gala melompat berdiri di baku dan berseru , "Aku akan menjadi seorang ayah!" ia menarik istrinya bangkit dan berdiri di bangku. Gala mencium kening Caira dan bagi tari itu adalah hal temanis yang pernah ia lihat.


Tari menoleh ke arah Tara dan memergokinya sedang menggigit bibir bawah, seolah berusahan menahan air mata yang nyaris saja terjatuh. Tara melirik Tari, dan menyadari jika Tari memperhatikannya, ia mengalihkan pandangan. "Aku turut merasakkan kebahagian adiku."


Sebagai rasa syukurnya atas kehadiran buah hatinya di rahim istrinya, Gala mengumumkan kepada semua pengunjung jika Gala mentraktir mereka semua dan bebas membawa pulang makanan sebanyak apapun.


"Kita berdua tak ingin bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat," ucap Caira pada suaminya. Ia menyuruh suaminya membantu para pelayan yang kewalahan menangani pengunjung yang membeludak akibat pengumuman yang di sampaikan Gala.


"Okay, baiklah. Bumil dan Bu boss memang tidak perlu bekerja," ucap Gala, ia menarik Tara untuk membantunya melayani para pelanggan. "Ayo, kau harus ikut aku."


Caira tertawa, ia dan Tari hanya duduk memandangi keduanya yang tengah sibuk melayani para pelanggan, keduanya tak menyangka jika pria berpenghasilan miliaran rupiah dalam sebulan mau mencatat pesanan dan membawakan makanan.


Sembari menikmati matahari terbenam dan secangkir teh hangat, Caira bercerita jika ia sudah merasa tak enak badan sejak satu bulan belakangan ini, namun ia baru melakukan tes tadi pagi sebelum berangkat ke cafe, untuk itulah ia mengajak suaminya dan juga mengajak Tara serta Tari untuk membagi kebahagiaan yang ia rasakan.


"Kita bantu mereka berdua yuk!" ajak Caira. Tari mengangguk, keduanya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Galan dan Tara yang tengah sibuk melayani pengunjung.



Cafe tutup lebih cepat karena pengunjung banyak yang memborong banyak makanan. Meski sangat melelahkan, tapi mereka berempat sangat bahagia.


"Tar, besok aku pesan 1.000 box makan siang untuk beberapa panti asuhan. Kau tak perlu mengantarnya, nanti orang suruhanku yang akan mengambilnya." ucap Gala, ketika mereka berempat berjalan keparkiran.


"Sepertinya kita akan buka cafe setelah jam dua siang," Caira melirik ke arah Tari.


"Sepertinya," ucap Tari, ia beralih ke Gala menyanggupi pesanannya. Sebelum Caira masuk ke mobil, Tari memeluk Caira dengan erat. "Aku senang sekali kau hamil,"


Caira membalas pelukan Tari dan berbisik. "Semoga suatu hari nanti kakakku berubah dan ia menikahimu, aku ingin sekali kita menjadi saudara sungguhan."


Caira dan Gala naik ke mobil dan mereka pun pergi. Tari masih tertegun mengamati mereka, sebab ia tidak tahu apakah ia pernah punya teman sebaik Caira seumur hidupnya. Tari melihat Tara bersandar di mobilnya, ia mengamati Tari.


"Kau semakin cantik saat kau bahagia." ucap Tara sembari meminta kunci mobil Tari kemudian memberikannya kepada supirnya. "Biar mobilmu supirku yang bawa, kita naik mobilku." Tara membukakan pintu mobil untuk Tari, barulah kemudian ia masuk dan duduk di bangku pengemudi.



Saat mereka tiba di dalam unit apartement Tari, ada Laura tengah membereskan barang-barangnya di kamar Tari. Laura adalah teman satu kampus, sewaktu Tari orang tuanya pendidikan S2nya, ia sedang mengalami sedikit masalah dengan keluarganya sehingga ia menginap selama dua hari di apartement Tari, untuk menenagkan pikirannya. Namun kini ia bersiap untuk pergi, lantaran Laura sudah berbaikan dengan ibundanya.


Ada sesuatu yang mencuat di balik tumpukan pakaian, sebelum Laura menutup kopernya. Tari melihat piring herm*s seharga dua puluh tiga juta yang ia beli dari gaji pertamanya sebagai penghargaan untuk dirinya sendiri atas kerja kerasnya selama satu bulan bekerja. Tari memiliki firasat jika bukan hanya itu saja yang Laura bawa, namun ia mengabaikannya.


"Siapa kamu?" tanya Laura, menatap Tara dari atas ke bawah.


"Tara. Aku pacar Tari."


Pacar.


Ini adalah kali pertamanya Tara mengakui itu, dan ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.


"Ya, dia adalah pacarku." Tari melangkah masuk ke dapur dan mengambil sebotol wine dan dua buah.


Tara menghampiri Tari dari belakang saat Tari menuang wine, ia melingkarkan tangannya di pinggang Tari. "Yap, aku pacarmu." bisiknya.


Tari mengulurkan segelas wine pada Tara dan berkata, "Jadi sekarang aku punya pacar?"


Tara mengangkat gelas dan mengetukannya di gelas Tari. "Mari bersulang untuk selesainya masa percobaan dan memulai awal yang pasti." Keduanya tersenyum, kemudian meneguk wine mereka.


Laura menarik kopernya, ia berjalan ke arah pintu depan. "Terima kasih atas tumpangannya, aku pergi dulu, Tari. Selamat malam." ucap Laura.


Pintu menutup dan mengangkat alisnya. "Keliatannya dia tidak suka padaku."


"Aku merasa dia juga tak suka denganku, dia hanya datang di saat ada maunya saja."


Tara tertawa dan bersandar ke kulkas. Matanya tertuju pada gantungan tas yang Tari letakan di atas meja makan. "Gantungan tasmu aneh sekali." Tara meraihnya dari tas Tari. "Seperti bentuk hati namun tidak simetris."


Tari mengingat bahwa itu adalah pemberian Ranu "Itu hanya hadiah, dari teman masa kecilku." ucap Tari, ia tidak mengatakan bahwa itu adalah pemberian dari cinta pertamanya yang masih ia gunakan.


"Ya asal bukan teman seperti yang tadi." Tara mendekat dan mengambil gelas yang di berada di tangan Tari. Ia meletakan kedua gelas tersebut di atas meja, kemudian mencondongka badan, memberikan Tari ciuman yang penuh gairah.


Tara melepaskan ciumannya dan mundur. "Besok aku masih harus bekerja." ia pun pamit meninggalkan apartement Tari.