Enough

Enough
Chapter 42



Setibanya di apartement Tara meminta Tari duduk di hadapannya. "Duduklah, Tari."


Tari duduk di lengan sofa. "Apa kamu sakit? Atau kamu punya selingkuhan?" ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Mata Tara membelalak dan ia langsung menggeleng. "Tidak. Tidak, kau salah."


"Lalu apa?"


Tari sudah tak sabar ingin mendengar cerita Tara. Melihat istrinya panik, Tara mencondongkan badannya ia meraih kedua tangannTari dan menggenggamnya. Sebagian dari diri Tari tak ingin di sentuh oleh Tara, karena kejadian semalam, namun sebagian dari diri Tari mendamba untuk di tenangkan hatinya.


"Aku tidak sakit dan aku juga tidak selingkuh. Apa yang akan kuceritkan padamu tidak akan menyakitimu. Semua ini hanya masa laluku, namun menurut Caira kau perlu mengetahuinya, dan menurutku juga begitu."


Tari mengangguk dan Tara melepaskan tangannya, ia berjalan hilir mudik di hadapan Tari seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk bercerita, namun hal itu justru membuat Tari semakin cemas.


Tara kembali duduk di hadapan Tari. "Tari? Kamu masih ingat kejadian malam pertama kita bertemu di rooftop apartement Caira?"


"Iya," Tari mengangguk.


"Kau masih ingat dengan kejujuran yang aku ungkapkan kepadamu?" tanyanya kembali.


Tari mulai mengingat-ingatnya kembali, Tara pernah mengungkapkan jika ia tidak pernah tertarik dengan pernikahan, dia hanya tertarik pada cinta satu malam, tidak ingin punya anak dan cerita tentang seorang bocah yang meningal karena di tembak oleh saudara kandungnya sendiri, yang ia lihat di rumah sakit saat menjalani MCU. "Bocah lelaki?" ucap Tari. "Kau melihat bocah lelaki meninggal akibat di tembak oleh adiknya sendiri? Itukah yang menyebabkan kau gelisah?"


Tara menghembuskan nafas beratnya. "Ya. Karena itu aku gelisah." ia kembali berdiri menekan kedua telapak tangannya ke mata, menahan tangisannya. "Apa kau masih ingat apa yang kau katakan sewaktu aku menceritakannya?"


"Aku bilang, aku tidak bisa membayangkan dampak kejadian itu pada adik yang tak sengaja menembaknya," jawab Tari. "Dan kemudian kamu bilang 'Dia akan hancur seumur hidup.'" Tari merasa sedih jika mengingat cerita bocah malang itu.


Tara melangkah mendekat ke arah Tari, dan berlutut di hadapannya. "Tari," ucapnya. "Kejadian itu benar-benar menghancurkannya. Aku tahu persis bagaimana perasaan anak itu... Karena sebenaranya cerita itu adalah cerita aku dan kakakku..."


Tari sangat terkejut, ia sekan tak percaya dengan apa yang di sampaikan Tara. Tara memeluk erat pinggang Tari dan merebahkan kepalanya di pangkuan Tari. "Aku menembak kakak, sekaligus sahabat baikku sendiri. Saat itu usiaku baru genap lima tahun, aku sama sekali tidak tahu jika yang aku pegang itu adalah pistol sungguhan. Yang aku tahu bahwa pistol sungguhan hanya ada di film, namun orang tuaku ternyata memilikinya dan mereka letakan di kamar."


Tubuh Tara mulai berguncang, ia memeluk Tari semakin erat. Meski Tari masih marah pada Tara, namun ia merasakan betul jika hati suaminya sangat hancur, ia mengusap kepala Tara dengan lembut, kemudian mengecupnya.


"Waktu itu Caira masih berusia empat tahun, Angkasa enam tahun. Saat kejadian, orang tuaku sedang berada di taman belakang, menemani Caira belajar sepeda. Hampir tiga puluh menit tak ada yang mendengar jeritanku, lalu..."


Tara melepaskan pelukannya, dan berdiri. Hening cukup lama, karena Tara masih belum sanggup untuk menceritakan kelanjutannya. Ia kembali duduk di sofa. "Aku berusaha.." Tara menunduk, menutup kepalanya dengan kedua tangannya.


"Aku berusaha memasukan kembali darah yang berceceran di lantai ke kepala Angkasa, berharap itu bisa menyembuhkannya."


Tari di buat semakin terkejut mendengar kelanjutan cerita Tara, ia menutup mulutnya yang mengaga dengan kedua tangannya.


Tara menghampirinya, dan menariknya ke dalam pelukannya. "Aku menceritakan ini bukan untuk mencari-cari pembenaran atas perbuatan yang telah aku lakukan kepadamu semalam." ia melepaskan pelukannya dan menatap mata Tari. "Caira memintaku untuk menceritakan peristiwa itu karena sejak kejadian itu, banyak hal yang tidak bisa aku kendalikan. Aku bisa mendadak marah, aku bisa mendadak pingsan. Sejak kejadian itu, hingga sekarang aku masih menjalani terapi dan meminum obat. Inilah kenyataan hidupku."


Tara kembali memeluk Tari. "Kamu istriku, seharusnya aku menjadi pelindungmu dari orang-orang jahat di luaran sana yang ingin menyakitimu, tapi justru aku yang menyakitimu," ucap Tara dengan putus asa.


Sesaat Tari membiarkan suaminya memeluk dirinya dengan begitu erat, namun perlahan Tari melepaskannya. "Aku ke kamar mandi dulu ya."


Didalam kamar mandi Tari mencengkram wastafel, ia tak sanggup berdiri, hingga akhirnya ia merosot ke lantai sambil menangis tersedu-sedu.


Tari merasa bahwa seharusnya ini tak seperti ini. Seharusnya ia pergi dari hidup Tara. Tapi kenyataannya ia masih tetap di sini dengan luka memar dan luka sobek di badannya akibat perbuatan pria yang seharusnya melindungi dan mencintainya.


Namun entah mengapa, hati Tari berusaha mencari pembenaran atas apa yang terjadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak, karena merasakan banyak kepedihan untuk Tara setelah mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu Tara.


Tara baru saja membuka rahasianya yang mungkin tak akan pernah ia ceritakan pada siapa pun, dia sedang berusaha keras menjadi orang yang lebih untukku. Ya, dia semalam memang dia membuat kesalahan, tapi sekarang dia ada di sini dan berusaha membuatku mengerti akan masa lalunya yang menyebabkan ia tidak memiliki kendali, dan aku tidak boleh menyamakan pernikahan orang tuaku dengan pernikahanku, karena sebetulnya Tara memperlakukan aku dengan sangat baik dan ia sangat mencintaiku.


Tari menyeka air matanya dan kembali bangkit. Ia memandang cermin "Aku istrinya, harusnya aku menolong pria yang kucintai. Dan aku percaya jika cinta kami cukup kuat untuk melewati ini," gumamnya.


Tari keluar dari kamar mandi dan menghampiri Tara. Ia melihat suaminya nampak sangat ketakutan melihat Tari. Tara takut jika Tari tak mau memaafkannya, padahal sebenarnya Tari justru mau memaafkan dan memberi Tara kesempatan.


Tari duduk di samping Tara dan menggenggam erat tangannya. "Masih ingat dengan apa yang kamu bilang pada malam itu? Bahwa, 'Tidak ada orang jahat, kita semua baik, namun terkadang melakukan hal buruk.'"


Tara mengangguk, dan menggenggam tangan Tari lebih erat.


"Aku percaya kamu bukan orang jahat, kamu sangat mencintaiku dan kamu masih bisa melindungiku. Saat nanti kamu marah pergilah untuk menenangkan diri, aku tak akan mengejarmu lagi. Kita bicarakan setelah emosimu mulai stabil, dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti. Aku yakin bisa melewati ini sama-sama."


Tara menghembuskan nafas leganya, ia langsung membawa Tari dalam pelukannya. "Terima kasih kau sudah mengerti dan memberiku kesempatan," bisiknya. "Aku butuh kamu untuk menolongku sembuh dari tekanan ini."


Dalam benaknya, Tari merasa telah melakukan hal yang benar, ia akan berusaha semampunya untuk membantu Tara.



💡ULASAN:


Salah satu tanda-tanda hubungan abusive, adalah Manipulasi. Seseorang yang abusive akan berusaha membuat pasangan merasa bersalah atas segala kekerasan yang dia lakukan.


Dia akan meyakinkan pasangan bahwa dia adalah orang baik, namun karena satu dan lain hal, ia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.


Pelaku bisa saja memohon hingga menangis dan mampu melakukan apapun untuk memanipulasi. Seperti contohnya: “cuma kamu yang tau aku begini, aku mau berubah, tolong jangan bilang siapapun, kamu yang aku percaya dan aku sayang, tolong bantu aku untuk berubah, dll."


Secara tidak sadar, inilah yang di lakukan Tara kepada Tari saat ini.