
Ciiiitttt....
Pria itu langsung menginjak rem, begitu melihat seorang wanita melintas di jalan. "Apa Aa menabrak orang itu?" tanya Lidya, wanita yang duduk di bangku penumpang. "Aku tahu Aa sedang panik, tapi Aa juga harus tetap berhati-hati. Kalau dia sampai mati, kita akan dalam masalah besar."
"Aku sama sekali tidak menabraknya."
Mereka berdua melongok ke kaca mobil depan. "Jika Aa tidak menabraknya, mengapa ia tergeletak di depan mobil kita?" tanya Lidya. "Bagus sekali. Baru tiga puluh menit yang lalu aa menginjakkan kaki di Indonesia, sudah langsung menabrak orang."
"Sudahku katakan aku tidak menabraknya. Ayo kita turun!" pria itu membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil untuk melihat kondisi orang yang tergeletak di depan mobilnya.
Pria itu berjongkok membalik tubuh Tari, ia tertegun sejenak ketika melihat Tari tergeletak bersimbah darah. "Ya Tuhan Tari...." ucapnya panik. Ia langsung membopong tubuh Tari. "Lidya, ayo cepat buka pintu mobil!"
"I-iya A'" dengan tangan gemetar Lidya langsung membuka pintu mobil, mempersilahkan kakaknya masuk.
"Ayo cepat kita masuk!" pria itu kembali masuk dan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. 'Bertahanlah Tari'
Tak tega melihat kondisi Tari, dari bangku depan Lidya menyalip ke belakang menemani Tari, ia berjongkok sambil mencoba menghentikan pendarahan di kepala Tari sebisa yang ia lakukan. "Kepalanya berdarah. Apa Aa yakin tak menabraknya?" ulangnya.
"Demi Tuhan, aku tidak menabraknya."
Di tengah kepanikan kedua kakak beradik itu, Tari menyebut satu nama. "Ranu..."
Seketika Lidya menoleh ke arah kakaknya. "Apa A'Ranu mengenal wanita ini?"
Ranu mengangguk. "Wanita itu Tari, yang baru saja menghubungi aa."
Lidya membekap mulutnya dengan kedua tangannya, "Ya Tuhan, jadi ini calon kakak iparku?" pantas saja Lidya merasa wajah Tari tak asing baginya, ia langsung menarik syal dari bangku depan untuk menjejal kepala Tari agar darah berhenti mengalir. "Bertahanlah calon kakak iparku, kakakku bisa gila jika terjadi apa-apa denganmu," ucapnya panik.
Saat Lidya memiringkan tubuh Tari, ia melihat ada bercak darah di bagian bawah dress yang di kenakan Tari. "Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi pada calon kakak iparku?" Lidya semakin gemetar ketakutan.
Belum sempat Lidya melihatnya lebih jauh, rupanya mereka telah tiba di depan rumah sakit. Ranu langsung membuka pintu mobil dan kembali membopong tubuh Tari masuk ke ruang IGD.
Ranu menoleh ke arah adik tirinya. "Apa?"
'Semoga dugaanku salah,' batinnya. Lidya menggeleng, ia tak sampai hati untuk mengatakannya ke kakaknya, ia berfikir dokter akan memeriksa seluruh tubuh Tari, dan menjelaskannya ke kakaknya. "Tidak jadi, kita tunggu saja dokter keluar."
"Lebih baik kamu ke atas, kasihan ibu sendirian." Ranu menyuruh adik tirinya kembali ke ruang rawat inap ibundanya yang kebetulan sedang di rawat di rumah sakit yang sama.
Ya, Ranu pulang ke Indonesia lantaran mendapat kabar jika Ibundanya jatuh sakit. Sudah hampir setahun ini ibundanya menderita gagal ginjal dan harus mendapatkan perawatan intensif, sementara ayah tirinya pergi begitu saja meninggalkan istri dan anaknya yang masih duduk di kelas tiga SMA.
Ranu membukakan restoran Jepang, untuk adiknya selain untuk melatihnya berbisnis sejak dini, juga sebagai sumber pendapatannya karena ayahnya sudah tidak lagi memberinya nafkah. Dari London, Ranu terus memantau kesehatan ibundanya dan juga jalannya roda bisnis yang sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Lidya.
Lima menit setelah Lidya pergi. Dokter membuka pintu ruang IGD, dokter mengatakan jika ia berhasil menghentikan pendarahan di kepala Tari, namun ia tidak bisa melakukan CT scan terhadap wanita yang sedang hamil, sehingga Tari harus menjalani rawat inap untuk memantau kondisinya. Dokter juga menganjurkan untuk menjalani visum karena terdapat banyak luka di daerah sensitif Tari, dokter mengatakan jika kemungkinan besar Tari baru saja di perk*sa.
Tubuh Ranu mendadak menjadi lemas mendengar semua penjelasan yang di sampaikan oleh dokter. "Lakukan yang terbaik untuknya, dok," ucap Ranu.
Usai mendengrkan penjelasan dokter, perawat mengarahkan Ranu ke ruang administrasi, untuk mengurus adminstrasi rawat inap Tari. Ranu berjalan dengan gontai mengikuti perawat yang mengantarnya, hatinya hancur berkeping-keping, ada sebuah penyesalan menyelimuti dirinya. Seandainya saja aku terus memaksanya untuk ikut denganku.
Ranu tertunduk memandangi tubuh wanita yang ia cintai terbaring lemah di atas tempat tidur dengan luka di sekujur tubuhnya, ia menggengam erat tangan Tari, sambil sesekali ia mengelus kepalanya dengan lembut.
"Aku janji, aku tidak akan ninggalin kamu lagi, peri baikku," ucap Ranu, perlahan air matanya mengalir ke pipinya, dan menetes di tangan Tari. Ranu tak bisa membayangkan apa yang telah di alami Tari, hingga membuat kondisinya seperti ini. Ia mengepalkan tangannya, rasa sedihnya kini berubah menjadi murka, ingin rasanya ia menghabisi Tara.
Kobaran api kemarahannya seketikan padam ketika ia mulai merasakan tangan yang ia genggam bergerak. "Tari," ucapnya dengan lembut.
"Ranu.." perlahan Tari mulai membuka matanya, namun ia masih merasakan sakit di kepala, leher dan sekujur tubuhnya, terutama perih di bagian bok*ng. "Aw..." rintihnya.
"Istirahatlah, kamu masih belum boleh banyak bergerak." Ranu mengelus kepala Tari dengan lembut.
"Ranu, aku takut," rintih Tari. Tubuhnya gemetar ketakutan, ia menangis tersedu-sedu sembari mencengram erat tangan Ranu. Perasaan Tari bercampur aduk, ia sangat takut dan juga membenci dirinya sendiri, karena membiarkan hal ini terjadi pada dirinya, sama seperti yang bundanya alami.
Ranu mendekap erat tubuh Tari. "Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, periku." Jemarinya mengelus kepala Tari, ia membiarkan Tari menangis sepuasnya di dalam dekapannya, hingga lama-kelamaan Tari kembali beristirahat.