Enough

Enough
XTRA PART



Tiga Tahun Kemudian


Ranu menaruh setumpuk laporan disertasinya di atas meja makan, kemudian ia menyapa putrinya yang tengah menikmati sarapannya. "Morning kakak, Are you ready to the last exam?" tanya Ranu pada Kerlip.


Kerlip mengangguk. "Siyaaaaap." ia memasukan suapan terakhirnya ke mulutnya.


Dengan membawakan sepiring omelet, dari arah dapur Tari berjalan mendekat ke arah suami dan putrinya. "Omelet ala mommy with love," ia menaruhnya di hadapan Ranu, kemudian ia duduk di samping putrinya.


Ranu tersenyum memandangi omelet buatan istri tercintanya yang ia nikahi satu tahun lalu. "Terima kasih ya," ucap Ranu. "Setelah aku lulus, aku yang akan membuatkan sarapan untukmu dan kakak setiap hari."


Sejak Ranu melanjutkan pendidikannya, kesibukannya kian bertambah, tak jarang Ranu harus membawa pekerjaannya ke rumah dan menyelesaikannya hingga larut malam, terlebih saat mendekati waktu sidang terbuka, ia hanya punya waktu tidur sekitar dua jam sehari.


"It's okay honey, aku malah senang kalian memakan masakanku," ucap Tari. "Apa lagi sekarang aku sudah tidak mual lagi," ia mengelus perutnya yang terlihat mulai membesar setelah memasuki usia kandungan empat bulan.


"Oh iya papi hampir lupa," ujar Ranu, ia menatap Tari dan Kerlip secara bergantian, mereka berdua menatap Ranu dengan wajah penasaran. "Villa kita yang di Bogor telah rampung dan bisa kita tempati untuk liburan semester ini.


Mata Tari berbinar-binar mendengarnya, ia sudah tidak sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa villa yang di bangun oleh suaminya, pasalnya selama ini Ranu hanya menceritakan jika dirinya membangun sebuah villa di Bogor, tanpa pernah mau memberitahu desain maupun foto villa tersebut. "Benarkah?"


Ranu mengangguk. Kerlip pun ikut senang mendengarnya, ia bersorak sembari mengangkat tangannya, namun saat Kerlip menurunkan tangannya secara tak sengaja ia menyenggol gelas susu yang berada di sampingnya hingga mengenai dokumen disertasi Ranu.


Suasana ceria berubah menjadi tegang, sekelebat Tari teringat saat dirinya secara tak sengaja menghapus file project pada laptop Tara, kala itu Tara sangat emosi dan mendorong tubuhnya hingga membentur lemari.


Tari menatap Ranu dengan wajah cemas, sementara putrinya nampak sangat terkejut dan merasa bersalah. "Papi, I'm so sorry. That was an accident!"


Ranu menatap dokumen disertasinya, kemudian "It's okay baby, I know." Ranu berteriak memanggil asisten rumah tangganya, memintanya untuk segera mengganti pakaian putrinya yang basah terkena susu serta membereskan gelas yang jatuh.


Ranu merogoh tasnya kemudian memberikan sebuah flashdisk kepada istrinya yang tengah mengecek seberapa banyak lebar kertas yang kerkena tumpahan susu putrinya. "Tolong kamu print sebagian di ruang kerjamu, dan sebagian lagi aku print di ruang kerjaku," pinta Ranu.


Ranu berlari menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua, namun sebelum ia masuk ke ruang kerjanya, ia menemui Kerlip di kamarnya. "Hari ini di antar sama mang Udin dan bik Susi dulu ya, mommy dan papi tidak sempat mengantarmu ke sekolah," ucap Ranu sembari mengelus kepala putrinya.


Kerlip mengangguk. "Tidak apa-apa, pih. Kakak mengerti." ucapnya masih dengan raut wajah cemas. "Maafin kakak ya."


Ranu tersenyum agar menghilangkan rasa cemas putri sulungnya. "Papi yang salah, menaruh dokumen tidak pada tempatnya," ucap Ranu. "Papi ke ruang kerja dulu ya. Semangat ujiannya, sayang." ia mengecup kening putrinya kemudian pergi menuju ruang kerjanya.


Dari kejauhan Tari hampir menangis melihat Ranu begitu lembut memperlakukan putrinya, ia mengusap air mata harunya kemudian bergegas menuju ruang kerjanya.


20 menit kemudian Tari selesai, ia menghampiri Ranu di garasi. Ranu sudah siap dengan jaket dan helmnya.


"Kamu bawa motor?"


Ranu mengangguk. "Biar lebih cepat," ia meminta Tari memasukan dokumennya di tas ransel yang ia gendong di punggungnya, sementara dirinya memanaskan kendaraan yang sudah hampir dua minggu tak pernah ia pakai.


"Sudah," Tari menarik resleting, menutup ransel suaminya.


Ranu berbalik menghadap Tari, ia berjongkok mengecup perut istrinya, kemudian beralih ke kening. "Terima kasih banyak ya."


"Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu tidak marah kepadaku atau Kerly."


Perumahan seharga 4.5 miliar, yang beberapa tahun silam pernah Tari tunjukan kepada Tara, saat mereka berada di rooftop apartement Caira. Kini Ranu memiliki 1 unit rumah yang ia tempati bersama keluarga kecilnya.



Sore harinya Tari di kejutkan dengan kedatangan Ranu ke cafenya, Ranu tersenyum bahagia sembari berhambur memeluk istrinya. "Aku lulus," ia memeluk Tari dengan erat.


"Puji Tuhan, kamu lulus," Tari hampir saja melompat kegirangan mendengar suaminya berhasil menyelesaikan pendidikannnya, untungnya Ranu mengingatkan jika Tari tengah mengandung sehingga Tari tak jadi melompat. "Selamat, sayang." Tari mengecup kedua pipi suaminya.


Ranu melepaskan pelukannya, ia merotasikan matanya mencari keberadaan putri sulungnya. "Kakak di mana?"


"Tadi pulang sekolah di jemput daddynya, dia bilang mau mengajak kakak ke taman rekreasi yang ia bangun sebelum peresmian. Dia janji akan mengantarkan kakak sebelum jam makan malam."


Ranu mengangguk, ia tak masalah jika Tara mengajak Kerlip keluar, selain karena Tara merupakan ayah kandung dari putri sulungnya, hubungannya dengan Tara pun cukup baik, mereka berdua sering kali ngobrol membahas banyak hal, mulai dari perkembangan putri sulungnya hingga membahas soal bisnis.


Caira menorobos masuk ke ruang kerja Tari "Aku dengar kau lulus?" tanyanya.


Tari tersenyum mengangguk. "Suamiku baru saja lulus S3," jawabnya dengan bangga.


Caira menggeleng. "Ini tidak bisa," ucapnya dengan wajah serius. "Tidak bisa jika tidak kita rayakan," teriaknya bahagia, "Gala dan Sky sebentar lagi akan kemari, jadi ini harus kita rayakan."


Ranu menggulung lengan kemejanya. "Baiklah kalau begitu, aku akan masak makanan special untuk merayakan ini."


Tari sempat melarang suaminya untuk masak, ia khawatir Ranu kelelahan setelah semalam tidak begadang untuk belajar.


"Aku sama sekali tidak lelah, sayang." Ranu mengecup kening Tari sebelum ia berjalan ke dapur, begitu melewati Caira. "Mau kolaborasi?"


Caira melompat kegirangan, ia berlari mengejar Ranu menuju dapur, sudah lama sekali Caira menunggu moment colaborasi memasak bersama Ranu, yang selama ini selalu gagal lantaran Ranu hampir tak ada waktu untuk memasak di cafe.


Menjelang malam, menjadi moment yang paling membahagia. Sambil menikmati matahari terbenam, mereka semua berkumpul dengan formasi lengkap.


Tara mengulurkan tangannya ke arah Ranu, memberikan ucapan selamat atas kelulusannya. Ranu menerima jabatan tangan Tara. "Terima kasih. Aku dengar kau juga telah menyelesaikan project taman rekreasimu, kapan peresmiannya?"


"Jika tidak ada kendala, bulan depan kami akan melangsungkan peresmian. Saat ini masih ada beberapa hal yang masih harus kami selesaikan," jawab Tara.


Ranu mengangguk. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar."


"Wow..." Gala terkejut ketika ia memasukan steak sambal ijo ke mulutnya. "Sepertinya makanan ini harus masuk ke dalam menu andalanmu, Tari," ujarnya.


Tari tertawa melihat ekspresi Gala. "Aku sih tidak keberatan, tapi bagaimana dengan juru masaknya?" ia tersenyum sembari melirik ke arah Ranu yang berada di sampingnya.


Ranu hanya tersenyum sembari menggengam erat tangan istrinya, mereka mengobrol dengan hangat di iringi celotehan kecil dari mulut Sky dan Kerlip.


Tara memandangi tangan Ranu yang menggenggam erat tangan Tari, ia turut bahagia atas kebahagiaan yang di rasakan oleh Tari.


'Ada saatnya kita merelakan seseorang yang kita sayang saat kita tahu kalau dia lebih bahagia bersama orang lain.'