
"Bu Tari, ini berkas pelaporan pajak bulan ini. Apa ada lagi yang harus aku kerjakan?" tanya Cindy, sekretaris baru yang sudah dua hari bekerja dengannya. Setelah Caira mengambil cuti, Tari merasa membutuhkan orang yang bisa membantunya mengurusi administrasi cafe.
Tari mengalihkan perhatiannya dari laptopnya. "Tidak, terima Cindy. Kau sudah bisa pulang sekarang."
"Baiklah, aku permisi dulu Bu Tari." Cindy pun keluar dari ruang kerja Tari.
Setelah Cindy keluar dari ruangannya, Tari tidak bisa lagi konsentrasi dengan pekerjaannya, ia kembali mengingat suaminya. Sejak peristiwa di tangga darurat dua minggu yang lalu, pagi tadi dirinya dan Tara kembali bertengkar.
Saat tengah menikmati sarapan, Tara membahas mengenai projectnya. Project taman bermain yang sedang Tara garap sudah berjalan hampir 50%, kemudian ia mengungkapkan bahwa jika dirinya kembali mendapatkan project baru di Riau.
Dan Tara mengatakan jika ia tak berniat menetap di Jakarta, ia ingin pindah ke Riau dan mungkin hanya sesekali ia datang ke Jakarta untuk memantau progres project taman bermainnya. Hal itu membuat Tari kecewa, karena Tara tak mengatakan hal tersebut saat perjalanan menuju Bali, sebelum mereka menikah.
Tari tidak bisa meninggalkan bundanya, ia juga tidak bisa meninggalkan cafe impiannya. Mengelola cafe dari jarak jauh tidaklah mudah, ia tidak bisa begitu saja menyerahkan pengelolaan cafenya pada orang lain.
Pertengkaran itu memuncak hingga Tara menghantam vas bunga yang berada di meja makan. Sesaat mereka berdua memandangi vas tersebut, Tari nampak sangat ketakutan melihat kemarahan Tara. "Aku akan pergi dulu, setelah aku sudah lebih tenang, aku akan kembali dan kita lanjutkan lagi diskusi ini." ia berjalan keluar.
Tara menepati janjinya, satu jam kemudian sebelum Tari berangkat ke cafe, Tara kembali dengan keadaan yang jauh lebih tenang. Tara menghampiri tari dan menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Saat malam pertama bertemu di rooftop, aku pernah mengatakan, jika aku ingin menjadi yang terbaik di bidangku. Tapi sekarang jika aku di suruh memilih antara projectku dan membuat istriku bahagia... Aku memilihmu. Kau adalah kesuksesanku. Selama kau bahagia, aku tidak tidak akan masalah kita tinggal di mana, aku bersedia menetap di Jakarta. Untuk projectku yang di Riau, aku yang akan bolak-balik ke sana, lagi pula projectnya pun tak lama dan tidak sebesar yang di Jakarta."
Tari tersenyum, ia merasa bahwa keputusannya untuk memberikan maaf dan kesempatan pada Tara adalah hal yang tepat. Karena pernikahan, sejatinya mrrupakan tentang berdiskusi bersama.
'Tara sama sekali tak sama seperti ayah, Tara masih peduli dan mengutamakanku, Tara hangat dan mencintaiku sepenuh hatinya,' batin Tari.
Drrrt... Drrrt...
Getar hendphone dia atas meja kerjanya, menyadarkan Tari dari lamunannya, ia meraih handphonenya dan melihat satu pesan masuk dari Caira.
Caira:
Apa pekerjaanmu sudah selesai? Aku butuh pendapatmu soal perabotan rumah tangga, kamu jadi ke apartementku kan?
^^^Tari:^^^
^^^Ya, aku akan tiba di apartementmu tiga puluh menit lagi.^^^
Tari menaruh handphonenya di dalam tasnya, kemudian bergegas menuju apartement Caira. Di perjalanan Tari sempat berfikir apakah persiapan melahirkan akan serepot ini sampai-sampai harus membeli perabotan baru?
Tiba di basement apartement, Tari kembali mendapat pesan masuk dari Caira.
Caira:
Aku ada di lantai 34, apartemen no 750.
"Wow, Caira bahkan punya apartement lagi hanya untuk menyimpan tambahan perabotannya?" gumam Tari, ia tahu jika Caira sangat kaya, namun menurutnya hal tersebut agak terlalu berlebihan mengingat unit apartement Caira saja sudah sangat luas.
Tari masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 34. Saat pintu lift terbuka, ia menyusuri lorong mencari unit apartement nomor 750.
Tari memencet bel dan ia cukup terkejut ketika Tara yang membukakan pintu dan berdiri di hadapannya.
Tara tersenyum dan bersandar di ambang pintu. "Aku tinggal di sini, kamu sendiri sedang apa di sini?"
Tari melirik nomor apartement yang di pasang di pintu, kemudian menatap suaminya lagi. "Apa maksudmu tinggal di sini? Bukankah kita tinggal bersama di apartementku? Apa selama ini diam-diam kamu punya apartement sendiri?" tanya Tari.
Menurutnya sepasang suami istri wajib memberitahu tentang kepemilikan aset, meski dalam perjanjian pra nikah yang ia dan Tara sepakati, terdapat pemisahan aset, tapi setidaknya tetap harus saling terbuka.
Tara tertawa. "Aku belum sempat cerita karena aku baru saja selesai menadatangani berkas-berkasnya." ia meraih tangan istrinya, dan menggandengnya masuk ke apartement. "Selamat datang di rumah kita."
"Kamu membeli apartemen?"
Tara mengangguk. "Yap. Tidak apa-apa kan? Kupikir kita butuh tempat yang lebih luas." ia mengajak istrinya untuk berkeliling.
"Lalu di mana Caira?"
"Dia sudah kembali ke unitnya. Tadi dia hanya membantuku mengurus berkas dan aku menyuruhnya untuk menghubungimu agar kamu ke sini," jawab Tara.
Tari menggangguk, ia paham jika suaminya menggunakan Caira untuk memberikannya kejutan. Tari berhenti sejenak memandang dapur yang begitu cantik, mirip seperti dapur milik Caira. Semuanya putih dan bersih, ada banyak perabot yang tidak ia miliki di apartementnya.
Kemudian Tari berjalan menelusuri ruang keluarga sembari mengamati langit-langit tinggit ala katedral serta jendela-jendela berukuran besar dengan pemandangan kota Jakarta.
"Sayang," panggil Tara dari belakang. "Kamu tidak marahkan?" Tara nampak cemas, istrinya tak menyukai kejutan yang ia berikan.
Tari menggeleng. "Tentu saja tidak, ini luar biasa. Tapi sebaiknya, untuk kedepannya kita harus berdiskusi sebelum memutuskan membeli aset."
Tara mengangguk setuju. "Ya, aku janji. Lain kali, jika aku membeli sesuatu akan berdiskusi dulu denganmu." ia kembali meraih tangan istrinya dan mengajaknya melihat bagian yang lain. "Akan aku tunjukan sesuatu yang lebih menakjubkan?"
Tara meraih tirai dan berbalik menghadap Tari. "Ini bukan halaman tanah, tapi dengan pot-pot cantik kamu bisa membuat tempat ini layaknya sebuah taman." ia kembali membalik tubuhnya dan membuka pintu, menampilkan balkon yang sangat luas.
Tari mengikutinya ke luar, ia membayangkan beraneka ragam pot yang akan ia tata di balkon itu.
"Balkon ini menghadap ke arah yang sama dengan rooftop," ucap Tara. "Kita akan punya pemandangan seperti kita pertama jumpa," ucap Tara.
Butuh beberapa saat Tari meresapi semua hadiah indah yang di berikan suaminya, hingga tanpa terasa ia menitikan air matanya. "Kenapa kamu menangis sayang? Apa aku membuatmu bersedih?" Tara membawa istrinya ke dalam dekapannnya.
Di sela tangisannya, ia tertawa. "Aku masih tidak percaya jika kita akan tinggal di sini." Tari melepaskan pelukan Tara, ia menatap suaminya. "Apa kita kaya? Bagaimana dengan tagihan apartement ini?"
Tara tertawa terbahak-bahak. "Kau menikah sengan seorang pengusaha yang memenangkan tender 28 T. Kau tidak akan kekurangan uang, sayang."
"Jadi kapan kita tinggal di sini?" Tari sudah tidak sabar ingin segera berkebun di balkon apartement barunya.
"Besok aku akan libur, jadi kita akan mengemas barang-barang kita. Lagi pula barang-barang kita tidak banyak, aku pikir sehari pun akan cukup."
Tari tersenyum sembari mengangguk setuju.