Enough

Enough
Chapter 41



Satu jam berlalu, Tari masih menangis di atas tempat tidurnya. Ia merasa takut sekaligus marah pada suaminya, terlebih saat Tara kembali masuk ke kamarnya.


Tara mendekati Tari dan berlutut di samping tempat tidur. "Tari," ujarnya. "Tolong katakan, jika kamu dan dia tidak ada hubungan apa-apa." Tara mengelus kepala Tari dengan lembut, Tari bisa merasakan jika tangan Tara gemetar.


"Tolong katakan jika kamu dan dia tidak berselingkuh di belakangku." Tara mengecup kening Tari. "Rasanya ini sangat menyakitkan, Tari. Aku sangat mencintaimu."


Tari menggeleng. "Semua dugaanmu itu keliru, Tara. Aku bahkan sudah lupa jika kartu nama itu ada di handphoneku," ucap Tari. "Sehari setelah perkelahianmu dengannya di restoran Jepang itu, Ranu datang ke cafe. Kamu bisa tanya sendiri ke Caira, jika Ranu datang hanya sekitar lima menit untuk meminta maaf. Ranu mengambil handphoneku dan menyelipkan kartu namanya karena ia tidak percaya aku aman bersamamu. Aku sama sekali tidak ingat bahkan aku tidak pernah melihat kartu nama itu."


Tara menghembuskan nafas lega. "Kamu berani bersumpah, Tari. Kamu tidak pernah menghubungi dan berbicara lagi dengannya?" Tara menatap Tari lekat-lekat.


"Aku berani bersumpah demi pernikahan kita, Tara. Reaksimu sungguh sangat berlebihan padahal kamu belum mendengar penjelasanku," ucap Tari. "Sekarang kamu pergilah dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi."


Kata-kata Tari membuat Tara terkejut. "Kau habis jatuh dari tangga, dan kau cidera. Aku tidak bisa meninggalkanmu, Tari. Aku ingin memantau kondisimu."


"Tidak perlu! Aku tidak akan jatuh kalau bukan karena kamu yang mendorongku." Tari menyambar bantal yang ada di sampingnya, kemudian ia melemparnya ke arah Tara. "Pergi kamu dari sini!" teriak Tari. "Keluar! Keluar! Keluar....." ia menjerit hingga Tara keluar dari kamarnya.



Pagi hari Tari bangun dengan kondisi yang lebih baik, meski masih terasa nyeri di bagian bibir dan keningnya. Ia bercermin memandangi luka di wajahnya yang tak bisa ia tutupi, satu-satunya yang bisa ia tutupi hanyalah bekas tanda kepemilikan yang dibuat oleh suaminya di lehernya.


Sungguh sebuah ironi terburuk yang pernah ada bagi Tari, ia mendapatkan tanda kepemilikan dan juga luka sobek di malam yang sama.


Tari menghembuskan nafas beratnya, ia bersiap untuk pergi ke cafenya, namun sebelum berangkat, Tari memungut handphone miliknya yang semalam Tara banting.


"Sudah tidak bisa di selamatkan lagi," gumamnya. Mengingat betapa pentingnya nomor handphonenya untuk keperluan usahanya, Tari berniat mampir ke toko handphone sebelum ia pergi cafe.


Saat Tari hendak membuka pintu apartement, ia di kejutkan dengan keberadaan Tara yang meringkuk di luar pintu apartementnya. Tara bergerak, meregangkan otot tubuhnya kemudian perlahan ia berdiri di hadapan Tari. "Tar, maafin aku," ucapnya dengan raut wajah penuh penyesalan, sembari mengamati tubuh Tari, seolah memeriksa apakah istrinya baik-baik saja.


Tari membuang wajahnya, ia mengunci pintu apartementnya dan melangkah dengan tenang, tanpa menghiraukan Tara yang terus membuntutinya sambil mengucapkan kata maaf dan minta untuk memberinya kesempatan bicara.


Tari masuk ke dalam mobil dan langsung menguncinya, sebelumTara menyelinap masuk, namun Tara tak patah arang, ia berlari menuju mobilnya dan membuntuti istrinya bahkah hingga ke mall.



Satu jam kemudian, Tari sudah mendapatkan handphone barunya, begitu handphonenya di nyalakan, ada sekitar tiga puluh tujuh pesan yang masuk dari Caira. Dalam perjalanan menuju cafe, Tari pun langsung menghubungi Caira.


"Halo," ucap Tari.


Tari tidak ingin berbohong dengan Caira. "Maaf aku tidak bisa datang ke pesta ulang tahun suamimu, karena semalam aku bertengkar dengan Tara, kemudian ia merusak handphoneku."


Caira diam sejenak, kemudian. "Apa saja yang kakakku lakukan? Kamu tidak apa-apa? Dimana kamu sekarang?" Caira terdengar sangat panik hingga ia membrondongi Tari dengan banyak pertanyaan.


"Aku baik-baik saja, aku baru saja dari mall membeli handphone dan sekarang menuju cafe," jawab Tari dengan tenang.


"Baiklah, aku akan ke sana."


Tari ingin mencegah Caira datang ke cafe, ia tak ingin Caira ikut campur dalam masalah rumah tangganya, lagi pula seharusnya Caira beristirahat menikmati masa cutinya sembari menanti kelahiaran buah hatinya, bukan malah mencemaskan persoalan rumah tangganya. Namun sayangnya Caira sudah terlebih dahulu mematikan sambungan teleponnya, sebelum Tari sempat mencegahnya.


Setibanya di cafe, Caira sudah menunggu Tari di ruang kerjanya. "Oh Tari," Caira memeluk dan mengelus punggung Tari, Caira melepaskan pelukan Tari dan mengamati wajah Tari, ia terlihat sedih melihat bibir dan kening Tari yang terluka.


"Apa yang Mas Tara lakukan terhadap Tari?" bentaknya, sembari melotot, menatap tajam ke arah kakaknya.


"Dia terjatuh di tangga darurat apartement," ucapnya dengan nada datar. Tentu saja hal itu membuat Tari jengkel dan langsung menoleh ke arah Tara yang berada di belakangnya. "Aku tidak akan jatuh jika kau tidak mendorongku! Seandainya kamu bisa lebih tenang dan mendengar semua penjelasanku maka hal ini tidak akan terjadi!"


"Aku minta maaf, Tari," ucapnya dengan memelas, Tara ingin sekali memeluk Tari namun ia masih ragu dan takut.


"Okay, aku mengerti sekarang," ucap Caira, ia mendekat ke arah Tara. "Sebaiknya mas ceritakan kepada Tari," ia menurunkan nada bicaranya. "Dia istri mas, dan berhak tahu tentang kondisi mas sebenarnya, jika mas tidak mau menceritakannya biar aku yang akan mengatakannya."


Tara langsung mencegah Caira. "Aku akan bicara dengannya di rumah."


Caira kembali membalik badan menghadap Tari. "Please dengarkan cerita kakakku," pintanya. "Aku tahu kakakku sudah sangat keterlaluan, aku tidak memintamu untuk memaafkannya, tapi tolong dengarkan kakakku sekali ini saja."


"Meeting hari ini, biar aku saja yang akan menggantikanmu, nanti malam akan kulaporkan hasilnya. Sekarang kau pulanglah, selesaikan masalahmu dengan mas Tara," pinta Caira.


Tari mengangguk. "Terima kasih, aku pulang dulu ya." ia memeluk dan mencium pipi Caira sebelum ia pergi meninggalkan cafenya.


Meski Tari sudah mau bicara dengan Tara, namun ia masih enggan untuk satu mobil dengan suaminya, ia tetap masuk ke dalam mobilnya dan langsung menguncinya.


Selama perjalanan menuju apartementnya, Tari berfikir hal serius apa yang ingin Tara sampaikan, banyak kemungkinan yang terlintas dalam pikirannya. Apakah Tara memiliki penyakit yang serius? Apakah Tara selama ini selingkuh, sehingga ia sangat temprament untuk menutupi keslahannya? Atau project yang tengah di jalani sedang ada kendala yang serius?


Apa pun itu, Tari tetap merasa bahwa Tara tidak sepatutnya meluapkan emosi berlebihannya kepada dirinya hingga membuatnya celaka.