
^^^Tara:^^^
^^^Tar, kamu masih di cafe atau sudah pulang?^^^
Tari:
Aku masih di cafe, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.
^^^Tara:^^^
^^^Boleh aku ke sana?^^^
Tari:
Tentu saja.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, Tara tiba di depan cafe. Cafe sudah tutup satu jam yang lalu tapi Tari masih berada di cafenya, ia tengah menghitung semua tagihan yang masuk dari semua vendornya, ia sangat senang dengan kemajuan cafenya dan ia juga sangat senang dengan kemajuan hubungannya dengan Tara.
Tari membuka pintu dan mempersilahkan Tara untuk masuk, ia mengecup bibir Tara sekilas kemudian kembali ke ruang kerjanya. "Setelah menyelesaikan ini, kita bisa pulang ke apartement."
Tara mengikutinya dari belakang dan memandang ke sekeliling. "Kau merenovasi ruang kerjamu? Sepertinya nampak berbeda?" tanya Tara.
"Aku hanya mengganti lampu saja, agar tidak terlalu silau saat bekerja." jawab Tari.
Tara mengangguk kemudian ia menghempaskan tubuhnya di sofa. "Silahkan bekerja selama yang kau mau," gumamnya. "Aku mau tidur sebentar sampai kamu selesai."
Melihat Tara yang terlihat begitu lelah, membuat Tari sering kali mencemaskannya, namun ia tak bisa menasehati Tara karena sebenarnya ia pun sama seperti Tara, terikat berjam-jam di meja kerjanya.
Setelah lima belas menit menghitung tagihan vendornya, Tari menutup laptopnya, ia memandang ke arah Tara yang ternyata ia sama sakali tak tidur. Sedari tadi Tara memandangi Tari yang nampak sibuk dengan laptopnya, Tari pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Tara.
"Tari, sepertinya aku sangat menyukaimu, " ucap Tara.
Tari mengerutkan hidungnya saat Tara duduk di sofa dan menariknya ke pangkuannya. "Benarkah?" tanya Tari.
"Ini adalah hubungan seriusku yang pertama, aku tidak pernah sesuka ini dengan seorang wanita mana pun." ucapnya. Ia menaruh kaki Tari di kiri dan kanan tubuhnya, lalu merangkul pinggang Tari.
Tara mengelus lembut punggung Tari. "Apa kau keberatan jika aku sibuk bekerja?"
Tari menggeleng. "Aku sama sekali tidak keberatan jika di duakan oleh pekerjaan dan ambisimu di kantor, hanya saja kadang aku khawatir jika kamu kelelahan dan sakit."
"Kau tahu apa yang paling aku sukai dari dirimu?" Tara menyandarkan kepalanya di sofa. Tari menggeleng.
"Kau tidak memaksaku berubah menjadi yang tak sanggup kulakukan. Kau menerimaku apa adanya."
Tari tersenyum. "Ya, tapi aku merasa kamu sedikit berbeda. Kamu sudah tidak anti berhubungan."
"Bersamamu rasanya selalu mudah. Aku bisa menjalani keduanya dengan mudah, antara karir dan percintaan, kau adalah sebuah hadiah bagiku." tara menarik tubuh Tari merapat dan kemudian ia mencium bibirnya.
Tari tersenyum bahagia, merasakan kata-katanya membelai kulitnya dengan lembut. Saat Tari membuka mulutnya untuk mengatakn hal yang sama, suara terputus oleh dering handphone Tara.
Tara merih handphonenya di sakunya, kemudian ia tertawa saat melihat layar handphonenya. "Mommyku." ucapnya. Ia merubah posisinya menjadi terlentang di atas sofa, sementara Tari berbaring di atas tubuh Tara menyandarkan kepalanya di dada Tara.
Mereka berdua mendengarkan voice note yang masuk dari orang tua Tara. Tari tersenyum membayangkan Tara mengobrol dengan mommynya secara langsung. Caira sering bercerita tantang orang tuanya, namun Tara sama sekali tidak pernah membahas mengenai orang tuanya.
"Apa hubunganmu dengan orang tuamu harmonis?" tanya Tari.
"Untuk saat ini ya, namun dulu kami sempat ada masalah yang cukup besar, dan kami sudah berhasil melaluinya," jawab Tara.
Tari semakin penasaran dengan ibunda Tara, "Ayo ceritakan lebih banyak mengenai mommy." pintanya.
"Mommy orang yang sangat taat beribadah, hampir setiap hari minggu beliau tidak pernah absen untuk datang ke Gereja. Saat daddy malas untuk datang ke Gereja, maka mommy akan memarahinya, mommy memanggil daddy dengan sebutan 'Ayo dokter Keanu, kita beribadah bersama' " Tara menceritakannya dengan penuh antusias.
"Ooh jadi ayahmu seorang dokter?"
Tara mengangguk. "Dokter bedah. Maka dari itu beliau memaksaku untuk menjadi dokter sepertinya. Beliau sangat kecewa ketika aku tak menyelesaikan koasku dan memilih menjadi seorang pengusaha."
"Apa orang tuamu pernah datang ke apartement Caira?"
Tara menggeleng. "Tidak pernah. Mommyku sangat takut naik pesawat, dan beliau selalu mabuk perjalanan jika menempuh perjalanan jauh lewat darat. Sehingga Caira pulang setahun dua kali ke Surabaya. Kau harus ikut kami pada kunjungan berikutnya."
Tari tersenyum lebar. "Kamu sudah cerita pada mommymu tentang aku?"
"Tentu saja," jawabnya. "Ini hal yang bisa di anggap luar biasa. Baru kali ini aku merasakan begitu menyukai seorang gadis. Mommy mensupportku untuk menjalin hubungan denganmu dan terus mengingatkanku agar tidak mengecewakanmu."
Tari tertawa terbahak-bahak, membuat Tara kembali menyalakan handphonenya. "Kau pikir aku berbohong?" Tara kembali memutar voice note untuk membuktikannya.
"Hai Nak, kau pasti sedang sibuk. Nanti kabari mommy ya jika sudah senggang, mommy merindukanmu. Caira bilang kau memajang foto Tari di apartementnya dan tak berhenti membicarakannya sepanjang waktu. Titip peluk untuk wanita yang telah membuat anak mommy ini jatuh hati. Love you mmmuuuah..."
Tari membenamkan wajahnya ke dada Tara. "Kita baru saja pacaran kemarin, kenapa kau membicarakan semuanya pada mommy dan adikmu."
Tara menarik tangan Tari, kemudian menciumnya. "Sejak memutuskan untuk menjalani masa percobaan, aku tidak bisa berhenti membicarakmu, baik itu bersama orang tuaku maupun dengan Caira. Aku selalu bertanya pada Caira tentangmu hingga membuatnya bosan dan kesal."
Tari tersenyum. "Aku tak sabar ingin bertemu dengan orang tuamu. Mereka bukan hanya membesarkan putri yang luar biasa tapi juga dirimu yang sangat hebat."
Tara memeluk Tari dengan erat, lalu mengecup ubun-ubunnya.
"Tara, bukankah kamu punya kakak laki-laki? Siapa namanya?" tanya Tari kembali, ia penasaran mengapa Tara tak pernah menyinggung soal kakaknya.
Seketika raut wajah Tara berubah, tubuhnya menegang seelah Tari menanyakan tentang kakaknya.
"Angkasa."
Dari suaranya Tari tahu, jika Tara tak ingin membahas tentang kakaknya. Alih-alih bertanya lebih jauh mengenai Angkasa, Tari justru mengecup bibir Tara.